D'massive

seorang teman menanyakan "lagu apa yang paling galau tahun ini?". dia sebenarnya bukan bermaksud bertanya, tapi cuma ngasih tebakan ajah. jelas bingung, saya lagsung mencari referensi band metal yang kira-kira sempat ngetop, ato paling gak band emo yang sempat mengisi kegalauan hati ini (ciieeeehhhhh). soalnya yang nanya juga penikmat musik cadas. nah, setelah saya menyebutkan jawaban yang tidak tepat, akhirnya dia juga menjawab. ternyata jawabannya adalah lagu "cinta ini membunuhku" dari band D'massive. nah lohhh...
emang galau yak? saya bukan pendengar band indonesia baru seperti d'massive, vagetoz, ungu, repvblik, dan kawankawannya. tapi karena kegalauan tadi membuat saya penasaran akhirnya saya mencari lagu itu diwarnet-warnet terdekat. hari pertama pencarian saya tidak menghasilkan apa-apa, salah warnet mungkin. akhirnya sewaktu sedang ngobrol dengan teman dia bercerita ada warnet baru dan murah serta cepat, saya langsung tanya lagi "ada lagu d'massive gak?" haaaaaa..dia bilang ada, langsung aja saya cabut kewarnet yang dimaksud.
diwarnet ituh tanpa membuka firefox ato internetexplorer dulu, langsung aja saya cari di my documents bilik 14 tempat saya bernanung. setelah beberapa menit saya mencari ternyata gada juga. haduh...percuma dong. bermodalkan tekad, semangat, dan flashdisk, saya langsung ajah menuju operator, "mbak, minta lagu D'massive, dunks..." mbak operator yang mungkin juga sedikit kaget karena ketidakkontrasan jeans robek kirikanan yang saya kenakan dengan permintaan saya cuma bisa melongo ajah. "anu...save di flashdisk saya ajah langsung" tambah saya sembari menyodorkan flashdisk. harap-harap cemas gituh, mbaknya masih ajah sibuk nyariin lagu di komputernya sambil mangap-mangap kayak ikan. "waduh mas, flashdisknya penuh diapus dulu ajah." akhirnya saya menghapus satu lagu yang baru aja saya download dari myspace.com. haaaaa....d'oh!
akhirnya selesai juga langsung ajah saya nyetel winamp dan mendengarkan lagu yang baru saya minta tadi dengan perasaan penuh galau karena harus menghapus lagu dulu. "kau hancurkan aku dengan sikapmu. tak sadarkah kau telah menyakitiku. lelah hati ini meyakinkanmu, cinta ini membunuhku...uwoooooo"
mendengarkan dengan sekasama dan menikmati dengan galau berulang-ulang, karena di playlistnya emang cuma ada lagu itu aja. akhirnya saya menemukan kegalauan seorang lelaki yang ditolak cintanya dari lagu itu. hakhakhak....
setelah saya dengarkan hampir 15 kali, saya akhirnya terbawa dengan lagu itu. kedua mata saya mulai mbrambangi, mengingat apa yang saya alami beberapa bulan terakhir, apa yang saya korbankan, dan apa yang saya rindukan. ingin menangis rasanya. "lelah hati ini meyakinkanmu..." D'massive...hatiku kau buat remuk dan hancur.
aku galau...

ha ha ha
melting juga bang dengerin tu lagu?!?!sejarah tu lagu miris banget lho bang,itu tuch pengalaman pribadi vocalisnya yg ditolak 7 kali ama cewek yg sama (barusan di 4 mata)...yach,slamat bergalau-galau bang...
cuciotak
pastinya galau kalo di playlist winamp cuma ada satu lagu itu doang dan didengarkan sembari ngenet sampai satu setengah jam...haaa...dijamin mabok dan galau, entah itu galau karena bosen pengen matiin tuh lagu atau galau karena dengan rupa kita yang tidak manis ini memiliki hati yang melankolis juga...haaaaaa..cuci otakkkk!!!!
iya, waktu itu pernah liat di tipi juga, behind the song, hahahha...
salam,
amarah durga
berkubang
daripada berkubang (minjam istilah temen) dalam kesedihan, bukannya lebih baik melupakan yang udah terjadi dan menatap esok hari dengan full semangat. berkubang dlm kesedihan kayak gitu ga akan membuat dompet anda lebih tuebel.. yg ada malah membuang2 waktu dan menjadikan sodara tidak mood utk melakukan hal lain
the lalala of the wind
D'massive
make me feel alright
kubangan
iya, berkubang dalam kesedihan ternyata memang berbahayahahaha...sepertinya saya memang telah terhipnotis dalam kesedihan yang entah darimana datangnya. eh, bukan entah darimana datangnya, ding..kesedihan itu datang dari lagu d'massive yang saya dengarkan non stop ituh, hehehe...kacau!kalau membicarakan dompet tambah tebel...hehehe..saya kok ga dong yang dimaksudkan kawan sescoplo. memangnya kalau saya tidak berkubang dalam kesedihan dompet saya tambah tebel? kayana ga juga deh. nah loh...ah, saya belum siap mempertebal dompet saya.
salam,
amarah durga
d massive????? gak jadi nge fans de akuuu
gw sempat nge fans berat ama d massive...
tapi sempet kecewa juga sih....karna
Awalnya aku nemuin kesamaan Warna (irama) DRUM dan aransemen lagu d'Massive dgn beberapa lagu dari SWITCFOOT
ni salah satu contohnya :
Bandingkan aransemen lagu, ketukan, warna irama drumnya :
d' MASSIVE yg "DIAM TANPA KATA" dengan
SWITCHFOOT yg "AWAKENING"
suamaaaaa persis....ketukan, aransemen, warna musik, warna irama drum....
klo lo emang musisi, pasti lo nyadarin....
bukan cuma itu, masih banyak lagu2 D' Massive yg mirip dgn SWITCHFOOT dan Band2 luar laennya... misalnya :
SwitchFoot yg "In This Life" dengan D' Massive yg Dan Kamu
ada juga yg sama di bagian intronya doank (aku lupa yg mana dan sama dengan ap)
klo emang professional dan kreatif....knapa musti sama?
kecewa berat deeee........hiks........
kreatif dikit knapa????????
D'Massive dan Lagu-lagu populer
Teman saya pernah cerita. suatu pagi, ia sarapan di burjo dekat kosnya. saat sedang menyantap makan paginya, ia mendengar lagu yang dimainkan oleh d'Massive. teman saya "galau", sedih seketika, dan merasa seakan tidak kuat lagi mendengarkan lagu itu. anehnya juga, katanya, beberapa orang yang mendengar lagu bercerita tentang kesedihan itu dengan mimik yang jauh dari rasa sedih ikut bernyanyi.aneh, kata temanku.
Kemudian obrolan kami berlanjut ke pembentukan suasana yang dicipta oleh lagu-lagu d'Massive dan band serupa yang banyak menarasikan kesedihan, termasuk Ungu. saya sendiri sebenarnya jarang mendengarkan lagu-lagu itu secara intensif untuk kemudian menelaah. kalaupun mendengar, biasanya dari beberapa teman yang latah menyanyikan lagu yang sama atau dari lagu yang diputar di burjo. baru kemudian saya tahu lagu dan band yang dimaksud.
Band dengan musik populer bersifat massif dalam artian produksinya yang membludag dan pendengarnya yang buanyak. dari beberapa lagu yang, kebetulan, sering saya dengar di burjo atau lewat teman, saya membaca narasi kesedihan yang jadi dominasi. saya belum bisa memberikan detail lagu dan liriknya saat ini. dan saya sendiri merasa kurang tertarik melakukannya karena kesan pertama mendengar & 'mendadak' menelaah sudah sangat jelek. karena saya kurang paham tentang aliran-aliran musik, saya cenderung mendengarkan teks/lirik lagunya. liriknya sangat jarang yang bagus. kebanyakan berisi keputus-asaan yang didramatisir menjadi sesuatu yang 'menyentuh'. dan itulah mungkin yang dicari. kata 'menyentuh' kemudian hanya diasosiasikan pada hal-hal yang sedih, putus asa. dan topik besarnya tetap sama; "cinta" antara laki-laki dan perempuan. saya memberi tanda kutip pada kata "cinta" karena saya memiliki konsep dan pengertian yang sangat jauh berbeda tentang kata itu. dan saya menganggap sebagian besar dari lirik "mereka" yang mengusung topik "cinta" tidaklah memberikan semacam pemahaman yang dalam. saya menyebutnya dangkal. narasi kesedihan yang dihadirkan dalam lirik-lirik itu biasanya mendapat penyesuaian dari aransemen musiknya. dan musiknya juga tidak banyak yang bagus. sekali lagi, kesimpulan "buru-buru" ini tanpa saya landasi dengan pamahaman yang memadai tentang musik. namun, saya merasa, musik yang dihadirkan "mereka" jauh, jauh lebih jelek dari teman samping kamar saya yang sering main gitar dan bersuara seperti Rhoma Irama, dari teman-teman saya yang sering "ndangdutan", dari teman-teman saya yang sering nge-jazz-in lagu-lagu Indonesia, dari musik keroncong yang dan langgam Jawa yang keluar dari speaker di samping monitor saya, dari musik Buena Vista Social Club asal Kuba yang sering saya putar film dokumenternya (hanya untuk menyebut beberapa).
Kembali ke obrolan saya dengan teman tadi. ia menelaah lagu itu dan lagu-lagu serupa. dengan landasan bahwa semua yang datang akan membentuk kita, sadar maupun tidak sadar akan mengendap di ruang pikir dan pola kita, ia berkesimpulan bahwa kondisi merebaknya lagu-lagu itu mengenaskan. orang disuguhi secara terus-menerus narasi kesedihan dan orang akan hidup dengannya, berdampingan, dan mungkin juga akan memuja pencipta narasi kesedihan itu.ini akan, lanjutnya, mencipta semacam atmosfer kesedihan di orang-orang muda. bukan atmosfer penuh semangat untuk berpikir dan berkarya.hmm...
Kemudian obrolan berlanjut ke hal yang lain; Sinetron. mungkin kami bertiga (teman saya satu lagi ikut ngobrol) tidak mengikuti secara rutin sinetron-sinetron yang beredar di TV. namun, dari yang kami tangkap ( ini sebenarnya memerlukan obrolan dan catatan yang lebih panjang lagi), kebanyakan sinetron menghadirkan narasi yang sama jeleknya dengan lagu-lagu populer. isinya justru malah lebih parah. oposisi biner yang mutlak seperti kaya dan miskin, jahat dan baik, pembantu dan majikan, "cinta" gak "cinta" akan sangat dengan mudah kita temui. belum lagi ngomongin "acting"-nya yang kacau, logika cerita yang sering lompat dan ngawur, dan eksploitasi perempuan-muda-cantik di sana yang sudah menghegemoni.bahkan, cara kita berpacaran atau berhubungan dengan orang lain sangat mungkin dilandasi pola-pola sinetron itu. teman saya memberikan contoh pola berpacaran beberapa temannya. mereka adalah orang Jawa. komunikasi/ sambung wicara biasanya dilakukan dengan bahasa Jawa. namun, ketika berpacaran, mereka menggunakan bahasa Indonesia.hmm..
Saya pernah membaca sebuah esai di kumpulan "Post-Colonial Studies Reader" (maaf, saya lupa nama pengarangnya). di sana diungkapkan bahwa di negara "dunia ketiga" terdapat simbiosis mutualisme yang rumit untuk membatasi beredarnya buku ilmu pengetahuan. buku yang paling laris dan dibuat laris adalah buku tentang agama dan fiksi populer. teman saya yang bekerja di sebuah penerbitan buku membenarkan pernyataan itu. "buku agama tak akan kehabisan konsumen", lanjutnya. untuk sementara, karena belum melakukan penelitian yang mendetail, saya merasa pembatasan ilmu pengetahuan juga dilakukan di musik dan sinetron. ironisnya,semua media itu membanjiri kita setiap hari. tanpa jeda. tanpa waktu menelaah lebih dalam. tanpa waktu berpikir hal-hal yang lebih nyata dan mendesak..menjadi semacam pelarian semu, sebuah penjualan obral utopia..ah, kata-kata saya mungkin akan terdengar klise. tapi saya juga merasa bingung karena jika saya menghadirkan pembicaraan yang cenderung ke penelitian detail akan tak banyak diakses orang yang sudah apatis dengan sudut pandang yang "lain", yang sering menganggapnya berat. aneh...
D'Massive, nama yang sok Inggris ini, yang mungkin pencipta namanya tidak tahu perbedaan kata benda dan kata sifat dan penggunaannya apalagi untuk mendekonstruksinya, menurut penilaian teman saya, menjadi "band tergalau tahun 2008".WelehWeleh...
amoyAtika dan D'massive
sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan D'Massive, jadi saya tidak mendengarkan semua lagunya. dan sialnya lagi saya juga tidak mendengarkan Switchfoot dengan intens, jadi saya tidak begitu paham dengan persamaan beat dan irama dan lain sebagainya itu dari kedua band tersebut. mungkin gak sih kalau ternyata Switchfoot mengambil materi lagunya D'massive? hehehehe...kayanya ngga ya...tapi karena anda sudah menjelaskan perbedaan itu saya jadi ingin mendengarkannya, emang bener ya...?
salam,
amarah durga
wahmuji dan D'massive
iya sih, setelah saya membaca tulisan wahmuji, saya banyak mengangguk-angguk tanda setuju dan cengar-cengir tanda setuju serta berdehem-dehem tanda 'gumun'. lagu-lagu yang menyentuh memang cenderung dengan kesedihan yang didramatisir, karena emang sedih itu kaya'nya paling gampang ditulis. ketika itu gampang, maka akan banyak orang yang paham dan mengangguk-angguk, makanya jadi lagu populer. nah, apalagi kalo sedihnya ngomongin cinta, waduh...gampang banget.. saya mengalaminya sendiri. saya akan lebih mudah bercerita dengan seseorang perihal kehidupan percintaan saya daripada perihal nasib indonesia, atau perihal sastra atau perihal sistem kerja ekonomi bangsa...waduh. ternyata saya orangnya sangat pop juga ya...
kalo untuk sinetron...ya saya pikir memang sesuai sekali jika dijadikan panutan. semuanya serba bening, bahkan seorang pengemis aja keliatannya cantik banget, bersih gitu, haduhaduhaduh...keluarga miskin yang hampir bangkrut dan dikejar-kejar penagih hutang pun rumahnya bersih mewah dengan satu pembantu...apa-apaan nih...!!! karena banyak yang bening dan manis di sinetron, makanya banyak yang pengen jadi seperti yang tergambar di sinetron, panutan! tapi emang sih, industri sinetron kita kan gede banget tuh, gede urat malunya sampe njiplak dari sinetron korea tanpa ada perasaan bersalah gitu. bayaran untuk aktor-aktrisnya tidaklah sedikit per episodenya, sehingga banyak sekali yang berlomba-lomba mencari uang sebagai aktor-aktris, makanya aktingnya pas-pasan gituh. dengan aktig pas-pasan ajah udah laku, ngapain harus susah-susah nyari aktor berbakat???
tapi...aku ingin jadi pemain sinetron...
salam,
amarah durga
Post new comment