Ke Atas ^
  • Ulid Tidak Takut

    Siapa tokoh yang paling sering dibuli dalam novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009) karya Mahfud Ikhwan? Saya tidak ragu untuk menjawab: Negara beserta semua tetek-bengek penerima hasil distribusi kekuasaannya. Kekuasaan Negara hampir tidak punya suara dan perspektif sendiri dalam novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (UTIM). Umumnya, kekuasaan Negara melintas di cerita UTIM sebagai bahan gosip orang jelata di Lerok. Gosip tersebut hampir selalu berkutat pada perihal Negara yang bolos hadir di Lerok saat rakyat Lerok membutuhkannya. Jadi wajar bila bunyi gunjingan tentang Negara di Lerok pun niscaya bernada dasar C Mayor, maksudnya cibir-mampus (hal. 49, 183, 207, dan 337).

    Kalaupun kekuasaan Negara kebagian kesempatan bicara langsung, nasibnya sama seperti si Bad Luck Brian yang terkenal sialnya dalam blantika meme dunia maya: jarang ngomong; sekalinya ngomong, nggak ada yang denger. Adegan pengumuman masuknya listrik PLN ke Desa Lerok (hal. 208-9) yang diwarakan oleh Pak Kaur Kesra Lerok adalah contoh sempurna. Orang Lerok hanya peduli pada kenyataan bahwa listrik akan membuat bola lampu bercahaya dan televisi menyala di desa mereka. Tapi, kelanjutan pengumumannya, bahwa “[m]asuknya PLN ini tentu saja tidak lepas dari rangkaian program Pelita ke-5 yang dicanangkan pemerintah pusat sekaligus jerih payah pemerintah Desa Lerok yang tidak kenal lelah” itu bagai suara kecipak air kencing di samping suara deburan air terjun.

    Nasib tokoh-tokoh representasi Negara dalam novel UTIM ini bagai bumi-dan-langit bila kita bandingkan, misalnya, dengan tokoh Bung Besar ataupun O’Brien dalam novel 1984 karya George Orwell. Bung Besar dan O’Brien, dua tokoh perlambang kekuasaan Negara dalam 1984, itu terasa sekali khasiat perannya dalam membentuk logika rentetan peristiwa yang membangun novel tersebut. Tokoh-tokoh representasi Negara dalam UTIM? Bahkan kehadiran tokoh sekilas-sepele muncul-sebentar-lalu-bubar yang diperankan sendiri oleh Quentin Tarantino dalam film paling baru yang disutradarainya, Django Unchained, sekalipun masih lebih mulia!

    Dari dua jenis kehadiran Negara dalam UTIM yang saya sebut di awal tadi, hadir langsung dan hadir lewat percakapan antar tokoh, saya ingin membahas dengan lebih serius jenis yang pertama. Saya mengambil satu adegan yang menurut saya sempurna sekali dijadikan alat peraga untuk menunjukkan bagaimana tokoh Ulid kecil dalam semalam dapat mengubah pandangannya terhadap salah satu wakil kekuasaan Negara paling ditakuti di desanya. Adegan tersebut dalam artikel ini akan saya namai adegan ‘Ulid Tidak Takut’.

    ‘Ulid Tidak Takut’ adalah adegan yang berlangsung cukup singkat, mulai saat “langit di barat serupa kulit jeruk matang” dan pungkas setelah Ulid “lelap dibekap bapaknya”. Hanya beberapa jam saja. Mungkin sedari menjelang maghrib sampai kira-kira pukul 8 atau 9 malam. Adegan ini kaya-ragam dalam hal teknik penceritaannya. Ada dialog langsung antar tokoh. Ada komentar narator pada sikap wicara tokoh. Ada deskripsi pengalaman visual yang dialami tokoh. Dan ada perenungan batin tokoh dalam menegosiasikan pikiran awalnya dengan peristiwa yang baru disaksikannya – lengkap dengan kesimpulan perenungan tersebut.

    Saya menganggap adegan ‘Ulid Tidak Takut’ sebagai salah satu adegan amat penting dalam UTIM. Alasan kekaya-ragaman teknik penceritaan adalah salah satu batu landasan bagi anggapan saya itu. Dan lebih dari itu, adegan ini juga merupakan alat yang manjur untuk memperkenalkan sikap dan tabiat tokoh Ulid. Inilah bagian yang mempersiapkan pembaca untuk bisa memahami cara pikir tokoh utama novel, sekaligus awalan yang menjelaskan nasib kekuasaan Negara dalam pandangan orang-orang Lerok dalam cerita.

    Bukan Orangnya, Tapi Seragamnya

    Adegan ‘Ulid Tidak Takut’ dimulai saat Ulid bertanya pada bapaknya, Tarmidi, mengapa kayu-kayu yang disiapkan untuk membakar gamping di jubung dipendam. Percakapan yang sarat dengan rasa ingin tahu seorang bocah ini terhenti saat dua orang, sinder dan mandor hutan, datang untuk melakukan patroli kayu jati mereka. Kedatangan dua orang ini digambarkan lewat sudut-pandang Ulid:

    Ternyata ada yang datang. Dua orang. Pakaiannya hijau-hijau. Bajunya hijau dimasukkan ke celana yang berwarna hijau juga. Lalu, celana hijau itu dimasukkan ke sepatu yang warnanya hitam. Si kecil takjub melihat sepatu itu. Sepatu yang begitu besar dan tinggi. Ia membayangkan tubuhnya pasti akan masuk seluruhnya ke lubang sepatu itu, seperti celana yang berwarna hijau itu. Dua orang itu juga memakai topi. Warnanya juga hijau. Di sabuk, astaga sabuk itu juga amat besar, tergantung sebuah kantong yang aneh. Di kantong itu, tersusup benda yang juga aneh.Bengkok seperti uleg-uleg emaknya. Tapi, itu jelas bukan uleg-uleg. Itukah pistol? Ya, pasti itu. Si kecil tercenung sejenak mencoba mencocokkan bentuk benda di sabuk dua orang itu dengan cerita bapaknya yang entah kapan. (2009: 15-16)

    Cara sinder dan mandor hutan ditokohkan lewat mata Ulid melalui suara narator ini menarik untuk ditelisik. Meski Ulid mengenali kedua sosok itu sebagai orang, tapi tampak kata orang di situ hanya berkepentingan sebagai satuan lazim dalam bahasa Indonesia untuk nomina manusia. Kedudukan kata orang di situ sama saja dengan kata-satuan lain seperti buah, biji, helai,butir, atau ekor.

    Kecenderungan ini terbukti lebih jauh dalam cara-gambar berikutnya. Tidak ada satupun bagian tubuh dari kedua orang ini yang disebutkan. Kita tidak tahu seperti apa hidungnya, jidatnya, rambutnya, matanya, kakinya, tangannya, atau perutnya. Semua yang diperhatikan Ulid dari dua orang yang sekonyong-konyong datang ini adalah atribut yang melekat pada tubuh mereka: bajunya, celananya, sepatunya, topinya, sabuknya, kantong yang tercantol di sabuknya, dan benda yang tersusup dalam kantong yang tercantol di sabuknya.

    Atribut-atribut itu pun kemudian dapat dikategorikan dalam dua kelompok saja: hijau dan bukan-hijau. Baju, celana, dan topi hanya dijelaskan sebagai berwarna hijau. Yang bukan-hijau dijelaskan dengan kata penerang tak-kompleks seperti besar dan tinggi (untuk sepatu), amat besar (untuk sabuk), aneh (untuk kantong dan pistol), dan dengan simile uleg-uleg emaknya (untuk pistol). Tidak kompleksnya kata-penerang yang dipilih untuk menggambarkan atribut-atribut tersebut, bagi saya, merupakan penegas bahwa mata Ulid menangkap hanya secara sepintas kehadiran dua orang yang belum dikenalinya ini.

    Nah, kata kunci yang penting di sini adalah belum dikenali. Ulid baru sekadar merasa ‘aneh’ karena ia belum mengenali dua orang serba hijau yang menghampiri bapaknya itu. Sebentar kemudian, ia mengetahui siapa mereka dari ibunya, Kaswati:

    “Siapa, Mak?” si kecil bertanya dengan berbisik.

    Emaknya menempelkan telunjuk ke bibir.

    “Siapa…? Kali ini hampir tak terdengar, karena bibirnya yang kecil itu ditempelkan di telinga emaknya.

    “Sinder…”

    Si kecil langsung diam. Kata itu sering sekali didengar dari cerita bapaknya dan dipakai emaknya untuk menakutinya. Selama ini ia hanya membayangkan. Dan kini, ia melihatnya. Bahkan sangat dekat. Benda atau orang itu di depan bapaknya kini. Itu sinder. Ia mencamkan dalam kepalanya. Tangannya dikalungkan dengan erat ke leher emaknya. Sementara, matanya menatap lekat-lekat wajah orang berpakaian hijau yang sedang berbicara dengan bapaknya, si sinder itu. (2009: 16)

    Bagian penutup penggambaran awal sinder dan mandor hutan pada kutipan pertama di atas, ditambah dengan suasana yang dirasakan Ulid setelah mengetahui siapa sosok berpakaian hijau tersebut, sangat kuat menggambarkan cara orang menalar kekuasaan Negara. Perhatikan frasa mencocokkan bentuk benda di sabuk dua orang itu dengan cerita bapaknya yang entah kapan. Ada sebuah konstruksi makna yang tersebar dalam bentuk mitos tentang kekuasaan Negara, mitos yang pernah diceritakan “entah kapan”. Atribut-atribut kekuasaan Negara merupakan bagian tak terpisahkan yang masuk dalam himpunan mitos itu. Meski nama dari unit-unit kecil kekuasaan Negara itu belum dikenali, orang masih bisa merasakannya lewat atribut-atribut tersebut – seperti suatu bunyi yang pernah-dengar dan lupa-lupa-ingat. Begitu unit-unit kekuasaan Negara itu dikenali, maka semua ingatan itu kembali. Dan, orang yang pertama sekali secara langsung berurusan dengan atau menyaksikan berlakunya kekuasaan Negara akan menggunakan mitos sebagai alat pembanding untuk menegosiasikan apa yang ia tahu atau dengar dengan apa yang (segera akan) dialami atau disaksikannya itu.

    Lika-liku penokohan awal untuk sinder dan mandor hutan ini, yang bisa kita anggap sebagai unit kecil kekuasaan Negara, mengiaskan bahwa perangkat Negara represif mempraktikkan kekuasaan bukan sebagai orang tapi sebagai atribut-atribut (embel-embel); kesimpulan tersebut muncul pada pengamatan awal yang sepintas; dan si penerima atau pengamat tindakan kekuasaan itu akan mulai menalar lebih jauh makna kekuasaan tersebut dengan membandingkan pengalaman dan pengamatannya dengan mitos-mitos yang diketahuinya dari suatu sumber.

    Lucuti Semua Sampai Tinggal Warna

    Cacah, penggal-penggal, dan ia pun hilanglah. Pemenggalan tokoh menjadi bagian-bagian tubuh akan membuat tokoh kehilangan kesadaran-utuhnya, kehilangan perspektifnya, dan akhirnya kehilangan signifikansinya. Stilistika Feminis telah membuktikan bahwa pencacahan tokoh perempuan ke dalam penggalan-penggalan anggota tubuh (leher, rambut, betis, pinggul, pantat, atau dada) akan menimbulkan dampak demikian: adegan yang diceritakan tak dapat dilihat dari perspektif si tokoh perempuan dan pengalamannya dituturkan bukan dari sudut-pandangnya (2005: 133). Singkatnya, tokoh perempuan itu hanya menjadi objek amatan. Amatan siapa? Tentu amatan si laki-laki.

    Teknik penokohan yang dipakai teks-teks (yang dipandang) seksis dalam mengobjekkan atau melenyapkan perspektif tokoh perempuan tidak berhenti pada pencacahan saja. Kadang bisa demikian parah bahkan sampai penggalan anggota tubuh itu diiris lagi hingga tinggal sifat atau mutu belaka. Rambut, misalnya, direduksi lagi jadi tinggal warna: pirang. Bokong hilang habis sampai tinggal semok. Dan seterusnya.

    Hal yang saya jabarkan dalam dua paragraf di atas adalah hal yang terngiang dalam benak saya ketika membaca adegan ‘Ulid Tidak Takut’. Konteksnya tentu berbeda, tapi mekanismenya serupa. Untuk konteks UTIM, kita dapat mengganti ‘tokoh perempuan’ ke ‘unit kekuasaan Negara’; dan ‘tokoh laki-laki’ ke ‘Ulid’. Ulid adalah pengamat dan sinder dan mandor hutan adalah objek amatannya. Sinder dan mandor hutan ini betul-betul menjadi objek amatan walau dapat kesempatan bersuara dalam percakapannya dengan tokoh lain. Mereka diberi kesempatan bersuara, hanya untuk kemudian disangkal atau dilenyapkan kesadaran-utuhnya lewat cara-anggap Ulid, si pengamat, terhadap keduanya yang kita dengar melalui mulut narator.

    “Nggak habis menyembunyikan jati, kan?” si pakaian hijau tersenyum. Menuduh.

    “Oh nggak, Pak. Wong kayu saya puruk semua kok, Pak. Temloko, sempu, doro, sonokeling, walikukun, talok.” Tarmidi tersenyum lagi. (2009: 16)

    Baris pertama dari kutipan di atas itu sebetulnya agak rumit kalau mau diperiksa dalam kerangka sudut-pandang narasinya. Kalimat-tanya-langsung di sana, pertama-tama, bisa kita anggap sebagai hal yang terlontar dari mulut salah satu petugas hutan sekaligus sebagai apa yang didengar oleh Ulid. Lalu perhatikan kalimat sesudahnya: “si pakaian hijau tersenyum”. Ini jelas-jelas merupakan hasil amatan Ulid. Cara ungkapnya sama dengan cara ungkap pada deskripsi awal tokoh sinder dan mandor hutan: pakaian hijau. Di sini, meski sinder bersuara, kesadaran-utuhnya dihabisi karena tubuhnya dibuang, tidak dianggap – yang ada hanya atribut pakaian hijau saja.

    “Benar?”

    “Lha itu.” Tarmidi menunjuk kembali kayunya. “Bapak bisa periksa.”

    Orang berpakaian hijau yang satunya melangkah ke arah tumpukan kayu. Ia menyelidik. Sebentar kemudian ia kembali dan membisikkan sesuatu kepada yang sedang berbicara dengan Tarmidi. Mata si pembisik melirik ke arah sebatang ranting yang tadi jadi perdebatan Tarmidi dan si kecil.

    “Coba sini, Di.” Ajakan yang memerintah. Ia melangkah ke arah tumpukan kayu mengikuti si pakaian hijau yang satunya, diikuti Tarmidi yang agak berdegub.

    “Ini jati bukan, Di?” si hijau bertanya. Tepatnya meminta pengiyaan. (2009:16)

    Subjek yang sedang mengalami praktik kekuasaan langsung dalam adegan ini adalah Tarmidi. Dan, seperti tampak pada kutipan di atas, cara tokoh “hijau” digambarkan itu ternyata dipengaruhi oleh jarak jauh-dekat si tokoh pengemban mandat kekuasaan Negara dengan jelata yang sedang menjadi sasaran proyeksi praktik kuasanya. Lewat pengamatan Ulid, terlihat bahwa pada saat salah satu dari tokoh “hijau” itu menjauh dari Tarmidi, ia tidak dikenali sebagai atribut saja, tapi juga sebagai orang yang berpakaian hijau. Meskipun mungkin tidak berarti banyak, tapi munculnya kata orang di situ, paling tidak, membuat wujud dan perspektif si tokoh tampak kembali lengkap. Namun pada saat Tarmidi dipanggil untuk mendekat, bersamaan dengan bersuaranya lagi tokoh sinder/mandor hutan itu, kembali kesadaran-utuhnya dihilangkan dan kehadirannya sebagai sosok dengan rupa dan wujud utuh disangkal, bahkan lebih parah lagi: “si hijau bertanya”. Sama seperti tokoh perempuan yang tinggal pirang dan semok, yang tersisa dari tokoh sinder kini hanya hijau saja. Menariknya lagi, penggambaran ini muncul tepat pada saat tokoh sinder sedang melancarkan kewenangannya. Ungkapan “ajakan yang memerintah” dan “tepatnya meminta pengiyaan” terang-jelas mewakili usaha tokoh sinder untuk menunjukkan siapa yang berkuasa. Dan pada saat itu pulalah ia dibuli dengan mudahnya karena pada dasarnya tokoh sinder di situ merupakan objek amatan Ulid, bukan subjek mandiri yang perspektifnya secara naratif terbentengi dari invasi tokoh lain.

    Ada Orang Takut di Balik Baju

    Setelah Tarmidi lolos dari mata-selidik sinder dan mandor, adegan berhenti untuk dibuka lagi dengan percakapan sebelum tidur antara Ulid dengan bapaknya. Di adegan inilah Ulid membuat simpulan yang memperbarui cara pandangnya terhadap sosok sinder.

    “Baiklah,” desahnya. Ia akan tidur. Namun, sebelum tidur, ia telah menyimpulkan sesuatu, tepatnya bertekad. Ia tak lagi takut dengan sinder. Sinder tak seperti yang ia bayangkan. Selama ini, setiap nama itu disebut, ia berpikir tentang benda bundar, besar yang menggelinding dan akan menggilas apa saja yang dilewatinya. Dan jika benda itu orang, maka terbayang di matanya seorang bertubuh besar dan tambun. Perutnya buncit, bokongnya gembul. Langkah kakinya hoyong. Matanya pasti merah. Sementara kumisnya hitam sebesar singkong gosong. Entah dari mana ia mengumpulkan bayangan itu. Ia lebih bergidig lagi kalau emaknya suka menambahkan bahwa sinder itu suka bawa kepala. (2009:18)

    Rincian yang mengisi citra-batin Ulid tentang sinder seperti yang dilaporkan narator pada pembaca ini bertolak-punggung dengan adegan sebelumnya. Penokohan sinder pada bagian ini hampir seluruhnya menggunakan bagian-bagian tubuh (bukan lagi atribut-atribut). Di bagian ini pula ditunjukkan betapa mitos tentang sinder itu telah menjadi sumber ketakutan Ulid pada awalnya. Semua unsur yang membangun citra-batin Ulid terhadap sinder adalah unsur pembangkit rasa takut. Unsur pertama adalah gambaran-batin ‘penindas’, seperti dalam frasa benda yang menggelinding dan akan menggilas apa saja yang dilewatinya. Unsur kedua adalah gambaran-batin ‘gergasi’, sosok menakutkan yang membuat orang bahkan melihatnya saja tak sanggup – seperti dalam perutnya buncit, matanya merah, kumisnya hitam sebesar singkong gosong.

    Semua citra-batin yang sedianya ada pada benak Ulid itu dihadirkan untuk kemudian disepelekan dengan membandingkannya pada kenyataan yang dilihat Ulid pada sosok sinder yang mendatangi jubung bapaknya.

    Kini semua jelas belaka. Orang yang disebut sinder itu kurus. Bajunya longgar. Pipinya cekung. Kumisnya panjang, tapi jarang. Mirip ikan keting. Wajahnya putih seperti orang takut. Ya, seperti orang takut. Dan buat apa takut dengan orang takut? Kalau berkelahi, pasti bapaknya menang. Bapaknya badannya jauh lebih kekar.

    Ya, aku tidak takut.

    Ia kemudian lelap dibekap bapaknya. (2009:18)

    Sinder di sini dikenali/diakui sebagai orang. Tetapi tetap dalam pengertian orang yang didefinisikan sepenuhnya dari pengamatan Ulid, bukan orang yang memaknai dirinya sendiri. Tidak lagi pula diceritakan atribut-atribut hijau yang menjadi simbol kekuasaan Negara yang diemban si sinder di situ. Kali ini, justru atribut-atribut itu yang dilepaskan dari sosok sinder. Sinder ditelanjangi, diamati, dan dinilai perawakannya. Hasil penilaiannya jelas menghabisi keunggulan dan kemegahan pakaian, topi, sabuk, sepatu, dan pistol. Si sinder itu rupa-rupanya kurus, berpipi cekung, berkumis panjang tapi jarang, dan berwajah putih seperti orang takut.

    Yang paling stilistis, menurut saya, dari penggambaran ini adalah bagian “Kumisnya panjang, tapi jarang. Mirip ikan keting.” Saat membaca dua kalimat itu, saya pertama-tama berpikir kumis panjang tapi jarang itu bukan cuma ikan keting saja yang punya. Kucing pun punya. Tapi kenapa ikan keting?

    Yang agak janggal lagi, mengapa “mirip ikan keting” di situ dibuat sebagai kalimat baru? Yang sedang diacu oleh “mirip ikan keting” di situ kan jelas-jelas “kumisnya”. Mengapa tidak digabung dengan kalimat sebelumnya dan membentuk konstruksi: “Kumisnya panjang, tapi jarang, seperti ikan keting”? Toh konstruksi simile seperti itu juga yang dipakai dalam kalimat selanjutnya “Wajahnya putih seperti orang takut”.

    Bagi saya, kejanggalan penyajian ini efeknya ngeri-ngeri-sedap. Penjelasannya begini. Ketika sebuah gagasan disajikan mandiri sebagai kalimat, maka gagasan itu jadi lebih menonjol dibanding ketika ia hanya disandingkan sebagai anak pada induk kalimat. Kedua, spesifik ke teks kutipan di atas, konstruksi semacam itu seperti menggoda saya untuk tidak sekadar mengacu “ikan keting” pada “kumisnya” saja, tapi lebih jauh lagi: pada pemilik kumis itu. Jadi, di samping simile kumisnya seperti (kumis) ikan keting, simile siluman dia seperti ikan keting muncul pula. Dan Anda tahu ikan keting, kan? Ikan ini luar biasa hina, setidaknya bagi kalangan pemancing. Rakus, suka makan umpan yang bukan untuknya, dan sangat jorok karena lahap makan kotoran manusia. Ini buktinya. Lengkaplah sudah olok-olok untuk sinder, sekaligus cemooh untuk kekuasaan Negara yang diembannya.

    Pengurutan potongan tubuh yang dihadirkan dalam menyusun tokoh sinder pada bagian ini pun sangat berhasil mengantar pembaca menuju kesimpulan Ulid atas sosok sinder itu. Mulai dari perawakan tubuh yang kurus, pipi yang cekung, kumis yang panjang-tapi-jarang, sampai akhirnya menuju wilayah tubuh yang menjadi metafora puncak bagi isian hakiki anak manusia: wajah. Wajah sinder yang “putih seperti orang takut” itulah yang menjadi titik pungkas bagi Ulid sampai ia tiba pada pertanyaan yang menantang-pun-menentang pemahaman awalnya tentang sinder: “Dan buat apa takut dengan orang takut?”.

    Dengan sempurna, kesimpulan itu digongi oleh sebuah ketegasan: “Ya, aku tidak takut”, kalimat yang efek naratifnya cukup menawan. Ungkapan itu disajikan bukan sebagai kalimat langsung (tidak ada tanda kutip di sana). Ini seolah membuat yang bicara adalah narator. Padahal, narator jelas-jelas menggunakan sudut pandang orang ketiga, sementara kalimat tersebut memakai kata aku.

    Efek yang timbul adalah betapa pentingnya kesimpulan ini hingga Ulid merasa harus mengatakannya sendiri pada pembaca. Ulid sejenak mengambil-alih peran narator, hanya untuk kepentingan itu saja. Dan sehabis itu mengembalikan lagi peran tersebut pada narator asli, yang menutup adegan dengan sudut pandang orang ketiga: “Ia kemudian lelap dibekap bapaknya.”

    Penutup

    Mengingat tema besar novel UTIM, kehidupan orang jelata di tengah karut-marut ekonomi, Negara tentunya menjadi satu anasir penting. Di lapis awal, UTIM seperti memperlakukan Negara sebagai tokoh tak berarti – maksudnya tokoh yang dianggap antara ada dan tiada, pembawa masalah maka baiknya tak usah ada, bahkan sebagai bahan olok-olokan. Tapi, bila kita lihat lebih jauh, justru di dalam ketakberartiannya itulah terletak arti dari Negara dalam UTIM. Untuk menunjukkan bahwa Negara itu ‘tak berarti’, UTIM tidak boleh tidak memberi kesempatan pada Negara untuk hadir dalam cerita. Negara mesti hadir, tapi perlakuan cerita terhadapnyalah yang memberi perbedaan.

    Salah satu keberhasilan intrinsik UTIM menurut saya adalah kemampuan stilistisnya untuk menciptakan lingkungan naratif yang menempatkan Negara sebagai objek amatan, dan jelata sebagai pengamatnya. Pengamat dengan bebas menggunakan sudut-pandangnya untuk menilai, sekaligus menilai-ulang, pandangannya tentang yang diamati. Yang diamati tidak bisa berbuat apa-apa dalam alam pikir si pengamat kecuali hanya membiarkan dirinya diutak-atik secara bebas oleh pengamatnya.

    Utamanya lewat penokohan yang melibatkan upaya peluluh-lantakan kemandirian perspektif tokoh sinder dan mandor dalam adegan ‘Ulid Tidak Takut’, UTIM telah mendemonstrasikan cara khas untuk mengabaran kedudukan ideologisnya terhadap kekuasaan Negara dalam cerita. Artikel ini sedikit-banyak telah membuktikannya.

    Referensi Bukutronik

    Mills, Sara. Feminist Stylistics. Taylor & Francis e-Library. 2005.


    | Link | Dibaca 1590 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak