Garuda di Dadaku

Sutradara : Ifa Isfansyah
Pemain : Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranagara, Maudy Koesnaedi,
Ary Sihasale, Ramzi

Sungguh mengejutkan, ternyata sewaktu saya ke mall hendak nonton GARUDA DI DADAKU (GADIKU) hari Jumat, 19 Juni 2009, saya kehabisan tiket sudah. Padahal waktu saya datang baru pukul 4 sore, hendak nonton yang jam 5 sore, lha kok tinggal pertunjukkan yang terakhir, jam 9 malam gitu. Oh. Edan, saya tidak menyangka, padahal di Studio 21 itu menghadirkan GADIKU sampai dua studio, woh, sampai menyamai KETIKA CINTA BERTASBIH (KECIBIH) yang juga masih lumayan baru. Hmmm..semakin penasaran lah saya. Tapi apalah daya, karena memang sudah kehabisan tiket, jadi ya nontonnya lain kali saja. Saya pun keluar dari bioskop, dan ternyata banyak muda-mudi yang berjalan ke arah bioskop mengenakan baju berwarna merah dengan lambang garuda di dadanya. Oh, sungguh romantis sekali. Muda-mudi itu bergerombol pula datangnya, seperti hendak menonton sepak bola saja. Saya kan sempat terkejut juga, dengan promosi yang tergolong biasa dan wajar saja ternyata efeknya sampai seperti ini.

Ya saya bilang promosinya biasa saja karena saya terpaksa membandingkan dengan usaha yang telah dilakukan oleh KECIBIH. KECIBIH tayang perdana pada tanggal 11 Juni 2009, dan GADIKU baru seminggu kemudiman, yaitu tanggal 18 Juni 2009. KECIBIH sudah mulai muncul sejak…mungkin sekitar 2 tahun lalu. Dan memang sudah digadang-gadangkan sebagai film mega Indonesia. Sepertinya saya sempat membaca poster untuk seleksi terbukanya di kampus Universitas Sanata Dharma. Tapi entah kenapa saya saat itu tidak tertarik untuk ikutan, padahal lumayan loh, dapet pengalaman yang berguna juga. Dan kemudian KECIBIH muncul lagi deh sebelum rilis di bioskop Indonesia dengan promosi yang gede-gedean dan digede-gedein. Bagaimana tidak digede-gedein, balihonya aja gede banget di ujung utara jalan Afandi ituh, mana tiap hari lewat sana pula. Gak sukak.

Akhirnya, merasa tercoreng wajah saya karena tidak mendapat tiket GADIKU dan muda-mudi yang berseragam tim nasional Indonesia, saya berjanji untuk segera kembali ke bioskop dan nonton GADIKU sesegera mungkin.

***

Karena tidak mungkin nonton di hari Sabtu dan Minggu, tiketnya mahal, maka saya nonton GADIKU pada hari Senin, 22 Juni 2009. Nonton yang pertunjukkan jam 12.15 di Empire XXI. Hmm…hari itu GADIKU baru diputer di XXI, waktu tanggal 18 malah adanya cuma di 21 doang. Saya milih di XXI karena layarnya lebih lebar daripada yang ada di studio 21.

Hmmm…gembira sekali rasanya, tidak terlalu ramai, padahal parkir motornya penuh banget. Saya datang ke bioskop baru jam 12 kurang dikit, dan tempat duduk masih banyak yang tersisa. Sebagian kursi diisi oleh serombongan anak SMA yang pastinya bakal berisik banget deh di dalem studio. Duh, takut, jangan-jangan ntar di dalem studio ada serombongan anak SMA dari sekolah lain lagi yang juga masuk terus pada tawuran di dalem gituh. Oh, sungguh terlalu.

Ternyata itu hanya kekhawatiran saya saja, tidak ada rombongan SMA lainnya yang datang, dan setelah trailer film animasi teranyar milik Disney – Pixar, UP, yang akan segera tayang, dimulailah film GADIKU. Ceritanya seperti ini…ngggg…ringkasan ceritanya saya kutip dari situs www.21cineplex.com saja ya…
Bayu, yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, memiliki satu mimpi dalam hidupnya: menjadi pemain sepak bola hebat. Setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil mendribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana. Heri, sahabat Bayu penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan “pelatih” cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun Pak Usman, kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan. Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu, dan bahkan persahabatan tiga anak itu terancam putus. Terlalu mulukkah impian Bayu untuk menjadi pemain sepak bola yang hebat? (ha, yo mbuh, yo…ora kandani noh – red)

Nah, begitulah kira-kira ceritanya GADIKU ini, sangat keluarga sekali, bukan? Iya, ini film sangat keluarga sekali. Sangat cucok untuk ditonton oleh sekeluarga, baik yang bahagia maupun tidak. Ceritanya sangat sederhana, ada anak yang pengen sesuatu tapi dilarang, lalu ditunjukkan bagaimana usaha-usaha yang harus dilakukan untuk mendapatkan keinginan sang buah hati. Ha, sederhana sekali. Tapi mungkin kesederhanaan itu yang membuat GADIKU ini menarik untuk ditonton. Hah.

Baiklah, sang sutradara, Ifa Isfansyah, dengan mulus menciptakan permainan peran yang seimbang antar satu tokoh dengan yang lain. Hampir semua tokoh tidak ada yang terlalu menonjol, semuanya rata dan nyaman untuk dilihat. Hanya satu yang sedikit mengganggu saya, yaitu sang kakek yang terlalu galak. Ya memang karakter tokohnya keras sih, tapi kan tidak perlu dibuat galak yang ekspresinya ala sinetron itu. Tapi keseluruhan penyutradaraannya juga oke lah. Humor yang disajikan juga sangat alami sekali, tidak dibuat-buat. Sangat segar dan mengalir dengan sendirinya. Guyonan segar muncul di saat yang tepat dan elegan. Dramanya juga tidak terlalu berlebihan. Tidak ada airmata yang keluar percuma. Konfliknya dibangun dengan sangat teratur, perlahan tapi pasti. Pesan yang dihadirkan juga sangat asik. Ah, pokonya boleh lah.

Kalo dari pemainnya semua juga enak dilat kok aktingnya, ya biarpun ga bagus-bagus banget tapi bolehlah. Yang penting kan enak ditonton. Hanya saja kenapa sih kok yang dipilih jadi ibunya si Bayu itu Maudy kusnaedi? Wajahnya tuh terlalu ayu untuk jadi ibu dari keluarga seperti itu. ga bisa apa cari aktris yang wajahnya rada susah? Mungkin seperti...Christin Hakim...eh, Christin Hakim terlalu tua yak...atau... Yati Pesek...tapi kalau Yati Pesek nanti jadinya kurang betawi yak, terus sepanjang film penontonnya juga pada ngakak mulu...hmm..kalau gitu Inul Daratista juga boleh tuh, wajahnya kan rada susah...masalahnya kalau secantik Maudi, masih mudah ngakalin kesulitan ekonomi yang dialami oleh keluarga Bayu dengan tampang manis dan rendah hati seperti dia...atau Shanty ajah, Shanty kan wajahnya ndeso tuh...tapi sayangnya geral-gerik tubuhnya kurang enak dilihat, terlalu tergesa-gesa. Hmmmm...siapa yang pas yah. Oh, Ria Irawan ajah bagaimana, kan dia pandai berakting tuh, pasti dia bisa, wajahnya juga bukan tipe wajah sukses gitu. Iya, benar, harusnya mencari yang seperti Ria Irawan. Atau Nunung dari Srimulat juga boleh, hihihihi...
Terus selain Maudi yang dirasa kurang pas juga ada lagi nih, yang meranin sahabat barunya Bayu ama Heri, yaitu Zahra. Zahra ini ceritanya anaknya seorang penjaga kuburan yang sakit-sakitan. Oh iya, penjaga kuburan ini diperanin Landung Simatupang, hihihi...mukanya juga muka susah, pas banget tuh perannya buat Landung. Kulitnya hitam sekali kebanyakan maen layangan kayanya. Atau beliau sebenarnya adalah anak pantai??? Woyo...Eh, Landung ini juga pernah muncul kok di film MAY, jadi kepala desa. Oke banget dah beliau ini, harusnya mencalonkan diri jadi presiden RI saja. Nah, kita kembali lagi pada Zahra. Zahra juga terlalu cantik. Kulitnya yang hitam tampak sekali buatan. Parasnya juga ayu banget. Saya yakin sebenarnya kulit si anak yang meranin Zahra ini amat putih. Tapi biar pas untuk menjadi anak penjaga kuburan, dibuatlah kulitnya tampak lebih hitam dan kumuh. Tapi tetep aja keliatan anak orang mampu. Kalau untuk pengganti Zahra ini ga tau juga dah kirakira sapa yang pantes, ga begitu paham aktris cilik, rata-rata aktris cilik Indonesia tipenya sama semua, gada yang nyentrik.

Untuk proses editingnya tidak ada masalah ah, tidak ada pengalihan adegan yang terlalu cepat. Mungkin hanya untuk adegan akhir saja yang kurang awas, stadion tempat adegan terakhir masih terlihat kosong melompong, walaupun sudah diakali dengan ditumpuknya gambar orang bersorak-sorak di stadion dan juga lampu sorot stadion bola yang menyilaukan mata penontonnya, tapi tetep aja keliatan, bung. Tidak masalah.

Yah, saya keluar dari studio GADIKU ini dengan rasa puas kok. Saya memahami sekarang kalau orangtua kita akan selalu seperti itu sikapnya terhadap anak, dan anak juga akan seperti itu pada orangtua, tinggal bagaimana caranya saja untuk saling berdamai. Mungkin salah satunya adalah dengan cara kabur dari rumah, entah itu yang kabur sang orangtua atau sang anak. Yang penting kan damai. Pasti ada yang harus dikorbankan lah untuk satu tujuan bersama. Salam damai, ayah.