Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

 

sebagaimana demikian

catangel's picture

matahari mungkin lebih suka bersembunyi
di balik awan
dan cinta akan bersembunyi
di balik senyumku

sebagaimana awan menjadi hujan
demikianlah senyumku menjadi tangis

sebagaimana hujan menyuburkan tanah
setiap tetes air mata adalah pengorbanan bagimu

dan bila dedaunan tumbuh dari suburnya tanah
demikian cintaku tumbuh menyejukan duniamu..

durgadurga's picture

sedia payung

keluar rumah di saat ini
jangan lupa engkau membawa payung, sayang...
hujan sebentar lagi akan turun
dari kedua bola mata sendu itu.

salam,
amarah durga

catangel's picture

should?

jika payung tidak mampulagi melindungiku
apa yang harus aku lakukan
ketika mata itu tak sadar
untuk siapa lagi semua air mata yang telah terhambur..

catangel who always happy

wahmuji's picture

"standing in Love"

Ah, bagaimanapun juga, ternyata,isi dari respon dan komentar atas hadirnya sebuah wacana, "terlebih puisi", sangat dipengaruhi oleh keadaan psikis dan wacana lain yang sedang "ngendon" di otak orang yang mengkonsumsinya.

Begitu jugalah saat aku melihat puisi Catangel ini.
aku sedang tergugah dengan beberapa kalimat yang mengacu pada "penderitaan." Tuan Lurrie dalam Aib(Disgrace)nya Coetzee mengatakan bahwa, "penderitaan yang tak membunuhku akan menguatkanku." Ah, masih cukup jauh, ya? Afrika soalnya. hehe...

Nah, ada istilah jawa yang cukup menarik juga berbicara tentang penderitaan yang mampu menjadikan orang sebagai bangsawan batin; neng neraka katut, neng suarga ora nunut. kata-kata ini aku ambil dari sesirih kapur yang ditulis untuk Kuantar ke Gerbang-nya K.H. Ramadhan.

Meski mungkin loncat,saat membaca karya Catangel "Sebagaimana Demikian", aku jadi berpikir tentang baris yang diungkapkan Montaiqne; Chaque homme porte la forme enti e're de l'humaine condition (Setiap Manusia membawa bentuk lengkap dari kondisi kemanusiaan).

"Sebagaimana Demikian", sederhananya saja, ketulusan membawa manusia mengungkap perannya dalam dunia sosial. pengorbanan yang sangat sering berkonotasi positif dalam dunia perjuangan apapun, juga terlihat dalam puisi ini. Ah, sial! Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana-nya Sapardi Djoko Damono tiba-tiba terbayang. Mungkin karena beberapa citra yang digunakan sama: awan, hujan, dan cinta. Mungkin puisi itu lahir duluan.

Loncat ke Fromm, "Orang cenderung berpikir bagaimana untuk dicintai, bukan mencintai" (The Art of Loving). Puisi ini menggambarkan sebaliknya, yaitu kesadaran bahwa "seni dari cinta" adalah mencintai. Mencintai dilakukan dengan kesadaran. jadi, lanjut Fromm, seharusnya bukan "Falling in Love" tetapi "Standing in Love." Kesadaran ini tumbuh, kadang dalam nestapa, dalam "airmata" yang "adalah pengorbanan bagimu" dan "dan bila dedaunan tumbuh dari suburnya tanah/demikian cintaku tumbuh menyejukan duniamu.."

SalamStandingInLove,
Wahmuji

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <img> <br> <br /> <p> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Textual smileys will be replaced with graphical ones.
  • You may quote other posts using [quote] tags.
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.
 

Highest Points

UserPoints
durgadurga1101
molen574
wahmuji421
mbik410
ginting339
sedik317
dalangpotehi289
sescoplo265
titiknol177
otakudang168