EDITORIAL TENTANG MEDIA DAN HEGEMONI

alwiTHELONEWOLF's picture
Oleh kawan alwiTHELONEWOLF, Selasa 07-10-08 22:21

EDITORIALLL...

Dalam sebulan ini ada tiga selebaran atau newsletters yang muncul di lingkungan Universitas Sanata Dharma ini. Yang pertama saya terima adalah newsletter hasil diskusi dari teman-teman yang menamakan dirinya Komunitas ORONG-ORONG. Selang beberapa hari, ada LAWAS milik anak-anak Ilmu Sejarah yang nongol diseputaran Student Center. Dan yang terakhir saya baca adalah, RAGBAG. Topik yang diangkat dari ketiganya jelas berbeda-beda. Orong-orong Newsletter hadir dengan kritik-kritik dan ideologi-ideologi dengan bumbu seni rupa. Lawas mengusung bendera analisa sejarah yang kronologis. Sedangkan Ragbag, memberi penjelasa histories singkat dari berbagai hal yang tampak sebagai hal-hal yang sudah dimengerti asal-usulnya (mitos juga termasuk).
Ada satu nada sama yang dikumandangkan di ketiga media baru ini. Yang pertama adalah kemunculan media-media baru ini. Apa tidak cukup media-media diluar sana untuk menampung ide-ide para penggagas Orong-orong Newsletter, Lawas dan Ragbag? Jelas, masih luas lahan buat mereka. Jadi, permasalahan tidak terletak disitu. Lantas apa masalahnya? Masalahnya terletak pada Hegemoni. Media massa adalah salah satu bapak atas lahirnya anak haram bernama Hegemoni ini. Jadi siapa Hegemoni ini? menurut Gramsci, seorang teoritisi Marxis, hegemoni adalah hasil dari keberhasilan satu kelas politik (ruling class) untuk membujuk (mengkondisikan) kelas-kelas lain untuk berperan serta dalam melestarikan norma-norma sosial-nya. Nah! Ketiga media tadi merupakan representasi dari ke-ogah-an untuk menuruti kontrol sosial yang dihasilkan media massa-media massa yang sudah jauh lebih mapan (koran, televisi, radio).
Lembaga-lembaga kontrol sosial yang disebutkan diatas mencetak kebudayaan yang senada dan sangat dikotomis. Noam Chomsky dalam buku mengenai dirinya berpendapat bahwa media massa todak pernah membawa kebenaran karena selalu ada hal-hal yang sengaja tidak ditampilkan dengan maksud suatu impresi yang diinginkan satu kelas politik (ruling class). Pada perang Vietnam, pada awalnya masyarakat Amerika percaya bahwa pernag mereka adalah perang melawan komunisme hanya gara-gara televisi selalu menampilkan heroisme para tentara Yankees ketika menembaki petani-petani. Petani-petani yang disimbolkan sebagai perlawanan komunisme melawan demokrasi. FucK!!!
Perang Vietnam hanya salah satu contoh hegemoni yang berhasil disusun sedemikian rapi oleh kelas penguasa. Di Indonesia, kita pernah dicekoki sebuah film yang mengisahkan malam terjadinya G30S. Hal yang belum pasti namun sudah dipatenkan kebenarannya dalam setiap benak-benak masyrakat Indoneisa selama dua puluh tahun kurang lebih. Ketiga media baru tadi, memunculkan dirinya dalam baptis suci kontra-hegemoni. What the fuck does that mean? Kontra-hegemoni, dalam terminology Gramsci, adalah kekuatan-kekuatan revolusioner. Kekuatan-keuatan inilah yang seharusnya bermunculan dan mengambil alih komando masyarakat.
Orong-orong Newsletter semisal, mereka mengangkat tokoh Noam Chomsky yang di Amerika sono dijuluki Public Enemy karena selalu tidak setuju dengan Kebijakan-kebijakan yang dikeluarka Pemerintah. Tim Orong-orong mengangkat fakta-fakta yang dihilangkan oleh media massa Amerika tentang Chomsky. Fakta-fakta bahwa sumbangannya cukup besar dalam dunia ilmu pengetahuan.
Ragbag melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda. Ragbag memberi penjelasan historis singkat terhadap hal-hal biasa yang kebanyakan orang berpikir mereka tahu tentang hal-hal biasa tersebut. Seperti contoh, sejarah piggy bank, tidak banyak oprang tahu bahwa misinterpretasi dalam nama piggy bank. “Piggy” berasal dari kata “pygg” yang berarti semacam tanah liat dan bukan dari kata “pig” yang berarti babi. Padahal, sekarang celengan-celengan tadi berbentuk babi berwarna pink semua. Wow! Sebuah kesalahan yang dipatenkan kan? Penjelasa-penjelasan model gini ni yang sangat kurang dari media massa-media massa yang ada. Hal-hal salah dibenarkan hanya untuk melanjutkan mitos-mitos yang ada.
Lawas bergerak di bidang yang lebih ilmiah. Disalah satu tulisan di Lawas ada makalah singkat mengenai kebudayaan Cina. Analisa historis dan fakta-fakta yang diangkat menyodorkan kita penjelasan mengenai kebudayaan Cina. Kebudayaan Cina tidak lagi sebatas mitos-mitos namun latar belakang dan penjelasan filosofisnya. Hal-hal ini akan menjauhkan dari misinterpretasi. Makalah singkat lain berbicara mengenai Program Studi Sejarah sendiri yang seringkali disalahartikan.
Begitu tadi media-media baru mengisi hari-hari kita di Fakultas Sastra dan sekitarnya. Media-media baru yang bukan korban kontrol sosial namun kekuatan-kekuatan revolusioner yang memberi alternative cara pandan dan interpretasi atas satu masalah dan pemikiran atau penemuan bahkan kebudayaan. Bahwa mempercayai adalah mengkritisi dan bukan menyerah pada definisi-definisi yang sudah ada. Maka, apabila hegemoni tidak memberi tempat pada hal yang kita percaya, seperti saya pernah dengar tapi lupa dari siapa “Buatlah media-mu sendiri!”).

alwiTHELONEWOLF
Sept ‘08

Kategori: