Ke Atas ^
  • PENGALAMAN SEORANG PENULIS CERITA MEMBACA NOVEL UTIM

    Komentar atas Tulisan Bosman Batubara
    Oleh Dwi Cipta

    Kepada Bosman,
    Bosman yang baik, surat tanggapan ini aku tulis satu jam setelah kuselesaikan halaman terakhir novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (UTIM) karya Mahfud Ikhwan, ketika rasa meriang di badanku sudah jauh berkurang. Aku tak bisa menyelesaikan novel ini tepat waktu seperti yang kujanjikan karena malam setelah kita ngobrol panjang di Kedai Kopi Semesta tubuhku meriang. Hari minggu, waktu yang mestinya kita gunakan untuk pergi ke Solo, harus kuhabiskan di pembaringan. Tapi seperti yang kujanjikan, akan kuselesaikan novel yang katamu bagus ini, agar ada diskusi lebih jauh dari opini yang kau tulis dan telah kau bagikan di facebook. Lagi pula aku memang punya ‘hutang sejarah’ pada Mahfud 3 tahun yang lalu. Aku pernah menjanjikan pada dia untuk mencoba mendiskusikan novel perdananya itu. Sialnya sampai sekarang janji itu tak kutepati. Berbagai peristiwa di sekitarku, secara langsung atau tidak langsung, membuatku dijauhkan dari buku itu.

    Tulisan ini tidak lahir sebagai upaya ‘bayar dosa’ atas kelalaianku tiga tahun lalu. Aku tak ingin upaya membuat tulisan ini lebih berdasar atas solidaritas sesama penulis atau karena Mahfud Ikhwan adalah salah satu sahabatku. Tidak. Aku tak mau lagi mengikuti pertimbangan konyol semacam itu. Aku lebih suka melahirkan tulisan ini berdasarkan pertimbangan atas potensi novel itu untuk menjadi lebih baik lagi dan untuk menyanggah beberapa opinimu yang menurutku berlebihan, terlalu menonjolkan satu pertimbangan atas pertimbangan lainnya, atau untuk membuka ruang-ruang yang mungkin belum kamu masuki dalam melihat novel ini. Bisa kukatakan bahwa tulisan ini sebagai ikhtiar untuk memberi ruang semestinya pada karya-karya yang memang berkualitas.


    Opiniku terhadap novel ini berangkat karena beberapa hal. Yang pertama tentu saja karena kesamaan profesi antara aku dan si penulis novel: sama-sama penulis cerita. Sedikit banyak aku mengalami suka-duka seorang penulis dalam melahirkan karyanya. Benar seperti katamu, novel tak sama dengan skripsi, thesis atau disertasi yang memiliki batas waktu dalam penulisan, sedangkan novel tidak memiliki batas waktu. Penggarapan novel juga memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi dalam soal selesai atau tidaknya. Di luar maraknya kebiasaan penerbit kita dewasa ini untuk ‘memesan’ novel yang pengerjaannya dibatasi waktu, dengan iming-iming imbalan finansial tertentu pula, novel UTIM karya Mahfud Ikhwan keluar dari kecenderungan itu. Dibutuhkan waktu lima tahun untuk menyelesaikannya. Dan itu tanpa imbalan finansial dari penerbit mana pun kecuali setelah novel diterbitkan. Di titik ini, dengan segala intensitas dan apologi-apologi yang dilontarkan penulisnya, aku menemukan lubang untuk mengkritiknya –poin-poin dari kritikku akan ditemukan di uraian selanjutnya.

    Yang kedua, dan ini tak terhindarkan, peranku sebagai seorang kritikus. Hal ini berkaitan dengan pengetahuanku tentang sastra yang kudapatkan selama ini. Mau tak mau sejumlah buku yang kubaca, pengalaman menulis orang lain, idealisasi penulisan sebuah novel akan mempengaruhi cara pandangku terhadap novel UTIM karya Mahfud Ikhwan. Pengetahuan tentang novel telah membentuk dunia ideal penulisan novel, atau yang disebut secara gampangan sebagai teori penulisan novel. Tentu saja aku seorang kritikus amatiran dengan semangat amatir sebagaimana yang dikatakan Said: kritikus yang melakukan pekerjaan mengkritiknya karena kecintaan pada dunia yang digelutinya dan kesediaan untuk berkorban atau memberikan banyak hal dalam hidupnya demi dunia yang dicintainya itu, kritikus yang tidak begitu peduli dengan aturan-aturan baku tentang sebuah kritik sastra sebagaimana diajarkan di kampus-kampus.

