JEJAK KELANA
Tanggal Publikasi: 03 Maret 2010
- Genre: Cerpen
- Bahasa: Indonesia
- Label: Science Fiction
By: Muhammad Anhar Husyam
Siantar City , North Sumatera On 2024 th
Ku berada di ruangan berdinding hijau penuh ornamen daun-daun oranye, warnanya senada dengan meja coklat muda tempatku menunggu. Bangku kayu yang kududuki berderik-derik memainkan nada di sela sunyi. Nafasku masih tersengal-sengal, serasa sisa letih saat dikejar-kejar orang kiriman Tojimo masih terasa.
Tojimo mengincar sesuatu dariku sehari setelah kuputuskan untuk berhenti menjadi bagian dari kelompok pengedar senjata ilegal itu, aku ingin memulai hidup baru yang lebih baik, aku muak dengan pekerjaan kotorku selama ini, aku mau berubah.
Saat aku hampir tertangkap di sebuah dermaga kapal, sosok pria berkacamata menjadi malaikat penolongku. Ia menembakkan laser ke pengeroyokku, seketika mereka tersengat , dan berdebum ke bumi, untuk sementara mereka tak menyadari apa-apa lagi. Sementara aku ikut tersambar laser itu, tubuhku terkulai layu, perlahan mataku semakin merapat. Ku tak menyadari apa-apa, semua gelap dan saat tersadar aku berada di sini.
“Krieeeeek…!! “
Pintu kamar terbuka, sosok dengan stelan putih-putih menghampiriku, kucoba mengenali raut wajahnya, tapi sinar lampu menyilaukan mataku yang masih perih.
“ Anda siapa… ?, saya dimana….? “ aku bertubi-tubi menanyakan keberadaanku.
“ Kelana…tenanglah.. perkenalkan saya Profesor Mulyono, kamu akan aman berada di laboratoriumku.. “ ujar sosok itu menenangkanku.
“Kamu kenal saya dari mana….? “ selidikku tanpa melepaskan pandangan
“ Maaf, tadi saya buka dompetmu … hanya melihat ID kamu saja” terangnya seraya menyerahkan dompetku. Ku ambil dan kuperiksa, sukurlah tak ada yang hilang batinku. Tapi mataku kembali menatapnya penuh tanda tanya besar.
“ Apa maksud kamu prof…?, aku tak kenal kamu…jadi buat apa kau….. “
“Kelana…! kamu tahu apa yang diincar Tojimo darimu …? “potong Profesor itu dengan mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aku menatapnya penuh Tanya, berharap ia meneruskan penjelasannya.
“ Tahukah kamu… dalam ransel yang kamu bawa itu , terselip catatan tentang Teknologi biologi molekular bernama Stem Cell “
“Apa itu stem cell … ? “ tanyaku sambil meraba-raba ranselku, lalu kumenemukan beberapa lembar kertas yang penuh dengan perkiraan, rumus dan kode-kode biner.
“ Stem Cell adalah sel paling dasar dari tubuh manusia, yang bisa berubah, atau dirubah, menjadi sel atau organ apapun di tubuh manusia.” Terang professor Mulyono. Tangannya menyalakan Komputer kuantumnya, mengetik beberapa kode dan segera bermunculan gambar-gambar cacing-cacing yang aneh.
“Ada sejenis cacing bernama planarian worm, yang banyak hidup di laut maupun sungai, yang mampu menumbuhkan ulang bahkan nyaris seluruh tubuhnya.” Paparnya.
Tangannya memainkan video player, disitu terlihat jelas bagaimana Planaria, terutama spesies Schmidtea mediterranea, mampu meregenerasi utuh tubuhnya, bahkan bila tinggal sepotong kecil saja tubuhnya yang tersisa, sampai 1/300 bagian. Dan bila kepalanya dihilangkanpun, dia akan menumbuhkan kembali kepalanya dengan sempurna, saat ini kemungkinan untuk kembangkan ke mahluk lain sangat mungkin terjadi.
“ Bisa kamu bayangkan, bila struktur sel planaria ini dikonfersi ke tubuh manusia, maka manusia jadi-jadian seperti wolverine akan terwujud”. Tangannya mengambil beberapa gambar penelitiannya tentang palanaria ini, beberapa lembar diserahkan padaku.
“ Bayangkan bila ini dikembangkan oleh orang seperti tojimo ? “ lanjutnya.
Kutatap mata sosok Profesor Mulyono, tak ada riak ingin memanfaatkan, ketulusan tergambar dari wajah itu. Sesekali tatap sendunya menyiratkan kerendahan hatinya.
Lampu membinarkan uban yang mulai menyebar di rambutnya. Baru ku sadar ia berkulit hitam legam.
“ Kelana, saya ingin kamu bawa catatan ini ke tempat aman … “ pinta professor Mulyono. Tangannya kembali menari-nari lincah di keyboard, seketika layar monitor memunculkan sebuah gedung pencakar langit berbentuk limas.
“ Disini kamu akan bertemu Profesor Widi, dia sahabat yang bisa dipercaya“ terangnya
“ Dimana ini tempatnya…. ? “ tanyaku sambil menunjuk gedung limas itu.
“ Itu gedung Perlindungan Ilmuwan , kamu akan aman disitu “ jelasnya.
Aku masih belum yakin dengan apa yang dijelaskannya, ia menangkap sorot mataku itu, prof. Mulyono menepuk bahuku
“ Jujur, aku berat menyuruhmu mengantarkan ini..apalagi kamu mantan anggota Tojimo” ia menggantung kat-kata, helaan nafasnya panjang.
“ Tapi Truth Machine sudah memilihmu” sambungnya sambil menunjukkan sebuah mesin sebesar lunch box dilengkapi dengan earphone yang menyalakan cahaya-cahaya pelangi.
“ Sirkuit pelangi ini akan memberi tanda apakah kamu berbohong atau tidak saat ditanyai” ujar professor itu meyakinkan.
“ Ini penemuanmu prof..? “ tanyaku menyidik.
“ Ya… ini pesanan dari KPK, sudah fix bulan depan akan digunakan lembaga itu “ paparnya dengan sesekali membetulkan jasnya.
“Dan, sampah – sampah ini harus dibuang…..! ” tangannya dengan sigap memungut kertas, palstik dan beberapa botol bekas percobaannya, ia masukkan ke dalam sebuah tong sebesar rice cooker. Ia menekan tombol merah di atas tong itu. Benda itu segera menganga, segera sampah-sampah itu dimasukkan ke dalamnya. Ajaib !, selang delapan detik, dari sisi luar tong itu mengeluarkan asap dan ditabung kirinya keluar zat cair hitam pekat. aku takjub dan tak tahan untuk menanyakan apa gerangan ini.
“ Ini adalah mesin penghancur sampah, apapun bentuk sampahnya, hasil dari penghancuran ini adalah uap air dan aspal cair, ini solusi pengelolaan sampah kita di masa depan “ terangnya dengan bangga
Hebat..!, batinku. Kepalaku tergeleng tanpa sadar mengamati kejadian luar biasa ini.
“Sudah di perbanyak prof…? “ tanyaku segera.
“ Ya….tapi masih dua puluh unit ,itu sih untuk beberapa teman dekat saja “ terangnya sambil melirik jam tangannya.
“ Kelana…. waktumu tak banyak, segeralah kau berangkat …. “ ujarnya seraya memasangkan sebuah tas kecil di pinggangku.
“ Ini ada alat-alat hasil penemuanku … nanti diperjalanan kamu akan mengetahui gunanya… ingat, saya memonitor dari sini…..jangan kehilangan kontak ya… “
Aku mengangguk, mengiyakan.
Ia mengantarkanku ke garasi bawah tanahnya . Lampu dinyalakan, sebuah mobil skydriver Psun dan VW jethulky ada di situ.
“ Kamu naik skydriver saja… jangan gunakan fungsi terbang bila tak begitu mendesak “pesannya.
Segera kunaiki mobil bertenaga surya yang konon memiliki kecepatan 500 km/jam itu, desain simpelnya akan menguntungkan untuk penyamaranku di jalanan..
“ Semak di pekarangan rumah itu membelah, sebuah mobil melesat dari rerimbun bonsai-bonsai. segera ku membelah jalanan yang cukup lenggang. Tiga menit berlalu dengan aman. Di pertigaan jalan ,tiba-tiba dua Jeep Vixzoom menyalip dan hendak menyerempetku, tapi dengan sigap aku menghindar. segera kutambah kecepatan dan kejar mengejar pun terjadi. Berhasil !, Aku menjauh dari kedua pengendara jeep itu. Tiba-tiba dari audiocar, profesor Mulyono memanggil .
“ Kelana…cepat kenakan kacamatamu ! “ seru suara diseberang
Tanpa banyak tanya, kacamata rayben pemberiannya itu kukenakan , Amang oi..! seketika aku dihadapkan pada pandangan sebuah ruangan hijau dan…hei…!! ini ruang lab dan sosok Profesor Mulyono muncul didepanku… . tapi sebelum ku bertanya-tanya tiba-tiba……
“ prof..prof…. ada apa ini….? “ teriakku saat terasa ada guncangan keras di bemper belakang mobilku.
“ Kelana, sekarang skydriver sudah di otomatisasi,.Keadaanmu gawat…!, Orang-orang Tojimo menyerangmu barusan. Mustahil kamu bisa melewati mereka, sekarang ikuti perintahku….. segera…… !!! “ serunya.
“ Baa…baiklah…… prof…. !! “ balasku sambil menyeka keringat dingin yang membanjir.
“ Tekan tombol Spacetime di samping flyingdrive dan tentukan koordinat taman kota , cepaaaat……. ! “teriaknya memekakkan telingaku.
Tanpa bertanya, refleks tanganku mentekan tombol Spacetime dengan koordinat lokasi taman kota, dan seketika tubuhku terpecah-pecah dan tersedot ke lorong yang gelap.
Aku tak ingat beberapa saat hingga jendela mataku menyusur pepohonan raksasa, tanganku merasakan rerumputan. Aiiih… aku terbaring di rerumputan taman kota. Kepalaku masih agak berat, mungkin efek pemindahan dimensi waktu tadi.
Beberapa anak usia SD membawa Scanning Answer, seseorang dari mereka mengarahkan ke sebuah tanaman dan kotak digital bening yang lebih dikenal Scena itu akan menjelaskannya. Ya..di era ini peran sekolah sudah mulai diambil alih peranti digital berbasis webdata, belajar kini lebih Fleksibel dan Eksplore ke alam.
Kucoba untuk berdiri. Walau agak sempoyongan, tubuhku mengarah ke supir taksi yang sedang asyik membaca surat kabar lewat E-Smartenz . Benda berlapis fiberglass itu memang primadona baru di dunia digital. Perangkat elektronika untuk akses Internet dan komunikasi kini diganti oleh E-smartenz, peranti yang bisa Touch screen, bisa juga untuk nelepon, browsing, email, blogging dengan kecepatan tinggi, kapasitasnya yang hingga 100 Terabyte plus adanya aerobateray – sumber daya perangkat elektronik dari udara – membuatnya sangat perfectly dan tentu saja ramah lingkungan .
“ Sir…! can go to this place ? “ tanyaku pada supir taksi yang ternyata bule seraya menunjukkan gambar gedung tujuanku.
“ Oh…ehm…alright sir….! Come on , please sir…! “
Segera kubuka pintu depan taksi itu. Tampak sopir itu melipat E-smartenznya. Tangannya menekan speed to 100 Kilometer Perjam.
“ Sorry….can be faster ? “ tanyaku memintanya menambah kecepatan.
“ Yes sir…!” angguk sopir yang mirip legenda Tom Cruise itu.
Tangannya menekan tombol max power, jarum jam speedomotor bergerak-gerak di sekitar angka dua ratus kilometer perjam.
Angin dingin, menyapaku. Kusibakkan rambutku yang seponi, sekilas kulihat di spion sosok wajah cekung berrkulit kecoklatan, hampir aku tak mengenali sosok yang tak lain adalah wajahku sendiri. Sudah berhari-hari aku bahkan tak sempat melihat wajahku, mandi atau nonton TV Kabel.
Taksi menepi, ku sampai di sebuah gedung berbentuk limas. Ah….akhirnya tugasku selesai batinku. Kutatap disekelilingku. Aman batinku.
“Please transfer our ID banking ….! “ ujarku pada supir taksi itu
Segera kubayar biaya taksi itu lewat rekeningku,
“ Thanks sir….” Serunya seraya merayapkan kendaraannya ke jalanan.
Kutatap nanar gedung itu, sepi. Batinku.
“ Astaga…! Kontak prof Mulyono terputus..! , brengsek…..! “ refleks aku memaki saat tersadar handphone dan kacamata raybenku tertinggal di dalam taksi itu.
Tanpa berfikir untuk menunggu, langkahku kini menuju pintu masuk gedung limas itu. Sebuah meja melingkar berbentuk U terhidang di depanku. sosok wanita muda berpakaian seperti suster menyapaku.
“ Maaf, saya mencari Prof Widi . Dimana ruangannya ? “ tanyaku tergesa
“ Baik, anda siapa dan ada perlu apa dengan pak Widi ? “ tanyanya sambil merapikan rambutnya yang sebahu. Matanya membulat , seulas senyumnya tersuguh.manis.
“ Saya Kelana.. utusan Prof Mulyono dan ……. “ penjelasanku terpotong
“ Sttt…. oke ayo ikut saya “ bisiknya seraya mengisyaratkan jari mengajakku.
Aku menatapnya kurang yakin. Ia mengulurkan tangannya mengenalkan diri
“ Bella…. Saya asisten Profesor Widi, ayo kita ke ruangannya segera “ ujarnya.
Uluran tangannya tak kujabat. Hanya anggukan pelan yang kuberi .
“ Anda tahu Kelana, betapa anda begitu ditunggu Prof Widi ? “ tanyanya saat kami berjalan di selasar lorong menuju laboratorium prof Widi. Matanya menatapku terus.
“ Iya….. kenapa …? “ tanyaku dingin tanpa menoleh.
Profesor Mulyono tak salah memilihmu, sangat hati-hati, keras dan ….tampan batin Bella. Seulas senyum nakal tersuguh seraya membalikkan badannya. Melekatkan matanya ke kilat mata Kelana. Tubuhnya mendekat. Dan membisikkan …
“ Maukah kau…… “
“ Sudahlah Bella, Waktuku tak banyak …!! “ potongku tak sabar, seraya kuberlalu mendahuluinya. sembilan langkah aku berjalan, kusadar Bella tak bergeming dari tempatnya. Ia menatapku. Aku berbalik menatapnya. Baru kusadari ada sesuatu yang ganjil padanya. Bella berpakaian suster, tapi sepatunya….. Amang oi…! sepatu bots khas Agen Tojimo. Bella tampak mengeluarkan sesuatu dari punggungnya, semacam senjata. Kuatur nafas mencoba lebih tenang, tanganku meraba-raba tembok. Aha…! sebuah knop pintu, kuputar dan ….. segera ku masuk ke ruangan itu.
“ Bliiiiiizt…!………….bliiiiiiiiiiiiiiiiiiizzzt….!!! “
Laser Pelumpuh ditembakkan ke arahku, tapi meleset. Tampak Bella mengambil alat komunikasinya memanggil personelnya.
Aku berada di tempat…..aiiiih….!! Serasa kepalaku terasa berdenyut-denyut, mulutku mual. Aku mau muntah. Beberapa ongokan daging-daging yang mulai membusuk berserak disekitarku, aromanya menusuki otakku. “ ruang apa ini…? “ gumamku.
Kucoba untuk menahan mual, kusibukkan mata untuk mengawasi beberapa tubuh yang berkelebat di luar ruangan. Aku mencoba fokus pada sekelilingku, mataku tertubruk pada sebuah benda yang pernah kulihat di ruang profesor Mulyono. Tanpa berfikir panjang lagi, ransel beserta isinya kutuang ke dalamnya. Beberapa detik asap putih mengangkasa dan lelehan hitam menggenang di botol penampungannya. Sesaat ku terlupa sedang berhadapan dengan Bella dan anggotanya.
“ Daaaar..!! Braaaak….!!! “Tiba-tiba, pintu dibobol oleh lima pasukan peledak logam.
“ Hahahahahaaa…….. Kelana…..!! kini mau ke mana sayang….!!! “ sapa Bella yang sudah berganti pakaian ala militer.
“Siapa kau sebenarnya…? “ selidikku tanpa sedikitpun takut menghadapi beberapa moncong senjata yang terarah padaku.
“ Aku…… adalah……. Airin…Anak bosmu, Tajimo… ingat kau penghianat ? cecarnya sadis.
“ Bah…! anak dan bapak sama saja bejatnya ! “ umpatku seraya mengarahkan pistolku ke arah gadis itu, tapi naas … tiga peluru metal lebih dulu menyelusup ke dadaku. Aku limbung, tumbang mencium lantai, perlahan kuraba lubang-lubang dalam dadaku.
Dunia seakan mati, senyap, angin sepi, Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang mengagetkan semua yang ada di situ. Luka-lukaku tertutup kembali seolah sel-selnya memperbaiki sendiri. Kini tak ada lagi bekas kena tembakan. Aku pun merasa terheran-heran.
Aku bangkit dan meraba-raba, memastikan bagian yang tertembak tadi. Ku sadar akan sesuatu. Segera kucabut belati dari sepatu ketsku. Airin terpaku melihatku.. gelagatnya hendak melarikan diri. Tapi terlambat, kilat amarahku lebih dulu menyambar tubuh-tubuh di depanku itu. Meregang nyawa mereka, mengantarkannya ke neraka.
Anyir mengalir, amis makin menyeruak ke awang-awang ruang dan lorong ini. Kutatap Airin yang sudah tak bernyawa, kilat bengisnya masih ada, tapi segera aku nyalakan Pelacak infra merah, kuberlari kesana – kemari mencari sosok Profesor Widi yang mungkin masih ada di gedung yang sudah dibajak orang-orang Tojimo ini.
Tapi, nihil…. Tiada satupun kutemui, sensor infra merah tak menunjukkan adanya mahluk bernyawa lagi di dalam gedung itu. Aku pun berniat balik ke lab profesor Mulyono. Tapi di mana…?, aku tak ingat letaknya, ah…..mungkin aku akan menemuinya bila aku berjumpa dengan orang kiriman Tojimo, lalu ia menyelamatkanku lagi, lalu akan dibawanya ke laboratoriumnya. ***
Dua hari kemudian.
Aku berdiri di sebuah persimpangan jalan, disisiku ada seorang buta, membawa tongkat penuntunnya. wajahnya lusuh terbenam menghujam ke aspal. Wajah tuanya tersembunyi dibalik topi koboinya. Pakaiannya tampak kumal, dibalik topinya menyembul rambut-rambut yang mulai memutih, kontras dengan kulitnya yang hitam legam. Aku tak begitu peduli padanya bila ia tak menyebut namaku.
Kutatap sosok itu lekat-lekat, meneliti setiap inci tubuh itu, dan ah……uban itu…
“ Kau …? “ aku menerka sambil mengguncang sosok itu.
“ Jangan menarik perhatian ….! “ lanjutnya dingin.
“Kenapa kau jadikan aku eksperimenmu…? “ suaraku merasuk ke telinganya.
“ Maaf kelana, aku sudah memperkirakan kejadiannya akan segawat kemarin “ terangnya. Aku terpaku, sisi hatiku membenarkan ia melakukan hal itu.
“Dan eksperimenmu berhasil prof….. lalu ada apa denganmu ..? “ tanyaku penasaran. sesaat kulihat guratan sedih terpahat di wajahnya.
“ Aku harus mengasingkan diri , lab sudah diberanguskan Tojimo dan…. sahabatku Widi tewas dalam…aaah…. “
“ Iya….aku tahu….Tojimo bertanggungjawab penuh atas semua ini prof…“ potongku sambil menerawangkan pandanganku ke langit yang mendung.
“ Sekarang kamu bukan lagi Kelana yang dulu, tubuhmu sudah menyatu dengan stem cell planaria, dan kau sudah merasakan perubahan itu….kan ? “ tanyanya sambil memegangi topinya yang tertiup-tiup angin sore.
“ Ya prof…. “ balasku datar.
“ Kelana, kekuatan besar menghasilkan Tanggungjawab besar “ tegas sosok itu dengan sorot mata masih menekuri aspal jalanan. Gerimis senja mulai turun satu- satu .
“ Bela kebenaran sebisa kamu….. “ tambahnya. Aku mengaminkan dengan anggukan.
“Kelana, hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya “ tambah sosok didepanku ini.
Aku mengangguk seraya memeluknya, melumerkan gelisah yang membekukannya.
“ Segeralah kau pergi dari kota ini, aku sarankan kau ke Jakarta. di sana pusatnya segala masalah, Mulailah jejak barumu di sana … “ sarannya. Aku mengangguk cepat..
“ Anda sendiri …bagaimana prof…… ? “ sinar mataku masih menghawatirkannya
“ Aku…akan tetap disini, aku masih memiliki tempat bersembunyi dari Tojimo cs , tenanglah.. … sekarang segeralah engkau ke pergi dari sini “ ujarnya tegas.
“ Dan berjanjilah, kau takkan membongkar siapa yang membuatmu menjadi begini “
aku mengangguk, menyalaminya takzim lalu bergegas meninggalkannya.
Kini, ku berdiri di puncak Simarjarunjung. Kutatap molek Danau Toba yang membiru, ah……. Jakarta…!, esok aku akan jadi avonturir. Kutatap ransel baruku, sebaru semangatku untuk segera menjelajah, menjamah ranah yang perawan akan jejakku.***
Pagi ini, ku berada dalam truk yang memuat jeruk, hendak dibawa ke Jakarta kata bang Lambok sopir truk itu. Ia berbaik hati menyeludupkanku ke ibukota Indonesia itu.
Yihaaa…..! Jakarta I’m Coming !
Dunia KOMA
09 Desember 2009 23.18 .WIB




trim's kawan...
emhabahagia!