BAJU

 gambar mando
0
Penilaian Anda: tidak ada

Mauritio, Ayah dua anak itu baru pulang dari kesibukan kerjanya hari itu.Ia tiba di rumah dan tak ada siapa-siapa kecuali anak lelaki pertamanya yang sedang bermain di lantai ruang tengah. Keluarganya adalah keluarga muda.Ia istrinya,dan dua orang anak mereka. Anak yang kedua hanya beda setahun usianya dengan yang pertama. Si sulung belum lagi lepas dari usia dua tahun. Wanita yang adalah ibu anak-anak itu masih muda betul.Masih bisa terlihat senyum canda masa remajanya berbaur dengan air-air sungai yang belum kering dan menetes dari rambut dan turun ke wajahnya saat ia berjalan pulang dari sungai kecil di kampung itu tempat orang biasa mencuci atau mandi. Ia perempuan yang muda dan riang.
Mauritio tidak punya pekerjaan tetap. Kadang saja ia menjadi nelayan. Itupun tidak bisa total seperti kerabat lainnya yang bisa berhari-hari di lautan dan pulang membawa hiu-hiu pasir sepanjang lengan,atau melaut sampai di pulau-pulau kecil di mana penduduk-penduduknya masih sering membarter barang. Ia sakit. Hatinya bermasalah. Sakit yang pernah hampir merenggutnya ketika ia masih belasan tahun. Bekas dari masa-masa rawan itu masih tertinggal berupa matanya yang tidak pernah lagi terlihat bening, yang akan makin kuning bila penyakit itu datang dan merayapi tubuh rampingnya yang mungkin tanpa disadari atau dengan sengaja ia paksa untuk bekerja agak berat. Cukup saja tentang sakit itu. Mauritio sendiri tidak pernah pusing dengan hal itu. Ia akan beristirahat bila lelah dan mencoba berbuat sesuatu bila sudah pulih.
Di sore itu ia baru pulang dari menjual kayu api. Dari pagi ia mengumpulkan kayu-kayu kering dari kebun,atau hutan di kaki-kaki bukit di bagian barat kampung dan menyusunnya di pinggir jalan sambil duduk menungguinya. Kadang ia sendirian saja,lebih sering begitu bahkan, tapi hari ini ada beberapa sepupu yang lewat lalu menemaninya ngobrol sebentar,membagi rokok mereka lalu pergi lagi meneruskan urusannya masing-masing, ke ladang atau mengembalakan kambing atau sapi. Matahari agak hangat membuat semua orang mungkin merasa seperti sedang sembuh pelan-pelan dari sakit panjang. Ia duduk di kursi ruang tengah rumah setelah menyulut sebatang rokok lintingan yang kusam dan tidak penuh,di atas meja makan terdapat piring berisi biskuit, aromanya pandan.
“Kaka…bikin apa?”Ia bertanya pada anak pertamanya yang duduk tanpa baju dan bermain-main dengan botol-botol plastik bekas peralatan make-up istrinya mungkin.Anak itu asik sendiri dengan tawa-tawanya,dan duduk tenang di atas lantai abu-abu tidak rata yang terbuat dari semen itu.

‘Itu bapa su datang,jangan menagis lagi e” istrinya datang, sambil menggendong anak keduanya yang agak sesenggukan. Baju mereka berdua,ibu dan anak itu, sama. Daster putih dengan garis-garis kecil hijau muda yang megurat dan hampir tidak terlihat.
“Mari adek dengan bapa saja e” dan si bungsu, anak perempuan yang berkulit terang seperti ibunya itu berpindah ke gendongan ayahnya, kulit lengan Mauritio yang hitam dan jari-jari kurusnya yang penuh kerut menggenggam tubuh anak itu dan dirapatkannya putrinya ke dadanya yang tipis,ke kaosnya yang bau tembakau.
“Bapa taruh rokok dulu baru gendong adek”kata istrinya.
Ia mengiyakan dan memeluk erat lagi si bungsu, menciumnya sambil melihat wajah anak itu dari dekat. Si bungsu masih agak menggerutu entah apa yang ia mau tadi hingga ia menangis.
“Bapa besok cari kayu lagi?” Tanya istrinya.
“iya,…Tapi kalau nikson ke laut beta juga mau ikut..”
“besok panas bapa”
“sonde apa-apa,beta bantu sediki-sedikit saja”
“Ihh…Bapa,nanti beli baju lagi untuk adek e..”
“oohh iya,nanti..minta kain di oma biar pakai itu dulu untuk seprei”
“beli untuk kaka juga e”
“iya..nanti untuk mama juga..”Mauritio seperti tahu apa yang akan dikatakan istrinya.
Kedua orang itu,pasangan suami istri itu, lalu tertawa.

Langit di luar sudah gelap.Malampun telah menjelang di kampung sepi itu. Beberapa orang pulang dari kebun atau tempat-tempat mereka menjaga ternaknya lalu terus ke sungai untuk mandi.
“Bapa mandi dulu”kata istrinya pada Mauritio yang masih menimang-nimang si bungsu.
“Tadi mama dari mana?” Tanya Mauritio
“dari mama ela di muka rumah”
“ohh..”
‘dia cerita,bilang dia punya sodara ada yang sakit seperti bapa tapi bisa sembuh dengan minum air obat.dari kulit pohon dia bilang”
“ohh..”
“Na sudah, bapa mandi dulu”
Mauritio berdiri,memberikan si bungsu pada istrinya,anak itu menolak dan hampir mulai menangis bila tidak segera dibujuk ,Mauritio menggendongnya kembali, menimang-nimangnya sampai ia mau diberikan pada ibunya.
“Mama,…sonde apa-apa,mama” ia mengelus rambut istrinya yang ikal dan juga rambut tipis si bungsu yang sepertinya akan ikal juga seperti ibunya. Lalu ia beranjak,mengambil ember kecil berisi peralatan mandi. Ia berjalan ke sungai,dan dari luar rumah lewat jendela yang terbuka ia berkata pada istrinya.
“Mama nanti lihat bapa punya baju ya,tolong jahit,...tadi terobek waktu pikul kayu”
Di jalan menuju sungai ia bertemu beberapa orang dan mereka saling menyapa,lalu mengobrol dalam gelap.

TAMAT

Gorongan.20.12.2009
Untuk kakakku.

 gambar Wahmuji

perincian yang menyentuh.