bouquet

 gambar finsa e saputra
0
Penilaian Anda: tidak ada

Bouquet
Finsa E Saputra

1.
Kulihat tidurmu alangkah nyenyak. Kelopakmu rapat terkatup. Pernahkah kau berkaca saat terlelap, dan mengetahui bahwa kau tercipta untuk terlihat cantik saat tidur?
Mungkin tak pernah. Tapi, aku berharap kau pernah berkaca saat terpejam.
Sepertinya hingga larut jatuh, televisi tak kenal lelah. Ia adalah pamong paling sopan. Ditungguinya kau tidur. Dan melalui layar dimuntahkan cahaya. Di mana keremangan tak terlalu menakutkan lagi untukmu. Serta merta musik sukacita menyusup mesra. Kiriman dari televisi untuk kenyenyakanmu. Memastikan mimpi adalah kelakar bawah sadar menjanjikan kebahagiaan, untukmu. Hanya untukmu.
Hingga tahun kedua aku menungguimu tertidur, selalu jejak air liur menganak sungai dengan indah. Alirannya betapa cemerlang. Terlebih ketika sapuan cahaya televisi mengerlingkan permukaan jernih. Dari bibirmu saja kau letupkan keindahan. Kubayangkan selalu percintaan kita. Memanas oleh gelora keindahan. Semoga ibumu sadar melahirkanmu tak sekedar mengeluarkan buntalan jabang, tapi juga pelita. Seperti namamu. Nama yang diciptakan untuk menyandingkanmu dengan cahaya.
Tak perlu kusebut namamu. Aku orang pelit. Biarlah begitu, karena kuingin namamu milikku. Tersimpan. Bagaimanapun juga, macam pria sepi sepertiku membutuhkan jalinan nur. Tempias penerang yang menyusupi kegelapan.
Gigimu gemeratak lamat terdengar. Kebiasaan yang lucu. Kuhapalkan, laku gemeratak adalah simbol bahwa mimpi menculikmu jauh dariku dan televisi. Membenamkan jauh ruh milikmu. Walaupun wadaq-mu terbaring di sampingku. Hanyutlah, arus tak terlalu pelan, tapi tak ganas melahap dan menghanyutkanmu. Karena tanganmu menggegam tanganku. Seperti genggam tangan bayi ketika lelap. Maka, terseretlah arus. Mimpi adalah dunia untukmu.

2.
Kita tiba di biara. Televisi mengirimkan taksi. Dengan supir yang mengaku sebagai seorang Dalai. Matanya sayu, memancarkan keheningan. Betapa pandangan seperti ini dapat menenggelamkan peradaban. Tak percaya?
Sekejap, si supir Dalai berkendara di antara jaman yang membeku. Jarum-jarum arloji nanap terhantuk batu. Mengaduh dan beristirahat karena benjol. Semuanya beku. Bahkan awan berhenti. Ngaso barangkali.
Seekor anjing menjadi patung. Mengangkang dan kucuran air keluar dari kelamin. Beku. Ketika taksi berhenti. Sediakala pula waktu berlaku. Laju kembali mendudu. Kau terlelap di dudukan taksi. Kubangunkan, hanya erangan kau balas. Juga anggukan. Kau sadar? Kau kembali mengangguk, matamu terpejam meskipun sungging bibirmu mengabarkan senyum.
Ketika kuajukan selembar Rupiah. Si supir Dalai menolak. Dikatupkan kedua telapak tangan di depan dada. Mengangguk dan tersenyum. Ketika kutoleh dirimu, kau telah menari riang di luar sana. Menunjuk puncak Everest. Si atap dunia. Langit terlampau cemerlang. Cerah. Hingga awan nihil menyebabkan puncak Everest berkilauan megah.
Kau menari dengan beberapa tentara Tiongkok, dan beberapa Dalai tersungkur. Termasuk taksi si supir Dalai yang diberhentikan para tentara. Tentara-tentara itu ganas menari dan memaksa keluar si supir santun dari taksinya. Tangan para Dalai ini terikat. Kepala gundul mereka dilingkari seutas kain merah, dengan ornamen bintang berwarna kuning. Tapi kau girang.
“Berhati-hatilah dengan militer itu!” sergahku.
Acuh tak acuh kau bertolak pinggang. Kemudian melambai padaku. Sebenarnya terbit ketakutanku. Melihat militer, selalu tertib rasa gusar dan cemasku berbaris. Aih, menakutkan.
Sekarang kau kembali menari. Kali ini dengan senapan mesin di telapak tanganmu. Aroma arak tercium pekat. Bertandingan dengan aroma debu tanah Nepal. Aku masih membeku. Terikat kepengecutan. Mungkin lebih baik aku diam. Dunia lebih senang melihat polahmu.
Ketika kunyalakan sebatang rokok, kau membabi buta melepaskan serentetan tembakan. Sekejap tanah menjadi pekat merah. Dengan mayat tersungkur. Bergelimpangan. Kau kembali menari. Kali ini kau tarik tanganku. Kulihat bulu mata di kelopakmu yang terpejam berdesir disapu desau angin. Kau tersenyum. Suka cita.
Apa kau tak sadar, bahwa kau juga mengundang ajal bagi para Dalai?

3.
Pukul 00.00 WIB. Ada sekolompok gagak riang menari, kata Televisi. Dari layar, warna indah membaur. Gagak-gagak mengecat tubuh mereka dalam acara talkshow. Beberapa dari mereka mengenakan pita kegenitan. Seekor gagak, bertopi baret merah, tekun berdebat. Berkoak demikian lantang.
Kau masih tenang terlelap. Lelah? Apakah kau memimpikan darah? Kematian? Karena wajahmu menegang. Kerutan terlukis di sekujur dahimu. Dan dengus nafasmu kencang menderu. Kekhawatiran memuncaki ubun-ubunku. Televisi menahan tanganku, tampak ia mengerti apa yang tengah memburu perasaanku.
“Biarkan,” katanya.
Sementara pada layar gagak berbaret merah mengepakkan sayap. Berkoakan. Tak kumengerti apa yang membuat ia dihinggapi semangat berdaya besar. Ataukah ia tengah kesurupan? Mungkin aku terlalu bodoh menanggapi ocehan televisi.
Sementara kau telah tenang. Walau kerut tak kunjung terusir.

4.
Insomnia akut mendesak kelenjar otakku. Melumpuh layukan kemampuanku tidur. Sudah kucoba memejamkan mata dengan memelukmu. Alpa. Sepertinya kantuk membenciku. Menurutku, kantuk semacam ronda, terjadwal. Tak setiap malam muncul.
Dapur menuntunku menemukan cangkir, kopi, dan gula. Mengajariku meramu kopi. Membuat sahabat karib melalui malam. Kopi adalah pena, di mana dapat kulukiskan kenyenyakanmu dengan ampas kehitaman di ubin. Dan akan menjadi sebuah kejutan menyenangkan ketika kau terbangun.
Di dapur, cecurut bercicit. Merapalkan doa belas kasih. Mengharapkan anugerah datang agar keroncongan perut lenyap. Sehingga dapat ia bersyukur, bersujud dan memuji keagungan pencipta. Melepaskan kesangsian kepada pencipta: pikiran menuduh tindak pilih kasih pencipta pada manusia. Kelak rapal para cecurut bisa saja mengantar manusia pada nirwana.
“Maaf curut, bila aku adalah para Dalai, aku dapat mengerti cinta kasih. Aku adalah manusia. Bagiku kau bangsa tikus mencoba menjajah. Tanah ini disuratkan untuk kami. Cinta kasihku hanya untuk yang telah memberikan cinta padaku.”
Kugencet kepala tikus tersebut dengan panci. Aku merasa menjadi nabi baru. Dengan ilwal dan sabda.

5.
Bila aku benar-benar nabi, kupastikan kau ialah yang pertama kuangkat ke nirwana. Karena wajahmu terlalu manis untuk neraka. Neraka tak butuh gula. Dosa-dosamu terlampau manis. Aku percaya, wahai pelitaku, dosamu adalah voucher gratis dari pencipta. Dan hidup adalah bonus teka-teki silang untukmu. Selamat.
Kau tidur seperti pangeran Siddarta yang tenang menyambut ajal. Aman. Karena itulah menyaksikan kau tidur melegakan. Dengus yang meluncur keluar beraroma terapi harum. Lebih dari wewangian bernama jasmine. Dan dengkur kecilmu seperti bunyi ketukan rapal doa sebuah biara. Mengantarkan keharmonisan lewat doa. Puji-pujian kemakmuran. Lewat dengkur kau lakukan semua itu.
Kau tidur bersama damai. Dan peradaban berhenti untuk menyaksikanmu tidur. Bersamaku mereka merasakan waktu tenang turut terlelap. Duka di seluruh dunia menggali kuburannya sendiri. Tak turut kau rasakan duka, lelap mengirimkan kedamaiannya untukmu.
“Kehidupan lalu kerasakan aku adalah seorang Dalai. Pria. Botak. Dan tentu dengan pengabdian,” mulutmu mengoceh. Kelopak matamu tetap terkatup. Lagi, kau mengigau, hal sama.
“Tapi, di dunia sekarang, sekalipun kadang mimpi menyeretku pada kenangan. Reinkarnasiku menjadi lebih berat. Ada kerinduanku merapal Sutra beribu ayat. Daripada harus kusaksikan peradaban penat. Sayang, kau mengerti?”
Aku mengerti. Bahkan ketika kau terlelap, aku memahamimu.
Televisi telah turut tidur. Hanya ada acak titik hitam putih riuh berdesakan. Mengertikah kau, bahwa dunia sejenak berhenti hanya untuk menyaksikan kau tidur?

Surabaya, 7 Juni 2010