    Alasan ketiga lebih bersifat politis dalam konteks perkembangan sastra Indonesia selama ini. Kita telah sama tahu kalau terbitnya ratusan atau ribuan novel beberapa tahun terakhir tak dibarengi dengan munculnya para pemerhati sastra yang memiliki pembacaan yang menarik dan tanggungjawab literer yang kuat atas profesinya sebagai pemerhati atau kritikus sastra. Dunia kampus asyik dengan dirinya sendiri lewat skripsi-skripsi, thesis, dan disertasi yang membedah karya-karya sastra yang disimpan hanya untuk dirinya sendiri, disebarkan di lingkungan yang terbatas, dan sangat jarang menyapa publik sastra secara luas. Sementara kritikus di luar dunia kampus, dengan beberapa perkecualian, justru sibuk dengan ‘penobatan-penobatan’ atau penahbisan penulis. Uraian mereka tentang novel atau puisi atau kumpulan cerpen seringkali berlebih-lebihan, cenderung anti kritik, sembari menutup mata terhadap kelemahan atau cacat mendasar dalam karya yang mereka teliti. Metode yang kerapkali digunakan, selain segala bombasme di endorsement atau blurb adalah dengan menyebarkan gosip, tim pemasaran yang bagus, dan diangkatnya karya tersebut menjadi film atau produk-produk budaya lainnya. Yang terakhir, diskusi-diskusi sastra hanya dipenuhi celaan atau pujian tanpa dasar argumentasi yang jelas. Alasan ketiga ini ikut melatarbelakangi lahirnya tulisanku, walaupun dalam wujud yang sederhana.

    $$$
    Bosman yang baik, mari kita sisir satu per satu novel yang kita bicarakan ini, meski cara menyisirnya tak se-sistematis para kritikus kampus. Pertama soal pandangan secara umum yang kau lontarkan dalam diskusi malam minggu kemarin bahwa novel ini bagus. Aku sepakat denganmu, tapi dengan banyak catatan atas kata bagus tersebut. Aku lebih suka mengatakan novel ini punya potensi untuk menjadi lebih baik dari yang kubaca sekarang ini. Sepanjang membaca novel UTIM, misalnya, aku sangat terpukau dengan aspek sosiologis dan antropologis yang tertuang dalam novel ini. Cara Mahfud Ikhwan memaparkan “Lerok dan penghuninya” menunjukkan bahwa selama lima tahun ia telah bergulat nyaris tanpa henti dengan anak rohaninya ini. Ia tahu betul sisik-melik bahan yang akan ia tuangkan ke dalam ceritanya. Namun justru di sinilah persoalan muncul. Ia kurang bisa menjaga jarak antara dirinya dengan karyanya sendiri. Ketertenggelaman yang begitu dalam pada novel yang ia garap membuatnya gagal untuk melihat karyanya sendiri dari sudut pandang sebagai pembaca. Dan ini memang salah satu problem paling besar yang dihadapi oleh seorang penulis. Dihadapkan dengan data dan fakta sosiologis dan antropologis yang sangat kaya, sang penulis menghabiskan sebagian besar perhatiannya untuk menyusun uraian sosiologis dan antropologis, dan gagap untuk mengekstrapolasikan semua kekayaan bahannya itu menjadi sebuah fiksi yang menarik. Aku bisa melihat sinyalamen itu pada ketangguhan Mahfud dalam membuat deskripsi tentang geografi Lerok, kehidupan agraris yang melatarbelakanginya, dinamika sosialnya selama hampir dua dekade, juga keterperosokan dan kebangkitan desa itu dalam hubungannya dengan soal TKI dan Malaysia. Ambil contoh ketika si penulis ingin mengisahkan kehidupan lerok yang bersandar pada batu gamping. Ia menjelaskan proses pembakaran gamping sampai pada jenis-jenis kayu yang bisa atau tidak bisa dipakai untuk membakarnya, pembuatan jubung, penempatan batu-batu gamping dalam jubung, sampai proses pembakarannya. Porsi untuk menjelaskan proses pembikinan kapur dari hulu sampai hilir ini menghabiskan banyak halaman sehingga pembaca kehilangan ikatan dengan cerita yang sedang diikutinya. Di sini ketangguhan dan kerapatan logika dalam deskripsi itu --sesuatu yang sangat jarang dimiliki oleh penulis kita-- membuat tersedianya sedikit ruang bagi pergulatan internal dan eksternal karakter-karakter yang ada dalam cerita. Atau bisa pula dikatakan begini: ruang bagi pergulatan internal dan eksternal dari karakter-karakter dalam cerita yang sudah mencukupi itu tertutupi oleh hasrat begitu besar dalam diri Mahfud untuk memaparkan kepada pembacanya apa dan bagaimana Lerok itu.

    Padahal kalau kita menelisik pada cara Mahfud membangun karakter tokoh-tokoh dalam novelnya dan dunia yang melingkungi mereka kita menemukan sisi yang menarik dari novel UTIM. Bayangkan, dalam setting sosial-politik Orde Baru, dimana sekolah-sekolah negeri lebih dominan daripada sekolah swasta, ia melahirkan tokoh Ulid (yang menjadi pusat utama novel) yang memiliki latar pendidikan TK swasta dan sekolah dasar sore, lengkap dengan penyuguhan alasan-alasan bahwa sekolah sore lebih memiliki ruang baginya untuk menyalurkan keriangan masa kanak-kanak. Common sense yang selama ini kita terima begitu saja bahwa masyarakat desa hidup dalam ketenangan dan kesederhanaan, misalnya, dinegasikan dengan ketidakpuasan Ulid pada segala yang ia terima dari lingkungannya dan kegelisahannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan tanpa henti di setiap fase hidupnya. Untuk melengkapi keutuhan novel ini sebagai sebuah karya yang menarik ia menciptakan tokoh seperti Tarmidi yang secara formal hanya lulusan sekolah dasar tapi oleh tuntutan-tuntutan lingkungannya bisa duduk sebagai kepala sekolah sore di desa Lerok. Kita bisa melihat tokoh ini sebagai alter ego dari tokoh yang menjadi pusat cerita, Ulid. Dan secara berturut-turut, dengan mengikuti metode penulisan novel yang baik, ia menciptakan tokoh-tokoh seperti Kaswati, Najib, Juwairiyah, dan lain-lainnya sehingga pembaca menemukan gambaran utuh tentang Lerok dan masyarakat yang tinggal di dalamnya, kecepatannya dalam merespons perubahan-perubahan sosial, dan terutama kebangkitan dan kejatuhan para penghuninya.

    Lewat pembentukan karakter dan rangkaian peristiwa dalam UTIM kita bisa menyaksikan ikhtiar literer sang penulis untuk men-subversi realitas keseharian kita. Subversi atas realitas yang disuguhkan dalam UTIM ini akhirnya memicu kita untuk menilai ulang pandangan kita tentang kehidupan desa, bentuk dan proses pendidikan ideal untuk mereka, posisi unik masyarakat desa ketika berhadapan dengan negara, agama, alam, dan isu-isu perubahan sosial yang harus mereka hadapi. Ambil contoh dalam soal posisi tawar antara orang Lerok dan negara. Di awal cerita kita disuguhkan betapa berkuasanya negara lewat representasi sinder hutan yang bisa menentukan hidup mati atau bebas dan terpenjaranya penduduk Lerok seperti Tarmidi. Saat rombongan sinder memeriksa jubung-jubung di Lerok untuk mencari tahu apakah penduduk mencuri kayu dari hutan-hutan pemerintah, Tarmidi dan Ulid merasakan kaki mereka gemetaran dan jantungnya berdegup tak menentu akibat ancaman penjara yang siap-siap menawannya. Namun ketika Malaysia menjadi solusi bagi kesulitan-kesulitan hidup penghuni Lerok --meski pun mereka harus membayar resiko-resiko tertentu akibat pergi ke sana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya—mereka menemukan kemandirian dirinya dan merespons kuasa kuat negara yang seolah menentukan hidup dan mati mereka dengan membangun jalan dan masjid dengan biaya sendiri atau mengkritik lambatnya pembangunan fasilitas-fasilitas umum yang menjadi tanggungjawab negara. Untuk membangun masjid desa Yamin tak perlu meminta bantuan pemerintah, tapi langsung naik pesawat ke Malaysia dan mengumpulkan dana dari orang-orang Lerok yang tinggal di sana. Penghuni Lerok mengejek betapa mudah sebenarnya aparat pemerintah disuap untuk memenuhi keinginan mereka lewat percakapan diamnya aparat pemerintah ketika ditampar dengan ringgit Malaysia.

    Penciptaan karakter dan rangkaian peristiwa menarik dalam novel ini, sayangnya, justru tersamarkan oleh berlarat-laratnya deskripsi atas dunia imajinasi yang dibentuk oleh sang penulis. Barangkali Mahfud ingin menjustifikasi keshahihan penciptaan karakter dan dunia dimana karakter2xnya hidup serta berkembang itu lewat deskripsinya yang berlarat-larat. Tapi resepsi pembaca, dalam hal ini aku sendiri, justru menyimpang dari harapan penulis. Usahanya yang patut dihargai ini justru bersifat kontra-produktif bagi pembaca novelnya. Aku sendiri merasakan kebosanan tak terkira dengan apa yang kamu sebut sebagai ‘kerapatan logika.’ Masih dalam kerangka konseptual logika besar dan logika kecilnya James Scott, bisa saja kukatakan bahwa Mahfud tidak secara efisien memanfaatkan logika-logika kecil dalam kisahannya untuk mendukung logika besar yang dibangunnya. Di bab 1 sampai bab 3, misalnya, aku merasa sang penulis terlalu ingin menjelaskan banyak hal agar logika besarnya tampak meyakinkan. Cara pandang sang penulis terhadap alam pikir anak-anak yang termanifestasi lewat tokoh Ulid, terutama pada ketidakmampuan Ulid untuk memahami dunia orang dewasa dan kebutuhan mendesak Ulid kecil untuk dipahami oleh orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya tidak jarang menunjukkan simpati vulgar sang penulis pada tokoh anak-anaknya ini. Hal ini sangat mungkin berasal dari kurang luwesnya sang penulis dalam memasuki, memahami atau mendeskripsikan alam pikir anak-anak dalam tulisannya. Kelemahan-kelemahan ini berkurang drastis di bab 4 sampai bab 5, justru ketika tokoh cerita memasuki masa remaja hingga masa dewasanya, dengan persoalan-persoalan eksistensial masing-masing tokoh serta latar atau ruang sosial yang lebih mudah dicerna serta dituangkan oleh sang penulis dalam novel.

    Penjelasan di atas membawa kita pada kesimpulan yang agak menyakitkan: Dunia fiksi hanya menjadi kaki atau penopang bagi sosiologi atau antropologi atau bidang-bidang ilmu yang secara tak langsung dipaparkan oleh Mahfud dalam novelnya. Isyarat paling jelas dari kesimpulan di atas adalah kegagapan mahfud untuk mengaduk deskripsi dan percakapan hampir di sepanjang novel. Aku tak memungkiri keluwesan sang penulis dalam membuat percakapan menarik. Namun ‘terlalu kecilnya’ porsi percakapan di satu sisi dan terlalu besarnya porsi deskripsi dinamika pikiran dan latar cerita di dalam keseluruhan novel ini makin menguatkan ketidakberdayaan fiksi atas hal-hal di luar dirinya.

    $$$
    Bosman yang baik, setelah menyelesaikan pembacaanku atas novel UTIM karya Mahfud Ikhwan ini, aku teringat dengan karya Romo Mangun dan yang malam minggu kemarin juga kita bicarakan: Burung-Burung Menyar. Dalam kasus Burung-Burung Manyar, fiksi menjadi kaki dari uraian sejarah tentang nasion building Indonesia selama hampir tiga dekade dan suara atau pandangan moral Romo Mangun sebagai seorang Pastor dalam soal-soal kemanusiaan di negeri ini. Meski pun intensitas dalam pendeskripsian Mahfud atas latar dan ruang sosial yang membentuk karakter-karakter dalam ceritanya jauh lebih kaya daripada yang dilakukan Romo Mangun, namun posisi dunia fiksi sebagai penopang dari dunia sejarah, sosiologi atau antropologi tak terbantahkan.

    Agar melihat novel ini dalam posisinya yang lebih jelas, kita mungkin bisa membandingkannya dengan novel Ahmad Tohari yang sangat jempolan, Ronggeng Dukuh Paruk. Deskripsi Mahfud tentang Lerok dengan hutan dan berbagai jenis kayu yang tumbuh di dalamnya, bengkuangnya, kapur dan jubungnya, musik dangdut, dan terutama soal TKI dan Malaysia tak kalah dengan deskripsi Tohari tentang Paruk, alam Paruk dan sekitarnya yang detil lewat berbagai jenis tanaman, satwa-satwa, dan terutama kehidupan ronggeng-nya. Yang menjadikan karya Tohari lebih mudah dibaca adalah karena ia menempatkan seluruh bahan-bahan sejarah, sosiologi dan antropologi pedesaan serta ilmu tanaman dan satwanya sebagai kaki-kaki yang siap melayani kepentingan dunia fiksi yang ingin ia suguhkan kepada pembacanya.

    Kontras ini terasa di bagian pertama (Ulid Asyik Bermain) hingga ketiga dari novel ini (Ulid Masih Ingin Bermain), ketika si penulisnya ingin menempatkan karakter-karakter dalam cerita dalam setting ruang naratif yang ia bangun. Diperlukan seorang pembaca penyabar untuk mengikuti detil deskripsi penulisnya tentang latar cerita sebelum sang pembaca mendapatkan apa yang sebenarnya ingin dikisahkan oleh sang penulis. Terlalu asyiknya sang penulis cerita untuk menjelaskan sesuatu hal, meski ia menyuguhkan penjelajahan pada ruang-ruang kemungkinan dari sesuatu yang ia paparkan tersebut, membuat efek dramatik yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah karya sastra menguap.

    Untuk melihat problem penulisan UTIM ini menjadi lebih luas, aku akan menyinggung sedikit novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Aku sudah banyak lupa dengan novel ini. Tapi novel ini bisa menjadi poros lain dari posisi UTIM sebagai sebuah novel setelah kita melihat sekilas Ronggeng Dukuh Paruk dan Burung-Burung Manyar. Alasanku menyebut sekilas Tarian Bumi adalah karena kekurangan dalam novel ini bisa ditutupi dengan apa yang dimiliki dalam novel UTIM. Oka Rusmini terjebak pada pembangunan karakter dan dinamika cerita yang cepat. Akibatnya efek dramatik dalam novel Tarian Bumi yang ia tuliskan tak memiliki kaki-kaki cukup kuat, terutama pada kedalaman eksplorasi pandangan hidup patriarkhi masyarakat Bali, sistem kasta yang menaunginya, dan dunia tari di Bali yang dijelaskannya dengan selayang pandang. Membaca Tarian Bumi menyisakan kejengkelan dalam diriku justru karena novel ini punya potensi tak kalah hebat dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Kalau saja Oka Rusmini mau sabar mengolah novel yang sering kusebut sebagai ‘draf novel’ itu, dengan mengeksplorasi lebih jauh tokoh-tokoh dan rangkaian cerita yang ia ciptakan, terutama dengan mengandalkan bahan dan pemahamannya tentang masyarakat Bali, kita mungkin bisa menikmati Tarian Bumi layaknya kita menikmati Pasar karya Kuntowijoyo dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Yang kurang dalam novel Tarian Bumi ini justru berlebihan dalam novel UTIM karya Mahfud. Kalau yang satu melahirkan perasaan geregetan karena miskinnya eksplorasi ruang-ruang ceritanya, sedangkan yang kusebut terakhir membosankan karena terlalu eksplorasinya terlalu berlebihan.

    $$$
    Bosman yang baik, aku ingin mengajakmu kembali pada posisi seorang penulis ketika berhadapan dengan karyanya. Kutulis tentang posisi ini berkaitan dengan terlalu mudah letihnya penulis kita dalam mematangkan karya yang ia garap. Seperti yang kukatakan di awal, karya Mahfud ini punya potensi besar untuk menjadi karya yang bagus dan enak dibaca. Aku lebih suka berkata begitu dengan satu pandangan bahwa penerbitan sebuah karya bukan akhir dari karya itu dan menutup pintu bagi disentuhnya kembali karya itu agar memperoleh bentuk baru. Sejarah sastra kita memang tak mengajarkan kesabaran dalam menggarap karya sampai menemukan bentuk matangnya.

    Mari kita tengok sejarah lahirnya beberapa karya para penulis dunia untuk menjadi pembanding bagi sejarah lahirnya karya-karya para penulis kita. Kita tentu akan memiringkan mulut saat tahu War And Peace karya Tolstoy diedit sampai 125 kali sebelum Tolstoy merasa karyanya cukup baik untuk diterbitkan –dan karena kerewelannya ini membikin Tolstoy kerapkali bertikai dengan istrinya yang menjadi juru ketik dari novelnya. Kita juga akan tak mudah percaya kalau Finnegan’s Wake baru bisa diselesaikan Joyce setelah 18 tahun ia garap dengan susah payah. Dan kita dengan mudah menyepelekan kenapa Kawabata mesti mengedit novel-novelnya di sepanjang hidupnya meski telah diterbitkan. Akhirnya, di jaman Romawi kuno kita disuguhi keputusasaan Virgil yang terus menerus mengedit karya besarnya sehingga hampir saja karya itu menjelma abu kalau tak ditahan oleh Kaisarnya. Dunia Barat mewarisi sisa keputusasaan Publius Virgilius itu dalam wujud Aeneid yang mereka puja-puja sebagai warisan sastra terbesar bangsa Romawi.

    Yang ingin kusampaikan sebenarnya adalah betapa pentingnya seorang penulis menguji kembali apa-apa yang ia tuliskan, sampai sejauh mana kisahnya itu memenuhi standar bagus bagi dirinya sendiri dan orang lain, dan kemauannya untuk mendengar pendapat orang lain akan novelnya. Dan bagian terakhir inilah yang paling susah diterima oleh penulis. Hal ini terutama disebabkan oleh besarnya ego dalam dirinya bahwa karyanya itu harus lahir dari dirinya sendiri sehingga sentuhan atau pandangan orang lain atas karyanya dianggap akan mengurangi keutuhan kerja kerasnya secara literer. Kebiasaan kita membicarakan sesuatu yang kita inginkan memang membuat kita susah mendengar dan melihat sesuatu yang tidak kita inginkan. Dan sejarah sastra, dimana pun tempatnya, telah menghamparkan kita tragedi-tragedi berkenaan dengan hal terakhir itu. Betapa banyak novel yang punya potensi menjadi sangat bagus akhirnya hanya menjadi dokumen sosial dan lebih menarik dibaca oleh peneliti ilmu-ilmu sosial, antropologi, sejarah, psikologi, dan bidang-bidang di luar sastra daripada dibaca sebagai sebuah karya sastra. Apa yang dikatakan oleh Hatib Abdul Kadir tentang ketertarikan para peneliti KITLV atas novel-novel islami kita menguatkan sinyalamen yang kuutarakan di atas.

    Sepanjang mengikuti novel ini dari awal sampai akhir, dalam benakku selalu muncul keinginan untuk mengedit atau merampingkannya. Tentu saja keinginan ini muncul karena aku juga seorang penulis cerita. Dan siapa penulis cerita yang tak gatal tangan ketika menghadapi karya yang menurutnya belum mencapai bentuk ideal? Dengan mudah orang akan berkata bahwa aku sok tahu dan orang yang merasa paling bisa mengkomposisikan sebuah novel bagus. Namun sebenarnya bukan itu poinnya. Aku selalu terusik membayangkan apakah Mahfud tak memiliki kegelisahan untuk mengedit kembali novel pertamanya ini. Dengan perkembangan pengetahuan dan kesadarannya berkaitan dengan dunia penulisan cerita, aku yakin Mahfud melihat betapa tidak efisiennya novel UTIM yang telah dirautnya selama lima tahun. Pembayangan ini membawaku pada kemungkinan Mahfud untuk mendengar opini berbagai pihak tentang novelnya dan mengedit novelnya setelah memeroleh berbagai masukan dari orang lain, meskipun sebagai seorang penulis ia memiliki kecenderungan untuk tak mau direcoki oleh orang lain.

    Sekali lagi, sebagai pembanding dari kasus Mahfud, aku ingin menyuguhkan beberapa kasus perihal intervensi orang lain dalam kerja kreatif seorang penulis. Di Amerika, saat John Grisham meluncurkan novel The Client, publik pembaca novel populer itu merespons-nya dengan baik. Menurut beberapa pihak, novel itu laku lebih dari 2 juta eksemplar. Kita tak membayangkan betapa di luar faktor laris manisnya novel itu, tersimpan kisah tentang betapa tajamnya pisau pisau editor karya Grisham tersebut. Grisham, dalam suatu wawancara mengakui bahwa draf novel itu dua kali lipat dari novel yang ada di tangan pembacanya. Sang editor dan sang penulis bergulat dan saling mempertaruhkan argumentasi kenapa sebuah bagian cerita harus dipotong, kenapa deskripsinya harus dikurangi, kenapa perlu memasukkan hal-hal baru dalam cerita yang telah ditulis oleh sang penulis dengan susah payah. Hanya dengan menyadari bahwa tulisannya bukan sebuah kerja tunggal sajalah yang membuat seorang penulis mau menerima masukan orang lain. Itu tak berarti sang penulis menyerahkan semua otoritasnya atas kisah yang ia tulis pada editor. Dalam kerja editingnya, sang editor lebih ingin menempatkan karya yang dieditnya secara lebih realistik, dengan logika cerita yang tepat, dan usahanya untuk mendekatkan karya sesusah apa pun pada publik pembaca yang sangat beragam.

    Hal yang sama terjadi pada Hemingway. Ringkasnya novel The Old Man and The Sea ternyata menyisakan cerita ketajaman pisau editor. Kita mungkin tak pernah membayangkan penulis sekaliber Hemingway, yang memiliki metode penulisan paling efisien, yang tahu betul kerja ekonomi kata-kata dalam fiksi yang ia ciptakan, mesti berhadapan dengan pisau tajam editor yang mengerikan. Kalau contoh Grisham bisa diabaikan karena karyanya adalah novel-novel populer, contoh Hemingway ini menunjukkan bahwa editor bisa beroperasi pada ruang-ruang privat para penulis fiksi serius. Kisah tentang keganasan para editor ini melahirkan kisah tak enak pada diri Paul Theroux. Beberapa bulan setelah ia meninggal, anaknya menuliskan masa-masa depresi yang dialami oleh Paul Theroux setelah draf novelnya selesai dan telah berada di tangan editor. Tak tanggung-tanggung, kisah tentang mas depresi Theroux, kebiasaannnya mengkonsumsi obat penenang, dan konsultasinya dengan psikolog itu tertuang di salah satu majalah sastra prestisius Amerika Serkat, The New Yorker.

    Naah, berkenaan dengan Mahfud, aku kira agar novel UTIM menemukan bentuk barunya yang lebih menarik sang penulisnya harus menemukan editor yang tepat. Dan berhadapan dengan editor semacam itu, ia mesti siap-siap berkelahi untuk menemukan bentuk terbaik bagi novelnya tersebut.

    $$$
    Bosman yang baik, setelah kita membicarakan aspek-aspek internal novel UTIM karya Mahfud Ikhwan ini, mari kita menginjak pada pembicaraan tentang posisi UTIM dalam setting sastra Indonesia masa kini. Aku tak memiliki kesengajaan untuk melakukan politisasi atas novel ini dalam politik kanonisasi sastra Indonesia seperti yang ditudingkan oleh beberapa pihak atas kelompok-kelompok semacam Balai Pustaka di masa lalu dan Utan Kayu atau Gramedia di masa kini. Namun uraianku ini secara langsung atau tidak langsung juga akan menuding mereka sebagai salah satu biang keladi dari terabaikannya novel ini dalam pembicaraan sastra Indonesia sejak ia diterbitkan. Lepas apakah nanti novel ini akan diterbitkan dalam bentuk dan isi yang sudah direvisi kembali oleh penulisnya atau seperti yang ada sekarang, aku ingin melihat spirit novel ini yang layak dikedepankan pada publik pembaca dan menjadi perbincangan bukan hanya secara literer namun juga dalam hubungannya dengan bidang-bidang kehidupan yang lain. Dari titik berangkat ini kita bisa menjadikan novel UTIM sebagai salah satu referensi dalam memandang persoalan-persoalan yang melilit kita sekarang.

    Berkenaan dengan pendapatmu bahwa UTIM bisa menjawab kegelisahan Ahmad Tohari berkenaan dengan sedikitnya novel berlatar pedesaan dalam satu dekade terakhir, aku bisa mengamininya sepenuhnya. Tentu saja yang disasar Tohari adalah novel yang berkisah tentang dunia pedesaan dengan kualitas yang bagus. Sebab kalau kita membicarakan gambaran umumnya, terutama ketika kita memasuki toko buku, ada cukup banyak novel yang berkisah tentang dunia pedesaan. Dari cara Mahfud menulis novelnya, kita bisa pula melihat dimensi lain dari perubahan sosial masyarakat desa yang tidak kita temukan saat membaca Pasar karya Kuntowijoyo. Keunikan novel Pasar Kuntowijoyo adalah karena ia bisa menjadi penanda yang baik tentang terjadinya perubahan sosial masyarakat pedesaan Jawa ketika rezim politik Orde Baru mulai menancapkan kuku kekuasaannya diikuti di samping kuku kekuasaan pasar (kapitalisme?). UTIM membuka peluang lain dari terjadinya perubahan sosial masyarakat desa. Bukan oleh arahan negara seperti yang digambarkan secara tersirat oleh Kunto dalam novelnya, bukan oleh modal yang datangnya dari dalam negeri, tapi oleh peristiwa migrasi dan penghancuran batas-batas geografis imajiner sebuah negara dan modal yang berasal dari suatu tempat yang jauh dan di luar batas geografis imajiner tersebut.

    Di tengah gempuran produk sastra urban yang memenuhi dunia sastra kita, keberadaan novel ini memang bisa menemukan posisinya yang kuat dalam sastra Indonesia kontemporer. Ini sama menariknya ketika Fahruddin Nasrullah menerbitkan kumpulan cerpennya yang unik meski tak mendapatkan sambutan yang baik pula dari publik pembaca kita yang miskin informasi karya-karya sastra yang baik meski facebook dan berbagai media social telah menjadi menu wajib hampir anak-anak muda dan kalangan terdidik di negeri ini. Tantangannya terletak pada bagaimana berbagai karya sastra berlatar pedesaan yang memiliki kualitas bagus ini memeroleh posisi yang layak di hadapan rezim politik kanonisasi sastra yang tak mau membuka mata dan telinga terhadap kritik dari luar diri mereka. UTIM karya Mahfud Ikhwan dan Syeh Bejirum dan Rajah Anjing karya Fahruddin Nasrullah bisa dikedepankan untuk memberi alternatif segar dari membanjirnya karya sastra urban yang tak menunjukkan perkembangan berarti. Pendapat ini pun tanpa diboncengi tendensi untuk melakukan romantisasi terhadap desa dan kehidupan yang berpusar di dalamnya sebelum memperoleh sentuhan-sentuhan akibat hubungannya dengan modernisasi dan penyingkapan batas-batas kultural yang kacau-balau.

    Yang terakhir, soal arti penting novel UTIM bagi ilmu-ilmu sosial lainnya, aku sepakat sepenuhnya denganmu. Para sosiolog, ekonom, sejarawan, antroplog, dan ilmuwan-ilmuwan sosial lain serta mahasiswa humaniora bisa menjadikan novel UTIM ini sebagai salah satu sumber penelitian mereka yang luar biasa. Seperti yang telah kuungkapkan di atas, kecermatan sang penulis dalam meneliti dan menuangkan bahan-bahan yang menjadi sumber ceritanya justru lebih menarik ditanggapi oleh para ilmuwan sosial di luar sastra. Berharap para peneliti sastra kita tertarik dengan novel ini kukira perlu kerja keras lebih dari penulis, penerbit, dan orang-orang yang menikmati novel ini dan menuliskan catatan-catatan kecilnya.

    $$$
    Bosman yang baik, kurasa apa yang ingin kusampaikan perihal novel UTIM karya Mahfud Ikhwan telah tertuang dalam tulisan ini. Aku tak tahu apakah tulisan yang lumayan panjang ini akan membosankan atau tidak bagimu. Tapi inilah sebagian yang ada di kepalaku yang berhasil kutuangkan sehubungan dengan novel ini. Kita bisa melanjutkan perbincangan kita selanjutnya, baik lewat tulisan atau lewat diskusi langsung. Tapi aku senang karena sekarang aku bisa melayani kecerewetan dan keisenganmu untuk melibatkan aku dalam perbincangan tentang novel ini. Sekali lagi kukatakan, novel UTIM karya Mahfud Ikhwan ini bagus dengan banyak catatan. Ada beberapa hal yang kukira bisa disyukuri dari kegagalan novel ini dalam pemasarannya sejak tahun 2009 silam. Di samping hal-hal yang kupaparkan di atas, aku ingat dengan tradisi sastra Amerika yang bisa dimodifikasi di sini. Setelah Capote memulai penulisan buku In Cold Blood, ia menguji penerimaan publik atas karyanya itu lewat acara pembacaan potongan draf bukunya. Dari sana ia dan penerbitnya bisa memperkirakan apakah bukunya nanti bisa diapresiasi publik dengan baik atau tidak.

    Berkenaan dengan penerbitan novel Mahfud 3 tahun lalu, kita bisa menganggap penerbitan pertamanya itu sebagai bagian dari “publik hearing” dan upaya penjaringan opini pembaca atas novelnya. Mengingat setelah karya diterbitkan ia tak suci terhadap perubahan-perubahan di dalamnya, setelah menerima beberapa respons dari pembaca, kukira Mahfud bisa memikirkan ulang apakah ia akan melakukan beberapa perubahan terhadap novelnya atau tidak. Itu pun sepanjang penulisnya siap membuka kemungkinan lain dari novelnya tersebut. Kalau kemungkinan lain dari bentuk baru novel UTIM tak bisa diterima oleh si penulisnya, itu juga tak apa. Apa yang kutuliskan di sini hanyalah suara pembaca atau penikmat. Dan pembaca atau penikmat, selain mengkritik apa yang telah dibacanya, hanya bisa berharap atau mengandaikan sesuatu yang lain, tak bisa lebih dari itu.

    Yogyakarta, 20 November 2012
    NB: Ulasan atas novel UTIM ini sengaja tanpa ringkasan dari novel tersebut. Untuk keperluan terhadap ringkasan ini silahkan lihat catatan Bosman Batubara atau ulasan Indi Aunullah.


    | Link | Dibaca 2527 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak