harga diri

aku...kemarin ditanya oleh ibuku perihal harga diri seorang lelaki di mata pacarnya. mungkin bukan ditanya, tapi lebih pada ngobrol...ya karena pacar merupakan hal yang cukup kontroversial di kawasan Pendeta Dayu Permai.
"kamu jangan sampai memberi terlalu banyak, karena nanti pacar kamu cuma menganggap kamu sebagai kacung, tapi kamu juga jangan sampai kamu menerima terlalu banyak nanti pacar kamu menganggap kamu tidak bisa apa-apa dan harga diri kamu dilecehkan."
nah loh... saya akhirnya berpikir saja, bukankah memang kita seharusnya memberi yang bisa kita berikan? bukankah ayah saya yang notabene terkenal sebagai pendeta (baca:pendeta wannabe) itu juga bersikap memberi seperti itu selalu. apa yang bisa beliau berikan pada umatnya pasti akan dia berikan, karena memang bersikap melayani. apakah pelayanan yang diberikan seorang pendeta itu hanyalah didasari oleh pekerjaannya semata? ataukah ketika dia pensiun menjadi pendeta dia tidak akan melayani kembali? atau pendeta itu menjadi pensiun karena sadar atas harga dirinya yang telah terinjak-injak?
saya ingin menjadi pelayan manusia. saya ingin membantu orang. saya ingin memberi apa yang bisa saya beri. saya ingin berbuat baik sedikit saja. bagaimana kalau saya memang tidak bisa apa-apa?
sepertinya saya telah menelan perkataan ibu saya mentah-mentah. saya tahu dan paham apa yang dia maksudkan dengan harga diri dihadapan pacar. saya mengerti kekawatirannya mengingat pacar saya orang yang kontroversial itu tadi.
yang terjadi sebenarnya adalah saya melayani dan saya memberikan apa yang saya bisa berikan. dan kini saya terhempas kedalam palung-palung kematian (kamsudnya?). semua terasa tidak seimbang dengan perlakuan yang layak. saya menulis perlakuan yang layak disini sebagai sebuah kelayakan yang diakui oleh ayah dan ibu saya. dan itu memang terjadi.
tapi bagaimana jika saya merasa saya nyaman melakukannya dan memang senang melakukannya. apakah ini yang dinamakan harga diri yang terinjak? saya tidak memiliki amarah yang cukup untuk berteriak, tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk membanting motor, tidak memiliki keberanian yang cukup untuk berjalan sendiri.
saya letih.

malu
akhirnya saya merasa malu ketika membaca blog wahmuji, "Beranilah berdiri" karena saya memang tidak memiliki cukup kaki untuk berdiri dan cukup dagu untuk diangkat.
salam,
amarah durga
setiap orang memiliki harganya sendiri bung
satu hal yang kubaca dari pengakuanmu, yaitu saudara masih membaca bahwa harga diri adalah suatu yang dibentuk oleh masyarakat umum ataupun luas tapi yang saya yakini, kita yang menghargai diri kita sendiri. kita yang tentukan sampai sejauh mana kamu mau bertahan dengan harga diri tersebut. jangan biarkan orang lain menentukan nya. kita yang paling tahu siapa diri kita sebenarnya dan hanya kita yang paling tahu batas2 kita yang terjauh termasuk batasan untuk sebuah harga diri. jangan biarkan orang tua mu, temanmu ataupun pacarmu yang menentukan harga dirimu, biarkan mereka mencoba untuk menentukan tapi jangan jadikan patokan itu pada dirimu...
re:dalang potehi
terimakasih kawan dalang potehi.
untuk bicara saja saya tidak memiliki nyali yang cukup, apalagi keluar dan lari dari masyarakat yang sangat kuat. walaupun akhirnya saya tetap menentukan harga diri saya sendiri...
salam,
amarah durga
Post new comment