EDITORIAL TENTANG KEMATIAN

alwiTHELONEWOLF's picture
Oleh kawan alwiTHELONEWOLF, Selasa 09-09-08 23:17

ON DEATH
Ada gema yang tak kunjung selesai di papan ini. Gema yang memang tidak pernah mudah diselesaikan meski sebenarnya repetisi. Ada gema kematian yang gong diawal dipukul-pukul oleh teman kita, Yoyo. Gaungnya memang masih cukup kencang menderu. Setiap individu yang tidak mengalami kematian (scofanum vulgus) akan merasakan durasi dan respons yang beragam terhadap gema kematian yang cukup dahsyat ini. Gema di fakultas sastra dan hinggap di papan hitam jelas akan membekas baik secara komunal dan individual. Kematian adalah repetisi yang selalu terasa baru bagi manusia karena manusia tidak pernah benar-benar menemukan satu cara yang tetap untuk menghadapai kematian.
Kematian selalu menjadi satu objek pemikiran yang menetap dan menjadi misterius bagi setiap individu. Kemisteriusan ini yang menggelitik rasa penasaran manusia. Rasa penasaran ini seringkali menjadi inspirasional bagi individu dalam mengekspresikan dirinya. Air mata, keluh, penyesalan hingga tawa dan canda selalu hadir mengekor pada satu peristiwa kematian. Respon-respon ekspresif yang sumbernya tentu masih misterius. Saking dahsyatnya, satu peristiwa kematian bahkan dipanggungkan sebagai satu simbol atau bahkan pesan satu kejadian teatrikal. Ribuan buku yang berawal dari respons penulis-penulisnya tentang peristiwa kematian sangat mudah ditemukan. Peristiwa kematian juga tak pernah jauh dari kehidupan para pemikir atau para filsuf yang mendasarkan teorinya pada kematian.
Kematian memang tidak pernah jauh dari kehidupan manusia. Permasalahan yang biasa terjadi mungkin hanya sadar atau tidaknya individu pada peristiwa kematian yang terjadi. Ketidaksadaran atas kematian akan memunculkan persepsi bahwa menjadi tdak hidup adalah jauh, tidak dapat dikenali dan tidak dapat disentuh maupun menyentuh. Ternyata kesadaran dan ketidaksadaran ini yang menjadi titik tolak individu yang masih hidup untuk merespon peristiwa kematian. Dan respon selalu melahirkan paradoks.
Bagi Schopenhauer, seorang filsuf idealist dari Jerman, menganggap kematian hanyalah satu persepsi berbeda. Filsafat idealisme adalah filsafat mendasarkan pemikirannya pada ide-ide atau roh-roh immateri sebagai awal terjadi perihal-perihal yang material. Lantas, dari pemikiran itu peristiwa kematian akan diartikan hanya sebagai aktifitas ‘normal’. ‘Normal’ karena tidak adanya ide atau roh yang berkurang dikarenakan peristiwa itu. Toh, yang tadinya hidup (perihal material) hanyalah bentukan dari perihal immaterial.
Tantangan terbesar atas pemikiran para idealists datang dari saudara dekatnya yaitu filsafat materialisme. Contoh yang terdekat (yang paling dipahami penulis) adalah seorang materialis Indonesia Tan Malaka. Dalam bukunya ‘MADILOG’, Tan Malaka menulis tentang materialisme. Kejadian awal dari semua yang ada di dunia ini adalah perputaran atau pergerakan elemen-elemen terkecil (atom) yang menghasilkan fenomena-fenomena konkrit (material). Peristiwa kematian pun bagian dari pergerakan atom-atom tadi. Sehingga tidak hal konkrit yang benar-benar mati (hilang) dari dunia karena peristiwa kematian hanyalah satu fase dari transformasi entitas (atom) konkrit ke bentuk konkrit yang lain. Analoginya adalah buah apel yang kita makan tidak benar-benar hilang tapi ditransformasikan melalui proses pencernaan kedalam entitas yang lain dialam tubuh kita.
Dari kedua konsep diatas tentang kematian, idealnya kematian tidak dikultuskan untuk menjadi sesuatu yang luar biasa (special). Akan tetapi, respon-respon ekspresif (tangisan, penyesalan, kerinduan, tawa, canda dll) masih selalu mengekor pada kematian. Tentu saja ini masih menjadi titik api dari sebuah pertanyaan “kenapa?”. Sekarang, mari kita lihat apa saja yang terjadi setelah kedua konsep diatas (materialisme dan idealisme) diamini. Sigmund Freud, psikoanalis dari Austria, menyimbolkan kematian sebagai kegagalan dalam teori “dreamworks”-nya. Kematian dalam mipi sesorang adalah representasi dari kegagalan individu tersebut dalam menggapai satu harapan. Kegagalan tersebut ditekan (tidak dimunculkan) dalam kehidupan sehari-hari dan mengendap-endap dalam mimpi dan membawa pesan melalui kematian tentang kegagalan dalam kehidupan nyatanya.
Contoh pemikiran Freud pada paragraph sebelumnya tentu menyediakan lilin kecil atas gelapnya pertanyaan dari mana asal respon-respon ekspresif tadi. Kematian secara tidak sadar disimbolkan dan lalu dipercaya sebagai mitos tentang kegagalan, ketidakberhasilan dan segala hal yang bersifat minor. Mitos-mitos minor ini yang kemudian membentuk kecenderungan individu-individu (scofalnum vulgus) untuk takut menghadapi kematian. Ketakuan menghadapi kematian ini tidak sama dengan takut mati namun takut untuk bersinggungan dengan kematian yang ada didekat kita. Maka, respon-respon ekspresif yang muncul mempunyai kecenderungan minor seperti menangis dan menyesali.
Contoh kedua datang dari seorang penulis romantik Amerika pada awal abad ke-19, Edgar Allan Poe. Poe sangat terkenal karena tema-tema horror yang diangkatnya. Ia juga mampu membungkus karya-karyanya melalui diksi-diksi yang janggal dan tidak familiar demi sebuah atmosfer asing. Karya-karya Poe menjanjikan mata air lain dari pertanyaan kita. Kenapa? Karena Poe membuktikan bahwa imajinasi manusia atas kematian benar-benar mengerikan dan tak terduga. Karya-karya apabila dilihat lagi sedikit berbau materialis karena ia tidak pernah membicarakan hal-hal dibelakang kematian atau yang terjadi setelah mati. Ia berpegangteguh pada proses pe-mati-an individu-individu. Dalam salah satu cerpennya yang berjudul “the cask of ammontilado”, ia menggambarkan bagaimana pembunuhan dengan cara mengubur hidup-hidup dalam tembok yang dilakukan diruang bawah tanah. Dalam “the system of Dr. Tarr and Prof. Fether”, penggambaran pembunuhan melalui tekanan mental semacam pengurungan dan pengkondisian agar korban merasa tidak berdaya sangat mendetil. Lilin kecil atas pertanyaan akhirnya kita dapat lagi bahwa kematian menjadi hal yang jauh dan tidak terbayangkan. Poe semacam memberi banyak alternative-alternatif ketakutan yang lagi-lagi menjadi mitos atas kematian. Kematian selalu jauh yang bisa mendekat kapanpun, dari manapun dan dengan cara apapun. Karya-karya Poe merepresentasikan bagaimana individu-individu “diharuskan” menyerah, merasa tidak mempunyai harapan dan tidak bisa berbuat apapun kecuali berdiam diri ketika berdekatan dengan kematian.
Kematian memang selalu baru meski repetisis bagi. Individu-individu tidak akan pernah terbiasa dengan kematian meski telah menjadi saksi atasnya berulang kali. Dan respon-respon ekspresif pun akan dengan setia ada setiap maut beraksi. Tulisan ini pun mungkin bagian dari respon-respon ekspresif atas kematian seorang teman. Tetapi, setelah mengenal berbagai pemikiran-pemikiran disekitar kematian maka rasa menyerah dan “hopeless” akan sedikit terkikis dan kita tidak lagi terbiasa mendangkalkan peristiwa kematian yang dirasakan.
alwiTHELONEWOLF
early of Sept ‘08

Kategori: