Ke Atas ^
  • Manusia di Tengah Keramaian

    Ketika membaca cerpen-cerpen Kuntowijoyo, selalu saja saya temukan hal yang sama: keramaian. Hiruk pikuk. Seperti ada banyak orang di sana. Banyak orang, dalam artian sesungguhnya. Hilir-mudik, saling menyapa, ngobrol, bertukar cerita, kadang eyel-eyelan, tak jarang pula bertengkar.

    Keramaian itu, hiruk pikuk itu, mungkin dengan sedikit menggampangkan, kemudian saya sebut masyarakat. Saya menyebutnya demikian bukannya tanpa alasan. Bukan karena keramaian itu, bukan pula karena hiruk-pikuk itu semata. Masyarakat bukanlah hasil dari penjumlahan individu-individu, bukan penjajaran secara mekanis orang per orang, simpul sosiolog Emile Durkheim (1990: 44). Saya menyebutnya masyarakat karena dalam hiruk-pikuk itu, dalam keramaian itu, saya menemukan, atau mungkin paling pasnya merasakan, interaksi, komunikasi, sistem-sistem tertentu: hal-hal yang persis disyaratkan Durkheim bagi terbentuknya sebuah masyarakat. Masyarakat ini, perlu ditegaskan, saya bayangkan dalam artian sesungguh-sungguhnya.

    Karena itulah, manusia yang hidup dan dihidupkan oleh Kuntowijoyo dalam cerpen-cerpennya adalah manusia-manusia yang hidup, tumbuh, dan terlingkup dalam masyarakat. Sebabnya, manusia-manusia itu turut dan larut dalam interaksi, komunikasi, dan sistem-sistem tertentu itu. Kepada beberapa teman, saya menyebut tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen Kunto adalah manusia di tengah keramaian. Ini mungkin saya pertentangkan secara semena-mena dengan kecenderungan cerpen-cerpen Indonesia, terutama dalam dua dasawarsa terakhir, yang lebih banyak menampilkan manusia dalam kesepian, termenung-menung sendirian, teriak-teriak penuh protes, namun di sisi lain juga tak butuh untuk didengar. Cerpen Indonesia mutakhir, meskipun kata banyak pengamat dianggap sebagai kontekstual, senyatanya adalah dunia sunyi sepi, ngungun, dan memilih terasing. Pada Kunto, selain tokoh Humam dan Barman dalam novel Khotbah di Atas Bukit dan tokoh Kakek dalam cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”, saya jarang sekali menemukan tokoh-tokoh yang – meminjam frasa terkenal Chairil Anwar – iseng sendiri, asyik-masyuk dengan dirinya sendiri, melulu bercakap dengan isi kepalanya sendiri.

    Manusia dalam cerpen-cerpen Kunto adalah manusia biasa dengan segala kemanusiaannya. Ia tidak bisa menghindari kodrat kemanusiaannya sebagai homo socius. Manusia dalam cerpen-cerpen Kunto adalah manusia yang sadar bahwa mereka akan kehilangan kemanusiaannya bila tanpa manusia lain (Berger, 1991: 9). Karena itu, mereka, tokoh-tokoh cerpen Kunto itu, sering kita jumpai hidup dalam kolektivitas-kolektivitas tertentu. Tokoh-tokoh itu berada dan terikat dalam lingkaran-lingkaran semacam keluarga, komunitas, jamaah musala, warga perumahan, penduduk kampung, orang-orang desa, dan seterusnya.

    Untuk sekadar memperjelas, tokoh-tokoh dalam cerpen Kuntowijoyo bukanlah tipikal Manusia Kamar-nya Seno Gumira Ajidarma yang mem-prek!-kan orang lain, menganggap manusia lain adalah neraka,  dan merasa mampu hidup tanpa perlu bersentuhan dengan dunia sekitar. Manusia rekaan Kunto adalah manusia ruang tamu, orang-orang beranda, yang butuh bercakap-cakap, sesekali bertengkar, dengan istri dan bercengkerama dengan anak-anaknya. Tidak jarang, ia turut nongkrong di gardu ronda, ngobrol dengan para tetangga dan warga lain tentang macam-macam hal, mulai dari cerita-cerita hantu, soal-soal agama, sampai masalah-masalah politik. Ia juga seringkali dapat dijumpai ikut salat berjamaah di surau, musala, atau masjid. Bahkan, tidak jarang menjadi pengurus atau ketua takmirnya.

    Oleh sebab itu pulalah, manusia yang hidup dalam cerpen-cerpen Kunto jauh dari karakter ganjil dan nganeh-nganehi. Biasa saja, tidak neko-neko. (Dengan tidak usah berdebat tentang aliran kesusastraan yang ditempuhnya) tokoh cerpen Kunto, menurut saya, adalah comotan dari kehidupan sehari-hari. Ia tidak akan jauh-jauh dari sosok suami yang memiliki istri dan anak. Atau, seorang bocah yang biasanya tinggal atau berkawan dengan sang kakek. Atau sebaliknya, seorang kakek yang punya cucu atau berkawan dengan seorang bocah. Atau, yang belakangan sering ditulis Kunto, seorang Indonesia yang tugas belajar di luar negeri dan tinggal di apartemen dan kemudian berkenalan dengan orang-orang yang menarik untuk diceritakan. Bisa pula, dan ini sering, salah satu warga dari sebuah kompleks perumahan, kampung pinggiran kota, atau sebuah kampung agraris yang penuh mitos, yang biasanya selalu memiliki tetangga.

    Agar lebih bisa dibayangkan seperti apa manusia dalam keramaian yang saya maksudkan, saya akan memaparkan beberapa hal yang kira-kira dapat menggambarkan seperti apa keramaian dan hiruk-pikuk dalam cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang kemudian saya sebut sebagai masyarakat itu.

    “Saya” yang Suka Bercerita

    Kuntowijoyo adalah jenis pengarang yang suka sekali ambil bagian dalam cerita yang direkanya. Pengarang ini begitu gemar memakai sudut pandang orang pertama. Terus terang, ini adalah bagian yang saya sukai dari Kunto. Dengan kerap memakai sudut pandang orang pertama, Kunto memberi sensasi yang berbeda kepada pembaca ketika membaca cerpen-cerpennya. Pembaca seperti diajak untuk mengidentifikasi si tokoh “saya” atau “aku” sebagai Kunto sendiri. Apalagi, ketika pembaca menemukan pada si “saya” atau si “aku” sifat-sifat, ciri-ciri, atau sesuatu yang dikenali pada Kunto, semisal si “saya” adalah ahli sejarah, atau seorang yang sedang tugas belajar di Belanda, atau seorang yang tinggal di sebuah kompleks perumahan, sensasi itu semakin mengasyikkan.

    Kesukaan Kunto pada sudut pandang orang pertama, dapat dengan mudah kita lihat pada cerpen-cerpennya secara langsung. Saat saya iseng mengutak-atik, saya menemukan, dari 37 cerpen yang terdapat dalam dua kumpulan cerpennya, yaitu Dilarang Mencintai Bunga-Bunga dan Hampir Sebuah Subversi, hanya 11 cerpen yang tidak memakai sudut pandang orang pertama. Rinciannya: dari 26 cerpen yang memakai sudut pandang orang pertama itu, 23 memakai “saya” dan sisanya memakai “aku”.

    Yang lebih menarik, sudut pandang orang pertama ini ternyata tidak selalu dipakai untuk menempatkan tokoh “saya” atau “aku” sebagai tokoh utama, sebagaimana lazimnya cerita-cerita yang memakai sudut pandang orang pertama. 13 dari 21 cerpen dalam Hampir Sebuah Subversi yang memakai sudut pandang orang pertama, menjadikan “saya” atau “aku”, hanya sekadar sebagai si pencerita (karena itu, untuk selanjutnya saya akan memakai istilah si “saya” pencerita). Si “saya” pencerita ini biasanya bertutur tentang kisah atau perilaku tetangganya, kakeknya, paman, sepupu, atau orang-orang yang dikenalnya (lihat, Hampir Sebuah Subversi). Orang-orang yang diceritakan itu yang menjadi tokoh utama cerita. Dan tidak jarang, si “saya” pencerita ini tidak ubahnya seorang reporter yang sekadar melaporkan: ia tidak memiliki peran yang signifikan dalam cerita, selain sebagai figuran yang berhubungan dan mengetahui beberapa hal tentang tokoh utama.

    Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijelaskan dari kegemaran teknis Kuntowijoyo ini. Namun, sebelumnya, saya sangat yakin, teknik yang jarang kita temukan dipakai oleh pengarang Indonesia, atau mungkin dunia ini, berhubungan erat dengan keramaian alias hiruk-pikuk alias masyarakat yang ada dalam cerpen-cerpen Kunto sebagaimana yang saya paparkan sebelumnya.

    Pertama, teknik seperti ini di tangan Kunto sangat membuka kemungkinan munculnya banyak tokoh. Teknik “saya” pencerita memungkinkan si “saya” pencerita menjadi tokoh yang berjarak dengan si tokoh utama. Dengan demikian, jika membutuhkan konflik (saya tulis “jika” karena cerpen-cerpen Kunto tidak selalu menganggap penting konflik), maka Kunto memerlukan tokoh atau unsur yang lain selain tokoh utama yang diceritakan dan si “saya” pencerita. Kebiasaan Kunto, jika memang ia butuh konflik, ia memunculkan sosok istri yang cerewet, tetangga yang punya pendapat berbeda, atau sekelompok orang atau sebuah masyarakat yang merasa gelisah. Kebiasaan-kebiasan Kunto ini bisa kita temukan dengan mudah pada “Anjing”, “Gerobak itu Berhenti di Muka Rumah” (keduanya dalam Dilarang Mencintai Bunga-Bunga), “Kuda Itu Seperti Manusia juga”, “Hampir Sebuah Subversi”, “Mata”, “Da’i”, dan “Orang yang Mencintai Kuburan” (dalam Hampir Sebuah Subversi). Dengan demikian, menurut hitung-hitungan,  paling tidak, Kunto memerlukan tiga tokoh dalam tiap cerpennya. Namun, jumlah itu adalah jumlah minimal yang jarang ditemukan, karena, sebagaimana diketahui, Kunto menggunakan kebiasaannya itu seringkali secara sekaligus dalam satu cerpen: ada istri-istri cerewet yang suka bergosip dengan para tetangga dan pada akhirnya menciptakan keresahan yang kolektif.

    Berikutnya, penjelasan kedua. Narasi lewat sudut pandang orang pertama membuat pencerita tidak menjadi dewa mahatahu. Si “saya” harus mematuhi konvensi bahwa ia pasti tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh si “dia” atau tidak dapat bercerita sesuatu yang tidak tertangkap oleh pancainderanya. Dengan menempatkan si “saya” pencerita bukan sebagai tokoh utama, pengarang menyetel pengetahuan si “saya” pencerita menjadi jauh lebih terbatas. Lalu, bagaimana si “saya” pencerita punya cukup bahan tentang tokoh utama yang diceritakannya? Kunto memecahkan masalah keterbatasan si “saya” pencerita ini dengan banyak-banyak menghadirkan tokoh-tokoh lain yang melihat, mendengar, merasakan, dan akhirnya berpendapat. Dari tokoh-tokoh lain yang mendengar, merasakan dan berpendapat inilah si “saya” pencerita merekam informasi tentang tokoh yang diceritakannya. Seperti pada penjelasan pertama, tokoh-tokoh lain ini ada kalanya adalah istri si “saya” pencerita sendiri, atau istri si tokoh utama, tetangga si “saya” pencerita, atau tetangga si tokoh utama. Bisa pula, tokoh-tokoh yang dicerap informasinya atau pandangan-pandangannya tentang tokoh utama oleh si “saya” pencerita itu tokoh-tokoh yang anonim, tak bernama, yang oleh Kunto sering dengan gampang disebut sebagai para tetangga, atau jamaah musala, atau warga perumahan, warga kampung, orang-orang desa, dan seterusnya.

    Pada titik-titik inilah lingkaran-lingkaran yang interaktif, komunikatif dan memiliki sistem tertentu, yang kemudian saya sebut masyarakat itu, muncul. Kalau sudah begitu, Anda bisa bayangkan, betapa ramainya cerpen-cerpen Kunto. Dan, tentunya, si “saya” pencerita serta si tokoh utama yang diceritakan hidup di tengah keramaian itu.

    Rumah, Surau, Gardu Ronda

    Seperti telah saya singgung sebelumnya, manusia dalam cerpen-cerpen Kunto adalah orang-orang yang tak suka mengurung diri di kamar. Mereka, manusia dalam cerpen-cerpen Kunto itu, sadar bahwa mereka adalah bagian integral dari sebuah ikatan yang bernama masyarakat. Mereka itu, walau kadang-kadang ingin mencoba keluar dari “kerumunan” dan hendak mencoba merasakan nikmatnya kesendirian, pada akhirnya adalah mahluk-mahluk yang tak lengkap menjadi manusia tanpa manusia yang lainnya. Dengan mengecualikan si kakek yang asketis, si bapak yang mekanis, dan si bocah “aku” yang sok filosofis dalam “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”, manusia-manusia rekaan Kunto adalah manusia yang senantiasa sosial. Ingatlah bagaimana tokoh guru dalam “Gerobak itu Berhenti di Muka Rumah” yang berusaha dengan sangat keras untuk menjadi bagian dari tempat barunya, yakni sebuah desa tempat ia mengajar. Juga, usahanya yang begitu keras menjadi teman si kakek yang dianggap orang sebagai asosial. Perhatikan pula, si kakek tua dalam “Sepotong Kayu untuk Tuhan” yang ternyata gagal menikmati kesendirian: tidak saja ia ternyata begitu tergantung pada istrinya, namun juga terlalu rapuh untuk sekadar merobohkan pohon nangka yang sudah mati – dan karena itu harus membutuhkan bantuan seorang penebang kayu. Karakter tokoh “saya” dalam “Kuda Itu Seperti Manusia Juga” memberi penjelasan yang lebih jauh. Tokoh ini suka memelihara ayam katai. Ia merasakan keasyikan tersendiri ketika halaman rumahnya kotor oleh tahi-tahi ayam, namun semarak oleh warna-warnanya. Sekilas ini tampak remeh. Namun, tak bisa disangkal, dari sinilah ia menegaskan ke-homosocius-annya. Dari halaman yang kotor dengan tahi dan semarak oleh ayam ini, si “saya” membangun komunikasinya dengan lingkaran masyarakat terkecil yang melingkupinya: keluarga, istri dan anak-anaknya. Berangkat dari halaman ini pula, ia memainkan peran seorang tetangga yang ramah dan penuh kepedulian.

    Lalu, di manakah manusia-manusia tipe seperti itu dimungkinkan hidup? Tentu saja bukan dalam kamar tanpa jendela tanpa pintu, atau di tepi kolam renang yang sepi dan ngungun, atau di sebuah ruang kecil di atas perahu yang para penumpangnya tidak saling mengenal. Bukan. Manusia-manusia rekaan Kunto hadir di ruang-ruang yang memungkinkannya bertemu dengan banyak orang, saling menyapa, kadang kala bersitegang, dan yang jelas interaktif. Tak heran, kita akan menemukan tempat-tempat seperti rumah, apartemen, gardu ronda, kantor RT atau kantor desa, surau, musala atau masjid, dan sejenisnya bertebaran dalam cerpen-cerpen Kunto. Untuk sekadar diketahui, dari 37 cerpen dalam dua kumpulan, latar rumah terdapat dalam 19 cerpen, surau atau musala atau masjid (dalam 9 cerpen), apartemen (8), kampus atau sekolah (8), gardu ronda (4), kantor RT, RW, atau kelurahan (2), plan atau taman kota (2), perpustakaan (1), kantin (1), pasar (1), dan tempat mandi umum (1).

    Rumah atau apartemen, meskipun lebih banyak dianggap sebagai ruang privat, pada kenyataannya menjadi ruang bersosialisasi yang pertama dan utama bagi tokoh-tokoh cerpen Kunto. Di rumah atau apartemenlah ada dialektika yang terus-menerus dan dinamis antara suami, istri, anak, dan anggota  keluarga lain yang ada di dalamnya. Di rumah pula, seringkali representasi kesadaran kolektif (sebagaimana yang pernah diuraikan Durkheim) memasuki individu-individu sekaligus menegaskan individu-individu dalam rumah itu – meminjam istilah Berger (1990: 102-113) – sebagai diri sosial (social self).

    Yang lebih kentara tentu saja adalah tempat-tempat yang lebih publik seperti gardu ronda, surau, musala, masjid, atau kampus atau sekolah. Jika rumah atau apartemen memungkinkan terciptanya kohesi dalam lingkaran paling kecil dari masyarakat, maka tempat-tempat publik tersebut memberi wadah bagi kohesi dalam lingkaran yang lebih besar: antartetangga, antarwarga, antarmasyarakat. Lebih jauh, di samping bahwa tempat-tempat publik itu merupakan bukti bahwa keramaian, hiruk-pikuk, masyarakat, itu ada, ia juga sekaligus berfungsi sebagai penjaganya. Bagaimanapun, tempat-tempat publik ini, dengan masih meminjam penjelasan Durkheim, sangat berguna untuk secara terus-menerus menjadi penjaga kohesi sosial dan kolektivitas, di saat kesadaran individu semakin menguat. Teristimewa, tempat-tempat publik seperti surau, musala, atau masjid yang merupakan basis dari entitas yang pada kenyataannya sangat-sangat kolektif: agama. Dan, sekali lagi, manusia yang hidup dalam cerpen-cerpen Kuntowijoyo berada di tengahnya.

    Wallahu alam. Hanya Tuhan, dan tentu saja Kunto, yang tahu apa yang saya paparkan ini benar. Namun yang jelas, lewat si “aku” dalam “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”, Kunto pernah berujar, “... Kita hidup bersama orang-orang lain, kata ibuku.”


    | Link | Dibaca 2307 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak