TAFSIR BUDAYA PANSUS CENTURY
Bulan ini perhatian kita tertuju kepada sepak terjang Pansus Century. Semua media meliputnya secara eksklusif, tanpa mau kehilangan momen itu sedetikpun. Pada awal terungkapnya kasus Century, DPR yang ingin menegaskan perannya sebagai wakil rakyat dengan semangat menggebu memaksakan pembentukan Pansus. Disi lain presiden, yang merasa terdesak dalam perang opini, pada awalnya meminta kasus century diusut tuntas.
Pansus pun bekerja dengan semangat tinggi. Hasil audit BPK diminta, hak meminta data-data pengadilan diperoleh. Semua pihak terkait dipanggil, mulai dari Sri Mulyani, Boediono, Marsilam Simanjuntak, mantan wakil presiden Jusuf Kalla, dan para pakar pun dihadirkan. Seakan ingin memberitahu kita, rakyat, bahwa Pansus ini serius, tidak serampangan bekerja. Ditambah lagi dengan penyidikan ke daerah-daerah seperti Surabaya, Bali, Medan, Makassar pun dilakukan.
Pada awalnya langkah-langkah Pansus century terkesan meyakinkan, kita dibuat sedikit bangga. Sikap presiden yang menginstruksikan pengusutan tuntas kasus ini juga terasa melegakan. Namun ditengah perjalanan semuanya berubah. Ucapan presiden yang mirip ksatria diawalnya ternyata lain dengan praktek politik yang diupayakan “orang-orang” nya baik di DPR melalui Partai Koalisi maupun dari pernyataan-pernyataan Presiden sendiri. Presiden tiba-tiba melempar wacana tentang pengusutan para pengemplang pajak yang membuat terganggu ketua umum Partai Golkar Aburizal Bakri. Wacana reshuffle yang dilontarkan petinggi Demokrat terkesan merupakan gertakan kepada partai anggota koalisi. Semua itu menimbulkan prasangka bahwa Pernyataan Presiden di awal hanya retorika, berbeda dengan yang sebenarnya. Dalam sidang Pansus terjadi kejadian-kejadian yang memalukan. Kata-kata kotor terucap bahkan nyaris melukai etnis tertentu. Partai Demokrat ngotot dengan seribu satu jurus bahwa penalangan dana century adalah benar. Partai PDI-P, Hanura, Golkar dan PKS ngotot menduga penalangan dana itu penuh pelanggaran. Saat hamper tiba pada puncak kerja Pansus semua ribut mengenai perlu tidaknya penyebutan nama mereka yang diduga bersalah dalam skandal ini. Tak kurang pemerintahpun gencar melakukan lobi-lobi agar rekomendasi pandangan fraksi-fraksi nanti aman buat pemerintah, tak tanggung-tanggung mantan aktifis Andi Arif yang kini menjabat sataf khusus presiden bekerja keras melakukan lobi. Kita yang semula penuh harapan di awal, kini terpaksa berpikir ulang untuk tidak jatuh kedalam pesimisme yang dalam.
Inilah kehidupan politik kita. Tafsir tehadap drama dengan lakon Skandal Century dengan pemain para politisi membuka kepada tafsir berikutnya yang lebih luas. Semua hanyalah sebuah pertunjukan saja. Kemarin ketika pemilu kita rakyat dibujuk-bujuk supaya memilih. Bahkan tak kurang MUI pun merasa sangat bertanggung jawab pada minimnya angka Golput. Sejatinya ketika mencoblos partai politik, calon presiden atau calon anggota legislatif, kita sedang membeli tiket pertunjukan sekaligus memilih jagoan kita. Tiket yang melahirkan para pemain watak diatas panggung politik. Maka pas sekali ketika banyak artis yang banting stir menjadi politisi. Kita hanyalah penonton yang tidak diberi ruang untuk interupsi. Persis seperti ketika menonton film atau kethoprak, kita hanya bisa bengong, kadang menagis pilu, kadang tertawa menyaksikan para pemain watak melakukan akting tanpa bisa ikut menentukan jalan cerita. Dan kadang-kadang kita bersorak ketika tokoh jagoan kita muncul, atau mencaci ketika tokoh yang kita benci muncul.
Inilah demokrasi yang takut dengan adanya oposisi. Inilah demokrasi yang lebih menyukai oligarki, biar aman, mudah dikendalikan dan tanpa gejolak. Inilah demokrasi yang diisi partai politik yang membodohkan konstituen, partai politik yang kehilangan makna perjuangan serta lebih mengedepankan kepentingan elit-elit mereka. Inilah demokrasi yang didominasi “lupa”. Lupa untuk memberdayakan konstituennya, lupa akan janji-janjinya, lupa akan perjuangan mensejahterakan rakyat. Inilah “pertunjukan demokrasi”, belum demokrasi yang sesungguhnya.
Malo, 23 Pebruari 2010
…..pancatankahanan….
Bambang Hermawan
Tinggal di
http://www.facebook.com/berikucinta




http://www.facebook.com/home.php?#!/video/video.php?v=105673979456489&ref=nf
Maaf, tadi di Facebook. ini yang di Youtube. silahkan ditonton.
semakin jelas permainan sandiwaranya. masalahnya adalah, efek yang dihasilkan dari keputusan apapun di 'atas' sana bukanlah sandiwara, tapi beneran dan serius.
http://www.youtube.com/watch?v=6yBwuQxp0SA