Ke Atas ^
  • Serigala yang Melolong di Depan Moloch

    Puisi, seperti halnya karya sastra lain, adalah kesaksian dan respon literer penyair atas kondisi zamannya sekaligus ikhtiar penyair untuk menyegarkan kembali tradisi kreatif dari generasi penyair sebelumnya. Posisi unik ini membuat ia menjadi cermin bagi manusia untuk melihat dirinya sendiri. Namun sedikit menyimpang dari pengertian fisikalnya, puisi memiliki kemampuan untuk menghasilkan pencerminan diri manusia secara ekstrapolatif, bukan semata-mata dalam wujud yang ia inginkan. Kemampuan untuk memperlihatkan wujud alternatif dirinya itulah yang menyadarkan manusia bahwa sesuatu yang merusak tengah mengancamnya, entah dalam wujud kenyamanan atas kondisi-kondisi kemanusiaan yang mengungkungnya, keterpasungannya pada masa lalu, atau hasrat tak kenal lelah untuk menemukan kehidupan baru.

    Rob Epstein dan Jeffrey Friedman mampu menangkap watak subversif dan inspiratif puisi "Howl" secara visual, terutama dalam usahanya untuk melawan segala kemandekan hidup yang mengungkung masyarakat Amerika. Kedua sutradara ini menggabungkan dokumen pribadi Allen Ginsberg, wawancara perihal proses kreatif sang pengarang, dan arsip pengadilan agar suara lolongan dari puisi panjang Ginsberg tertangkap oleh penontonnya. Secara teknis, Epstein dan Friedman piawai memadukan narasi puitik yang direpresentasikan lewat animasi, wawancara yang sangat kuat nuansa dokumenternya, dan dinamika kehidupan narator serta proses persidangan yang sangat filmis. Latar sosial yang melibatkan Ginsberg dan pengusung Beat Generation divisualisasikan lewat gambar hitam-putih demi memenuhi prinsip keberjarakan peristiwa itu dengan proses wawancara sang penyair. Sementara proses persidangan dan wawancara Ginsberg divisualisasikan dengan gambar berwarna agar penontonnya bisa menangkap‘kekinian secara visual’ dalam film. Dan yang terakhir, unsur-unsur animasi yang didaya-gunakan di dalam film ini, dengan warna-warna kontras, memicu penonton untuk memikirkannya sebagai sebuah proses mental sang penyair yang bersifat personal. Keempat segmen ini saling memotong secara indah, melebur batas ingatan, imajinasi, dan rangkaian peristiwa yang mengalir dalam waktu yang bergerak ritmis tanpa kenal henti. Kepiawaian teknis inilah, salah satunya, yang menjadikan unsur didaktis dalam film—berupa tuturan Ginsberg perihal proses penciptaan puisi-puisinya— tak terasa membosankan atau berkesan menggurui.

    Latar yang menjadi basis penciptaan "Howl" adalah kondisi sosial Amerika sepuluh tahun setelah Perang Dunia II berakhir ketika masyarakatnya menikmati masa-masa kemakmuran awal. Kapitalisme yang menyangga dinamika kehidupan masyarakat Amerika berpadu dengan hasrat imperial tak kenal batas dari kekuatan adidaya baru ini sebagai pemenang Perang Dunia II. Di sini mesin-mesin industri, para ilmuwan perang, universitas, dan keberlimpahan materi mengasingkan manusia dari alam dan hasrat-hasrat primitifnya. Untuk menyempurnakan kondisi itu, standar-standar etika dan moral tertentu dibutuhkan agar orang merasakan kenyamanan untuk tinggal di dalamnya, tak peduli apakah standar etika dan moral tersebut melawan hasrat-hasrat primitif manusia dan tak peka terhadap perubahan zaman. Akibatnya, waktu mekanis bersimaharajalela, kemapanan ekonomi dan sosial menjadi Tuhan baru, etika dan moralitas mengalami pembekuan sampai pada titik tak responsif lagi dengan tuntutan-tuntutan zaman yang terus berubah.

    Ginsberg menyaksikan—lalu mencatat—hal-hal muram yang terjadi di sekitarnya: pikiran-pikiran terbaik dari generasinya dihancurkan oleh kegilaan, jiwa lapar mereka tak lagi bisa mengekspresikan kehisterisannya serta tak mampu tampil telanjang. Di sudut-sudut gelap Amerika orang-orang miskin, dengan baju compang-camping dan mata merana, hidup di dalam flat dengan air dingin dan ruangan yang tak dilengkapi mesin pemanas. Mereka hidup ketakutan di ruangan yang acak-acakan, membakar uang mereka di keranjang sampah, dan menyimak teror di luar dari balik tembok. Seolah-olah tak puas, korban dari peri kehidupan semacam ini meluas hingga pada daftar terbunuh dan cacatnya orang-orang Amerika yang dikirim ke medan-medan perang di luar negeri, sejumlah orang yang mengakhiri hidupnya di rumah-rumah sakit jiwa atau panti rehabilitasi atau penjara, dan tentu saja lahirnya ‘sekelompok pemberontak gagal’ yang berusaha menawarkan alternatif hidup baru.

    Di bawah kehidupan sekarat ini, Ginsberg bertemu dengan sekelompok anak muda yang berusaha memutus rantai kemandekan sejarah kontemporer masyarakatnya di Columbia, San Fransisco hingga Denver. Melawan kekejaman McChartyism, mereka menyebarkan pamflet-pamflet superkomunis. Dalam pemberontakannya terhadap etika dan moralitas yang dianggap jumud, mereka menghisap ganja dan mengkonsumsi obat terlarang, keluar-masuk panti rehabilitasi, menyalurkan hasrat seksual tak kenal batas-batas moral yang menindas naluri kemanusiaannya, menyuarakan kebisuan manusia yang menjadi ampas kapitalisme Amerika lewat musik Jazz, dan mencari ‘agama’ baru lewat penyatuan diri mereka dengan alam. Jack Kerouac, Neal Cassidy, Peter Orlovsky, Lucien Carr, Carl Solomon, dan Allen Ginsberg sendiri adalah bagian dari generasi pemberontak yang ikut menabuh genderang penanda sekaratnya kehidupan masyarakat Amerika yang terlena dalam asap beracun kapitalisme dan libido imperialistiknya yang tak kenal batas.

    Begitulah, di masa-masa gamang tersebut—tercitrakan oleh adegan-adegan film dalam balutan warna hitam-putih yang muram—ia meniadakan jarak atau menghancurkan sekat yang selama ini memisahkan dunia luar dan dunia batinnya. Dalam representasi literernya, ia tak mengikuti ‘formalisme’ penulisan puisi seperti yang dilakukan oleh generasi para penyair Amerika tahun 50-an, sebuah prosedur komposisi kata-kata yang membungkus realitas faktual ke dalam bentuk, diksi, kecairan dan kejernihan yang tak mampu lagi menangkap suara zamannya. Alih-alih menjadi juru bicara patuh Dewi Musae lewat prosedur komposisi puisi yang kaku, ia justru menunjuk munculnya Moloch dan menjadikan Dewa Jahat itu sebagai juru bicara dirinya sendiri dan generasi pemilik pikiran terbaik yang telah dirusak oleh kegilaan. Kata-kata vulgar, cabul, maupun makian mesti dihadirkan secara mutlak dalam puisinya, bukan demi memuaskan hasrat cabul dan perilaku-perilaku tak manusiawi, namun sebagai cara untuk melakukan kritik estetik terhadap kondisi manusia dan masyarakat Amerika yang telah memenuhi setiap pembuluh darahnya dengan asap beracun kapitalisme, hasrat imperialnya yang kejam, dan keterputusannya dari alam dan spiritualitas yang menjadi unsur bawaan dalam diri manusia.

    Asumsi ini sejalan dengan apa yang Ginsberg definisikan sebagai puisi: “Secara umum, puisi adalah sebuah artikulasi ritmik perasaan, dan perasaan adalah sebuah dorongan dari dalam. Perasaan ini bermula dari rongga perut, lalu naik... melewati dada, dan keluar dari mulut maupun telinga, dan.. fyiuuh... Ia keluar sebagai sebuah nyanyian, erangan, atau desahan... Jika engkau berusaha menempatkan kata-kata seperti itu setelah melihat sekelilingmu, persis seperti halnya sebuah desahan dalam bentuk kata-kata, maka kau telah mengartikulasikan perasaanmu...”

    Kerja kreatif dari lorong-lorong gelap kehidupan Amerika ini hampir saja menjadi dokumen pribadi kalau saja Ginsberg tak menerbitkannya dalam sebuah buku dan Lawrence Ferlinghetti tak memantik perdebatan luas di media massa oleh gugatan sekelompok orang yang mencap kumpulan puisi itu sebagai media yang menyebarkan kecabulan. Jalannya persidangan kumpulan puisi mengangkat "Howl" bukan lagi suara dari lorong bawah tanah kehidupan yang berwatak kapitalistik dan kering secara spiritual. Luther Nichols, Mark Schorer, dan terutama Kenneth Rexroth, pada siapa Ginsberg menunjukkan puisinya dan memperoleh sumbangan pengekspresian ide-ide puitiknya (menulis dari hati dan melepaskan semua kemungkinan dari pengekangan suaranya), menjadi pembela paling gigih terhadap puisi-puisi Ginsberg. Sementara Gail Potter dan David Kirk berusaha menunjukkan sisi vulgar dan ketakberhargaan dari puisi "Howl".

    Hakim Clayton W. Horn yang memimpin persidangan membuat keputusan bersejarah: tuduhan cabul dari puisi Ginsberg tak berdasar. Inilah alasan Clayton W. Horn seperti yang dinarasikan di dalam film: “Ada sejumlah kata-kata dalam "Howl" yang dianggap kasar dan vulgar di beberapa komunitas, sementara di komunitas-komunitas tertentu justru dianggap kata-kata biasa. Pengarang puisi "Howl" telah menggunakan kata-kata tersebut karena ia meyakini penggambarannya memerlukan kata-kata itu guna menghidupkan karakter puisinya... Akan adakah kebebasan pers atau kebebasan berbicara kalau ia mesti mengurangi kata-katanya sampai ke taraf hambar, sekedar menjadi eufimisme yang biasa-biasa saja? Setiap pengarang harus riil dalam memperlakukan subjeknya dan diijinkan untuk mengungkapkan pikiran dan gagasannya dengan kata-katanya sendiri. Dalam mempertimbangkan materi-materi yang dianggap cabul, kita mesti mengingat semboyan ini: Jahatlah ia yang berpikiran jahat. Kebebasan berbicara dan pers melekat di sebuah bangsa yang menganut kebebasan...”

    Di kemudian hari masyarakat Amerika menerima Howl sebagai semacam litani penegasan penuh kejayaan dari salah satu ‘kambing hitam’ masyarakatnya yang memiliki nyali untuk melolong di depan Moloch. Sampai menjelang diterbitkannya kumpulan puisi "Howl", tak ada satu pun karya penyair Amerika yang laku sampai dua juta eksemplar dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Kumpulan puisi inilah yang menciptakan sejarah tersebut. Nyaris berlawanan dengan kritiknya terhadap imperialisme politik dan kultural Amerika, puisi "Howl" menyebar dan mempengaruhi tradisi sastra di berbagai belahan dunia. Ia tak hanya dibaca oleh anak-anak muda yang begitu berhasrat menemukan suara dirinya yang orisinal, namun juga dibaca oleh anak-anak yang polos dan generasi tua yang kerapkali berpikir terlalu rumit. Tak semata sebagai erangan atau jeritan atau lolongan, namun juga sebagai sebuah kidung.


    | Link | Dibaca 2342 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak