Waktu Remang Senja
Waktu Remang Senja
Oleh
Sakinah Annisa Mariz
Langit masih menyisakan rintik gerimis di desaku. Kabut-kabut awan melingkupinya dengan teduh. Sehingga malam seperti sudah jauh menjalar. Hampir tak ada lagi suara kendaraan dan orang yang berlalu lalang di jalan depan rumah. Bumi seolah lelah mendesah, hanya gemerisik air yang kadang-kadang terdengar di cucuran genting rumahku yang sederhana.
Suasana seperti ini, mengingatkan aku kembali pada kota Forks di malam berkabut. Entah nyata atau fiksi, aku selalu merasa jiwa dan akalku dibayang-bayangi cerita milik Stephenie Meyer itu. Yap, teman-teman desaku menyebutnya “twilik” (baca: twilight), atau bahkan ‘tilik’ dan masih banyak lagi istilah yang diucapkan dengan logat kampung dan lidah yang nyaris jarang berbahasa asing kecuali di kelas Bahasa Inggris.
Waktu itu, aku sama sekali tidak berniat menyentuh novel yang tebalnya 3 kali buku paket Biologiku. Novel itu terlalu tebal menurutku. Tanpa gambar-gambar di dalamnya, mungkin saja aku bisa muntah menyerap huruf-huruf, kata demi kata yang disusun beratus-ratus lembar. Menurutku, awalnya akan sangat menjemukan. Tetapi aku sangat penasaran terhadap novel best seller versi New York Times ini, dengan penggemar hampir seperempat penduduk bumi. Teman-temanku selalu bercerita dengan gaya yang sangat mengagumkan. Mereka menceritakan tokoh-tokoh didalamnya dengan sangat detail dan mempesona. Seolah mereka melihat tokoh-tokoh itu hidup dalam kepalanya sendiri.
Aku tidak akan pernah menyentuhnya, kalau saja kami tidak dihukum guru pagi itu, gara-gara Ari terlambat ke sekolah hanya karena novel konyolnya yang tertinggal di rumah. Sehingga kami harus bolak-balik menempuh jarak 1,5 km hanya sekedar untuk menjemput ‘twilight’. Sepanjang koridor sekolah kurutuki Ari yang melotot tajam ke arahku. Aku bersumpah akan mencuri buku gila itu dan menyembunyikannya tanpa sepengetahuan Ari.
Aku pulang ke rumah. Kebetulan sekali Bapak dan Ibu belum pulang dari sawah. Jadi aku bisa bersantai di kamarku yang pengap. Aku merogoh kantung tasku dengan puas. Membayangkan wajah Ari yang kusut masai, kelimpungan mencari bukunya yang kusembunyikan. Aku tersenyum menimang novel itu, tapi aku masih penasaran apa isi buku tebal ini sehingga Ari rela dihukum seperti tadi.
Aku mulai membaca lembar demi lembar azimat yang menggegerkan anak-anak SMU Negeri di kampungku. Kalimat-kalimat sakti yang dituliskan didalamnya rapat berjejal menjadi potongan-potongan cerita di kepalaku. Aku tak bisa menghentikan bola mataku menyusuri baris demi baris di tiap lembarnya. Aku menikmatinya perlahan, namun jantungku menyatu dalam kepingan cerita.
***
Pagi-pagi sekali, aku sudah berangkat ke sekolah, SMU Negeri 1. Lebih tepatnya SMU Negeri satu-satunya di desaku , Karang Gading. Desa yang akhir-akhir ini sering sekali diguyur hujan. Gerimis merintik semakin besar. Aku mempercepat kayuhan sepedaku. Semalam suntuk kutuntaskan membacanya. Meraba-raba ingatan antara kisah cinta Isabella Marie Swan dan Edward Cullen, antara manusia dan si vampir ganteng bermata topaz, berkulit putih pucat yang bersih seperti porselen. Menurut hematku, bahkan Brad Pitt akan merasa rendah diri disamping Edward.
Kayuhanku melambat. Akhirnya aku memasuki halaman sekolah yang sepi. Tiba-tiba aku merasa de javu. Aku merasa sudah melintasi halaman sekolah yang berkabut ini dengan sebuah truk tua yang besar, lalu mencari-cari sebuah ruangan bertuliskan RUANG TATA USAHA. Ah, aku kembali terlempar ke dunia nyata. Sepedaku mematung. Dengan hati-hati aku menyandarkannya di dinding papan pembatas parkir.
Kakiku terseok-seok melangkah di koridor sekolah. Aku tidak ingin kelas ramai ketika aku menikmati novel ini. Jantungku berdegup saat aku menyusun mozaik cerita dalam kepalaku.
Astaga! Novel ini begitu menguasaiku. Aku de javu lagi. Guru Biologiku Pak Arman muncul tergesa. Tampaknya hujan meremuk kemeja coklat muda yang membungkus tubuh jangkungnya. Sepotong senyum khasnya terlempar ke seluruh penjuru kelas. Oh, ternyata kelasku telah ramai. Aku tidak menyadarinya jika ini pelajaran Biologi, jantungku berdegup semakin kencang. Materi respirasi aerob melambung-lambung dalam delusiku.
Aku melihat cemas ke bangku kosong di sebelahku. Berharap Pak Arman bertanya tentang siklus krebs, menjelaskan sensibilitas klorofil lalu dengan cerdasnya seorang siswa laki-laki berambut seperti warna tembaga mengacungkan jarinya yang pucat. Edward Cullen harapku. Tapi bangku itu tetap kosong.
***
Nyaris aku mengalami de javu setiap hari setelah membaca novel itu. Tak bisa kubayangkan betapa aku sudah berubah 180 derajat. Kini aku begitu memujanya, Edward. Ketika rinduku membuncah, aku menamatkan cerita itu berkali-kali dan perasaan menyakitkan selalu muncul. Yang lebih parah lagi, aku merasa kisah itu begitu nyata. Dengan kata lain, aku meyakini Edward benar-benar ada di dunia ini.
Aku tidak ingin terlihat gila seperti yang lain. Aku terus mencoba bersikap sewajar mungkin di depan teman-temanku. Kau tahu, desa kami agak jauh dari kota. Butuh waktu beberapa jam untuk tiba di kota besar. Sama seperti Forks, yang butuh waktu berjam-jam menuju Port Angeles. “Aarrgh..!”, pekikku histeris. Aku semakin curiga pada Stephenie Meyer, mungkinkah desaku yang dimaksudnya?. Mungkin saja ia mengganti namanya agar terdengar lebih fiktif. Aku mencocokkan karakter sahabatku dengan tokoh-tokoh novel itu. Rini si imut yang lincah mirip Angela, Dina si cerewet seperti Jessica, atau Tika yang ketus mirip Lauren. Tapi Edward? Siapa yang lebih pantas dicocokkan dengannya?.
Tidak. Tidak ada orang yang pantas menggantikan Edward-ku. Wajahnya yang teduh dan tampan. Tubuhnya yang tinggi sekeras marmer dan aroma lembut tubuhnya berputar-putar dalam kepalaku. Ia pasti ada tapi belum menemukan aromaku.
Aku berhenti sejenak di depan pagar sekolah. Sahabatku Lina yang sering pergi ke kota menantiku dengan sebungkus peralatan kecantikan. Aku menukarnya dengan tiga lembar uang puluh ribuan, lalu kami berpisah. Aku buru-buru izin pulang. Di perjalanan wajah Edward selalu terbayang. Seolah ia turut naik sepeda bersamaku. Tiba-tiba sesuatu yang keras menubrukku dari depan. Keseimbangan ku limbung. Aku terjatuh dan tidak melihat apa-apa lagi selain hitam.
***
Nyeri bersarang di kepala dan lututku. Seluruh tubuhku serasa kejang. Seseorang membawaku pulang. Hawa panas dan pengap sudah cukup menyadarkan dimana aku sekarang.
“ Sudah bangun rupanya.. ”, Ibu muncul memasuki pintu kamar.
“ Isma kenapa bu..? ”, tanyaku masih dengan tangan memijit kepala.
“ Kau jatuh dari sepeda, mungkin demam ya? ”, Ibu bertanya balik kepadaku. Lalu menjejalkan kepalan-kepalan nasi hangat dan tempe goreng ke mulutku. Bukan sereal, hamburger, sandwich atau lasagna. Sungguh mengecewakan, batinku berontak.
“ Jam berapa sekarang bu? ”, tanyaku lagi.
“ Pukul 6.. ”. Jawabnya tegas. Ia tak henti-hentinya menyuapi aku, hingga aku mengangkat sebelah tanganku keatas. Ibu memberiku minum. Kemudian menyelimutiku rapat-rapat. Kudengar Ibu menutup pintu kamar.
***
Kini aku benar-benar sendirian. Di kamarku yang remang kutangkap maghrib membayang di jendela. Aku merangkak kebawah jendela, merogoh kantung tas dan mencari-cari novel pujaanku, aku memeluknya erat. Kurasakan angin semakin kencang berhembus di puncak kepalaku.
Angin mengantar gerimis. Tangisku berderai, air mata rindu menganak sungai di sudut mataku. Bersama cinta yang konyol dan bodoh antara aku dan delusiku Edward. Lalu aku menagmbil bungkusan plastik yang kupesan tadi siang. Kuraba isi plastik yang berisi sabun mandi, shampoo, pasta gigi, parfum, bedak tabur, dan pengharum ruangan, yang kesemuanya berbau strawberry. Aku benar-benar sudah linglung. Aku menuang sebotol parfum ke puncak kepalaku, dan membuka jendela kamarku dengan lantang. Senja masih membayang, angin kencang berhembus menerpa barisan nyiur di samping jendela kamarku. Semilirnya membelai tubuhku, menyerbakkan aroma strawberry pekat, mengguyurku dalam kemahatololan delusi.
Aku menangis merapal rindu sambil terus memeluk novel pujaanku, seolah aku memeluknya. “Edward..” aku meraung memangilnya. Namun suaraku tercekat dikerongkongan, sebab air mata memenuhi rongganya lebih dulu. Jantungku berdebar keras sekali, hingga tubuhku berguncang-guncang. Perutku kejang, seperti akan muntah. Lututku gemetar, angin memporak-porandakan rambutku. Kausku yang kebesaran berkibar-kibar seperti Zorro. Aroma strawberry segar kembali menguar.
Sekilas, mataku menangkap bayangan hitam berkelebat dibalik rimbun pepohonan. Aku terkejut, saat sebuah tangan menepuk bahuku lembut. “Edward...” jeritku sambil berbisik spontan. Aku berbalik menghadapnya. Wajah tampan itu menguasai pemandanganku. Aroma kayu-kayuan yang lembut menguar dari rambutnya yang berwarna tembaga. Lalu mata topaz itu menikam mataku. Aku menyentuh pipinya yang dingin, putih seperti porselen. Bibirnya berwarna pink pucat mengejang, menyentuh bibirku.
“Aku tahu, kau pasti datang.. Edward!!”
Medan, November 2009




<:P mohon komentar dan kritik yang membangun.. ;;)
NTAR YA.. dibaca di rumah dulu...
hehehe ...
emhabahagia!
Ada satu hal yang sampai sekarang belum bisa saya temukan jawabannya: mengapa senja?
Dulu, saya pun pernah menulis cerpen tentang senja. Tentang remang. Dan, biasanya, tentang senja yang habis diguyur gerimis. Saya perhatikan lagi, ternyata bahasan tentang senja cukup signifikan keberadaannya di cerpen-cerpen yang ditulis oleh orang-orang muda; katakanlah, umur belasan sampai dua-puluhan tahun. Apa sebenarnya yang menarik tentang senja ini? Mengapa suasana dalam senja punya pengaruh yang agaknya besar sehingga sering menjadi ilham orang untuk menulis? Apa karena senja adalah nuansa? Tapi, bukankah subuh juga merupakan waktu-nuansa? Kenapa subuh tidak sesering senja dituliskan dalam rupa sastra? Hmm...
Untuk Sakinah
Aku awalnya bingung dengan pilihan judul yang kau sematkan untuk cerita pendek ini. Mungkin karena kebebalan otakku juga, maka aku sangat terkejut dengan isi cerita -- terutama karena aku telah punya banyak praduga-prasangka setelah membaca judul ceritamu. Delusi? Stephenie Meyer? Twilight? Senja? Senja! Aha! Akhirnya ketemu juga.
Nah, terlepas dari keasyikanku menikmati kemungkinan-kemungkinan alasan tentang keberadaan topik novel Twilight yang menyihir pembaca di desa si 'aku', aku masih merasa penggambaranmu tentang senja itu sendiri sebagai sebuah penggambaran yang umum. Belum kutemukan kejutan. Belum kutemukan pukauan. Tapi, aku suka caramu menggambarkan peristiwa. Juga, caramu menghadirkan kontradiksi antara 'Karang Gading' dan 'Forks', latar tempat yang, menurutku, akan lebih asyik kalau dijelajahi lagi.
Saat membaca ceritamu ini, aku teringat betapa rengkuhan tangan gejala 'glokalitas' (bukan globalitas), sudah merambat lebih dan lebih jauh lagi. Tak peduli seberapa jauh Karang Gading dari Hollywood, tetap saja si 'aku' menggambarkan pakaiannya yang kedodoran sebagai "berkibar-kibar seperti Zorro", kenapa tidak berkibar-kibar seperti "layar terkembang ditiup angin", misalnya. Tak peduli, seberapa jauh kita dari AS, tetap saja "drinking Cocacola selalu always". Tak berapa jauh Nigeria dari Indonesia, tetap saja "Indomie jadi seleraku" di sana. Tak peduli sekabur apa pun Forks dari Karang Gading, Edward selalu menghantui Isma. Apa yang menghantuinya? Narasi dari cerpen itu sudah mengungkapkannya: ketampanan raga! Ketampanan raga yang menjadi garis depan pemikat dari tokoh Edward. Apa lagi yang mungkin menyusul? Ya, tentu saja bahwa Edward itu kaya, punya kelebihan kekuatan sebagai seorang vampir (yang tentu akan dibayangkan sebagai modal untuk melindungi perempuannya dari mara), dan berumur-panjang. Dan, kenapa pula 'Isma'? Kenapa tokoh perempuan? Bukan, Ucok bocah cowok itu, misalnya.
Penyebar-luasan produk budaya-massa memang berujung pada hal-hal yang sulit terduga. Dulu, saat Westlife dan segudang kelompok-biduan-cowok populer di Indonesia, tak terkira jumlah kaset, CD, kaos, poster, dan pernak-perniknya terjual, diborong tanpa-habis tanpa-ragu tanpa-tanya. Dan? Dibuanglah sekarang. Inilah dia. Produsen produk-produk budaya massa memang mengajari para konsumennya untuk menganggap produk-produk tersebut sebagai produk-boleh-buang. Kenapa? Ya, supaya bisa produksi lagi, dan tentunya beli lagi.
Tapi, yang terjadi pada Isma itu bisa jadi tidak berlebihan. Aku ingat dulu, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, betapa aku sering mengkhayalkan, bahkan sampai bermimpi, bertualang bersama Son Goku dan Bezita dalam dunia Dragon Ball; betapa aku dan beberapa teman bocah laki-laki lainnya sangat suka bermain jurus-jurus seperti yang kami tonton dalam film kartun Saint Seiya; betapa senang dan serunya pula kami memperdebatkan siapa yang lebih hebat: ranger putih atau ranger merah. Aku bahkan sampai merengek-rengek setengah mati minta dibelikan mobil-mobilan Tamiya karena sangat terhipnotis oleh film Dash Yankuro -- setelah betul-betul dibelikan, tak bosan-bosannya aku mengamat-amati rakitan mobil-mobilan itu; meskipun, esoknya, aku kebingungan kenapa Tamiyaku tidak bisa terbang atau patuh pada perintah belok-kanan belok-kiri yang kuteriakkan. Tidak berapa lama kemudian, aku mulai lupa pada keajaiban Tamiya. Dan aku meninggalkan mobil-mobilan itu menjadi barang rongsokan. "Setelah bosan, buang ke tempat sampah; dan kalau nostalgia itu kembali datang, silahkan kunjungi toko-toko terdekat," begitu kunci dari kapitalisme budaya konsumer.
Aku tak tahu pasti Edward yang mana yang mendatangi Isma. Entah itu Edward dalam novel Stephenie Meyer, atau Edward Simbolon anak tetangga sebelah, teman bermain Isma sewaktu kecil, yang ketampanannya tidak pernah disadari oleh Isma.
Begitupun, cerita ini cukup menarik dan bisa dibaca dengan cara yang bermacam-macam, terlebih karena akhirnya yang setengah-menggantung-setengah-selesai (bah! bukannya sama saja itu?!).
Senja... kau buat hati anak muda kami galau segalau-galaunya...
Salam,
Ginting