Cerpen
Lebaran atau Hari Raya Iedul Fitri telah berlalu, Lebaran atau Hari Raya Iedul Fitri adalah merupakan aktivtas yang bernuansakan religi (ritual) serta juga memiliki nuansa tradisi yang telah melekat erat pada kehidupan masyarakat di Indonesia.
Lagi-lagi aku harus kembali ketempat yang memenjarakan kebebasanku. Rumah. Penjara dunia yang terasa bagai neraka ini membuatku selalu muak. Petir menyambar hebat dengan serbuan kilat yang membakar pelupuk mata tatkala aku menghentakkan langkah pertamaku dari arah pintu masuk. Gumpalan asap yang mengepul menyesakkan pandangan.
“Mamiii….cepet dikit kenapa sih? Dandan mulu.” teriak eduardo kesal.
Tanggal Publikasi: 24 April 2012
- Genre: Cerpen
- Bahasa: Indonesia
- Label: cerpen, naskah drama monolog
Angin malam yang dingin menusuk tulangku, ditambah dengan dinginnya musim dingin negeri Nordennavic. Salju putih memenuhi jalanan Canerd, ibukota Nordennavic. Namaku Detlef Fleisher, seorang mantan pilot Angkatan Udara Belka, di sebuah skuadron bernama Rot. Sekarang disinilah aku, tinggal di negeri dingin yang damai. Aku bekerja sebagai fotografer bebas, tidak terikat pada perusahaan apapun.
Aku berada di sebuah kapal yang sangat besar. Kapal ini berlayar diatas samudera yang sangat luas. Tidak banyak penumpang di dalam kapal ini. Pemilik kapal ini adalah seorang ibu yang kira-kira umurnya sudah setengah abad, dan beliau adalah ibuku. Kapal ini sudah lama di buat, tetapi banyak hal tentang kapal ini yang tidak aku ketahui, walaupun pemiliknya adalah ibuku.
Di sebuah penjara semu
terpercik cahaya yang begitu menyilaukan mata
cahaya yang tak tau dari mana asalnya
cahaya yang begitu mempesona
sempat tersirat hasrat tuk memilikinya
mungkin ia dapat memberikan kecerahan di ruang yang telah lama gelap
tapi itu hanyalah asa yang mungkin tak kan terwujud
Aku adalah hujan tanpa air
Tiada angin tiada badai sebagai pertanda
Aku datang begitu saja lalu pergi menghilang
Entah apa yang akan kau simak
Aku adalah malam tanpa bintang
Gelap redup bayangi jejak langkah
Aku melihat tanpa tajam binar mata
Entah apa yang akan kau sinari
Hening. Panas menguap meledak-ledak. Di atas kepala-kepala berkerudung sejenis penutup transparan dan berair yang bertumpah ruah di dasar sebuah danau. Kering kerontang. Hanya terlihat bertitik-titik butiran air berkilauan memancarkan spektrum bianglala matahari. Gumaman panjang bercampur desah keluhan keluar dari mulut-mulut berair itu.
Bab yang telah tamat dalam kehidupanmu,
Tanggal Publikasi: 04 Maret 2012
- Genre: Cerpen
- Bahasa: Indonesia
- Label: keluarga, kematian, persaudaraan, kesendirian, egoisme
Ia diam-diam saja di kursinya, seolah ia tak pernah ada di antara saudara-saudaranya. Ia tak tahu. Di ruang sebelah, televisi menyala menayangkan Termehek-mehek. Tapi sepertinya tak ada yang peduli. Siapa pula yang peduli dengan jenis acara senorak itu. Anak-anak lebih tertarik bermain Monopoli daripada memelototi orang yang merengek-rengek mencari orang yang tak jelas.
dan sekolahpun dimulai. dengan beratnya aku beranjak dan pergi meninggalkan rumah. yang kuinginkan hanya kamarku,buku-bukuku, dan tentu saja teman-temanku di kelas yang lama. ketika semua harus dimulai aku masih ingin merasakan kenyamanan yang lama. aku merasa tidak sanggup untuk meninggalkan itu semua. sejujurnya aku takut.
Cerpen Marsus Banjarbarat*
Naskah Pendek Stand Up Comedy Banten;
Tanggal Publikasi: 02 Januari 2012
- Genre: Cerpen
- Bahasa: Indonesia
- Label: SASTRA ANAK
Suatu malam menjelang pagi.... seorang pak satpam sedang berkeliling kampung dengan membawa sarungnya yang sudah seminggu tidak cuci.. pak satpam itu mempunyai kumis yang sangat lebat.. kumis pak satpam tersebut ada penghuninya. tidak lain tidak bukan adalah sang kutu.. kutu tersebut suka menghisap darah pak satpam sambil bernyanyi INDONESIA TANAH AIRKU TANAH TUMPAH DARAH PAK KUMIS...
Alkisah hiduplah seorang raja yang sangat baik dan disayangi rakyatnya. Raja itu mempunyai hobi yang unik, ia sangat menyukai sebelas warna, yaitu : merah, kuning, hijau, jingga, biru, hitam, ungu, putih, coklat, merah muda, dan kelabu.
Tiap malam ku menatap jauh kelangit dan ku teringat pada satu hal ya itu terang ya rembulan di malam hari menggingatkan ku pada diri mu yang selalu ada di dalam pikiran ku di setiap malam yang sunyi ini ku melihat mu menjadi rembulan yang idah di tiap malam ini untuk menyinari sunyinya malam ini dan seandainya ku bisa jadi bintang ku kan selalu menemanimu selamanya di malam yang sunyi ini
Entah sampai kapan aku harus berjalan tertatih,
Sedangkan kini dikau telah terbiasa hidup tanpa kenangan antara kita.
Namun mungkin dengan cara berpisah,
kita bisa bahagia dan menjalani hidup tanpa beban untuk hari esok.
Semakin aku terluka maka aku akan semakin hidup,
Aku sadar sampai kapanpun akau tak akan bisa mengubah masa lalu,
'Josh, andai aja kita saling kenal... Andai aja, Josh!'
“Siapakah engkau berjalan mengendap endap di balik jiwa? Menyanyikan kidung tanpa kata dan membelaikan angin pada rasa.”
Di halaman belakang rumah yang teduh oleh pepohonan, dan asri karena penuh dengan tanaman hias, duduklah seorang lelaki tua; Ishak. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang nampak sibuk bermain mobil-mobilan.
Lita Anggraeni adalah seorang wanita cantik yang manja. Segala hal mengenai perawakannya adalah sempurna; ia punya kaki panjang yang indah, hidung yang mancung, mata hitam yang cerah, dan rambutnya panjang berwarna hitam mengkilap. Setiap orang pasti akan terpesona jika melihatnya. Akan tetapi, usianya sudah terbilang tua; 29 tahun.
Diceritakan ada seorang anak bernama Boy, baru- baru ini ia ditinggal ibunya untuk selamanya. Kini ia hidup dengan ayahnya saja. Boy, kini dalam masa remaja, duduk di bangku SMA, dan seperti pada cerita- cerita belia, ia pun sedang dalam masa cinta monyet, begitu kalau mau dikata.
"Bangun! Masak anak perempuan jam segini belum bangun! Cepat beresin tempat tidur, sapu dan pel kamar, mandi, terus sekolah!" bentak seorang ibu kepada anak perempuannya yang setengah sadar di atas kasur empuknya.



