Ke Atas ^
  • RETORIKA ROMAWI: PANGGUNG MASYARAKAT KALI PERTAMA[1]

    Ketika masih berada di bangku kuliah kelas semiotika, saya bertemu dengan retorika, dan barulah pada saat itu saya sadar bahwa retorika bukan sekadar cara berbicara, melainkan juga ilmu. Lebih terperangah lagi ketika dari retorika kami bisa masuk dengan lancar ke teori bahasa, semiotika, teori-teori komunikasi, media dan visual, bahkan akhirnya psikoanalisa. Bagi saya itu merupakan pengalaman yang luar biasa menarik, menemukan retorika—sebuah tradisi yang telah lahir sejak dua ribu tahun yang lalu—hadir sebagai pintu pertama untuk memasuki sebagian belantara ilmu sosial kritis di era kosmopolit ini. Saya pun membayangkan, jika untuk menuju pedalaman ilmu sosial saja kita bisa terbantu oleh retorika, apalagi untuk kajian atau kritik sastra yang berbasis bahasa! Maka sebelum kita bicara lebih jauh tentang retorika Romawi ini, mari sekilas kita tengok dulu cerita sejarah dan perkembangan filsafat masa itu.

    Kekalahan Athena oleh Philip dari Macedonia pada 338 SM menandai berakhirnya kebudayaan Yunani kuno, dan periode Helenis dinyatakan dimulai sekitar 15 tahun kemudian, tepatnya sejak kematian Alexander Agung (putra Philip). Namun, kekalahan Athena itu bukan berarti juga kekalahan budayanya. Luasnya persebaran kekuasaan Yunani kuno di setiap wilayah taklukannya membuat pengaruh kebudayaannya masih cukup kuat, dari ilmu pengetahuan dan logika, hingga bahasa yang digunakan oleh kelas penguasa baru.

    Persebaran budaya itu juga menandai periode Helenis sebagai pertemuan pertama tradisi Yunani dan Oriental. Dalam ekonomi politik, periode Helenis menghasilkan kelas bangsawan sebagai pemegang sistem kekuasaan sentralistik baru yang berorientasi besar pada pengembangan perekonomian, seperti investasi komersial, industrialisasi skala besar, dan sistem finansial internasional. Maka tak ayal lagi, dampak masif dari revolusi ekonomi ini antara lain adalah “bertumbuhannya kota-kota besar dengan populasi yang membengkak, beralihnya petani-petani kecil menjadi status budak karena sebagian besar tanah terkonsentrasi di tangan penguasa, serta melebarnya jurang antara penguasa dan rakyat, kaya dan miskin, bangsawan dan pekerja”[2].

    Kondisi sosial-politik semacam itu membuat corak aliran-aliran filsafat Helenisme—meskipun secara fundamental saling berbeda—cenderung menyiratkan kesamaan sebagai ‘filsafat mengalah’, yaitu memberi muatan lebih pada ajakan untuk menarik diri dari segala kepentingan duniawi, dengan penjelasan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada tindakan, melainkan pada mental. Pertama, Sinisisme, didirikan oleh Diogenes dari Sinope (400-325 SM), merupakan ajakan untuk kembali kepada yang-nature dan meninggalkan hal-hal yang bersifat konvensional atau artifisial. Kedua, Epicureanisme, dinamai menggunakan nama pendirinya, Epicurus (342-270 SM), juga dimulai sekitar 300 SM, mengusung ajaran tentang ‘kenikmatan’ sebagai kebaikan tertinggi yang berada pada tingkatan mental dan bersifat kontemplatif, dan hanya bisa tercapai jika manusia mampu menjadi mahluk independen, terbebas dari segala rasa sakit dan kekuasaan dewa-dewa.

    Ketiga, Stoicisme, percaya bahwa “segala pengetahuan yang ada di alam semesta telah diatur oleh sebuah pengetahuan yang lebih besar dan universal, bahkan setiap kejahatan atau kemalangan hanyalah bagian kecil dari pola kerjanya”[3]. Keempat, Skeptisisme, menolak segala pandangan positif tentang kehidupan: bahwa kebahagiaan manusia hanya bisa dicapai melalui penundaan atas segala pandangan positif terhadap segala sesuatu. Kita sesungguhnya tidak mungkin memiliki pengetahuan yang pasti tentang sesuatu, bahkan indra sebagai sumber dari pengetahuan pun tidak sempurna. Maka bagi aliran ini, setiap perilaku yang baik adalah yang dilakukan atas dasar pertimbangan praksis dan memungkinkan.

    Selain telah menggiring filsafatnya untuk cenderung mengalah, hilangnya wacana kebebasan dalam ruang politik Romawi memang telah berhasil mengarahkan pendekatan dunia kritis dan sastranya cenderung lebih teknis, bersifat menerangkan dan mengklasifikasikan gaya. Namun di sisi lain kondisi itu justru membuat retorika tumbuh subur melahirkan gagasan baru akan kebenaran. Melalui penekanannya pada persetujuan audien, retorika memperlihatkan bahwa nilai kebenaran bukan hanya terletak pada alur logis sebuah penyampaian, tetapi juga pada persetujuan audien. Secara politis kensepsi ini menjadikan retorika justru bertahan hidup di hadapan kekuasaan karena menyandarkan kebenarannya pada kekuatan publik.

    Adapun dua tokoh besar retorika Romawi ini adalah Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) dan Marcus Fabius Quintilian (35 – 96 M) yang karyanya banyak dipengaruhi oleh doktrin Hermagoras (abad-2 SM) tentang stasis, yang menekankan “posisi” orator atas isu yang menjadi tumpangan sebuah argumentasi. Karya-karya Cicero bisa dikatakan berposisi di antara filsafat dan retorika karena mampu memperkaya kosakata filosofis dan sastra-kritis, karena menampung keduanya dalam satu gagasan terkait posisi ideal orator dan cara berorasi. Ide-ide retorika Cicero kemudian dikembangkan oleh Quintilian dengan lebih berfokus pada pendidikan orator dan fungsi edukatif dari retorika dengan meletakkan nilai moral sebagai landasannya. Seperti Cicero, Quintilian juga menentang Plato yang memisahkan retorika dan filsafat. Ia menekankan bahwa retorika harus berbasis pada prinsip-prinsip moralitas, dan prinsip-prinsip tersebut dihasilkan tak lain dari kerja filsafat.

     

    Rhetorica ad Herennium

    Sedikit kembali ke belakang, kita menemukan cikal bakal dari kelahiran retorika Romawi pada kisaran abad 2 SM, yaitu datangnya Hermagoras ke Roma. Kedatangannya sangat berpengaruh besar pada dua teks utama retorika Romawi: Rhetorica ad Herennium (90 SM) karya anomim, tapi sering kali dikenal sebagai Pseudo-Cicero, dan De inventione (87 SM) karya Cicero sendiri. Rhetorica ad Herennium merupakan teks pertama yang menyajikan pembahasan rinci tentang lima bagian utama dalam retorika, yang selanjutnya menjadi sentral dari tradisi retorika Romawi.

    Kelima bagian utama tersebut antara lain: 1) Penemuan (invention) adalah mencari bahan yang akan dibicarakan sesuai dengan topik pembahasan; 2) Pengaturan (disposition) adalah mengatur semua bahan yang telah terkumpul itu secara sistematis, yang terdiri dari introduction, statement of fact, division, proof, refutation, dan conclusion; 3) Gaya (arrangement) adalah memilih bahasa (kata dan kalimat) yang tepat dan sesuai dengan materi yang telah disiapkan. Pada bagian ini penulis menyediakan tiga karakter gaya: gaya tinggi dengan menggunakan bahasa yang mengesankan, gaya sedang dengan menggunakan kata-kata yang lebih sederhana namun bukan kata sehari-hari, dan gaya sederhana yang menggunakan idiom terbaru dari orasi standar; 4) Memori (memory) adalah bagaimana menghafal seluruh materi yang akan disampaikan dan juga agar mudah diingat oleh orator dan audien; dan 5) Pengiriman (delivery), yaitu mengatur regulasi suara, ekspresi wajah, dan gerakan dalam proses penyampaian, yang intinya untuk menujukkan keseriusan pembicara.

    Pada bagian akhir buku, penulis Rhetorica ad Herennium memberikan penjelasan yang warisannya mengalir hingga mewarnai kategori-kategori kiasan dalam tradisi sastra kita saat ini, seperti metonimi, synecdoche, metafora, dan alegori. Metonimi adalah suatu kata yang hadir untuk mewakili kata-kata yang lain dari sebuah struktur kalimat berdasarkan kemiripan atau kedekatan; synecdoche terjadi ketika keseluruhan dipahami dari salah satu bagian atau sebaliknya; metafora merupakan sebuah kata yang kehadirannya berfungsi untuk menggantikan kata yang lain berdasarkan kesamaan nilai, dan ini bertujuan untuk membuat kejelasan, memperbesar atau mengurangi nilai, atau untuk memperindah; dan yang terakhir adalah alegori sebagai gaya bicara yang ingin menghadirkan makna yang berbeda dari apa yang secara verbal dikatakan.

    Seluruh gagasan yang tertuang dalam karya anonim atau pseudo-Cicero ini rupanya memang menjadi tonggak sentral bagi perkembangan retorika Romawi selanjutnya. Cicero dan Quintilian mengembangkan gagasan masing-masing yang pada dasarnya saling melengkapi satu sama lain, dan sama-sama melanjutkan apa yang sebelumnya telah tertuang dalam Rhetorica ad Herenium ke dalam ranah yang lebih kontekstual dan terkait dengan pendidikan orator dan tujuan politisnya.

     

    Praktik Orasi

    Sebelum kita kenal sebagai ranah keilmuan yang turut mengilhami perkembangan kritik sastra, pada mulanya retorika merupakan disiplin praksis yang memiliki visi untuk menegakkan dan menjunjung tinggi keadilan serta kebaikan bersama melalui praktik orasi. Visi ini pun mengarahkan penerapannya pada tiga ranah penyampaian (speech) dalam sistem kekuasaan yang berlaku, yaitu ruang pengadilan (judicial), politik (deliberative), dan publik secara umum (epideictic).

    Di ruang pengadilan, fungsi retorik ini dijalankan oleh orang yang bertugas untuk membela atau menjatuhkan tersangka di depan hakim (saat ini kita mengenalnya sebagai pengacara). Dalam ruang politik (kita bisa membayangkan semacam sanatorium yang dihuni oleh sekian petinggi politik kerajaan), retorika digunakan oleh seorang anggota senat untuk mempromosikan kebaikan atau jasa-jasa seseorang dan kemudian untuk mengangkat dan meninggikan derajatnya. Sementara di ruang publik secara umum retorika digunakan untuk menjelaskan suatu kejadian besar kepada masyarakat dengan tujuan mengambil pelajaran yang berharga.

    Dengan visi dan konteks penerapan seperti itu selanjutnya Cicero menekankan agar setiap kerja retorika selalu berangkat dan dilakukan atas dasar dorongan emosional, atau dengan kata lain dilakukan dengan melibatkan perasaan. Sementara Quintilian, yang lebih banyak berfokus pada pendidikan orator, menekankan bahwa setiap proses pendidikan harus didasari oleh nilai kasih sayang dan kesadaran moral yang tinggi, karena “tidak ada yang bisa menjadi orator handal selain orang baik”[4]. ‘Baik’ di sini tentunya sangatlah abstrak dan relatif bagi kita. Tapi setidaknya kita bisa memahaminya dari beberapa penjelasan kedua tokoh yang sedang kita bahas ini.

    Penting untuk diingat sebelumnya bahwa penekanan terhadap moralitas ini sangat terkait dengan refleksi atas konteks kekuasaan otoriter Romawi yang tidak menghargai kebebasan berpikir dan berbicara. Sehingga gagasan tentang orator ideal yang mereka jelaskan pun secara tersirat menyimpan imajinasi kebebasan politik.

    Dalam imaji pendidikan Quintilian, seorang orator harus selalu belajar menjadi orang yang berkarakter mulia, dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kebaikan dalam dirinya. Keharusan itu demi memenuhi tujuan dari sebuah orasi yang tak lain untuk memberikan pelajaran (to teach), menyenangkan (to delight), dan membangkitkan emosi audien (to persuade). Tujuan ini selanjutnya menuntut dua syarat utama menjadi orator, yaitu berpengetahuan luas dan cakap dalam menerapkan gaya penyampaian.

    Dalam hal pengetahuan, seorang orator harus kaya akan pemahaman filosofis tentang keadilan dan kehormatan, hukum, agama dan kenegaraan, juga contoh-contoh dari karya-karya sejarah dan sastra. Namun, ia tetap harus sadar bahwa dirinya bukanlah filsuf, yang hanya berpikir tanpa bertindak. Lebih dari itu, orator menyandang tugas mulia untuk mengaplikasikan hasil belajarnya kepada masyarakat melalui penyampaian secara praksis, karena sekali lagi, ukuran keberhasilan seorang orator adalah sejauh mana hal yang disampaikannya bisa dipahami dan disetujui oleh audien.

    Selain bekal pengetahuan, kecakapan gaya penyampaian juga penting. Bagi Cicero, gaya dalam sebuah penyampaian harus mampu mewakili emosi perasaan tertentu, bahkan setiap kesimpulan yang dihasilkan harus benar-benar disandarkan padanya. Oleh karena itu ia—sepadan dengan yang tertera dalam Rethorica ad Herennium—membaginya ke dalam tiga macam gaya sesuai dengan tujuan dari orasi: gaya biasa, untuk memberikan pelajaran dengan menjelaskan permasalahan secara rinci; gaya sedang, bertujuan untuk menyenangkan audien; dan gaya tinggi, yang bertujuan untuk bisa membangkitkan emosi audien. Dalam tiga gaya itu Quintilian menambahkan agar seorang orator menggunakan bahasa kiasan untuk memperkaya makna dan menghiasi gaya penyampaian.

    Namun demikian, wawasan pengetahuan tetaplah menjadi syarat utama. Oleh karena itu setiap orator harus membaca dan mempelajari semua ranah pemikiran yang ada, agar bisa meniru dan kemudian menambahkan pemikirannya sendiri. Secara lebih mendalam, Quintilian telah menggarisbawahi bahwa pada ujungnya masalah keindahan sebuah orasi bukan hanya tentang gaya penyampaian, tetapi juga menyangkut kejelasan ide dan bagaimana membuat ide-ide itu sampai atau terpahami oleh audien dengan baik. Ia menegaskan bahwa “[o]rnamen kata (ornate) adalah sesuatu yang lebih dari sekadar jelas atau dapat diterima. Akan tetapi mengandung, pertama, pembentukan konsepsi yang jelas tentang apa yang ingin kita katakan; kedua, memberikan ekspresi yang memadai, dan; ketiga, dalam rangka memberi tambahan yang cemerlang, atau sebuah proses yang bisa disebut sebagai penghiasan”[5].

    Jadi secara umum bisa kita bayangkan bahwa orator yang ideal adalah yang mampu menyampaikan sebuah gagasan moral dengan baik. Semangatnya bersumber dari refleksi atas nilai-nilai keadilan, konten materinya memiliki dasar filosofis dan pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan, gaya penyampaiannya sesuai dengan isi serta disampaikan dengan sepenuh hati dan perasaan, dan pada akhirnya bisa dipahami oleh audien, serta menggugah dan mendapatkan sambutan atau persetujuan mereka. Maka dalam rangka mewujudkan yang-ideal semacam itu, tak ayal lagi pendidikan orator pun menjadi jalan yang sangat penting.

     

    Pedidikan Orator

    Pendidikan orator di masa Romawi sebelumnya sudah berjalan di bawah bimbingan Domitius Afer, seorang orator terkemuka yang juga merupakan guru dari Quintilian. Dari sini Quintilian, dan sepertinya banyak diilhami oleh visi politik kebangsaan Cicero, berhasil merangkai gagasan pendidikan retorik dengan menaruh perhatian penuh pada masa depan generasi orator penerusnya dan lebih berfokus pada proses belajar anak usia dini.

    Dalam karya utamanya yang berjudul De Inventione (80 SM) Cicero menegaskan bahwa retorika bertujuan untuk mempromosikan keadilan dan kebaikan bersama, bukan kekuatan fisik. Seorang orator tidak hanya cukup memiliki kefasihan dalam berbicara, tetapi juga harus bijaksana dengan cara mempelajari filsafat dan segala ilmu pengetahuan lainnya.

    Pendirian ini ia tegaskan kembali dalam De Oratore (55 SM) dengan menolak pandangan Plato yang menempatkan retorika dan filsafat secara dikotomis. Jika Plato menganggap retorika sebagai seni persuasi yang hanya mementingkan gaya penyampaian dari pada konten, Cicero justru sebaliknya, menganggap bahwa seorang orator yang baik selalu berbekal keduanya. Bahkan ia meyakini bahwa seorang retoris dan filsuf bukanlah sosok berbeda, atau dengan kata lain kedua status tersebut memungkinkan untuk disandang oleh satu orang.

    Di sini kita tidak bisa tidak, harus menempatkan pendidikan orator sebagai hal yang tak hanya dimaksudkan demi menyiapkan orator untuk menyampaikan orasi. Pendidikan orator sangat penting demi menyiapkan generasi penyampai yang baik, yang tidak takut untuk berhadapan dengan karya-karya sastrawan besar yang sarat dengan pemahaman akan kehidupan, juga untuk berhadapan dengan argumentasi orator lainnya. Atau lebih dari itu, orator akan berhadapan dengan masyarakat umum dalam ruang politik yang lebih luas di mana moralitas, keadilan dan kebaikan bersama harus dipromosikan.

    Dalam Institutio Oratoria (96 M), Quintilian menegaskan bahwa seorang orator harus dibekali dengan pendidikan yang menyeluruh, dan ia pun telah menjelaskan secara detail tahapan-tahapan dalam proses pendidikan seorang orator. Tahapan ini, sekali lagi, berlandaskan pada keyakinannya bahwa untuk bisa menghasilkan seorang orator yang baik, proses pendidikan harus dimulai sejak anak masih dalam usia dini. Untuk itu, Quintilian menganjurkan agar proses ini dimulai dengan metode bermain, sebelum kemudian masuk pada materi yang lebih berat: tata bahasa, membaca dan menganalisis karya sastra, menulis dan praktik bernarasi.

    Dalam metode bermain, yang harus diingat oleh setiap guru adalah bahwa anak-anak usia dini memiliki kelebihan dalam mengingat dan meniru, jadi murid harus dikondisikan untuk santai dan didorong untuk membebaskan ekspresi mereka. Penerapan hukuman bukanlah cara ajar yang baik karena justru akan mengekang ekspresi murid. Sebaliknya, guru harus mampu menempatkan diri layaknya teman bagi setiap muridnya, dengan tujuan “agar setiap murid lebih menikmati dirinya diperhatikan sebagai individu, ketimbang hanya sebagai salah satu anggota dari sebuah perkumpulan”[6]. Setelahnya, barulah murid diajak untuk memasuki pelajaran tata bahasa.

    Bagi Quintilian, bahasa selalu berbasis pada akal, keunikan, otoritas, dan kebiasaan. Oleh karenanya mempelajari tata bahasa adalah fondasi utama bagi seorang orator. Tata bahasa berfungsi untuk mengajarkan pada murid cara berbicara dengan benar dan untuk memahami sastra. Sebagai pendukung pemahaman atas tata bahasa, murid juga harus mempelajari musik. Bagi Quintilian, musik berfungsi untuk memberikan pemahaman terkait bentuk dan ritme, yang selanjutnya bisa digunakan untuk memahami ritme bahasa.

    Dalam mempelajari karya sastra, murid harus membacanya secara mendalam agar mampu menangkap sublimitas dan keagungannya. Setelah itu ia harus belajar melakukan analisis dengan cara “memilah setiap bagian dari ungkapan dalam sebuah karya, mengidentifikasi penggunaan kata yang benar, mengetahui berbagai makna dari kata yang telah umum, mengenali macam-macam kiasan, model-model figura pengungkapan dan pemikiran, mengaitkan pada fakta historis yang relevan, dan untuk memahami segala bagian tersebut sebagai kesatuan yang terorganisir”[7].

    Terkait penulisan, Quintilian menganjurkan agar murid dibiasakan utuk belajar memparafrasa karya-karya sastra yang sedang dipelajari dengan bahasanya sendiri. Selain itu murid juga harus belajar menyusun sketsa karakter penokohan dan juga menulis aforisme. Latihan menulis ini pada intinya bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan imajinasinya sendiri.

    Dalam berlatih menyusun narasi setiap murid harus aktif dalam mengonfirmasi atau memberikan sanggahan, memuji kelebihan tokoh terkenal atau mencela orang-orang yang berbuat amoral. Untuk mendukung latihan ini ia juga harus mempelajari klaim umum atas moralitas dan hukum, serta tesis-tesis yang memuat argumen yang berbeda-beda atas topik-topik tertentu. Secara lebih rinci murid harus dibiasakan untuk memperhatikan kejelasan dan tujuan utama dari narasi yang ia sampaikan, untuk mengingat bagian mana saja yang harus diperhalus atau dipentingkan, tanpa melupakan keharusan untuk mampu mengontrol emosinya sendiri dan juga audien.

    Sampai di sini kita bisa melihat betapa Quintilian telah memberikan landasan penting bagi model pendidikan, yaitu keterkaitan antara sastra, filsafat, dan ilmu pengetahuan lainnya sebagai bekal untuk membangun moral dan intelektualitas bangsa. Selebihnya, di bawah kekuasaan Romawi, pendidikan Helenis secara umum terfokus pada praktik menulis dan berorasi, melatih siswa untuk mampu menceritakan kembali narasi-narasi sejarah dan mitologi dengan menggunakan bahasanya sendiri, menyoal-ulang pandangan umum atas sesuatu, serta memperdebatkan dua gagasan yang berbeda. Dalam ranah sastra, proses pendidikan retorik ini selanjutnya masih akan ditemukan hingga pada era modern.

     

    Nilai Kultural dan Politis Retorika

    Sebelum kita menghitung berbagai pelajaran retorik yang masih relevan dalam perkembangan sastra modern hingga kekinian, ada baiknya kita menyinggung juga kandungan kultural dan politis dalam tradisi ini, khususnya yang dipromosikan oleh kedua tokoh yang sedang kita bahas. Nilai kultural dan politis yang saya maksud adalah sesuatu yang terkandung dalam gagasan Cicero dan Quintilian yang bisa kita jadikan poin untuk memahami posisi retorika dalam tradisi ilmu sosial, khususnya ketika berhadapan dengan gagasan tentang kebenaran dan keadilan.

    Secara kultural, kita bisa merujuk pada penjelasan sebelumnya terkait penghargaan besar retorika kepada audien: ukuran tertinggi dari kualitas orasi seorang orator terletak pada persetujuan mereka. Ini tidak mungkin hadir dalam filsafat Platonian yang bersandar penuh pada logika. Dibandingkan dengan filsafat pada zamannya, retorika memang bukan seni teoretis yang bekerja dalam rangka mencari pemahaman atas makna kebenaran hidup secara langsung, akan tetapi justru menjadikan pemahaman filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai basis pendukung untuk mendapatkan kepercayaan audien.

    Dengan kata lain, filsafat dan retorika memiliki jalan yang berbeda ketika berhadapan dengan konsep kebenaran. Kebenaran retorik, meskipun harus didukung juga oleh filsafat dan ilmu pengetahuan, pada akhirnya tetap berada di tangan audien sebagai hakim utamanya. Sementara audien—atau saat ini bisa kita sebut sebagai masyarakat apresiator—yang memiliki kuasa besar untuk menilai kualitas orasi atau seorang orator juga tidak bisa terlepas dari konteks ruang dan waktunya. Maka kebenaran retorik itu pun bersifat kultural dan dengan demikian sangat relatif.

    Dalam ranah politik, pada dasarnya retorika tidak memiliki kepentingan apa pun. Akan tetapi dengan dorongan Cicero untuk mempromosikan kebaikan hidup bersama, juga penekanan Quintilian pada moralitas dan refleksi atas konteks keadilan pada masanya, kita bisa memaknai bahwa secara politis keduanya menggiring retorika untuk tidak bebas nilai. Karena ketika kekuasaan yang otoriter telah membuat filsafat cenderung mengalah, retorika justru memungkinkan hadir sebagai jalan tengah keberpihakan politis.

    Posisi ini telah dibuktikan oleh Cicero sendiri dalam beberapa karya retorisnya yang sarat dengan pesan kewajiban moral politik, khususnya terkait dengan nilai keadilan dan imajinasi kesatuan republik. Cicero mempromosikan hubungan antara manusia dan kehidupan naturalnya sebagai basis pembentukan masyarakat yang baik dan berkeadilan, juga terbentuknya identitas komunal sebuah masyarakat atau bahkan bangsa, identitas yang bersandar pada ikatan alam dan tanah kelahiran, dan bukan sekadar berdasarkan hubungan darah atau kekuasaan[8].

    Kedua muatan nilai ini bukan tidak mungkin kita permasalahkan ulang, terutama terkait ketergantungan retorika pada kualitas intelektual masyarakat audien dan posisi politis yang pada dasarnya berada di luar domain retorika sebagai sebuah disiplin ilmu. Akan tetapi setidaknya kedua hal ini menunjukkan pada kita bahwa sedari awal perkembangannnya, dunia kritik sastra selalu berkaitan dengan kedua hal ini, yaitu klaim atas kebenaran dan posisi politis sebuah karya.

     

    Warisan Besar Retorika

    Selama dua ribu tahun setelahnya, retorika telah menempati posisi sentral dalam dunia pendidikan Eropa, khususnya terkait teori komposisi dan argumentasi. Meski demikian, pendirian logika Platonian yang memberi penekanan penuh pada kebenaran rasional dan menolak pertimbangan-pertimbangan retoris tetap memiliki pengaruh besar pada arus utama filsafat Barat hingga era Modern. Konflik antara keduanya (retorika dan filsafat) ini seperti memaksa kita untuk tidak melihat kebenaran sebagai hal yang statis, namun “secara intrinsik terkait dengan struktur dan konteks politik yang berlaku”. Dalam retorika, kebenaran itu ada pada konsensus, pada persetujuan atau penolakan pembaca, audien, atau masyarakat, atas sebuah ‘teks’. Sehingga, kebenaran itu sendiri menjadi sebuah konsep yang sangat terbuka dan relatif, bergantung pada persetujuan mayoritas.

    Seiring dengan berjalannya waktu dan generasi, retorika memang banyak mengalami pergeseran, bahkan penyempitan makna menjadi sekadar aturan berbicara di depan umum. Namun retorika tetap mampu mempertahankan ide-idenya hingga turut mewarnai perkembangan teori-teori budaya dan kritis kekinian, khususnya yang berkaitan dengan ilmu komunikasi.

    Pada ranah sastra, warisan retorika tersebar dalam beberapa persoalan penting yang sangat mewarnai perkembangan sastra hingga hari ini. Pertama, gagasan tentang fantasi/imajinasi sebagaimana diilhami oleh tradisi filsafat Stoicisme, yang memandang imajinasi sebagai proses kreatif yang lebih tinggi ketimbang imitasi. Jika imitasi hanya mampu merepresentasikan realitas yang bisa ditanggap oleh indra, imajinasi memungkinkan seseorang merepresentasikan apa yang belum terlihat. Dengan kata lain, pengarang yang baik adalah yang bisa menghadirkan pengetahuan universal ke dalam karyanya, dan itu hanya dimungkinkan melalui imajinasi.

    Kedua adalah perhatian pada pentingnya gaya penyampaian yang menekankan penggunaan bahasa kiasan, seperti metafora, metonimi, synechdoche dan alegori. Untuk menghiasi sebuah penyampaian kita membutuhkan gaya dalam berbahasa, khususnya kiasan. Tapi lebih dari itu, gaya bahasa kiasan akan membantu kita untuk memperkaya dan memperdalam makna dari penuturan atau teks yang kita sampaikan. Gaya penyampaian ini akan menentukan sejauh mana sebuah orasi atau teks bisa sampai dan terpahami secara mendalam oleh audien.

    Ketiga, terkait dengan perdebatan Klasik antara isi dan bentuk. Dengan ditempatkannya filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai bagian yang tak terpisah dalam upaya melahirkan orator yang ideal, maka jelas, baik Cicero maupun Quintilian bermaksud mengajak kita untuk tidak memposisikan isi dan bentuk sebagai dua hal yang bertentangan. Melainkan sebaliknya, kedua hal itu tidak mungkin terpisah, bahkan akan selalu saling melengkapi satu sama lain.

    Keempat, adalah pentingnya kepercayaan atau persetujuan audien. Poin ini menggiring kita untuk melihat kebenaran sebuah penyampaian atau teks dipengaruhi banyak oleh audien atau masyarakat pembaca. Artinya, proses penyampaian atau penciptaan sebuah karya tidak bisa tidak harus melibatkan audien sebagai salah satu rujukan dan pertimbangan. Perhatian terhadap audien ini bertujuan agar sebuah orasi atau karya bisa diterima dan tidak terbuang sia-sia.

    Terakhir, dan sangat penting dalam dunia kritik sastra, adalah bahwa retorika menuntun kita untuk memandang teks sebagai bahasa argumentatif yang sangat terkait dengan konteks ruang dan waktunya. Kita harus mengamati dan mengkaji dengan saksama “struktur keseluruhan sebuah teks, respons pembaca, kaitan teks tersebut dengan wacana-wacana lain, konteks sosial-politik yang melingkupi hubungan antara teks-penulis-pembaca, serta historisitasnya, terlebih perbedaan antara resepsi kekinian dan kondisi performatif sebuah teks pada masanya”[9]. Dengan demikian, pembacaan kritis terhadap sebuah teks atau karya menjadi lebih komperehensif.

     


    [1] Review dari: Habib, M. A. R. 2005. A History of Literary Criticism: from Plato to Present. (UK: Blackwell Publishing), Chapter-4 The Hellenistic Period and Roman Rhetoric.

    [2] Ibid., hlm.80

    [3] Ibid., hlm.81

    [4] Ibid., hlm.89

    [5] Quintilian, Intitutio Oratoria, VIII, 3, 61

    [6] Habib, ibid.

    [7] Ibid., hlm.90

    [8] Lih. Connolly, Joy. 2007. The State of Speech, Rhetoric and Political Thought in Ancient Rome. (New Jersey: Princeton university Press)

    [9] Habib, ibid., hlm.100


    | Link | Dibaca 1100 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak