Ke Atas ^

Artikel Terbaru



Ke artikel

Terpopuler Minggu Ini


  • Fragmen XIII

    Melukismu Hitam Seperti fragmen ke tigabelas yang seharusnya tak pernah ada Terusik ketika Ada lagi tanya  Dimana   Sedang aku lupa Entah kau di surga Atau sedang duduk-duduk denganku Menikmati insomnia dan purnama 10/08/2014. 00.04

    | Link | Dibaca 83 kali
  • Tuhan Telah Dibunuh

    Lampu dipadamkan. Suara riuh setiap bibir manusia pun sekejap senyap. Tirai di atas panggung pun perlahan membuka, diiringi dengan bunyi sangkakala yang menggema. Lampu panggung pun merambat nyalanya, mencoba menerangi perarakan pelaku sandiwara. Dan akhirnya pertunjukan dunia yang penuh dengan ilusi telah dimulai. “Lihat dan pandanglah! Tuhan telah datang. Bersukacitalah dan bergembiralah kita anak manusia menyambut Sang Terang Dunia tlah datang.” Arak-arakan dengan umbul-umbul nan indah dan megah mengekor panjang seperti naga, mengiringi kedatangan Tuhan. Anak-anak manusia menari-nari menanti di pinggir jalan bercampur debu. Matahari pun tahu diri untuk meredupkan teriknya, melihat bahwa Tuhan telah datang. “Tuhan, aku ini anakmu yang paling baik. Setiap hari aku menyembah dan memujamu. Tak pernah sehari pun aku memalingkan diri darimu. Jamahlah aku karena aku orang yang suci!” seru orang-orang dengan jubah putih bersihnya. “Tuhan ingatlah aku! Aku telah membela namaMu sepanjang hidupku, bahkan dengan pedang dan tombak pun aku telah membelaMu. Kenanglah jasa-jasaku dan siapkanlah surga bagiku!” seru orang-orang yang mengusung pedang dan tombak. Tuhan hanya bisa tertunduk, bungkam, mendengar ujaran anak-anak manusia itu. Tuhan tercenung, apakah kebijaksanaan yang diwahyukannya telah membuat manusia sedemikian rupa. Menjelma nafsu dan amarah. Membangun hegemoni kekuasaan atas nama spiritualitas. “Hei Tuhan! Mengapa kau hanya diam saja? Tak dengarkah kau dengan seruan kami? Berbicaralah! Kami nantikan titah darimu.” “Tuhan tak pedulikah Kau dengan pujian kami? Songsonglah kami yang telah membelaMu.” “Tuhan, Kau hendak pergi kemana? Woiii! Jawablah kami, jangan hanya diam saja! Jangan lari dari kenyataan!” Tuhan hanya melengos pergi meninggalkan anak-anak manusia dengan histeria ideology mereka. Tuhan hanya menunduk, menatap bumi yang kering dan berdebu. “Apakah ini hasil ciptaanKu? Anak-anak manusia yang pada akhirnya mengingkari kehidupan. Mereka larut dalam angakara murka dan nafsu badani. Dimanakah penghargaan akan keutuhan kehidupan? Padahal aku menciptakan dunia seturut citraKu yang baik adanya.” gumam Tuhan dalam kebungkaman. Ia melangkahkan kakiNya menuju taman ketiadaan. “Lihatlah Tuhan hanya bungkam seribu bahasa. Tuhan sudah tidak berpihak pada kita. Kita telah dilupakan oleh Tuhan sebagai anak-anakNya.” “Dia telah berpaling dan tidak memihak kita. Dia tidak akan mendukung kita walaupun kita mengusung namaNya dalam perjuangan kita.” “Hati-hati bila Tuhan tak memihak kita lagi. Nanti Dia akan menusuk kita dari belakang. Dia akan menjadi musuh dalam selimut.” “Sebaiknya Tuhan kita bunuh secara diam-diam supaya melanggengkan cara kita dan orang-orang masih percaya kita. Orang-orang tetap akan percaya kita sebagai pengusung nama Tuhan walaupun kita telah membunuhNya. Tujuan kita tercapai, dan tak ada aral pelintang bagi kita walaupun itu Tuhan sendiri” Kejahatan pun telah berucap di dalam nurani mereka. Sekarang bukan cinta yang menghiasi mahkota hati mereka, namun gelora api benci dan dengki telah meluluhkan pertahanan mereka. Anak-anak manusia merencanakan kudeta terbesar yang pernah terjadi di alam semesta ini. Pembunuhan Tuhan. Di tengah taman kesunyian, Tuhan bersimpuh. WajahNya tengandah, memandang taburan bintang yang mulai terutup mega mendung. Ia tercenung meratapi nestapa anak-anak manusia yang mendendam. “Mungkin Aku telah keliru memberi kehendak bebas bagi manusia. Nurani mereka telah mati terpendam angkara murka. Atau kah ini buah dari bisikan setan terhadap Adam dan Hawa sehingga mereka jatuh dalam kedosaan.” “Apakah aku harus menghadirkan lagi banjir bandang seperti masa Nuh? Ataukah harus ku jatuhkan meteor besar untuk menghancurkan bumi ini. Kiamat akan menjadi jalan akhir untuk penyelesaian ini. Tapi apakah Aku yang maha pengampun tak memberikan pertobatan bagi mereka?” Datanglah malaikat-malaikat dan dewa-dewa yang mengabdi Tuhan. Malaikat Djibril, Mikail, Munkhar, Nakhir, Gabriel, Rafael serta Batara Wisnu, Brahman dan Siwa. Mereka datang, melihat pertanda alam yang menandakan kesedihan Tuhan. Mereka hendak menghiburNya supaya semesta tak membawa petaka bagi dunia. “Ada apakah Engkau bermurung durja?” tanya Batara Brahman. “Aku hanya kalut menerka dunia ini, Brahman.” jawab Tuhan penuh ratapan. “Engkau yang maha tahu, mengapa Engkau kalut?” tanya malaikat Djibril. “Kadang, kehidupan membawa jalannya sendiri yang penuh misteri. Akupun tak mampu mendalami kedalaman hidup. Sekarang biarlah Aku sendiri, Aku ingin memahami arti kesunyian ini.” “Baiklah Tuhan. Ingatlah bahwa kami akan senantiasa menemaniMu.  Janganlah sungkan untuk minta pertolongan kami.” kata Rafael. Kemudian rombongan abdi Tuhan itu pergi meninggalkan Tuhan dalam taman kesunyian.  Setelah rombongan abdi Tuhan pergi datanglah anak-anak manusia yang telah merencanakan pembunuhan Tuhan. Dengan diam-diam, mereka datang membawa seperangkat senjata pembunuh Tuhan. Tanpa tendensi rasa malu, mereka melancarkan serangannya terhadap Tuhan. Dalam kesendiriaannya, Tuhan tak berdaya.  Akhirnya, Tuhan telah mati ditikam sebilah belati. Darah mengucur, membasahi bumi yang berdebu dan kering. Teriakan kemenangan dan nyanyian dendam yang terlampiaskan mengiringi Tuhan yang meregang nyawa. Bintang pun berhenti berkelip, mega mendung pun menitikkan air matanya. Semesta bersedih melihat kematian besar seorang tokoh besar, Tuhan. “Hai, kalian manusia! Mengapa kalian membunuh Tuhan yang telah menciptakan kalian? Tak ingatkah bahwa Tuhan member cinta kasih, namun kalian balas dengan kejahatan. Untuk apa kalian mengatasnamakan Tuhan jika tindakan kalian mencerminkan kejahatan? Terkutuklah kalian! Aku pun Dajjal masih memiliki cinta terhadap Tuhan.” kata Dajjal Si Iblis penuh amarah, namun prihatin dengan situasi anak-anak manusia. Tirai pun tertutup. Lampu meredup menuju kegelapan. Semua mata dan mulut bungkam, senyap. Kehidupan pun diam, melihat kematian aktor besar dalam semesta yang dibunuh oleh kejahatan.

    | Link | Dibaca 74 kali
  • KETIKA SUBUH

    TELAH KUCOBA DI WAKTUKU MENCARIMU DIANTARA BILUR DAN LEBAM JIWA YANG MERINDU DIANTARA SENGAU DAN PARAU NYANYIAN KELU DIANTARA DAUN TUMBUH DI RANTING SEMU ........ HANYA LEWAT MALAM AKU BERKASIH DENGANMU ENGGAN KU BERANJAK DARI TEGAK DUDUKKU ENGGAN KU PALINGKAN…

    | Link | Dibaca 69 kali
  • ELEGI PANCASILA

    sudah tak ada yang kurindui kini membawaku ke arah cahya bintang yang sendiri mengikatku dengan rantai kebersamaan nurani meneduhkan cerai-berai di bawah rindangnya nan hakiki menjawab galaunya persoalan dengan wibawa dan pasti menghilangkan keangkuhan dan dengki bak runduk sang padi …

    | Link | Dibaca 66 kali
  • Sedini Ini

    Sedini ini Doaku memfitnah malam           Biar embun enggan keluar           Agar kusam matahari Sedini ini Penaku mencoreti malam

    | Link | Dibaca 66 kali

Ke ruang pamer

Diatra Bulan Ini



Blog Terbaru


Pesan Ayah
Tanah Lama
BIDADARI SURGA
KETIKA
Produktivitas Oh Produktivitas
Himpunan Semesta
Sarang-Kalong
coretan suka-suka

Almanak


Umpan balik

Kirim Umpan balik

Kirimkan keluhan atau saran mengenai situs baru ini :)