Ke Atas ^
  • Hatiku dan Selembar Daun yang Jatuh

    Saya percaya bahwa puisi dituliskan untuk dibaca orang lain, yaitu siapapun yang bisa membaca karya tersebut. Ada banyak puisi yang bisa saya baca, dan lebih banyak pula yang belum bisa saya baca. Membaca puisi, dalam tulisan ini, saya artikan sebagai mengetahui, memahami, sekaligus (dan ini yang terpenting) menikmati. Kesenangan dalam membaca puisi tentu berlainan wataknya, tergantung dari pengalaman setiap pembaca. Kesenangan inilah yang menurut saya merupakan sebuah pengalaman rasa; sebuah pengalaman yang mengantar kita pada rasa hidup yang sekaligus menjadi pintu menuju ruang pemaknaan—kita akan dengan rela kembali merenungkan kisah hidup kita, lalu memaknai ulang ke-diri-an kita melalui kisah hidup tersebut.

    Melalui tulisan ini, saya ingin bercerita soal pengalaman saya membaca salah satu puisi Sapardi Djoko Damono (SDD), sebuah nama yang menurut saya tidaklah asing bagi para penggemar puisi Indonesia. Judul puisi tersebut adalah "Hatiku Selembar Daun". Puisi ini juga telah menjadi inspirasi bagi para musisi, diantaranya adalah Ari Malibu dan Reda Gaudiamo (mereka berduet dan menghasilkan musikalisasi puisi "Hatiku Selembar Daun" yang bagi saya memberikan kesan mendalam). Saya memilih puisi ini karena saya merasa dekat: saya merasa bisa membaca puisi tersebut dan tergerak untuk menceritakan pengalaman saya. Berikut ini adalah puisi yang hendak saya ceritakan:

    Hatiku Selembar Daun

    hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;

    nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;

    ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;

    sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

     

    Sapardi Djoko Damono, 1982.

     

    Saya yakin pembaca yang budiman memiliki cara untuk menikmati sekaligus menafsirkan puisi ini. Bagi saya, ada kisah yang bisa saya dapatkan melalui puisi tersebut. Membicarakan suatu puisi, atau suatu karya, tiba-tiba saya teringat pada suatu percakapan bersama kawan-kawan saya dan saya mendengar ungkapan demikian: “Pesan yang mau disampaikan dalam karya itu apa ya?” Pertanyaan yang serupa pernah menghampiri saya pada momen yang berbeda ketika saya baru saja selesai pentas. Waktu itu saya adalah sutradara dalam sebuah pertunjukan pantomim yang berjudul Kemana Waktu, Aku Ingin Bermain yang dipentaskan di Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta 14 Mei 2007. Sepenangkapan saya waktu itu, pesan (yang ditanyakan pada saya, atau yang saya dengar dari obrolan bersama kawan-kawan saya) dalam sebuah karya, pengartiannya lebih mengarah dalam konteks pesan moral/pelajaran moral yang bisa diartikan sebagai nilai yang bisa dipetik dan dipelajari untuk kehidupan yang lebih baik, atau bisa juga berarti sebagai anjuran (nasehat) atau larangan. Namun pesan dalam pengertian yang telah saya sampaikan tersebut (anjuran atau larangan), apakah mutlak harus ada dalam sebuah karya? Bukankah itu sudah menjadi hal yang klise (karena menurut saya pembaca/penonton karya itu sudah cerdas)?

    Bagi saya, pesan dalam sebuah karya hanya muncul melalui proses pembacaan yang dilakukan oleh pembaca terhadap karya yang dibacanya. Selebihnya, tidak ada pesan dalam suatu karya. Ibaratnya demikian: cabe tidak pernah merasa dirinya pedas, tapi yang merasakan pedasnya adalah yang memakan cabe, dan mengatai bahwa cabe itu pedas, sementara cabenya hanya diam saja.

    Hal yang serupa saya alami ketika saya membaca puisi SDD: puisinya tetap sebagaimana adanya, sementara saya bergerak-gerak kena efeknya. Ini adalah dampak bahasa: saya telah terlanjur kenal arti kata-kata dalam bahasa yang digunakan oleh SDD. Menurut saya, kebanyakan dari puisi-puisi SDD tidaklah sulit untuk dibaca. Puisi yang saya ajukan dalam tulisan ini pun demikian—kita bisa langsung tahu arti per-kata, per-kalimat, satu bait, lalu keseluruhan tanpa harus repot-repot membuka kamus. Kata-kata yang ada dalam puisi tersebut dipakai dalam kehidupan sehari-hari pemakai Bahasa Indonesia. Bagi saya puisi SDD itu sederhana dan ramah: namun susunan dari kata-kata tersebut membuat kata-kata tersebut menempati situasi diluar keseharian, saya tidak tahu apa maksud saya mengatakan ‘situasi diluar keseharian’, namun yang saya alami, saya seolah tenggelam dalam imajinasi saya melalui rentetan kata-kata dalam baris-baris puisi SDD itu: saya merasa tiba-tiba diantarkan dalam suatu ruang imajinasi, dan saya dengan suka rela membenamkan diri dalam imajinasi saya. Melalui imajinasi tersebut, saya juga terseret pada kenangan-kenangan saya dalam keseharian hidup. Tidaklah sama memang, namun saya menangkap ada kemiripan: pengalaman saya yang belum saya ketahui cara ungkapnya terwakilkan melalui puisi itu. Seusai membaca, seolah saya ingin berteriak: “Nah, ini yang ingin saya katakan pada waktu itu!”

    Ketika saya pertama kali membaca "Hatiku Selembar Daun", (mungkin terkesan berlebihan, tapi memang ini yang terkenai pada diri saya) saya serasa menjadi selembar daun yang jatuh. Awalnya saya berimajinasi tentang selembar daun yang jatuh, dan selembar daun itu memiliki perasaan sebagaimana perasaan tersebut dimiliki oleh manusia: selembar daun yang jatuh dan sebentar lagi akan disapu oleh seseorang. Disapu berarti akan segera disingkirkan, dibuang sebagaimana sampah. Atau, tidak dikehendaki samasekali.

    Namun jika yang menjadi selembar daun adalah ‘hatiku’: hatikulah yang jatuh, hatikulah yang seperti selembar daun yang jatuh. Daun jatuh dekat maknanya dengan daun yang berguguran, dan kata gugur dekat sekali maknanya dengan kematian, sementara kematian senantiasa identik dengan perpisahan. Perasaan-perasaan itulah yang muncul dalam benak saya: serentak saya terbawa pada ingatan tentang kematian, perpisahan, kepergian—meninggalkan sesuatu yang telah atau pernah ditempatinya. Saya pernah menyaksikan kematian, mengalami perpisahan, juga pernah meninggalkan sesuatu. Selalu saja ada yang mengganjal: rasa tak benar-benar rela meski toh (mungkin) nanti akan direlakan juga. Perasaan ini muncul juga dalam kalimat: nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring disini; /ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput.

    Seusai membaca "Hatiku Selembar Daun", saya sekali lagi melakukan pemaknaan meskipun saya telah berjarak pada puisi tersebut. Yang saya maksud dengan berjarak adalah ketika saya selesai membaca, dalam rentang waktu tertentu, saya berada dalam situasi mengenang dan merasai: seolah puisi itu selalu bisa menjadi pintu bagi saya untuk memasuki ruangan sejarah dalam diri saya. Di ruangan itulah saya melamun, mengenang. Dan dalam kenangan, selalu terselip makna yang bisa saya bawa, atau saya tinggalkan. Namun dalam memandang sejarah diri sendiri, lalu memaknainya sekali lagi, saya selalu merasa ada hal yang tak selesai: selalu saja ada yang masih ingin saya perhatikan, yang selama ini senantiasa luput.


    | Link | Dibaca 2551 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak