Artikel Terbaru
-
Langkah Thendra di Jalan Sajak
April, Haiku, Chairil aku melangkah di jalan sajak- bukan buat ke pesta ** Teruntuk Alit... Apa kabarmu? Masihkah kau berdiri di anjungan untuk meresapi "Cintaku Jauh di…
Disukai : | Link | Dibaca : 22 -
Manusia di Tengah Keramaian
Ketika membaca cerpen-cerpen Kuntowijoyo, selalu saja saya temukan hal yang sama: keramaian. Hiruk pikuk. Seperti ada banyak orang di sana. Banyak orang, dalam artian sesungguhnya. Hilir-mudik, saling menyapa, ngobrol, bertukar…
Disukai : | Link | Dibaca : 388 -
Ulid Tak Ingin ke Malaysia
Bayangkan seorang bocah laki-laki yang gesit, lincah, sigap, giat, ligat, selalu ingin tahu, mukanya selalu merona, benaknya selalu penuh daya khayal, dan terkadang berpembawaan dramatis. Itulah Muhamad Maulid alias Ulid,…
Disukai : | Link | Dibaca : 490 -
Hatiku dan Selembar Daun yang Jatuh
Saya percaya bahwa puisi dituliskan untuk dibaca orang lain, yaitu siapapun yang bisa membaca karya tersebut. Ada banyak puisi yang bisa saya baca, dan lebih banyak pula yang belum bisa…
Disukai : | Link | Dibaca : 272 -
Serigala yang Melolong di Depan Moloch
Puisi, seperti halnya karya sastra lain, adalah kesaksian dan respon literer penyair atas kondisi zamannya sekaligus ikhtiar penyair untuk menyegarkan kembali tradisi kreatif dari generasi penyair sebelumnya. Posisi unik ini…
Disukai : | Link | Dibaca : 512
Ke artikel
Terpopuler Minggu Ini
-
Langit Makin Mendung merupakan cerpen kontroversial karangan Kipandjikusmin. Cerpen ini diterbitkan di Majalah Sastra yang diasuh oleh H.B. Jassin pada edisi Agustus 1968. Selang beberapa waktu, cerpen ini menuai kontroversi karena penggambaran Nabi Muhammad dan Malakaikat yang dianggap menghina Islam.…
Disukai : | Link | Dibaca 93 kali -
“Apa tugas kita untuk hari ini?” tanya seorang pria—yang dikenal dengan nama Raff di lingkungan kantornya kepada temannya, Greg, yang sedang sibuk mengutak-atik gadget-nya. “Lagi-lagi perselingkuhan. Kali ini seorang perempuan setengah baya yang…
Disukai : | Link | Dibaca 59 kali -
Koran pagi seribu-an membawa bara api penghangat kopi
Disukai : | Link | Dibaca 58 kali -
aku ingin mengatakan kepada rambut tergeraimu wahai wanita beraroma angin malam : tidak lagi sepi dan sendiri rembulan bercahaya dari balik kabut di jauh sana menemukan arti tubuh dan nyanyianmu di dalam kamar mandi biarlah busa bebrapa botol pemutih menjadi…
Disukai : | Link | Dibaca 55 kali -
aku menunggu kedatanganmu, perahuku. pada layar biru matamu kau tambatkan rasa asin lautan biru. warna warni pelangi celah jemarimu menggugurkan puisi-puisiku diam batu menjadi tambah hambar laju perahuku. oh perahu yang jauh, segera singgah di pelabuhan sunyi hatiku biarlah puisi…
Disukai : | Link | Dibaca 43 kali
Ke ruang pamer

