EDITORIALLL...!!!
Halo, warga sastra! bagaimana kalau kita mulai tulisan jelek ini dengan teriakan ala tujuhbelasan dalam hati "MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!". Nah, sudah kan? sekarang tanyakan dalam hati "apanya yang merdeka?". hehehe. Setelah ditelusuri dan dipikirkan dengan seksama ya memang pertanyaan tersebut memang layak masih pantas kalau dipertanyakan. Mungkin pertanyaan tersebut masih terlalu lebar dan kurang jelas. Sekarang mari kita persempit konteks pertanyaannya, "Apa yang merdeka dari sastra kita (sastra Indonesia)?". masih bingung seperti saya kah? Ok, sekarang kita buat lebih jelas lagi pertanyaannya, "Apa yang merdeka dari sastra-nya anak-anak fakultas sastra Sadhar?". Pertanyaan ini jelas membutuhkan proses pemikiran yang panjang dan bahkan penelitian yang mantap untuk menjawabnya. Kebingungan ini disebabkan oleh status"merdeka" yang merupakan hasil dari sebuah perjuang melepaskan diri dari suatu kungkungan. Hal yang membuat kita semakin sulit menjawab adalah kondisi dari kungkungan yang tak pernah memiliki bentuk yang pasti. Kungkungan adalah sebuah tekanan (faktor-faktor pembentuk) yang terdiri dari berbagai macam aspek(sosial, politik, ekonomi bla bla bla). Jadi itu membuat kita makin puyeng kan harus mulai dari mana untuk memerdekakan diri kita sendiri?
sebelum kalian muntah-muntah, mari kita lihat beberapa contoh acak dari perjuangan-perjuangan sastrawan-sastrawan Indonesia ubtuk melepaskan diri dari kungkungan yang mereka rasakan. Pada masa rezim Orde baru yang berlangsung kurang lebih tiga puluh dua tahun, beberapa buku yang diberi label kiri tidak boleh diterbitkan. Pramoedya Ananta Toer, salah seorang penulis yang dianggap Lekrais, dibuang ke Pulau Buru. Toh, dari sana ia justru mampu menulis Tetralogi-nya yang sangat inspiratif bagi banyak orang sekarang ini. tulisan-tulisannya mampu membawa pada suasana gejolak batinnya sebagai seorang yang terbuang namun terus berjuang. Putu Oka Sukanta, seorang penyair yang juga terkena imbas pelabelan kiri, juga menulis banyak puisinya dalam pengasingan baik oleh institusi formal maupun sosial. Puisi-puisi perlawanannya disatukan dalam satu antologi puisi dwibahasanya "Tembang Jalak Bali; puisi tertindas". Kebanyakan puisi-puisinya memprotes pengkondisian (kungkungan) oleh pemerintah yang membatasi kreatifitas para penulis. Dalam salah satu puisinya "Tapal Batas", Putu Oka Sukanta menggambarkan bagaimana ia terjebak dalam kondisi yang serba terhimpit dan terdesak. Ia seperti menghadapi tembok-tembok baja kekuasaan dengan senjata sebagai manifestonya yang terus menyempit, melumat tubuhnya. Wiji Thukul, penyair yang terkenal dengan kata-kata "maka hanya ada satu kata; LAWAN", menghilang dengan dugaan bahwa ia diculik antek-antek Soeharto yang tidak senang dengan kritik-kritik Wiji Thukul.
Kungkungan-kungkungan seperti yang diatas mungkin sudah tidak kita rasakan lagi. Reformasi sudah sedikit merubah alur politik dan sosial Indonesia. Hak berpendapat lebih mendapat tempat. Ber-organisasi sudah tidak perlu lagi dibawah pucuk-pucuk senapan Cakrabirawa atau dibayang-bayang penyelidikan BAKIN. namun, kembali ke pertanyaan kita tadi "sudah merdeka kah kita? apanya yang merdeka?". Belum! mentalitas kita ternyata belum merdeka. kalau saya ambil contoh lai, ada seorang penyair yang baru saja meluncurkan antologi-nya bulan lalu yang puisi-pusinya menhantam dengan keras mentaliats bangsa Indonesia. Herry Latief nama penyair itu. Penyair realis ini membungkus puisi-puisinya dalam bahasa yang lugas tanpa tekhnik-tekhnik penulisan puisi yang kita ketahui (penggunaan metafora khususnya). Salah satu puisinya "50% Merdeka", membawa realita mental korupsi bangsa Indonesia mulai dari tataran Grassroot hingga golongan ekssekutif. Sebuah mentalitas yang menggerogoti bangsa ini. Mentalitas yang menurut Herry Latief apabila tidak segera disudahi akan membawa kita ke era imperalisme baru.
Contoh-contoh diatas cuma sebutir pasir di segara pasir. Kungkungan itu ternyata saat ini masih hidup dan bahkan tumbuh dengan subur. Kalau boleh meminjam istilah dari Romo Sindhu di bukunya "Tak Enteni Keplokmu Tanpa Bunga dan Telegram Duka", celeng-celeng (kungkungan) sedang melakukan transformasi menjadi benar-benar manusia-manusia celeng yang jauh lebih berbahaya. Maka, pertanyaan diatas belum mampu kita semua jawab apabila kita belum menyadari kungkungan-kungkungan yang menghimpit kita. Jadi bagaimana bisa merdeka (dalam sastra) kalau tidak tahu perihal-perihal yang mengkungkung sastra kita (dalam tataran kampus maupun negara)?? hehehehe. Sembari mencari mari mulailah dengan teriakan, MERDEKA!!! MERDEKA!!! MERDEKA!!!
alwiTHELONEWOLF, August 2008

