Ke Atas ^
  • Wacana Mimikri Hijo pada Karya Mas Marco Kartodikromo Student Hijo (1918)

    Wacana Mimikri Hijo pada Karya Mas Marco Kartodikromo

    Student Hijo (1918)

    Oleh : Alwi Atma Ardhana

     

    Pengantar

                Student Hijo ditulis Mas Marco ketika ia dalam tahanan Belanda. Novella ini pertama kali terbit pada harian Sinar Hindia tahun 1918. Setahun setelahnya, yakni tahun 1919, novella ini diterbitkan kembali dalam bentuk buku. Setelah penerbitan buku ini, kembali Mas marco diajukan ke sidang.

                Sejak awal diterbitkannya novella ini, pihak Kerajaan Belanda sudah menganggap bahwa cerita yang terkandung dalam novella ini berbahaya. Hal tersebut dibuktikkan dengan kenyataan bahwa Mas Marco diajukan kembali ke pengadilan putih. “Bahaya”-nya novella ini terbukti dengan tidak pernah diterbitkannya ia melalui penerbitan kolonial saat itu, Balai Pustaka (BP). Saat itu, BP menjadi acuan utama karya sastra Hindia. Karya-karya yang diterbitkan BP adalah karya-karya yang dianggap layak untuk konsumsi khalayak umum. Sedangkan, karya-karya di luar BP dianggap “bacaan liar” (istilah yang digunakan oleh Ajip Rosidi).

    Umumnya, permasalahan yang menyebabkan sebuah karya tidak masuk jajaran BP adalah bahasa dan tema. BP tidak akan menerbitkan karya-karya yang, semisal, mengangkat tema pernyaian, walaupun pernyaian adalah asli produk kolonial dan merupakan praktek yang wajar dilakukan saat itu. Dari segi bahasa, seperti dicatat oleh Ibnu Wahyudi pada akat pengantar buku Kesusastraan Melayu-Tionghoa, bahwa adalah keputusan BP untuk hanya menerbitkan karya yang menggunakan bahasa melayu tinggi sebagai bahasa yang diakui oleh pihak kolonial (2001: XXVI). Apabila dilihat dari dua segi ini, Student Hijo berada di tengah-tengah dua standar yang diterapkan oleh BP; Student Hijo tidak mengangkat tema seputar pernyaian, akan tetapi memang dituliskan dengan bahasa Melayu Pasar. Namun, apakah karena memang karena perihal bahasa ini Mas Marco diajukan ke pengadilan putih? Jawabannya jelas “tidak!”. Jawaban (tebakan) terdekat atas hal tersebut adalah cerita di dalam novella ini menganggu stabilitas kekuasaan penjajahan saat itu. Di sampul belakang Student Hijo terbitan Yayasan Aksara dituliskan bahwa novella ini dianggap berbahaya karena ia berani secara vulgar “mengkontraskan kehidupan di Hindia Belanda dan Netherland”.

    Bagaimana lebih tepatnya Student Hijo ini mengganggu stabilitas kekuasaan penjajahan? Sisi mana dari novella yang hanya bercerita tentang kisah cinta sekelompok orang ini yang membuat penulisnya dikirim untuk ke sekian kalinya ke penjara? Tulisan ini akan sedikit mencari jawabannya.

     

    Representasi, Wacana dan Mimikri

                Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah pasca-kolonialisme. Karena begitu luasnya pendekatan ini, saya hanya akan membatasi diri dengan mengulas masalah representasi dalam karya sastra ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, “[b]aik dalam penaklukkan maupun penjajahan, teks dan tekstualitas memainkan peranan penting” (Aschroft (ed): 1995: 86). Bagaimana itu terjadi? Edward Said menelusuri bagaimana kekuasaan bermain dalam teks dengan mengikuti nalar yang disajikan Foucault. Dalam nalar power/knowledge Foucaultian, setiap wacana selalu membawa kekuasaan karena ia lahir dari sebuah relasi kekuasaan. Di awal bagian kedua (Hipotesis Represi) dari bukunya yang terkenal (Sejarah Seksualitas bagian pertama), Foucault menulis bagaimana “untuk menguasainya (seks-pen) sebagai realitas, pertama-tama kita harus membatasinya pada tataran bahasa, membiarkannya bebas namun terkendali dalam wacana” (Foucault: 33: 2008).        Dalam pada itu Said menelurkan teori orientalisme-nya yang mana ia menganggap bahwa Timur “adalah temuan Eropa” (Ashcroft: 87: 1995). Lebih jauh, Said menganggap bahwa “Orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi, menyusun-ulang, menguasai si Orient” (Ashcroft: 88: 1995). Usaha pendominasian ini dilakukan tidak lain dengan menyusun sejumlah wacana dalam teks-teks kolonial yang mana kemudian teks-teks hasil pewacanaan ini dilemparkan kembali (melalui pendidikan) pada Orient dan teks-teks tersebut “membiarkannya (Orient-pen) bebas namun terkendali”. Dengan kata lain, teks-teks Orientalis memenjarakan Orient dalam wacana Orientalisme yang sesungguhnya adalah ide Barat tentang Orient. Semua gerak-gerik Orient seakan-akan telah diprediksi oleh Barat.

    Penemuan teori Said ini dicapai dengan mempelajari banyak representasi-representasi Orient pada teks-teks Barat, khususnya karya sastra. Representasi menjadi kata kunci penting dalam teori Said karena setiap representasi selalu membawa wacana yang mana selalu lahir dari relasi kekuasaan. Student Hijo juga tak lepas dari kerangka berpikir itu. Ia membawa representasi tertentu. Yang berbeda adalah kali ini Orient menulis tentang dirinya sendiri; mengingat Mas Marco adalah bagian dari orient. Bagi saya, representasi orient dalam novella ini berbeda dengan representasi kolonial pada zaman itu. Inilah, asumsi saya, yang membuat novella ini dianggap berbahaya oleh kekuasaan kolonial (walaupun saya tidak yakin pembacaan pihak penjajah mencapai pembacaan ini).

    Jadi wacana apa yang sesungguhnya dibawa dalam representasi orient di Student Hijo? Yang paling kentara dalam novella ini adalah wacana tentang mimikri yang termaktub dalam tokoh Hijo. Homi Bhabha menyebut mimikri sebagai “sebuah hasrat untuk menjadi Liyan yang telah dirombak dan diakui, sebagai subyek dari sebauh perbedaan yang serupa tapi tak sama. Dengan kata lain, mimikri dibangun dalam sebuah kemenduaan (ambivalensi)” (Bhabha: 122: 2007). Kemenduaan yang dimaksud Bhabha adalah misi Pencerahan Barat pada Timur. Jargon Barat atas penjajahan adalah misi pemeradaban (civilising). Akan tetapi, proses pemeradaban ini, seperti dicatat Bhabha pada bagian lain dari esai ini, berjalan parsial (setengah-setengah) karena Barat tidak ingin benar-benar menciptakan sesuatu yang benar-benar seperti mereka. Pada sebuah naskah kolonialis yang ditulis Macaulay dalam konteks India, demi berjalannya struktur penjajahan, melalui pendidikan, penjajah harus menciptakan sekelompok orang yang “berdarah India...namun sangat Inggris dalam opini, moral dan intelektualitasnya” (Bhabha: 123: 2007). Artinya, sekelompok orang asli harus didisiplinkan untuk menjadi seperti Barat, namun tidak sepenuhnya. Mereka, sekelompok orang asli tersebut, hanya diberikan sedikit. Di titik setengah-setengah inilah perlawanan atas wacana kolonial terjadi. Mimikri menghasilkan identitas yang tidak diduga-duga oleh wacana kolonialis karena ia “selalu memunculkan sebuah identitas yang berbeda dari para penjajah” (Ashcroft: 141: 1998). Ini adalah hasil dari pemotongan ide Barat dalam pendidikan yang diterima orang-orang peniru (mimic men) ini. Karena ke-setengah-setengah-an ini, mereka malah menjadi semacam parodi (mockery) atas para penjajah dan ini adalah sesuatu yang tidak dapat dikontrol oleh wacana kolonial. Dan parodi ini adalah bagian dari sesuatu yang disebut Bhabha sebagai “double vision”; dua hal ditunjukkan dalam mimikri yaitu kemenduaan relasi kolonial dan gangguan atas struktur kekuasaan kolonial.

     

     

     

     

    Analisis

     

    a. Bahasa Belanda di Jawa

                Pada analisis bagian pertama ini, saya akan fokus ke permasalahan bahasa yang digunakan Hijo. Dari semua percakapan Hijo dengan siapapun, baik orang Belanda maupun Jawa, dapat dengan mudah diketahui bahwa Hijo sangat mahir berbahasa Belanda. Kemahirannya itu ia dapatkan pendidikannya selama di H.B.S. Di sekolah tersebut, sesuai dengan keinginan Raden Potronoyo, Hijo dididik untuk menjadi pegawi pemerintahan dan karena bahasa yang dipakai di pemerintahan adalah bahasa Belanda, maka ia dididik dengan bahasa Belanda.

    Kembali ke atas, pendidikan yang dilalui Hijo mirip dengan cerita di teks Macaulay pada buku Bhabha. Ia dididik untuk menjadi ‘penghubung’ antara orang asli (orang Jawa pada kasus Hijo) dengan pemerintah kolonial. Dengan kata lain, Hijo telah melalui sejumlah proses ‘pemeradaban’ selama masa studinya di H.B.S. dan ini yang membuatnya menjadi ‘Liyan yang telah dirombak’ (seperti para penerjemah India di buku Bhabha). Singkatnya, Hijo telah melalui proses mimikri. Bahkan, lebih jauh, bagi saya, Hijo telah melakukan perlawanan, dengan mem-parodi-kan, atas struktur penjajahan.

    Kita lihat bahwa Hijo dengan kelarganya dan orang-orang Jawa di sekitarnya sering menggunakan istilah-istilah Belanda. Sebagai contoh, pada Raden Ajeng Biru, Hijo sering menggunakan istilah “Zus” ketika memanggilnya, atau menyebut Biru dengan “lieve” kala memujinya. Di waktu-waktu lain, pada aktifitas sehari-hari, Hijo juga sering menggunakan istilah-istilah Belanda. Ini adalah parodi dari pendidikan yang diterima Hijo. Yang diinginkan pihak kolonial adalah bahasa ini digunakan untuk keperluan resmi pemerintahan. Apabila ditarik ke kerangka berpikir yang lebih luas, bahasa Belanda ini adalah bahasa kekuasaan; satu set tanda yang asing dan mewakili kekuasaan asing pula. Dengan mempelajari bahasa ini, apalagi di institusi pendidikan kolonial macam H.B.S., seharusnya Hijo menggunakan bahasa ini dalam ranah kolonial pula (pemerintahan). Namun yang terjadi, di ranah keseharian Hijo juga menggunakan bahasa penguasa ini. Bahasa Belanda dikarenakan penggunaanya dalam keseharian oleh Hijo tidak lagi menjadi satu tanda yang melambangkan kekuasaan. Pengunaan ini menurunkan derajat bahasa Belanda dalam tatanan masyarakat kolonial. Perlawanan, melalui parodi, semacam inilah yang disebut Bhabha sebagai sebuah “double vision” dalam mimikri; Hijo melalui penggunaan bahasa Belandanya adalah sebuah penyingkapan atas kemenduaan proses penjajahan sekaligus gangguan atas mitos-mitos seputar bahasa Belanda, sebagai bahasa kekuasaan.

     

    b. Bahasa ‘Belanda’ di Belanda

                Pada bagian kedua analisis ini, saya masih berfokus pada masalah bahasa Belanda yang digunakan Hijo. Yang berbeda kali ini latar tempatnya adalah Belanda. Ternyata parodi Hijo atas struktur kekuasaan kolonial tidak hanya terjadi di Jawa, namun juga di tanah asal para penjajah.

                Bagi saya, bahasa Belanda yang dipelajari Hijo di H.B.S. berbeda dengan bahasa Belanda di negeri Belanda. Seperti sudah saya singgung di atas bahwa bahasa Belanda di tanah jajahannya (Hindia) adalah satu set tanda atas kekuasaan kolonial; sebuah bahasa yang lebih beradab. Sedangkan, bahasa Belanda yang digunakan orang Belanda di Belanda hanyalah satu set tanda yang melaluinya mereka berkomunikasi. Jadi ada dua bahasa Belanda. Itulah kenapa saya meletakkan dua tanda petik di antara kata Belanda yang pertama di judul sub-bagian ini.

                Hijo adalah orang yang belajar bahasa Belanda (dalam pengertian sebagai satu set tanda kekuasaan), namun kemudian menggunakannya di dalam nalar bahasa Belanda yang hanya berlaku sebagai media komunikasi biasa. Karena kemampuan berbahasa Belandanya yang meyakinkan, dan kali ini dibantu dengan pengetahuannya tentang adat istiadat Belanda, Hijo memasuki sebuah ranah berbahasa Belanda yang egaliter. Di tanah Belanda, ia dianggap setara dengan semua penduduk Belanda karena ia mampu berbahasa Belanda. Di Jawa, ketika Hijo berbicara dengan orang Belanda sudah dapat dipastikan ia harus memberi hormat. Dalam struktur kekuasaan kolonial, itulah yang harus dilakukannya dengan bahasa Belandanya.

                Di setiap percakapan Hijo dengan siapa saja ketika ia berada di Belanda, tidak terdapat ‘rasisme’ seperti yang ia mungkin terima apabila ia bercakap-cakap dengan seorang Belanda. Di ‘s-Gravenhage, dengan bahasa Belandanya kemungkinan menjalin hubungan secara setara lebih memungkinkan daripada di Hindia. Ini jelas tidak sesuai dengan latar belakang pembelajarannya di H.B.S. karena di sekolah tersebut bahasa Belanda, seperti di atas, dipelajari guna digunakan agar sewaktu menjadi pemerintah kolonial ia mampu melakukan tugasnya dengan baik. Di ‘s-Gravenhage, ia menggunakan bahasa Belandanya dengan nalar yang berbeda, tidak hanya karena tidak berhubungan dengan kepegawaian ataupu pemerintahan, namun karena tidak adanya nalar penjajah-dijajah. Kejadiannya mungkin berbeda apabila keluarga Piet pernah tinggal di Hindia karena mereka jelas sudah memiliki pemikiran berbeda tentang orang Jawa, namun, yang jelas, karena nalar bahasa Belanda yang berbeda ini Hijo dan bahasa Belandanya mampu membangun kesetaraan.

                Gangguan atas struktur kekuasaan kolonial terletak pada kesetaraan ini. Penjajahan, secara sederhana, dapat dikatakan dibangun di atas sistem yang rasis yang mana satu ras dipandang lebih tinggi dari yang lain. Nah, dengan kenyataan bahwa Hijo mampu menyetarakan dirinya dengan orang Belanda (di Belanda) dengan hasil pendidikan Belanda-nya (di Hindia), tentu ini adalah sebuah perlawanan khas mimikri lagi yang kita temui di diri Hijo.Pihak pendidik Belanda hanya mengajarkan bahasa Belanda agar mereka (orang asli) mampu ikut menggerakkan tatanan kolonial, akan tetapi, tanpa diduga-duga, bahasa Belanda ini malah menjadi pendobrak sistem rasisme yang menjadi dasar penjajahan melalui kesetaraan yang dirasakan oleh Hijo. Sekali lagi penokohan Hijo oleh mas Marco ini, walaupun mungkin tak disadarinya, membawa sebuah wacana mimikri yang cukup kritis.

     

    Kesimpulan

                Wacana mimikri yang dibawa dalam penokohan Hijo telah mengungkap bagaimana sebenarnya, secara mendalam, kemenduaan tatanan kekuasaan kolonial. Mimikri adalah salah satu hasil dari kemenduaan tersebut yang secara inheren membawa kehancuran atas wacana kolonial itu sendiri. Dilihat dari segi ini, jelas Mas Marco adalah penulis yang sangat berbahaya bagi kekuasaan kolonial. Penokohan Hijo menyimpan sebuah wacana perlawanan yang ternyata tidak datang dari luar wacana-wacana kekuasaan, namun justru dari dalamnya.

     

    Bibliografi:

    1. Ashcroft, B,.Griffith, G. And Tiffin, H (ed). Key Concepts in Post-Colonial Studies. New York. 1998.
    2. Ashcroft, B,.Griffith, G. And Tiffin, H (ed). The Post-Colonial Studies Reader. New York. 1995.
    3. Benedanto, P (ed). Kesusastraan Melayu-Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (jilid 4). Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia. 2001.
    4. Bhabha, H. The Location of Culture. New York. Routledge. 2007.
    5. Foucault, M. Ingin Tahu Sejarah Seksualitas. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. 2008.
    6. Kartodikromo, M. Student Hijo. Yogyakarta. Yayasan Aksara Indonesia. 2000.

     


    | Link | Dibaca 2007 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak