Ke Atas ^
  • Apakah Seni (Masih) Memiliki Daya?

    Seni harus dapat memberikan sentuhan baik lembut maupun kasar pada bidang-bidang kajian kemasyarakatan. Khususnya, di sini kita akan lebih banyak membicarakan dalam bidang Seni Rupa. Secara garis besar, Seni rupa memiliki 3 bidang kajian besar yang melingkupi Seni rupa murni, Desain, dan Kriya. Dalam submateri tersebut memiliki kajian yang lebih rinci lagi. Mulai dari seni lukis, patung, grafis, arsitektur, keramik dan masih banyak lagi. Tetapi, apakah Seni Rupa yang sekarang ini memilih sikap kontemporer dapat memberikan daya dalam sendi kehidupan kita sehari-hari? Atau apakah Seni Rupa sekarang ini hanya bergerak dalam ruang-ruang kurator dan penikmat seni di galeri saja? Apakah narasi-narasi besar dalam seni rupa masih dapat menyentuh hal-hal yang lebih sensitif?

    Secara teoritis Fisika, James Watt (penemu Daya) melambangkannya dengan simbolik (P). Dalam dunia fisika juga, daya diinterpretasikan dengan suatu usaha (W) yang berbanding terbalik dengan waktu (t) (Secara umum, P = W/t). Dalam hal ini, daya yang dimaksudkan dapat dihubungkan dengan apakah usaha-usaha dalam kajian seni rupa khususnya dalam khazanah kontemporer sekarang ini, masih dapat membangkitkan ataupun menginspirasi kehidupan masyarakat kecil dalam waktu tertentu untuk mendapatkan hak-haknya kembali? 

    Mempertimbangkan narasi seperti ini tentunya harus mengandalkan subjek dalam seni itu sendiri, yaitu Seniman. Seniman-seniman yang berkarya dalam khazanah kontemporer tentu memiliki sifat limitatif dalam ruang seninya. Meskipun, kita tahu bahwa kontemporer dapat bergerak bebas dengan berbagai medium yang ‘diakui’ sebagai seni.

    Timbang-Menimbang Seni

    Seorang seniman memiliki nilai dan ciri khas tersendiri dalam memindahkan gagasan ke medium yang dipakainya untuk berkesenian. Seniman memang berhak memutuskan apapun yang ingin dia jadikan sebagai Seni, terlebih di situasi kontemporer sekarang ini. Hasil karyanya tersebut tentu saja memiliki narasi besar yang ingin disampaikan ke penikmatnya ataupun dalam diri seniman. Narasi (narrative) memang lebih dikenal dalam terminologi kesusastraan. Kita bisa mengacu J.F. Lyotard dan Fredic jameson yang menggunakannya dalam epistemologis yang lebih besar, yaitu sebagai sebuah narasi kehidupan yang memiliki yang dapat memahami konsep, realitas maupun kehidupan itu sendiri. Pada dasarnya, narasi-narasi mengenai apa yang disampaikan oleh seniman terkadang berbenturan dengan sebuah kontradiksi mengenai kemampuan intelektual setiap penikmat seni itu sendiri.

    Jika ini terjadi, maka ada perbedaan ruang penyampaian oleh seniman dengan penikmat. Memang, sebagian seniman tidak langsung menunjukkan substansi karyanya secara eksplisit. Mereka lebih senang bermain dalam jangkauan rasionalitas itu sendiri. Salah satu penyebab inilah yang terkadang menjadikan seni memiliki sikap keekslusifan dan tidak terjamaah oleh tangan-tangan penikmat seni maupun yang bukan. Analoginya adalah Seniman berbicara mengenai hewan, tetapi kita malah mendengarkannya sebagai tumbuhan. Alhasil, terjadi batas-batas teritorial antara seniman dan penikmat.

    Selain itu, saat ini terjadi apa yang dinamakan dengan komoditas Seni. Seni yang bergerak dalam khazanah seni rupa kontemporer sekarang ini, kebanyakan bermain dalam teritori ekslusifitas dan komoditas kapitalisme. Alhasil, yang terjadi adalah menjadikan seni hanya sebagai alat produksi untuk menghasilkan nilai-nilai ekonomi dan menggadaikan keterlibatannya untuk memperjuangkan eksistensi dari persoalan di sekitarnya. Tidak sedikit mereka (red: seniman) menjual idealismenya hanya untuk mementingkan kepentingan pasar. Jika melihat kondisi saat ini, memang ironis. Karya-karya seni yang dipamerkan di galeri hanya dijangkau oleh kaum-kaum penikmat seni yang datang di galeri tersebut saja. Kebanyakan para seniman juga menjadikan seni sebagai komoditi estetik yang digantikan dengan suatu nominal. Bahkan kebanyakan karya-karya seni tidak menyentuh masyarakat kelas bawah, apalagi menginspirasi golongan bawah untuk bangkit dan berperan dalan sendi-sendi kehidupan yang cukup strategis. Akhirnya, penyampaian hanya berlangsung dalam ruang galeri tanpa mendarat ke tangan rakyat yang lebih bawah.

    Saya pernah menanyakan kegelisahan ini ke seorang seniman Australia yang berdomisili di Bandung, Elly Kent, mengenai apakah seni masih dapat terjamaah oleh kaum-kaum bawah dan rakyat kecil? Beliau berkata bahwa itu memang menjadi tantangan sekarang ini dan karya seniman hanya berkutat dalam ruang galeri. Kebanyakan seniman terjebak dalam hasrat bagaimana untuk menjual karyanya daripada watak isi karyanya sendiri. Padahal relasi seni rupa hampir selalu beririsan dengan nilai-nilai substantif dari kehidupan. Dia juga mengatakan bahwa jika ingin memulainya, maka seniman harus turun langsung ke titik nadir dari problema sosial itu. Mengapa ini perlu? Karena Seniman juga harus merasakan poin-poin sensitif dari substansi masalahnya. Saya teringat mengenai slogan ‘Seni untuk Rakyat’ yang diusung oleh Lekra. Para seniman yang berdiri di kubu kiri tersebut, memilih untuk memperjuangkan hak-hak rakyat melalui kesenian. Secara pribadi, saya berpendapat bahwa slogan ‘Seni untuk Rakyat’ lebih menyentuh esensi dari Seni sebagai bagian dari substansi kehidupan. Ini lebih kuat dari yang sekarang!

    Apa yang berkembang dalam diri kapitalisme estetik berupa Seni Rupa ini adalah sebuah pembebasan hasrat yang relatif dengan dibatasi oleh logika kapitalisme itu sendiri serta menuntut kalkulasi keuntungan berupa bentuk pengaturan rasional. Karya seni harus dibangun dengan mengukirkan di dalam dirinya posisi deteritorialisasi: pemaduan secara hasrat dan kebenaran, neurosis, dan sublimasi – yang satu bersifat regresif, memperlihatkan bagaimana karya memperbincangkan konflik dan menuangkan konflik masa kecil bersifat prospektif, dan yang satu lagi bagaimana karya menemukan jalan menuju ke arah pemecahan baru yang berkaitan dengan masa depan.[1]

    Di sini kita akan menemukan ruang penyampaian karya yang dibatasi oleh waktu, yaitu dulu dan masa depan. Dalam posisi ini, seniman dapat memberikan pengecualian untuk hal-hal yang memang bersifat pribadi, dalam artian karyanya tersebut hanya merinci pada gejolak batin diri seniman. Jadi, tidak menuntut keharusan untuk mewakili sebuah problema lingkungan yang sedang terjadi. Seperti: Jika kita masih ingat dengan karya hebat “Lavender Mist” (221 x 299,7 cm) yang dibuat oleh seniman abstrak ekspresionis, Jackson Pollock, di mana pada saat itu abstrak ekspresionis merupakan sesuatu yang populer pada puncak modernisme. Di titik itu, seniman muncul sebagai individu (lebih tepatnya, refleksi dalam ruang individu). Jadi, wajar saja apabila Deleuze cenderung memandang karya Pollock sebagai sesuatu yang ‘tak memuaskan’. Karya yang ‘memuaskan’ hanya terdapat dalam diri seniman kala itu.

    Seni khususnya Seni Rupa yang dibangun dari tingkatan intensitas yang meluap (Seperti: memaknai problema sosial), tentunya memiliki fokus dalam ruang dan waktu. Tetapi, acap kali yang dilupakan dalam sebuah kanvas lukisan ataupun karya seni rupa lainnya adalah ada jarak waktu antara hadirnya sebuah ‘realitas’ yang diperlihatkan dan penampilan dalam karyanya sendiri. Jarak tersebut menghadirkan fokus ruang. Ruang dan apa yang divisualkan menjadi sebuah pertimbangan  yang koheren.

    Jika suatu karya tidak berhasil memperlihatkan pertimbangan tersebut, maka dia juga tidak dapat mengungkapkan hadirnya sebuah realitas itu sendiri. Alhasil, karya tadi mempunyai makna yang bukan sebagai karya yang mengungkapkan ‘sesuatu’. Oleh sebab itu, karya seperti ini dapat menjadi pelajaran baik bagi Tesis Adorno yang fenomenal sekaligus kontroversial dalam Aesthetische Theorie: “Ekspresi seni adalah antitesis terhadap mengungkapkan sesuatu.” [2] Dan, pengungkapan makna karya seni yang nonkonseptual juga pernah mengguncang seni rupa modern di tahun 1917. Kala itu, Duchamp menyodorkan sebuah karya yang tak lazim, yaitu sebuah tampungan dan  penyalur air kencing dan diberi judul “Fonten” yang terbuat dari porselen.

    Sontak, karya Duchamp menjadi kontroversi dan menimbulkan perdebatan yang cukup panjang. Karya Duchamp mengandung paradoksal, yakni dari segi penyampaiannya yang agak nyeleneh kala itu dan juga dari segi pragmatismenya. Pragmatis karena karya yang ditampilkan bukan hasil yang diciptakannya, melainkan dibeli dari sebuah toko. Sementara, dari segi penyampaiannya yang nonkonseptual membuat sebagian orang berpikir bahwa apa makna dari karyanya itu dan apakah ini dapat dikatakan sebagai ‘seni’. Tetapi, akhirnya karya tersebut diterima sebagai sebuah karya seni dan mendorong pergerakan seni rupa kala itu ke arah pemikiran baru, bahkan sampai pada saat kontemporer sekarang ini. Dalam pandangan pribadi, apa yang dilakukan oleh Duchamp sebenarnya masih belum cukup untuk melakukan penyampaian yang fundamental terhadap maknanya sendiri. Meskipun, karyanya tersebut telah membuat sebagian seniman ataupun penikmatnya terkagum-kagum akibat dobrakkan yang dilakukannya. Yang patut dihargai adalah contoh Duchamp merupakan salah satu kekuatan (daya) yang menggerakkan sebagian potensi-potensi seniman untuk menciptakan karya yang dapat mewakili problema sosial dengan jenis-jenis medium (bahan) yang berbeda.

    Mempertimbangkan seni khususnya seni rupa untuk memiliki daya, membutuhkan kinerja yang bukan saja konseptual, tetapi peranan nonkonseptual juga dapat dijadikan alasan kriteria untuk dinamakan sebagai suatu ‘Seni yang berdaya’. Tetapi, terlepas dari analisis karya yang konseptual maupun tidak, tetap menyisakan pertanyaan apakah kedua kriteria tersebut yang sedang dilakoni oleh Seni Rupa sekarang ini sudah memberikan daya yang cukup untuk mengkonklusikan solusi terhadap problema sosial di kalangan bawah (rakyat kecil yang belum terjamaah oleh seni)? Belum sepenuhnya. Hal ini dikarenakan sebagian karya seni tidak dipandang sebagai substansi sosial ataupun nilai-nilai sosial, kebanyakan karya seni berhenti dalam ruang estetika dan dan terhambat dalam kesepakatan transaksional berupa nominal. Seperti yang ditulis seorang kritikus terkenal, Suzi Gablik dalam buku Has Modernism Failed, “Bila nilai-nilai tak lagi merupakan sebuah pengakuan kebenaran, tetapi hasil kesepakatan, bila hakikat seni terpecah-pecah dan tidak definitif, bagaimana kita bisa memahami artinya?”

    Karya Seni sebagai Nilai Sosial

    Seni sejujurnya merupakan representasi dari sebuah masalah realita yang konkret. Meskipun begitu, seni juga tidak terlalu perlu untuk menempatkan diri dalam suatu posisi yang tinggi untuk melihat kedalaman dari karya seni itu sendiri. Alangkah baiknya, seni dijabarkan dalam posisi yang sederhana dan langsung menyentuh nilai-nilai sosial.

    Ia harus dipahami sebagai medium transformasi nilai-nilai budaya, penguatan ikatan-ikatan sosial antarwarga masyarakat, masyarakat, dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk mengokohkan peradaban umat manusia.[3] Kekuatan rasionalitas juga diperlukan dalam memahami seni sebagai eksplorasi sosial. Basis-basis tersebut harus dikonstruksikan dengan pemahaman dan pola pengembangan interaksi-interaksi yang dibangun dalam hasil karya Seni Rupa itu sendiri. Dalam hal ini, kita berusaha untuk mengembalikan citra seni khususnya karya-karya seni rupa ke dalam persoalan seni dipandang sebagai substansi sosial dalam sendi kehidupan bermasyarakat. Seperti gaya realisme dan ekspresionisme yang ditunjukkan oleh Affandi, Hendra Gunawan, dan Sudjojono untuk meningkatkan nilai-nilai substansi dari kehidupan rakyat. Tetapi, sayangnya, pada gejala seni rupa global, nilai karya seni telah dijadikan sebagai bahan komodifikasi untuk menukarkan esensi karya dengan nilai ekonomis yang praktis. Gejala-gejala urban seperti ini juga sudah terjadi sejak lama. Komodifikasi karya seni rupa yang pertama kali digunakan oleh kritikus-kritikus New York. Alhasil, karya Van Gogh bisa laku terjual hingga 100 juta dollar AS.

    Melihat karya seni sebagai nilai sosial, dapat diposisikan sebagai sebuah kajian mengenai sosiologi seni. Marx merupakan salah satu yang terawal dalam menyajikan topik ini. Ide tentang seni pembebasan membawa keberadaan seni ke arah pandangan fungsi sosialnya. Hampir sama dengan John Dewey, yang terkenal dengan pemikiran pragmatismenya, juga membahas peran dan kedudukan seniman serta karya seni sebagai kerangka transformasi sosial. Secara garis besar, menyoalkan seni ke dalam lingkup sosial, dapat dilihat sebagai membaca peran seniman dalam menghubungkan karya yang dibuatnya dengan pola interaksi antarmanusia. Perihal substansi karya seni yang dibuatnya memang dapat ditentukan dari berbagai hal. Dalam hal ini akan terjadi medan tarik-menarik dalam pemaknaan karya seni. Di satu sisi, sebagai keberlangsungan  (survive) pelaku-pelaku seni dan satunya lagi, berkaitan dengan pencapaian seni itu sendiri.

    Kehadiran pencapaian seni tetap harus mempertahankan dirinya sebagai bagian dari pembentuk budaya manusia dan sadar akan fenomena luar yang juga membentuk budaya. Kaitan seni dan budaya dengan sendirinya menjadi peran yang berbarengan dan berjalan secara otomatis. Pada titik ini, Seni tidak lagi melulu soal keindahan dan nilai-nilai yang dapat ditukarkan dengan nominal. Di sini, seni membicarakan hal-hal yang universal maupun titik-titik kritis dalam sebuah kehidupan.

    Pertimbangan ini kemudian dapat dijadikan sebagai pemahaman terhadap model-model jalan baru dari sebuah seni sebagai nilai sosial yang artikulatif, sublim, sebagai counter culture akibat dari penyimpangan yang terjadi terhadap kalangan bawah maupun menengah. Seni  sebagai nilai sosial adalah antitesa terhadap seni yang beradaptasi dengan kapitalisme menuju seni yang beradaptasi dengan lingkungan sosial. Hal tersebut bersifat mendampingi masyarakat yang terpinggirkan oleh sistem kapitalistik dengan pembebasan lokal menuju tindakan global bersama teknologi, media baru, perkembangan sains. Pergerakan seperti ini mengajak masyarakat beraktivitas untuk mengubah sikap dan pola perilaku yang destruktif ke arah sikap dan perilaku yang konstruktif (save nature), dari monokultur menjadi multikultural, berbasis semangat hidup bersama dalam perbedaan (peacefull coexistance).[4]

    Menyimak seni rupa kontemporer yang masih mencari jati dirinya hingga sekarang ini, hanya dapat melihat sedikit saja harapan akan munculnya sikap atas seni sebagai nilai sosial. Kritik seni seharusnya dapat menjadi solusi untuk seniman-seniman yang masih mementingkan kepentingan pasar. Wacana pencapaian seni sebagai nilai sosial seharusnya menjadi topik yang selalu diangkat oleh seniman. Hal ini bukan hanya dapat membantu diri si seniman saja, tetapi seniman juga dapat membantu rakyat-rakyat kelas bawah maupun menengah untuk bangkit dan bertindak ke suatu pergerakan yang progresif melalui karyanya.

    Yang perlu digarisbawahi adalah posisi karya seni sebagai nilai sosial merupakan salah satu kriteria untuk menjawab apakah seni masih memiliki daya. Jika sistem kapitalistik masih kuat daripada karya sebagai nilai sosial, maka sudah dapat ditebak bahwa Seni saat ini memang diragukan untuk mempunyai daya untuk membangun masyarakat dengan sikap konstruktif.

     


    [1] Gilles Deleuze dan Felix Guattari, Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia, The Viking Press, 1982, hlm. 134

    [2] Lambert Zuidevarart, Adorno’s Aesthetic Theory: The Redemption Of Illusion, MIT Press, 1993

    [3] Esai “Mempertimbangkan Seni” oleh Purnawan Andra, KOMPAS (23/03/2014), Hal 20.

    [4] Andrik Poerwasito dalam artikel “Dekonstruksi Institusi Seni ke Institusi Seni-Budaya”


    | Link | Dibaca 1732 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak