Ke Atas ^
  • Jalan Tengah Aristotle

    Seperti yang sudah dikisahkan Mas Alwi tulisan sebelumya, rangkaian tulisan yang muncul ini merupakan rangkuman obrolan kelompok belajar imut kami setiap dua minggunya. Nah, kali ini giliran saya bercerita ulang soal pergunjingan kami mengenai seorang tokoh kondang lainnya dalam tradisi kritik sastra: Aristotle (atau dalam ejaan Bahasa Indonesia biasa ditulis “Aristoteles”).

    Bab berjudul “Aristotle” dalam Modern Literary Criticism and Theory gubahan M.A.R. Habib muncul sesudah bab berjudul “Plato”, seorang filsuf lainnya yang hampir-hampir dikenal semua orang yang menekuni (baik sungguhan tekun ataupun tidak) dunia filsafat dan/atau sastra dan/atau bahkan bidang ilmu pengetahuan lainnya. Plato muncul dengan citra persona yang amat idealis, galak, dan pedas terkait keberpihakannya terhadap filsafat (dibandingkan dengan sastra). Kesan yang  nyaris sama sekali berbeda muncul ketika membaca “Aristotle”, impresi yang hinggap dengan segera dalam benak saya adalah “bapak yang baik”. Aristotle terasa lebih sabar menilik ini dan itu mengenai segala sesuatu terkait dengan filsafat, sastra dan hubungan keduanya, untuk kemudian menyampaikan pandangan yang kurang lebih tampak memberikan keleluasaan lebih pada kedua ranah yang disebutkan sebelumnya  dalam kamarnya masing-masing.

    Menariknya, Aristotle sendiri sesungguhnya merupakan salah seorang murid di akademi yang didirikan Plato pada masanya. Kalau pernah mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa seorang guru akan amat bangga pada murid yang bisa melampauinya, mungkin Aristotle inilah salah satu contoh murid yang dimaksud. Memang tidak serta-merta melampaui gurunya—karena jelas sulit menilai pengaruh siapa di kemudian hari yang lebih dominan—namun keberanian, ketajaman, serta orisinalitas Aristotle ketika menanggapi pemikiran-pemikiran gurunya jelas melebihi definisi murid yang baik seperti yang diungkapan di atas. Sekali lagi, mengikuti jejak (menanggapi) gurunya, Aristotle juga mendirikan sekolah yang diberi nama Lyceum; sebuah bentuk dedikasi pada Apollo Lyceus, dewa penggembala. Selain sekolah itu, ia juga membangun perpustakaan, museum sejarah, dan taman zoologi. Iya, zoologi. Saya juga baru tahu kok bahwa Aristotle itu seorang kolektor flora dan fauna sekaligus mempelajari biologi dengan sungguh-sungguh.

     

    Apa yang Berbeda dari Aristotle?

    Sebagai pemikir yang muncul sesudah Plato, jelas pemikiran-pemikiran Aristotle berangkat dari isi kepala Plato yang sudah dikemukakan ke publik. Akan tetapi Aristotle dan Plato kerap kali berpisah jalan. Salah satu perpisahan jalannya dengan Plato yang cukup signifikan adalah kritiknya atas Teori Form usungan gurunya. Plato menjelaskan “yang esensial” itu sebagai sesuatu yang universal dan transenden; dan realitas yang kita jalani hanyalah tiruannya. Inilah alasan mengapa Plato selalu bersikeras untuk menemukan nilai (asal) “universal” dari segala hal (sastra termasuk di dalamnya) dan menghakimi segala sesuatu yang menjauhkan dari nilai tersebut (tepatnya, di sinilah sastra ditempatkan oleh Plato). Nah, di titik ini, Aristotle setuju sekaligus tak setuju dengan Plato. Di satu sisi, Aristotle sepakat bahwa memang “yang universal” itu berada di luar realitas manusia. Akan tetapi,  ia berpendapat bahwa hal tersebut tidak berarti kita harus mengabaikan hal-hal yang partikular; yang lebih indrawi ketimbang apa yang digadang-gadang sebagai “universal” itu. Menurut Aristotle, hal yang diletakkan Plato “melampaui” (beyond) realitas itu punya bentuk yang lebih empiris dalam realitas kita. Singkatnya, yang universal tak bisa ada tanpa yang partikular meskipun yang universal tetaplah merupakan sumbernya. Di sini semakin jelas tampak perbedaan konsep universal dan partikular serta hubungan keduanya pada pemikiran Plato dan Aristotle.

    Cara Aristotle memperlakukan hubungan antara yang universal dan yang partikular ini tampak misalnya dalam pemikiran politiknya. Mengingat gurunya (Plato) juga merangkap pemikir politik, tentulah Aristotle tidak ingin ketinggalan—apalagi kini ia memiliki landasan filosofis yang berbeda. Aristotle mulai dengan mengatakan bahwa “unity” yang diidealkan Plato itu malah mengancam, karena pada dasarnya negara itu terdiri dari sekian banyak ragam manusia dan itu tidak dapat dilupakan begitu saja. Di sini tampak fleksibilitas Aristotle dalam menerima perbedaan jika dibandingkan dengan Plato. Apa yang menurutnya lebih penting dari itu semua adalah tujuan agung kehidupan yang dicapai melalui tindakan baik (noble actions). Bentuk pemerintahan yang ideal baginya adalah paduan antara oligarki dan demokrasi dan bukan semata-mata oligarki dengan struktur ketat seperti yang didambakan oleh gurunya.

    Plato telah menaruh dasar-dasar pemikiran filsafat yang amat kuat (bahkan bertahan hingga masa kini). Sebagai seorang murid yang dibina di akademi pimpinan Plato, pemikiran ini tentu banyak memengaruhi filsafat Aristotle. Akan tetapi, dalam pemikirannya sendiri ternyata Aristotle bersikap jauh lebih kompromis ketimbang Plato. Baik dalam memahami bagaimana kebenaran yang universal disampaikan maupun dalam pandangan politisnya, terlihat jelas bagaimana Aristotle selalu mengambil jalan tengah. Pola macam inilah yang sering muncul dalam pandangannya atas perdebatan dalam dunia sastra di masanya seperti yang akan kita lihat nanti di sub-bahasan setelah ini.

    Selain perbedaan pandangan dengan Plato itu, Aristotle juga membawakan pada dunia sebuah pemikiran lain yang hingga kini masih hidup dalam keseharian kita. Inilah cara kita di masa kini untuk menilai apakah seseorang mengatakan/melakukan sesuatu yang logis atau tidak. Ialah teori silogisme. Itu lho, teori yang merumuskan hubungan antara premis mayor, premis minor, dan kesimpulan (konklusi). Kondang banget, jelas. Bersama dengan formula hubungan antara ketiganya, Aristotle juga menyusun Laws of Logic (Hukum Logika) yang berisi tiga poin, yakni:

    1. Law of identity yang dicontohkannya dengan kalimat “A adalah A.”
    2. Law of non-contradiction yang dicontohkannya dengan kalimat “Sesuatu tidak mungkin adalah A dan sekaligus bukan A.”
    3. Law of excluded middle yang dicontohkannya dengan kalimat “Sesuatu pastilah A atau bukan A.”

    Lihatlah betapa tegasnya Aristotle dalam susunan hukum ini. Seakan-akan tidak ada kompromi, tidak boleh ada ruang abu-abu antara yang adalah dan yang bukan. Jika dibandingkan dengan keluwesannya menerima keragaman dalam kaitannya dengan pemikiran politik, tak heran kita bingung. Tampak ironis sekali. Di satu hal ia merumuskan hukum-hukum yang kaku dan tegas, sementara di hal yang lain ia bisa sangat toleran. Duh, Pakde, bisa-bisa kamu dituduh labil.

     

    Sepak Terjang Aristotle untuk Sastra

    Perbedaan jalan pandangan Plato dan Aristotle berlanjut ke bidang yang lain, salah satunya adalah sastra. Masih ingat dengan kritik pedas Plato atas sastra lantaran menurutnya sastra hanyalah “tiruan dari tiruan”? Nah, Aristotle tidak serta-merta menentang gagasan tersebut karena memang sesungguhnya ia berpandangan sama dengan Plato dalam hal memercayai bahwa sumber dari semua eksistensi realitas kita adalah “yang universal” sebagai sebuah esensi. Akan tetapi, Aristotle mencoba melihat kondisi tiruan ini dari sudut pandang yang lain. Begini kira-kira pendapatnya.

    Imitasi (peniruan/tiruan) adalah bagian penting tak terpisahkan dari proses manusia. Sejak lahir, manusia belajar dengan cara meniru. Kemampuan wicara pada manusia pertama kali bisa mulai berfungsi karena kemampuannya mendengar bunyi yang diproduksi oleh orang lain dan kemudian ditirukannya. Seterusnya, dalam proses pendidikan manusia secara umum, manusia terus melakukan imitasi. Naluri dasar manusia adalah meniru dan dengan cara itulah manusia belajar. Berdasarkan hal inilah Aristotle lalu mengungkapkan bahwa tak masalah sastra adalah tiruan karena seperti dikutipkan Habib dari Posterior Analytics[1], “[a]rt imitates human action; but human action must have its ultimate purpose “the Supreme Good”[2]. Artinya Aristotle tak ragu memberikan perhatian pada yang partikular karena pada akhirnya, yang universal itu tidak lantas diabaikan. Dan sastra sebagai yang partikular—bahkan sekadar imitasinya imitasi—nyatanya juga penting karena tetap punya maksud menuju “Supreme Good”.

    Salah satu kritik Plato terhadap sastra menyatakan bahwa sastra bukanlah representasi kebenaran sehingga sastra tidak memiliki fungsi didaktis yang dibutuhkan peradaban manusia dalam pandangannya (Plato.red). Menanggapi kritik yang satu ini, Aristotle mengemukakan argumen bahwa sastra (dan sastrawannya) dapat memilih untuk merepresentasikan sesuatu baik berdasarkan realita (as it is) maupun kondisi bagaimana semestinya (as it should be). Kebenaran tidak hanya hadir sebagai yang universal dan transenden saja. Perhatian Aristotle pada yang partikular memosisikan kebenaran untuk juga hadir dalam realitas manusia. “… truth is not somehow transcendent and that it is realized within, not beyond, a human community.”[3] Menurut Aristotle, realitas yang kita jalanilah yang harus jadi urusan para sastrawan dalam menulis karyanya, dan bukan realitas yang embuh[4] dan (dipercaya) tidak bisa kita indra tersebut. Sastra memberi ruang untuk realitas yang telah diolah oleh sastrawannya. Dengan melihat realitas dari kacamata sastra, manusia dapat mengasosiasikan apa yang terjadi di panggung-panggung sandiwara zaman itu dengan kehidupan riil yang mereka jalani. Mengingat realitas empiris manusia (yang ditiru sastra ini) juga mengandung kebenaran dengan caranya sendiri, maka fungsi didaktis sastra yang diragukan Plato ini dibuktikan sebaliknya oleh Aristotle. Sebab meniru realitas yang ada, maka sastra jelas punya nilai yang berguna untuk mendidik manusia dalam hal berhadapan dengan kehidupan.

    Namanya juga filsuf, perdebatan besar Aristotle dengan pendahulunya memang berkutat di ranah filsafat itu sendiri. Tapi tunggu dulu, lalu kenapa kira-kira nama bapak satu ini juga selalu dibawa-bawa setiap kali orang membicarakan sejarah kritik sastra, terutama pada periode awal mula? Seakan tak cukup dengan profesi sebagai zoologis, filsuf, dan negarawan, Aristotle melebarkan sayap pengaruhnya juga ke dunia sastra. Tidak tanggung-tanggung, kontribusinya ini langsung! Ia adalah orang pertama yang meletakkan batu penjuru pengklasifikasian genre sastra dan teori plot yang terus berkembang di masa-masa selanjutnya. Simaklah di bawah ini.

    Sastra, melalui imitasi, merepresentasikan tindakan-tindakan (actions) manusia. Berdasarkan jenis objek yang direpresentasikan tersebut, Aristotle membagi karya sastra menjadi dua genre besar seperti yang lazim kita kenal sekarang: tragedi dan komedi. Tragedi disebut Aristotle sebagai karya yang merepresentasikan manusia yang bertindak lebih baik daripada yang diharuskan oleh norma (“men as better than the norm[5]). Sementara komedi sebaliknya, menampilkan manusia yang lebih buruk daripada norma. Pemisahan representasi jenis manusia ini menggiring Aristotle untuk meletakkan tragedi di posisi yang lebih tinggi daripada komedi.

    Selanjutnya, Aristotle menyisipkan satu genre lain, yakni epik. Tiga genre ini disusun Aristotle dalam sebuah hierarki dimulai dari yang paling atas: tragedi, epik, dan terakhir komedi. Menurutnya, komedi berada di posisi paling bawah karena menampilkan karakter “rendahan” dan topik yang remeh. Sementara epik memuat beragam plot dan narasi panjang. Tragedi menempati posisi teratas karena merupakan genre yang tidak sekadar menyajikan karakteristik manusia saja, melainkan keseluruhan rangkaian hidup. Tragedi memuat perubahan kualitatif dalam narasinya, misalnya perubahan nasib manusia dari baik ke buruk.

    Sebelum berlanjut lebih jauh ke pembahasan mengenai tragedi (yang amat disukai Aristotle ini), marilah kita menyimak dulu salah satu warisan Aristotle lainnya untuk tradisi kritik sastra. Pemikirannya inilah yang kemudian akan menjelaskan alasan Aristotle begitu mengagung-agungkan tragedi.

    Penekanan Aristotle pada “actions” menuntunnya untuk merumuskan bagaimana sebuah karya sastra yang baik seharusnya. Salah satu unsur penting yang harus diperhatikan dalam penulisan karya sastra, menurut Aristotle, adalah plot atau alur cerita.Ia mengungkapkan bahwa alur tersebut haruslah tersusun dalam sebuah unity (tidak sama dengan unity dalam gagasan Plato di konteks politik). “Kesatuan” ini dirumuskannya demikian: sebuah karya sastra haruslah mempunyai “awal, pertengahan, dan akhir”. Sederhana? Tidak sesederhana itu. Ketiga hal yang menjadi struktur dasar plot karya sastra itu harus dirangkai dalam konsep unity itu tadi yang berdasarkan prinsip kausalitas (notion of causality). “Awal” plot harus menjadi sumber dari semua aksi yang kemudian akan muncul dalam karya sastra. Bagian “awal” inilah yang akan menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa dalam bagian “pertengahan” yang selanjutnya akan menuntun kepada “akhir” di mana tidak ada lagi hal-hal yang menggantung. Semua sudah terselesaikan.

    Teori struktur plot ini tentunya tak asing di telinga kita. Pernah dengar istilah-istilah dalam susunan “exposition – rising action/inciting incident – climax/climatic peak – falling action – resolution/denouement”? Teori plot klasik Aristotle-lah dasarnya. Inilah salah satu warisan penting Aristotle dalam tradisi kritik sastra yang masih akrab di indra kita yang hidup ribuan tahun sesudahnya ini.

    Setelah mengetahui bagaimana Aristotle menilai baik atau tidaknya sebuah karya sastra, mari kita kembali tilik pemosisian genre tragedi di puncak hierarki genre Aristotle. Alasan utama tragedi ditempatkan Aristotle di posisi teratas adalah “keutuhan” plot dalam tragedi. Tragedi mempunyai keseluruhan bagian penting plot dan disusun dalam urutan kausalitas yang tepat. Dalam urutan kejadian/peristiwa yang berurusan langsung dengan tindakan tokoh di dalamnya, tragedi memotret seluruh rangkaian hidup manusia dengan amat baik.

    Coba perhatikan, tokoh protagonis di dalam karya genre tragedi pastilah seorang hero. Ia berusaha mencapai sesuatu atau menyelesaikan konflik dengan gagah, akan tetapi nasib tokoh tersebut pasti berujung malang. Kemalangan ini bukan disebabkan oleh kejahatan si tokoh, melainkan oleh kekurangannya sebagai manusia. Hal ini biasa dikenal dengan istilah tragic flaw. Kemalangan ini menimbulkan efek “pity” dalam diri pembaca. Selain itu, ada pula efek “fear” yang muncul akibat kecenderungan pembaca untuk mengasosiasikan dirinya dengan tokoh protagonis dalam tragedi tersebut yang memang terasa amat mirip. Takut mengalami kemalangan yang sama, jadi berempati gitu lho.

    Tidak aneh bila karakteristik tokoh protagonis (biasanya hero) dalam tragedi tersebut terasa mirip dengan manusia pada umumnya. Aristotle merumuskan sifat-sifat apa saja yang harus diatributkan pada tokoh semacam itu dalam genre tragedi. Ada tiga sifat umum, yakni:

    1. Good. Sebut saja “baik” dalam Bahasa Indonesia. Tokoh utama dalam tragedi haruslah seseorang yang memiliki moral yang baik, misalnya jujur, suka menolong sesamanya, dihormati karena kebaikannya, dst.
    2. Appropriate. Tokoh haruslah bertindak, berpikir, dan berperilaku sebagaimana seharusnya. Apabila tokoh protagonis itu ialah seorang raja, maka ia harus digambarkan bertindak layaknya seorang raja. Intinya, ia harus bertingkah seperti orang normal, tidak aneh-aneh.
    3. Like. Mungkin faktor inilah yang memainkan peran paling penting dalam pengasosiasian diri pembaca kepada tokoh dalam cerita. Tokoh yang dibangun untuk jadi hero dalam tragedi harus mirip dengan manusia dalam realitasnya.

    Jelaslah sudah alasan Aristotle untuk meletakkan tragedi pada puncak tangga genre karya sastra.Genre ini membingkai manusia yang amat dekat dengan realitasnya beserta tujuan hidup, rintangannya, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perjalanan melaluinya.

     

    Kritik Zaman Itu

    Aristotle memuat pemikiran-pemikirannya terkait sastra tersebut dalam mahakaryanya yang berjudul Poetics. Karya ini begitu monumental karena inilah karya pertama dan tertua berisi teori drama dan filsafat yang berfokus pada teori sastra! Karya ini merupakan perluasan wilayah studi filsafat yang ditawarkan di Lyceum, sekolah yang didirikan Aristotle. Sebagian dari motivasinya adalah melawan kritik Plato yang begitu kuat atas sastra.

    Ide-idenya ini sebagian besar jadi fondasi untuk teori-teori sastra yang kita kenal saat ini. Inisiatifnya untuk memisah-misahkan karya sastra berdasarkan genrenya menjadi landasan perumusan genre di masa sesudahnya. Gagasannya tentang plot dan struktur narasi pun jadi teori plot pertama yang selanjutnya dikembangkan jadi bermacam turunan teori. Perhatian Aristotle pada reaksi audience atas suatu karya merupakan cikal-bakal teori reader-response criticism.

    Pengaruh besar Aristotle tersebut tentunya turut membangun tradisi kritik sastra pada masanya. Dengan adanya standar-standar (baik-buruk) yang disusun oleh Aristotle, dimungkinkan adanya metode kritik yang lebih evaluatif atas karya sastra. Tidak hanya semata-mata menilai karya itu memiliki fungsi didaktis atau tidak, seperti yang dilakukan Plato. Rumusan standar penilaian oleh Aristotle itu membuka peluang untuk menciptakan kritik yang lebih terukur dan punya dasar yang jelas.

    Salah satu tradisi yang dibangun dari pemikiran Aristotle adalah kritik karya sastra melalui plot/struktur narasinya. Aristotle menyusun indikator yang memberi penekanan lebih pada “actions” ketimbang “character”. Ia memperluas jangkauan kritik dengan tidak melulu membahas tokoh. Ada hal lain yang juga jadi pertimbangan besar untuk menilai apakah sebuah karya sastra itu baik atau tidak: keutuhan strukturnya (yang termanifestasi melalui tindakan-tindakan tokoh dalam karya). Berbeda dari Plato yang lebih mengedepankan fungsi-fungsi universal karya sastra (dalam kaitannya dengan penyampaian kebenaran/truth yang transenden), Aristotle telah meletakkan batu pertama dalam tradisi kritik untuk membangun perhatian pada bentuk karya. Barangkali, perhatian pada bentuk inilah yang dikembangkan jadi tradisi kritik dalam ranah puitika.

    Jelasnya, jalan tengah yang diambil Aristotle dalam pandangannya terhadap sastra atas respons kepada galaknya keberpihakan Plato pada filsafat telah membuka jalan terbangunnya tradisi kritik sastra yang terus berkembang hingga saat ini. Keluwesan dan toleransinya memberi ruang lebih bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran tentang sastra. Jadi, bilang apa sama Pakde Aristotle? Mauliate, Pakde!

     


    [1] Salah satu teks yang merupakan bagian dari Organon karya Aristotle yang berbicara khusus soal logika.

    [2] (Habib, 2005, hal. 50)

    [3] (Habib, 2005, hal. 54)

    [4] Entah

    [5] (Habib, 2005, hal. 52)


    | Link | Dibaca 1121 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak