Life Is A Playground

Hidup ini tempat bermain, kalo pulang aku main rumah-rumahan, saat sick-off aku main lempar-lempar barang, kadang-kadang kalo rambutku mulai seperti ijuk aku main salon-salonan. Tadi aja aku habis main curhat-curhatan bareng temen yang abis putus (wah kalo ini sih aku yang jadi mainannya karena aku harus bersikap sesuai kehendaknya agar dia feeling better) . Pokoknya banyak banget permainannya gak bakal abis jika kutulis disini, aku saja kadang bingung harus main yang mana dulu
Permainan yang aku suka :
Main cinta…. Banyak rasa, banyak drama, menguras pikiran. permainannya di seputar hati dan kepala.
Main Kerja, banyak Strategi, banyak uang, Menguras energi, Permainannya di sekitar otak dan fisik.
The last main sekolah-sekolahan, banyak teman, banyak ilmu, Menguras impian. Permainannya di seputar mulut dan otak.
Semuanya asyik banget, tiap hari ada permainan baru, kalau permainannya baru memang butuh banyak belajar sih, biar mahir. Tapi nggak apa-apa khan belajar, bermain juga.
Apa permainan kesukaanmu?
Ketika kecil hampir semua sudut kehidupan kita lihat sebagai lahan bermain,
ketika dewasa pun kita memiliki bagian diri yang tetap anak-anak,
kenapa kita tidak menyimpan sisi bermain itu dalam diri tanpa mengurangi kedewasaan kita?
Menempatkan segala hal dalam perspektif yang tepat agar hidup yang memang keras ini menjadi lebih ringan. Dan kita tetap dapat tersenyum melihat kehidupan.
The important thing dalam semua permainan adalah tidak harus menang ataukalah, yang perlu dilakukan adalah menikmati saat permainan itu ada, karena tidak sepanjang hidup kita akan bertemu permainan yang sama, yang kedua dalam setiap permainan berusaha menjadi pemain yang baik, bukan terbaik, yang baik.
Lakukan permainan sesuai Rulz Op de Geimnya, temukan tehnik-tehnik baru biar tambah menarik.
Bagaimana Kalau permainannya mulai membosankan?, solusinya : keep looking new game, open up your mind, open up your eyes.
Banyak permainan dalam hidup yang very exciting, selain itu life just once time, enjoy it.

aku juga bermain
Ketika kecil aku senang bermain berkelompok-apapun itu, yang penting bisa rame.
tambah umur, tambah lepas dari satu ruang tertentu, inferior dengan ruang baru, mempelajari kekuatan diri, bersikap sombong tapi juga takut, memunculkan dunia eksklusif yang terbatas pemainnya, yang tentu saja dipilih secara "cepat-saji".
Kemudian, lama-kelamaan, semua permainan kelihatan seperti benda di museum, tidak bisa dimainkan-bukan lagi alat bermain.dengan berahi tinggi, kucari jalan masuk ke kaca tempat benda-benda itu dipajang. ada lobang, aku bisa masuk. tapi harus mengecilkan tubuh lagi. lobangnya terlalu kecil. aku lakukan pengecilan tubuh biar bisa masuk..
Kaca tempat "mainan" dipajang harus aku pecahkan. terlalu sumpek di sini, terlalu eksklusif, dan aku bukan orang yang menyukai eksklusifitas.tidak menyukai keterbatasan perspektif. maka diri yang terlalu liar juga mesti ditekan.permainan harus berjalan di tanah lapang, bukan di museum, bukan di galeri mainan saja, bukan di awang-awang..
Dan aku tetap bermain; dengan dinamisnya diri, dengan dinamisnya lingkungan; dengan dinamisnya ide, dengan dinamisnya material; dengan kekuatan, dengan kelemahan; dengan superioritas, dengan inferioritas; denganmu, dengan kata-kata..
Post new comment