Ke Atas ^
  • Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

    Perempuan Srintil di dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk

     

    Ronggeng Dukuh Paruk – Catatan Buat Emak (buku I) menceritakan perjalanan seorang ronggeng bernama Srintil. Novel itu meriwayatkan bagaimana Srintil kecil bisa menjadi ronggeng yang tenar. Gadis kecil itu harus melewati bermacam ritual dan syarat untuk bisa menjadi ronggeng. Bahkan, sejak kecil dia telah didaulat bahkan oleh kakeknya sendiri dan segenap tetangganya sedukuh untuk menjadi semacam sundal legal yang anehnya justru menjadi kebanggaan tersendiri bagi para warga Dukuh Paruk. Namun, itu tidak tanpa bayar. Srintil harus merelakan cintanya, Rasus yang kepadanya dia tidak memungut sepeserpun uang untuk bercinta, karena karir seorang ronggeng akan tamat setelah ronggeng itu hamil atau menikah.

     

    Sebenarnya dari sudut pencerita bab pertama buku I itu memakai sudut pandang orang ketiga. Jadi, keperempuanan Srintil kecil yang masih sebelas tahun itu diceritakan berdasarkan perspektif yang tidak subyektif. Namun, semenjak bab kedua hingga keempat (terakhir) buku I itu  pencerita memakai sudut pandang orang pertama. Maka, penggambaran keperempuanan menjadi sangat subyektif, khususnya berdasarkan perspektif subyek Rasus. Semenjak bab kedua itu penggambaran keperempuanan, khususnya atas Srintil, seakan hanya menjadi pelengkap penceritaan dinamika kehidupan Rasus yang adalah lelaki. Maka, perempuan, khususnya Srintil, di dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah perempuan berdasarkan perspektif lelaki sehingga kita tidak dapat mengharapkan penggambaran perempuan dari sudut pandang perempuan seperti di dalam Novel Susanna Tamaro – Pergilah ke mana Hati Membawamu (Va Dove Ti Porta Il Cuore).

     

    Ahmad Tohari, sang pengarang, dengan perspektif orang pertama memakai tekhnik penulisan yang seperti penulisan buku harian sebagaimana yang dengan jelas digunakan Susanna Tamaro dalam “Pergilah ke mana Hati Membawamu”. Tokoh Rasus, semenjak bab II, digunakan Ahmad Tohari untuk menuturkan cerita dengan seakan-akan menulis sebuah jurnal harian. Pembaca digiring untuk memiliki imajinasi bahwa ketika Rasus menceritakannya/menulisnya, dia telah berada sangat jauh dari peristiwa itu. Kalimat “Baru setelah aku menginjak usia dua puluh tahun, aku mampu menyusunnya menjadi sebuah catatan,” (Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, Jakarta: Gramedia, 2003, 32); kalimat “Siapa pula yang akan menyalahkan Dower bila dia kelak berteriak-teriak bahwa dirinyalah yang telah mewisuda ronggeng Srintil,” (AT, 75); kalimat “Tahun 1960 wilayah Kecamatan Dawuan tidak aman,” (AT, 90); kalimat “Kelak akan terbukti nasib mengubah kehidupanku secara ajaib,” (AT, 91) dan masih banyak kalimat lain membimbing pembaca memasuki dunia kenangan Rasus.

     

    Di dalam dunia kenangan Rasus itu terdapat potongan-potongan gambar tentang perempuan. Perempuan pertama adalah Srintil kecil, gadis kecil teman bermain Rasus. Belum ada asmara di sana. Pembaca mendapatkan gambaran gadis Dukuh Paruk yang dapat bebas bermain bersama anak lelaki Dukuh Paruk dengan segala makian dan candaan cabul, tetapi sama sekali tidak mengarah kepada hubungan seks. Bagi Rasus yang telah tidak memiliki ibu, pelajaran seksualitas pertama membedakan lelaki dan perempuan justru terjadi ketika dia berinteraksi dengan Srintil. Gambaran perempuan perlahan-lahan didapatkan Rasus justru dalam diri gadis lugu Srintil dan bukan neneknya yang telah tua. Kerinduan akan sosok perempuan, dalam hal ini sosok emak, diproyeksikan Rasus kepada pribadi gadis cilik Srintil yang pada saat itu paling cantik di antara anak-anak gadis Dukuh Paruk lainnya. Sosok perempuan yang utuh, juga gambaran seorang ibu, bagi remaja lelaki seperti Rasus terbentuk dari perjumpaannya dengan seorang gadis remaja (ter-)cantik di Dukuh Paruk. Bahkan, saat pertama kali Rasus bercinta dengan Srintil, bukan gadis cantik itu yang dilihatnya, melainkan gambaran seorang perempuan yang selama ini mengisi khayalannya, emaknya.

     

    Gambaran itu sebenarnya perlahan bergeser menjadi asmara semenjak percakapan Rasus dengan Warta pada halaman 62. Namun, menjadi benar-benar berubah pada bab keempat buku I ini ketika Rasus minggat ke Pasar Dawuan. Di sana dia mendapatkan gambaran yang lebih luas tentang sosok perempuan. Perempuan (cantik) tidak hanya digambarkan seperti Srintil yang mampu mengundang birahi lelaki manapun yang melihat lenggok tubuhnya, tetapi bahkan juga digambarkan seperti perempuan saleh yang rajin sembahyang dan hanya mengizinkan tubuhnya disentuh oleh suaminya. Gambaran perempuan yang disebut emak juga tidak hanya di dapat dari sesosok cantik yang menjadi primadona, tetapi juga dapat ditemukan pada setiap perempuan, bahkan perempuan desa yang paling jelek atau tua sekalipun. Rasus pada halaman 106 sempat menyesal mengapa dia tidak sejak dulu mencari gambaran emak pada diri neneknya yang sudah tua itu, melainkan justru pada perempuan cantik yang menjadi ronggeng primadona itu. Gambaran emak yang diproyeksikan Rasus pada pribadi Srintil rusak setelah Srintil menjalani bukak-klambu dan resmi menjadi ronggeng. Pada bab keempat Rasus mulai berusaha menepis gambaran emak pada diri Srintil dan berusaha jujur bahwa dia menyukai ronggeng itu. Pada halaman 89 Rasus ingin bersaing secara terbuka dengan pria-pria lain untuk mendapatkan Srintil. Dia ingin mencari uang agar dapat meniduri Srintil.

     

    Namun, perempuan memiliki perspektifnya sendiri. Ronggeng adalah juga perempuan yang wajar memiliki rasa cinta. Dia memang mengizinkan pria manapun yang mampu membayar tinggi untuk bercinta dengannya. Itu pekerjaannya sebagai ronggeng selain menari. Akan tetapi, dia akan rela bersetubuh dengan lelaki yang dicintainya secara cuma-cuma tanpa memungut sepeserpun uang. Berkali-kali ketika Srintil singgah di Pasar Dawuan, dia mengajak Rasus menyewa rumah atau tempat yang bisa dipakai untuk bercinta berdua tanpa Rasus harus mengeluarkan uang karena Srintil cinta kepadanya. Bahkan, sebagai perempuan, Srintil memiliki harapan bahwa Rasus akan menjadi suami dan ayah dari anak-anak mereka. Sebagai perempuan Srintil berharap dapat menikah dan memiliki anak dengan satu-satunya lelaki yang dicintainya, Rasus. Perempuan mana yang tidak ingin menikah dengan lelaki yang dicintainya?

     

    Novel Ronggeng Dukuh Paruk memang adalah novel yang menceritakan riwayat seorang perempuan yang menjadi ronggeng, tetapi dari sudut pandang lelaki. Rasus berkali-kali menggambarkan sosok perempuan yang ada di dalam benaknya, bahkan berkali-kali menggambarkan siapa Srintil di matanya. Namun, pada suatu kesempatan perempuan dibiarkan berbicara dan bersaksi. Srintil dipersilakan membuktikan cintanya pada Rasus.

     

     

    Apakah Perempuan adalah Ketiadaan Lelaki?

    (Menyelami Arti Keperempuanan Sang Ronggeng Srintil)

     

    Ronggeng Dukuh Paruk – Lintang Kemukus Dini Hari (Buku II) menawarkan hal yang sedikit berbeda dari buku I. Jika di dalam hampir keempat bab buku I Ahmad Tohari menceritakan perihal perempuan dan ronggeng dari sudut pandang orang pertama dengan memakai sudut pandang kelelakian Rasus, di dalam lima bab buku II ini Ahmad Tohari memakai sudut pandang orang ketiga, pencerita yang tahu segalanya. Tiada cerita mengenai pergulatan kelelakian dan kepribadian Rasus di sana, bahkan sosok Rasus sama sekali tidak hadir terkecuali di dalam kenangan dan dendam Srintil. Yang ada di buku II itu adalah perjumpaan yang sangat intim dengan pribadi dan keperempuanan Srintil sebagai ronggeng maupun sebagai perempuan pada umumnya.

     

    Sebagai selayaknya perempuan pada umumnya Srintil bisa dan berhak jatuh hati. Lelaki yang dicintainya ini tak lain adalah lelaki yang padanya Srintil serahkan keperawanannya, tak lain adalah lelaki teman masa kecilnya, Rasus. Dengannya Srintil rela bercinta tanpa memungut imbalan harta. Namun, Rasus justru pergi meninggalkannya dengan cara yang paling pahit. Lelaki yang dicintainya itu pergi tanpa pamit pada pagi setelah mereka dapat hidup selayaknya suami-istri. Lelaki itu pergi meninggalkan kehampaan yang luar biasa pada diri perempuan Srintil. Rasus tidak seperti lelaki yang Srintil kenal. Rasus bukan lelaki lembu jantan atau bajul buntung yang merasa jaya setelah berhasil mendapatkan Srintil bagai macan menerkam menjangan (Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, Jakarta: Gramedia, 2011, 141). Rasus juga bukan pula lelaki jenis munyuk lemah yang mulutnya bocor menjelek-jelekkan istrinya sendiri dan merengek hampir mengemis belas kasihan dan simpati Srintil (AT, 142). Rasus adalah laki-laki yang kepribadiannya menggaris tegas dan meninggalkan kesan begitu mendalam di dalam batin Srintil.

     

    Ketiadaan lelaki yang dicintainya itu membawa Srintil di dalam pergulatan batin yang dalam tentang makna keperempuanannya, tentang makna dirinya. Beban hidupnya terkurangi oleh kehadiran Goder, bayi Tampi, yang diangkat Srintil menjadi anaknya. Kerinduannya sebagai perempuan untuk menjadi ibu tersalurkan walau Goder bukan buah rahimnya sendiri. Di dalam pergulatan batin yang mendalam itu Srintil menanyakan sebuah pertanyaan eksistensial: siapakah dirinya itu dan siapakah yang mengatur dirinya itu (AT, 146). Selama ini Srintil hanya menurut pada Nyai Kertareja untuk meronggeng atau untuk melayani lelaki manapun, lalu menerima uang atau perhiasan. Namun, pada titik tergetir di dalam hidupnya dia memperoleh martabatnya sebagai pribadi dan berani memilih. Dia berani memutuskan akan naik pentas atau tidak, tidak peduli dengan bujuk rayu Nyai Kertareja. Bahkan, dia berani menolak pelesir dua-tiga hari bersama Marsusi dengan imbalan seratus gram kalung emas dengan bandul berlian (AT, 146-152).

     

    Martabat pribadi keperempuanannya yang utuh itu menambah pesona sekaligus wibawa Srintil. Di dalam tarian ronggengnya lelakilah yang justru dipermainkan oleh perempuan, bukan sebaliknya seperti di dalam hidup sehari-hari (AT, 212-213). Akan tetapi, wibawa dan pesona perempuan yang dimiliki Srintil itu tiba-tiba tak berarti apa-apa di dalam pertemuannya dengan Waras. Waras adalah anak lelaki Sentika, juragan pemilik perkebunan singkong di Alaswangkal. Srintil diminta menjadi gowok bagi Waras. Srintil diminta oleh Sentika untuk membantu Waras menemukan kelelakiannya. Namun, Waras memiliki keterbelakangan mental yang membuatnya tidak dapat menjadi lelaki seutuhnya. Srintil sebagai perempuan merasa gagal, dia tidak mampu membantu Waras merengkuh kelelakiannya, terutama di dalam urusan ranjang (AT, 225). “Saru dan ora ilok,” kata Waras (AT, 223). Srintil adalah perempuan sepenuh-penuhnya dan sebagai perempuan dia merasa amat dirugikan ketika menghadapi ketiadaan lelaki (AT, 223) entah itu ketidakmampuan Waras merengkuh kelelakiannya ataupun ketidakhadiran lelaki yang dicintainya, Rasus.

     

    Meskipun Srintil adalah ronggeng yang tenar, dia tetaplah warga Dukuh Paruk yang lugu. Tanpa disadarinya dia terlibat di dalam pergolakan politik pada tahun 1965. Dia terlibat di dalam agitasi dan propaganda politik sebuah partai. Karier kesenimanannya, kalau boleh disebut demikian, ditunggangi oleh kepentingan politik. Kesenian Ronggeng yang lugu dan tidak memiliki tendensi apa-apa kecuali kesenangan semalam dan birahi itu tanpa dimengerti oleh Srintil dan rombongan ronggengnya diberi cap kesenian rakyat (AT, 190), bahkan Srintil sendiri dijuluki “ronggeng rakyat” (AT, 232). Keterlibatannya di dalam pergerakan politik partai itu, walaupun tanpa disadarinya, melarutkan Srintil dan segenap warga Dukuh Paruk di dalam geger besar 1965 yang menjadi luka batin berselimutkan tabir gelap bagi Bangsa Indonesia. Kemanusiaan sama sekali diinjak-injak di dalam pergolakan politik itu. Keperempuanan Srintil kembali kelu di bawah gelombang politik dan dinginnya penjara.

     

     

    Akhir dari Kemanusiaan Srintil

    (Sebuah “Happy Ending yang Sedih” dari Ronggeng Dukuh Paruk)

     

    Ronggeng Dukuh Paruk – Jentera Bianglala (Buku III) merupakan puncak sekaligus akhir dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Buku III ini hanya meyakinkan kita bahwa Ahmad Tohari memang mahir dalam mengaduk-aduk emosi pembacanya. Dari ketiga buku, Jentera Bianglala adalah yang paling lugas dan yang paling menguras emosi. Saya sendiri membutuhkan 7 jam lebih untuk menyelesaikannya, diselingi istirahat sejenak untuk menata kembali emosi yang berhasil diaduk-aduk Ahmad Tohari. Lebih dari kedua buku sebelumnya, di dalam Buku III Ahmad Tohari berhasil menyeret secara penuh kesadaran pembaca, mungkin karena pembaca telah terlebih dulu diperkenalkan dengan pergulatan hidup Rasus pada Buku I dan perjuangan keperempuanan Srintil pada Buku II atau karena Ahmad Tohari mampu menggelar segala peristiwanya sehingga seakan-akan kisah itu memang merupakan suatu Biografi Srintil. Pembaca dibuat begitu gemas menyaksikan (dalam imajinasinya) pertemuan dan perpisahan kembali Srintil dan Rasus, seakan-akan tidak rela Ahmad Tohari membiarkan mereka berpisah kembali. Sebuah happy ending mungkin segera menjadi harapan pembaca.

     

    Saya sendiri pernah membaca Buku III ini ketika masih dalam versi trilogi bersambung. Membaca Buku III di dalam versi satu novel utuh ini seakan-akan menjadi sesuatu yang baru, walau saya mengetahui akhir dari kisah Srintil-Rasus, karena ternyata ada banyak sekali bagian yang disensor dan tidak lolos cetak pada versi trilogi. Tidak seperti pada Buku I dan II, saya tidak mampu mengingat banyak hal di dalam Buku III, mungkin karena memang itu adalah bagian yang benar-benar baru saya baca. Bagian yang tersensor itu bukan mengenai hal-hal erotis atau cabul, melainkan mengenai kondisi politik dan narapidana politik yang diceritakan dengan gamblang pada versi novel utuh.

     

    Di dalam Buku III inilah kata “komunis” dan “PKI”, yang pada dua buku sebelumnya hanya ditampilkan simbol kehadirannya, dinyatakan dengan lugas. Kata “komunis” benar-benar hadir tanpa bunga-bunga kata untuk pertama kali pada halaman 253, sedangkan “PKI” hadir untuk pertama kali dengan lugas pada halaman 383. Bahkan, “PKI” menjadi makian yang paling kejam, lebih kejam dari pada makian “asu buntung”, “bajingan”, atau makian lainnya. “PKI” menjadi tudingan yang paling mematikan dan menakutkan. Buku III ini pasti akan mengorek luka lama orang yang memiliki pengalaman eksistensial pada tahun 1965. Mereka akan segera eling akan apa yang terjadi pada waktu itu.

     

    Pada halaman 253 itu kita diberi keterangan apa atau siapa itu “komunis”, adalah “... semua sistem yang telah menyebabkan jendral-jendral mati terbunuh.” Pada halaman 260 kita diberi keterangan lebih lanjut bahwa “... orang-orang komunis demi anu enak saja menghapus hak hidup banyak manusia biasa dengan cara yang paling hewani.” Dan, sebuah keterangan singkat punahnya orang-orang komunis di negeri ini, bahwa “... orang-orang biasa melenyapkan orang-orang komunis, juga demi anu, dengan cara yang sama.” Orang-orang sekarang tentu akan mengkritisi pandangan ini. Jika benar ini keyakinan Ahmad Tohari mengenai apa yang terjadi pada tahun 1965 dan sesudahnya, orang-orang sekarang akan meyakini bahwa konspirasi politik zaman itu telah berhasil membuat Soekarno yang pada saat itu kekiri-kirian kalah telak dan berhasil membuat orang-orang (yang dituduh) PKI menjadi kambing hitam perebutan kekuasaan. Apakah Ahmad Tohari adalah satu dari sekian bangsa Indonesia yang mengamini bahwa PKI adalah dalang kerusuhan 1965 itu seperti yang dikehendaki konspirasi politik atau dia hanya mewakili pandangan umum zamannya? Yang jelas di dalam Buku III itu dia berhasil menggambarkan keadaan masyarakat zaman itu yang begitu ketakutan atau benci setengah mati dengan momok PKI dan cap tuduhan anggota PKI. Pada saat saya masih kecil (1988-1995) saya masih mendengar orang memaki dengan “PKI”. Makian inilah yang pada akhirnya nanti meruntuhkan kemanusiaan Srintil dan memiringkan kewarasannya. Ahmad Tohari pun menggambarkan kekaburan sejarah pada zaman itu dengan tidak menjabarkan apa itu alasan “anu” pada halaman 260, meskipun saya yakin dia paham apa itu ideologi komunis, setidaknya pada Buku II dia sempat menceritakan aksi propaganda orang-orang komunis itu yang menyerukan gerakan antikapitalisme dan antiliberalisme.

     

    Di dalam setting waktu dan suasana yang demikian itulah Ahmad Tohari kembali mempertemukan Srintil dengan Rasus. Srintil menjadi wakil tertuduh PKI, wakil sisa-sisa pemuja kepercayaan tradisional, dan wakil pribadi perempuan yang remuk redam. Sedangkan Rasus menjadi wakil tentara dan kekuasaan, wakil orang-orang yang setelah tahun 1965 berbondong-bondong memeluk satu dari lima agama yang diakui resmi pemerintah pada waktu itu, dan wakil pribadi yang telah berhasil merengkuh kelelakiannya. Rasus adalah orang pertama di Dukuh Paruk yang memeluk Islam. “La ilaha illallah” adalah kalimat samawi pertama yang baru sekali itu diperdengarkan di Dukuh Paruk oleh seorang anak Dukuh Paruk, Rasus (halaman 256). Bahkan pada halaman 351 Ahamad Tohari menggelar adegan Rasus sembahyang dengan terlebih dahulu menggelar kain sarung di atas tanah. Meskipun Ahamad Tohari tidak menyebutnya secara lugas, pembaca dapat membayangkan sebuah adegan Rasus shalat.

     

    Pertemuan dan perpisahan kembali Srintil dan Rasus yang disuguhkan Ahmad Tohari mampu membuat gemas pembaca. Mungkin pembaca dibiarkan berharap bahwa kisah ini akan berakhir dengan happy ending. Namun, dengan kemahirannya mendongeng Ahmad Tohari memainkan emosi pembaca. Emosi pembaca dikuras habis, ditinggikan, kemudian dibanting. Pembaca dibuat sedemikian dekat dengan pergulatan Srintil. Dan, permainan emosi itu diakhiri dengan suatu ironi. Secara bergurau anak-anak teater seperti saya mengatakan bahwa happy ending-nya sedih. Rasus memang akhirnya dipertemukan dengan Srintil. Rasus memang pada akhirnya memutuskan untuk menetap kembali di Dukuh Paruk dan mengambil istri Srintil. Akan tetapi, itu semua terjadi setelah Srintil kehilangan kewarasannya, setelah Srintil kehilangan totalitas kemanusiaannya.

     

    Padmo "Kalong Gedhe" Adi


    | Link | Dibaca 3179 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak