Cerpen

Cerpen Marsus Banjarbarat*

Baca selengkapnya »

Naskah Pendek Stand Up Comedy Banten;

Baca selengkapnya »

Suatu malam menjelang pagi.... seorang pak satpam sedang berkeliling kampung dengan membawa sarungnya yang sudah seminggu tidak cuci.. pak satpam itu mempunyai kumis yang sangat lebat.. kumis pak satpam tersebut ada penghuninya. tidak lain tidak bukan adalah sang kutu.. kutu tersebut suka menghisap darah pak satpam sambil bernyanyi INDONESIA TANAH AIRKU TANAH TUMPAH DARAH PAK KUMIS...

Baca selengkapnya »

SUARA-SUARA ITU?

 

Oleh : Suhariyadi

Komunitas Sanggar Sastra Unirow Tuban

 

 

 

Baca selengkapnya »

Cerita Pendek


Karya : Suhariyadi

 

Baca selengkapnya »

       Alkisah hiduplah seorang raja yang sangat baik dan disayangi rakyatnya. Raja itu mempunyai hobi yang unik, ia sangat menyukai sebelas warna, yaitu : merah, kuning, hijau, jingga, biru, hitam, ungu, putih, coklat, merah muda, dan kelabu.

 

Baca selengkapnya »

Tiap malam ku menatap jauh kelangit  dan ku teringat pada satu hal ya itu terang ya rembulan di malam hari menggingatkan ku pada diri mu yang selalu ada di dalam pikiran ku di setiap malam yang sunyi ini ku melihat mu menjadi rembulan yang idah di tiap malam ini untuk menyinari sunyinya malam ini dan seandainya ku bisa jadi bintang ku kan selalu menemanimu selamanya di malam yang sunyi ini

Baca selengkapnya »

Entah sampai kapan aku harus berjalan tertatih,

Sedangkan kini dikau telah terbiasa hidup tanpa kenangan antara kita.

Namun mungkin dengan cara berpisah,

kita bisa bahagia dan menjalani hidup tanpa beban untuk hari esok.

Semakin aku terluka maka aku akan semakin hidup,

Aku sadar sampai kapanpun akau tak akan bisa mengubah masa lalu,

Baca selengkapnya »

            'Josh, andai aja kita saling kenal... Andai aja, Josh!' 

Baca selengkapnya »

“Siapakah engkau berjalan mengendap endap di balik jiwa? Menyanyikan kidung tanpa kata dan membelaikan angin pada rasa.”

Baca selengkapnya »

 Oleh : Suhariyadi

Komunitas Sanggar Sastra Unirow Tuban

Baca selengkapnya »

Di halaman belakang rumah yang teduh oleh pepohonan, dan asri karena penuh dengan tanaman hias, duduklah seorang lelaki tua; Ishak. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang nampak sibuk bermain mobil-mobilan.

Baca selengkapnya »

Lita Anggraeni adalah seorang wanita cantik yang manja. Segala hal mengenai perawakannya adalah sempurna; ia punya kaki panjang yang indah, hidung yang mancung, mata hitam yang cerah, dan rambutnya panjang berwarna hitam mengkilap. Setiap orang pasti akan terpesona jika melihatnya. Akan tetapi, usianya sudah terbilang tua; 29 tahun.

Baca selengkapnya »

By: Rully Ferdiansyah   Banyak orang mengidentikkan kalau ciri khas orang Banten itu adalah seorang yang jago silat dan juga ahli agama. Sampai sekarang pun, banyak orang yang masih mengidentikkan orang Banten dengan kedua hal tersebut.

Baca selengkapnya »

 

Diceritakan ada seorang anak bernama Boy, baru- baru ini ia ditinggal ibunya untuk selamanya. Kini ia hidup dengan ayahnya saja. Boy, kini dalam masa remaja, duduk di bangku SMA, dan seperti pada cerita- cerita belia, ia pun sedang dalam masa cinta monyet, begitu kalau mau dikata.

Baca selengkapnya »

             "Bangun! Masak anak perempuan jam segini belum bangun! Cepat beresin tempat tidur, sapu dan pel kamar, mandi, terus sekolah!" bentak seorang ibu kepada anak perempuannya yang setengah sadar di atas kasur empuknya.

Baca selengkapnya »

            Di hadapanku kini berdiri kokoh sebuah rumah dengan teras depan dan pekarangan di sampingnya yang cukup luas, atap rumah yang sudah rapuh, dinding rumah yang sudah retak-retak, dan tiga buah kursi bambu di samping pintu masuknya.

Baca selengkapnya »

“KRIIIIING!!!”

Alarm handphone Dave berbunyi. Mata terpejamnya bergerak perlahan. Mencoba membuka mata sambil meraba keberadaan HP-nya. Mata lebarnya terbuka sedikit demi sedikit, menatap jam yang terpampang di layar HP.

Baca selengkapnya »

Ketika kebisingan suara bedil serta teriakan para tentara yang patuh terhadap perintah pemegang sejarah pada suatu orde yang memegang kunci kekuasaan dan perintah yang harus dijalankan atau mati.

 

Baca selengkapnya »

Para penyair menjadi rapper

Lirik Kritik diangap super

Kenyataan hiper kontra kuper

musik bersenapan berpower

 

Beraksilah si kancil penyamun

dicuri sudah ladang mentimun

Pak tani bersusah menangis di kebun

Bikin perangkap di tempat yang rimbun

 

mentimun panjang hijau berair

Baca selengkapnya »

The New World (The Halloween of mind)

 

Baca selengkapnya »

                Hari itu adalah hari Sabtu seperti biasa di Jogja. Tidak kurang, tidak lebih. Aku , Alicia Chiara, atau lebih akrab dipanggil Cici, memakai topi baseball kesayanganku yang bertuliskan ‘Red Sox’, dan mengenakan jaket hoodie ‘Red Sox’ juga, siap berangkat sekolah.

Baca selengkapnya »

Apa Arti Cinta di Tengah Keniscayaan Ketiadaan?

 

Aku duduk di tengah taman kota. Hari telah senja, langit berwarna biru dengan awan hitam menggantung. Bulan separuh mengintip di balik dedaunan. Para manusia berlalu-lalang, mungkin tak menyadari keberadaanku.

 

Baca selengkapnya »

Susi melihat bayangan Ibu yang selalu menyayanginya duduk di sudut kamar mandi. Ibu Susi sering terlihat mencuci di tengah malam yang gigil. Tak pernah selesai. Susi hanya bisa mengamati Ibunya dari posisi berjarak. Ibu Susi hanya menunduk dan terus mengucek pakaian satu persatu. Mata Ibu Susi tak pernah mau berpaling dari pekerjaannya untuk sekadar menoleh ke arah Susi.

Baca selengkapnya »

Tubuh-tubuh kami terpojok. Di hadapan kami batu-batu dan kayu-kayu beterbangan seperti kapuk diterpa angin ribut. Teriakan dan dentuman senapan berkoar-koar di atas sendunya langit kompleks pemakaman Mbah Bejo. Pasukan berseragam sedikit demi sedikit berhasil memukul mundur kami. Tubuh-tubuh kami semakin terpojok; menempel di tembok seperti cicak di balik lemari pakaian.

Baca selengkapnya »

AGIL masih memandangi wajahnya di cermin dengan pupuhan bedak putih dan sedikit lipstik memerahi bibirnya. Meski begitu, Agil merasa tak ada yang perlu ditakuti dari cermin di depannya yang menampakan wajahnya itu.

Baca selengkapnya »

Tahukah kau, Maya, senyummu melambungkan anganku sampai ke pucuk cemara yang baru saja  diguyur rintik gerimis yang tenang tanpa gemuruh petir dan halilintar. Senyummu  kubungkus dalam butiran-butiran selaksa embun dan kugantungkan di setiap ujung daun cemara hingga tampak kemilau oleh sapuan sinar matahari yang mengendap-endap di balik awan yang belum cerah sepenuhnya.

Baca selengkapnya »

“Dia masih mencoba mempertahankan dirinya untuk tetap berendam lebih lama lagi di dalam kubang air berlumpur itu.  Dia tak bergeming dan mencoba untuk tetap tenang agar tak menimbulkan kecipak air yang bisa menggagalkan persembunyiannya.

Baca selengkapnya »