Cerpen
Cerpen Marsus Banjarbarat*
Naskah Pendek Stand Up Comedy Banten;
Tanggal Publikasi: 02 Januari 2012
- Genre: Cerpen
- Bahasa: Indonesia
- Label: SASTRA ANAK
Suatu malam menjelang pagi.... seorang pak satpam sedang berkeliling kampung dengan membawa sarungnya yang sudah seminggu tidak cuci.. pak satpam itu mempunyai kumis yang sangat lebat.. kumis pak satpam tersebut ada penghuninya. tidak lain tidak bukan adalah sang kutu.. kutu tersebut suka menghisap darah pak satpam sambil bernyanyi INDONESIA TANAH AIRKU TANAH TUMPAH DARAH PAK KUMIS...
Alkisah hiduplah seorang raja yang sangat baik dan disayangi rakyatnya. Raja itu mempunyai hobi yang unik, ia sangat menyukai sebelas warna, yaitu : merah, kuning, hijau, jingga, biru, hitam, ungu, putih, coklat, merah muda, dan kelabu.
Tiap malam ku menatap jauh kelangit dan ku teringat pada satu hal ya itu terang ya rembulan di malam hari menggingatkan ku pada diri mu yang selalu ada di dalam pikiran ku di setiap malam yang sunyi ini ku melihat mu menjadi rembulan yang idah di tiap malam ini untuk menyinari sunyinya malam ini dan seandainya ku bisa jadi bintang ku kan selalu menemanimu selamanya di malam yang sunyi ini
Entah sampai kapan aku harus berjalan tertatih,
Sedangkan kini dikau telah terbiasa hidup tanpa kenangan antara kita.
Namun mungkin dengan cara berpisah,
kita bisa bahagia dan menjalani hidup tanpa beban untuk hari esok.
Semakin aku terluka maka aku akan semakin hidup,
Aku sadar sampai kapanpun akau tak akan bisa mengubah masa lalu,
'Josh, andai aja kita saling kenal... Andai aja, Josh!'
“Siapakah engkau berjalan mengendap endap di balik jiwa? Menyanyikan kidung tanpa kata dan membelaikan angin pada rasa.”
Di halaman belakang rumah yang teduh oleh pepohonan, dan asri karena penuh dengan tanaman hias, duduklah seorang lelaki tua; Ishak. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang nampak sibuk bermain mobil-mobilan.
Lita Anggraeni adalah seorang wanita cantik yang manja. Segala hal mengenai perawakannya adalah sempurna; ia punya kaki panjang yang indah, hidung yang mancung, mata hitam yang cerah, dan rambutnya panjang berwarna hitam mengkilap. Setiap orang pasti akan terpesona jika melihatnya. Akan tetapi, usianya sudah terbilang tua; 29 tahun.
Diceritakan ada seorang anak bernama Boy, baru- baru ini ia ditinggal ibunya untuk selamanya. Kini ia hidup dengan ayahnya saja. Boy, kini dalam masa remaja, duduk di bangku SMA, dan seperti pada cerita- cerita belia, ia pun sedang dalam masa cinta monyet, begitu kalau mau dikata.
"Bangun! Masak anak perempuan jam segini belum bangun! Cepat beresin tempat tidur, sapu dan pel kamar, mandi, terus sekolah!" bentak seorang ibu kepada anak perempuannya yang setengah sadar di atas kasur empuknya.
Di hadapanku kini berdiri kokoh sebuah rumah dengan teras depan dan pekarangan di sampingnya yang cukup luas, atap rumah yang sudah rapuh, dinding rumah yang sudah retak-retak, dan tiga buah kursi bambu di samping pintu masuknya.
“Waduh!
“KRIIIIING!!!”
Alarm handphone Dave berbunyi. Mata terpejamnya bergerak perlahan. Mencoba membuka mata sambil meraba keberadaan HP-nya. Mata lebarnya terbuka sedikit demi sedikit, menatap jam yang terpampang di layar HP.
Ketika kebisingan suara bedil serta teriakan para tentara yang patuh terhadap perintah pemegang sejarah pada suatu orde yang memegang kunci kekuasaan dan perintah yang harus dijalankan atau mati.
Para penyair menjadi rapper
Lirik Kritik diangap super
Kenyataan hiper kontra kuper
musik bersenapan berpower
Beraksilah si kancil penyamun
dicuri sudah ladang mentimun
Pak tani bersusah menangis di kebun
Bikin perangkap di tempat yang rimbun
mentimun panjang hijau berair
Hari itu adalah hari Sabtu seperti biasa di Jogja. Tidak kurang, tidak lebih. Aku , Alicia Chiara, atau lebih akrab dipanggil Cici, memakai topi baseball kesayanganku yang bertuliskan ‘Red Sox’, dan mengenakan jaket hoodie ‘Red Sox’ juga, siap berangkat sekolah.
Apa Arti Cinta di Tengah Keniscayaan Ketiadaan?
Aku duduk di tengah taman kota. Hari telah senja, langit berwarna biru dengan awan hitam menggantung. Bulan separuh mengintip di balik dedaunan. Para manusia berlalu-lalang, mungkin tak menyadari keberadaanku.
Susi melihat bayangan Ibu yang selalu menyayanginya duduk di sudut kamar mandi. Ibu Susi sering terlihat mencuci di tengah malam yang gigil. Tak pernah selesai. Susi hanya bisa mengamati Ibunya dari posisi berjarak. Ibu Susi hanya menunduk dan terus mengucek pakaian satu persatu. Mata Ibu Susi tak pernah mau berpaling dari pekerjaannya untuk sekadar menoleh ke arah Susi.
Tubuh-tubuh kami terpojok. Di hadapan kami batu-batu dan kayu-kayu beterbangan seperti kapuk diterpa angin ribut. Teriakan dan dentuman senapan berkoar-koar di atas sendunya langit kompleks pemakaman Mbah Bejo. Pasukan berseragam sedikit demi sedikit berhasil memukul mundur kami. Tubuh-tubuh kami semakin terpojok; menempel di tembok seperti cicak di balik lemari pakaian.
AGIL masih memandangi wajahnya di cermin dengan pupuhan bedak putih dan sedikit lipstik memerahi bibirnya. Meski begitu, Agil merasa tak ada yang perlu ditakuti dari cermin di depannya yang menampakan wajahnya itu.
Tahukah kau, Maya, senyummu melambungkan anganku sampai ke pucuk cemara yang baru saja diguyur rintik gerimis yang tenang tanpa gemuruh petir dan halilintar. Senyummu kubungkus dalam butiran-butiran selaksa embun dan kugantungkan di setiap ujung daun cemara hingga tampak kemilau oleh sapuan sinar matahari yang mengendap-endap di balik awan yang belum cerah sepenuhnya.
“Dia masih mencoba mempertahankan dirinya untuk tetap berendam lebih lama lagi di dalam kubang air berlumpur itu. Dia tak bergeming dan mencoba untuk tetap tenang agar tak menimbulkan kecipak air yang bisa menggagalkan persembunyiannya.



