JALAN BEBAS

 gambar Suherman Emje
0
Penilaian Anda: tidak ada

Sambil berjalan menyusuri trotoar sepanjang pertokoan di pusat kota, Harman bersiul menyenandungkan lagu perjuangan Halo-halo Bandung. Kadang diselingi sapaan dan membalas sapaan orang yang berpapasan dengannya, mengobral senyum kanan-kiri atau kadang juga menggoda gadis-gadis yang melintas di depannya. Tak ada beban. Tak ada sedikit pun keinginan untuk berhenti. Berjalan lurus seperti ini memang teramat membahagiakan dan menyenangkan hatinya.
Tatkala seorang cewek bule berpapasan dengannya, Harman menyapa "Halo" kepadanya. Si cewek bule pun membalas dengan sapaan yang sama. Begitu si cewek bule berlalu, meninggalkan bau yang tak sedap, pikiran Harman tiba-tiba saja melayang, mengawang, menerobos sekat-sekat, melewati atmosfir bumi, melesat jauh menembus cakrawala tanpa batas, melaju menuju inti hakikat dan menguak segala kesamaran yang ada. Hampir saja Harman lepas kendali kalau saja tak ingat bahwa dia masih menapak di bumi.
Harman tersenyum sendiri. Arus pikirannya telah normal kembali, pulang pada realitas sehari-hari. Sambil terus melangkah, dia memperhatikan segala yang tampak di mata lahirnya. Ada sepasang muda-mudi berseragam SMA berangkulan mesra melintas di depannya. Ada noni-noni berrok mini memamerkan betis dan sedikit pahanya yang aduhai. Ada oom-oom berperut buncit menggandeng senang seorang gadis yang pantas jadi cucunya, menghambur ke dalam sebuah mobil sedan.
Ada juga Harman melihat berserakan bangsa dewek compang-camping menggelandang di pojok-pojok pertokoan, terminal, di kolong jembatan, di persimpangan jalan, dan di mana-mana, meminta-minta dan menimbulkan belas kasihan orang. Hati Harman sempat trenyuh juga melihat pemandangan yang mengenaskan itu. Tapi, apa yang bisa diperbuatnya?
Diam-diam dia bermimpi jadi orang kaya baru. Lalu dibagikannya seluruh harta kekayaan miliknya untuk menyantuni seluruh gelandangan yang ada sampai mereka bisa hidup lebih layak lagi. Tapi, bagaimana kalau aku jatuh melarat karena semua kekayaanku terkuras ludas untuk mengentaskan mereka ? Siapa yang akan menyantuniku nantinya? Tanya batinnya. Dia langsung menjawab sendiri, "Ah, gampang, aku akan bermimpi lagi saja!"
Senyum Harman mengembang kembali. Rasanya enak sekali membikin lelucon sendiri untuk ditertawakan sendiri. Banyak kontradiksi dan ironi yang bisa dijadikan bahan tertawaan sekaligus ratapan. Tapi, ah, yang penting kan bisa memelihara keharmonisan dan keseimbangan, meskipun ada yang melarat dan ada yang kaya, ada buruh dan ada majikan, ada kaum sudra dan kaum bangsawan, ada yang di bawah dan ada yang di atas, ada yang menerima dan ada yang memberi...(Wah, wah, KARL MARK dan FRIEDRICK ENGELS bisa-bisa mendelik dan berteriak di alam kuburnya : "Tolol! Itu kan sama saja kita membiarkan ada yang ditindas dan menindas, ada yang diperas dan memeras, ada yang diperbudak dan memperbudak, ada yang direndahkan dan merendahkan...!").
Edan. Mengapa harus mentebut-nyebut Marx dan Engels ? Bukankah gagasan-gagasan mereka hanya igauan seorang radikal yang tidak puas pada sistem yang berlaku di zamannya ? Dan seorang guru besar ekonomi mancanegara pernah bilang bahwa bom intelektual bikinan mereka itu meledak hampir tanpa disertai bunyi...Ah, sudahlah, pusing kepalaku kalau memikirkan gagasan-gagasan gila Marx dan Engels, rutuk Harman dalam hati.
Angin yang mendesir semilir membuyarkan pikirannya mengenai semuanya itu. Tanpa disadarinya, karena saking asyiknya bermimpi melambung tinggi, Harman telah memasuki sebuah kampus perguruan tingggi TANPA NAMA. Dia terus melangkah, melewati sebuah kantin yang dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi yang tengah ngobrol dan bercanda. Ada juga yang tengah berkerumun main gaple pada sebuah meja bundar. Diam-diam, sambil lalu, Harman menguping beberapa mahasiswa berdiskusi tentang cewek dan rencana ber-week end nanti. Sementara itu sekelompok mahasiswi lainnya tampak tengah asyik memperbincangkan mode yang sedang "in" dan tetekbengek lainnya.
Gila. Apakah aku telah kesasar masuk pasar ataukah telah tersesat memasuki gelanggang muda-mudi yang tengah berhura-hura ria ? Gumamnya.