Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

 

LUSTRUM III FAKULTAS SASTRA

wahmuji
Moderator
wahmuji's picture
Posts: 107
Joined: 2008-01-22
Points: 377
User is offline
LUSTRUM III FAKULTAS SASTRA

Lustrum adalah perayaan lima tahunan. Lustrum III Fakultas Sastra dirayakan dengan tema "Mereposisi Identitas Fakultas Sastra". Weleh2..
sepertinya ada yang mau diubah? iyakah? Cool

Rangkaian perayaan Lustrum adalah sebagai berikut:
1. Fakultas Sastra bekerjasama dengan harian Kedaulatan Rakyat untuk menulis di kolom Opini KR selama 3 hari berturut-turut (8-10 Mei 2008). Isi opini sekitar pengertian "identitas".

2. Fakultas Sastra mengadakan seminar pada hari Sabtu, 10 Mei 2008 di Ruang Koendjono, Gedung Pusat USD Mrican. Seminar menghadirkan 1 pembicara-kunci dan 3 pemakalah.


wahmuji
Moderator
wahmuji's picture
Posts: 107
Joined: 2008-01-22
Points: 377
User is offline
Seminar Lustrum? Penting Gak Sich?

Awalnya, pas denger kalo mau ada seminar Lustrum (perayaan lima tahunan) Sastra, aku jadi mikir: Pertama, baguslah. Lustrum dirayain dengan pembahasan akademis. Bukan standing party para dosen, birokrat kampus, dan perwakilan mahasiswa sastra. Kedua, Kok undangannya terbatas? Kurang dana pa yak? Ketiga, kira-kira sebesar apa sich posisi tawar Lustrum ini dalam penentuan aturan-aturan di Fakultas Sastra? jangan-jangan apa yang dikoar-koarkan di seminar Lustrum III ini akan menguap seiring rutinitas kuliah yang, maap, cukup mbosenin itu..

Atas kerja sama USD dan KR, ada, katanya, 4 tulisan di KR yang ditulis oleh pak dan bu dosen di Kolom Opini KR nyinggung-nyinggung Fakultas Sastra dan Lustrum (Asyik, mendadak ngomongin Fakultas neh para dosen! Bukan chauvinis Prodi! Hahaha..). Tapi, maap, aku cuma nemuin tiga. Jadi ketiganya aja yang sedikit mau aku omongin plus inti tulisan dari para pembacot dalam seminar. Kalo mau dibedah satu-satu, kira-kira butuh enam artikel terpisah, jadi, kayaknya, eh, pastinya, aku mau yang lebih sederhana aja, yaitu melihat intinya (hwehehe…sok filosofis ki, padahal ya males nulis akeh2).

Berhubungan dengan tema Lustrum III Fakultas Sastra USD, yaitu “Mereposisi Identitas Fakultas Sastra”, (wah, mulai formal neh, males!! Pusing!!) tiga tulisan di KR yang aku baca (Sastra Sejarah, Fakultas Sastra? oleh Hery Santosa, Ideologi di Balik Identitas oleh GF Sasmita Aji, dan Sastra dan Identitas oleh Elisa Dwi Wardani) tidak jauh-jauh dari ngliat tetek bengek sudut pandang identitas ala akademisi dan kritikus, yang lebih banyak berbau promosi daripada kejujuran dan keseriusan “mereposisi identitas”.

Tulisan pHery Santosa (yang paling deket nih sama realita F. Sastra) ngomongin kesatuan Prodi SINDO, SING, dan Ilmu Sejarah yang sudah dan akan terus dibina oleh Fakultas Sastra baik “secara materi maupun metode penelitiannya”(Mulya sekali, Pak..). Dan, ini yang menarik neh, kegiatan ekstrakurikuler Fakultas Sastra diwadahi oleh Media Sastra “yang bersifat jurnalisme, Play Performance dan pembuatan film dokumenter”. Tulisan itu diakhiri dengan semacam rintihan ketakutan akan dibuangnya Ilmu Sejarah oleh USD yang konon mau “memadukan keunggulan akademik dan nilai-nilai humanistik” itu.

Nah, sekarang komenku neh. Baca baik-baik, ya..
Pertama, Salut dah dengan usaha menjalin pembelajaran lintas-disiplinnya. Kedua, Media Sastra memang wadah ekstrakurikuler tingkat Fakultas Sastra, tapi...pHery lupa neh kayaknya nambahin penjelasan kalo Media Sastra lahir dari mahasiswa yang gelisah karena, salah satunya, ngliat tumbuhnya bibit chauvinisme Prodi-prodi di F.Sastra. Dan perjuangan buat dapet pengakuan sebagai organisasi tingkat fakultas pun belum bisa dibilang berhasil karena, salah satu indikasinya neh, Prodi Sejarah dan Sastra Indonesia masih enggan mengeluarkan koceknya buat bantu-bantu Media Sastra karena konsentrasi pos dana sudah dipecah buat kegiatan per-prodi sesuai dengan keputusan dari senat universitas buat memisahkan prodi-prodi. Biar lebih menonjolkan prodi, katanya. Hehehe..sekarang malah pada ngutek-ngutek identitas fakultas. Ironis, tapi boleh juga tuh…
Ketiga, definisi Media Sastra yang pHery tulis nggak tepat. Tapi gak papa, aku malah jadi mikir: kayaknya bagus juga kalo Media Sastra bikin film dokumenter! Hehehe…

Tulisan mbak Elisa (mbak?) lebih berupa biografi kutipan daripada pembahasan kontekstual tentang kondisi Fakultas Sastra USD (Lha, itu tadi, mas. akademisi je..) dan sebuah mimpi tentang sastra sebagai agen “yang mampu mengkontruksi identitas dan yang akan mampu untuk ikut menjawab tantangan mengenai persoalan identitas manusia” (Nah, loh!! Mau ngomongin identitas siapa sich mbak?!) Tapi, ada yang cukup penting dari tulisannya, yaitu bahwa identitas bersifat cair dan tidak stabil, dipengaruhi wacana luar, dan tidak lepas dari konstruksi bahasa. Dan, komen lagi nih, mbak Elisa lupa buat ngebuktiin (seperti skripsi S1=membuktikan teori, bukan mengeksplorasi teori) teori-teori yang dikutipnya buat membaca F.Sastra dan ide-ide seger yang bisa dimunculin dari hasil pembacaannya. (Hwahaha..keren kan komennya? Sudah pantas jadi penguji pendadaran S1). Ups, jangan-jangan memang dosen boleh nulis apa aja tentang identitas? Klo gitu sich, asal banyak kutip, beres deh tulisannya.

Sedangkan GF Sasmita Aji (pFajar itu lho..) ngomong kalo ideologi berada di balik identitas dan tidak semua identitas memiliki ideologi (Weleh2..piye yak maksude? Rancu!). Selebihnya, selain wacana kontekstual budaya lokal dan global yang disinggung di baris-baris akhir, tulisannya tidak lebih dari wacana provokatif untuk mengangkat nama F. Sastra USD. Ia lupa juga kayaknya kalo identitas bisa dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, identitas dilihat oleh orang luar yang menilai secara kritis gerak laku entitas tertentu. Dari sinilah identitas bisa dinilai secara objektif (Meskipun penilaian tidak akan lepas dari ideologi tertentu). Artinya, identitas bukanlah entitas yang bebas dari interpretasi. Kedua, identitas dibentuk oleh organ-organ dalam, yaitu mencoba mengidentifikasi diri dan melukiskan identifikasinya dalam seluruh geraknya. Inilah yang coba dilakukan oleh orang-orang yang ingin “mereposisi identitas” itu.

Nah, daripada nge-bahas tulisan-tulisan itu lebih panjang lagi, dan untuk bisa “mereposisi identitas Fakulta Sastra” (meskipun pemaknaannya gak jelas gitu deh di forum), mending kita lihat apa yang sudah ada di F.Sastra. Pertama, dari tujuannya (untuk tidak terlalu kaku menyebut visi-misi). Kedua, kurikulumnya. Ketiga, dari peraturan-peraturan universitas yang terkait dengan F.Sastra. (Waduh…jadi panjang lagi neh kayaknya!). Makanya, untuk menyederhanakan, mending kita langsung aja berperan sebagai mahasiswa yang melihat apa yang diberikan kepada kita lewat kurikulum. Tapi, apakah nanti kita malah akan jadi apolitis? Maksudnya, tidak mau tau urusan-urusan “luaran” yang mempengaruhi pembentukan “dalaman”nya? Iya, yak. Terus? Gini aja, aku akan coba rangkum ide-ide penting yang muncul di seminar itu:
1. Ketiga Pembacot dalam seminar secara gak langsung sepakat bahwa Fakultas Sastra bukanlah penyedia jurusan profesi.
2. Fakultas Sastra mesti mencipta orang yang mampu membaca “teks” secara kritis. Teks yang dimaksud bukan hanya teks tertulis, tapi juga teks-teks bergerak.
3. Fakultas Sastra berada dalam tarik-menarik antara Global dan Lokal dengan kompleksitas percampuran-percampurannya (hybridity).
4. Ada isu lama yang muncul (isu yang belum terpecahkan neh, sampai sekarang): tarik-menarik antara mengikuti kebutuhan pasar dan mencetak akademisi kritis.
5. Diperlukan wacana-wacana lintas disiplin untuk menyalakan lampu Fakultas Sastra. (hwehehe…lampu? Gelap po, mas?).

Ternyata ide-ide di sana lumayan kontekstual daripada ketiga artikel yang ditulis di KR itu. Tapi, secara umum sih, ide-ide dalam seminar itu juga bukan ide segar-orisinal (setidaknya bagiku). Ide-ide itu udah lama jadi uneg-uneg banyak mahasiswa. Aku menyebut mahasiswa karena pada titik tertentu mahasiswalah yang paling ngrasain efek dari semua peraturan yang dibuat prodi dan fakultasnya masing-masing.

Dan.. balik ke pertanyaan yang aku utarakan di awal: kira-kira sebesar apa sich posisi tawar Lustrum ini dalam penentuan aturan-aturan di Fakultas Sastra? aturan-aturan itu tentu saja termasuk kurikulumnya.
Nah, ketika aku tanyain itu ke forum seminar. Jawabnya begini:
“Ide-ide yang hadir di seminar ini akan dipakai sebagai pertimbangan dalam Rencana Strategis Fakultas Sastra yang didasarkan pada Rencana Strategis Universitas.”
Kelihatannya sih, kata-kata itu normal dan wajar-wajar aja. Iya, tapi akan kelihatan “absurd” kalo dilihat secara umum rangkaian “buang-buang” duit dalam Lustrum itu.

Kalo cuma jadi bahan pertimbangan yang masih harus secara over-prosedural disesuaikan dengan peraturan yang lebih tinggi, ngapain koar-koar gak jelas tentang Identitas Fakultas Sastra di KR (kerjasama) yang pasti butuh banyak duit itu?
Kalo cuma jadi bahan pertimbangan, kenapa seminar cuma boleh dihadiri undangan yang jumlahnya terbatas itu yang makannya mewah banget itu? Kenapa dibuat eksklusif sih, pak, buk?
Kalo memang benar-benar mau “mereposisi identitas Fakultas”, kenapa gak dibuat aja Kongres Bedah Visi Misi, Bedah Kurikulum, dan Bedah Peraturan-peraturan lain yang terkait dengan Fakultas Sastra (Misalnya saja, pemisahan prodi di fakultas yang katanya dibuat untuk menonjolkan keunggulan prodi)? Penyelenggaraan kongres pastinya akan lebih efektif dan efisien untuk membuat keputusan daripada kerjasama dengan KR dan seminar beberapa jam yang cuma jadi ajang “dengar pendapat”, kumpul-kumpul birokrat kampus dan antologi puji-pujian pada orang tertentu (Ya, Pak, Buk, aku ngebicarain puji-pujian yang mbludag kepada Rm Sastro yang bilang kalo pendidikan yang mahal bukan permasalahan internal kampus tapi persoalan luar. Mahal karena daya beli masyarakat rendah. (mengenaskan, man, pendapatnya!!)).

Kumpulan pertanyaan itulah yang jadi kritikku atas penyelenggaraan Lustrum III Fakultas Sastra USD. Tanggapan sangat aku harapin, biar dinamika Fakultas Sastra lebih hidup.
Profisiat Fakultas Sastra USD!!!!
Viva Fakultas Sastra.

Oleh Wahmuji,
Mahasiswa Sastra Inggris USD
Artikel ini merupakan kerja sama saya dengan Ginting yang menulis artikel lain


mbik
Bayi
mbik's picture
Posts: 106
Joined: 2008-02-10
Points: 410
User is offline
Penting Ga Penting

pada dasarnya Lustrum hanyalah monumental memorable
tapi........eh lagi males ngomong ah besok aja


ginting
Moderator
ginting's picture
Posts: 81
Joined: 2008-01-31
Points: 268
User is offline
Lesu yang Disetrum

Lustrum III Fakultas Sastra: LESU YANG DISETRUM TIBA-TIBA

Kerabatku yang kekasih,

Tahukah kawan-kawan bahwa, hari sabtu 10 Mei 2008 lalu, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma menyelenggarakan sebuah seminar dalam rangka menyambut LUSTRUM-nya yang ketiga? Tahukah kawan-kawan apa tema dalam seminar itu? Tahukah kawan-kawan siapa saja pemakalah dan pembicara-kuncinya? Tahukah kawan-kawan siapa saja yang diundang? Tahukah kawan-kawan sebab seminar itu dibuat? Tahukah kawan-kawan apa LUSTRUM itu? Tahukah kawan-kawan siapa saya?
Tidak tahu? Mau tahu? Kalau ya, silahkan baca lebih lanjut. Kalau tidak, silahkan berikan surat ini pada kawan yang ada di dekatmu. Kali aja dia mau membacanya.
LUSTRUM itu sejenis peringatan hari jadi yang dilaksanakan lima tahun sekali. Fakultas Sastra kita yang dekil nan gokil ini sudah berumur limabelas tahun sejak dibentuk pertama kali 26 April 1993 (nah, lho. Baru tahu sekarang, bukan?). Kata ketua panitianya LUSTRUM ketiga ini adalah yang pertama kalinya dirayakan.
Katanya lagi,
"…angka 3 menjadi istimewa pada kesempatan dies ini karena Fakultas Sastra memang hanya memiliki tiga program studi dan juga baru memiliki tiga dekan. Terlebih disiplin ilmu utama yang dinaungi oleh fakultas pun ada tiga macam: sastra, linguistik, dan sejarah. Maka LUSTRUM ketiga kali ini sungguh menjadi kesempatan yang istimewa."
Sungguh sebuah alasan yang unik luarbiasa, gitu loh!
Seminar tersebut, yang mengambil tempat di ruang Koendjono Gedung Pusat, mengangkat tema “Mereposisi Identitas Fakultas Sastra USD” (kalau kawan-kawan agak awas matanya memandang, maka kalian pasti sudah mengetahui tema ini karena tertulis di sebuah spanduk di dekat kantin di depan makam).
Tahu arti “mereposisi”? Pertama sekali melihat kata ini, saya tertohok. Bukan karena apa-apa. Tapi hanya karena saya tidak tahu artinya. Lalu saya cari deh di kamus saya yang segede gaban (meminjam istilah saudagar dion). Ternyata makna dari kata “mereposisi” adalah “menyimpan kembali” (to store, to lodge) dan “mengganti secara rinci” (to surgically replace). Ukh! Gila, bok! Identitas fakultas kita mau diganti. Ada apa, yak? Ada yang salah? Ada yang menyimpang? Hmm…
Ada tiga pemakalah dan satu pembicara-kunci yang menyampaikan pemikirannya pada peserta seminar. Oh, ya. Saya hampir lupa. Saya itu hadir di seminar karena diundang oleh fakultas. Katanya mewakili alumni. Nah, sekian sekilas infonya. Kita lanjut lagi tentang pemakalah dan pembicara kunci pada seminar tersebut. Ketiga pemakalah yang saya maksud adalah Pak Siswadi, Pak Ari Subagyo, dan Pak Purwanta. Sementara itu, pembicara-kuncinya adalah Romo M. Sastrapratedja SJ. Beliau ini mantan rektor kampus kita.
Ketika hadir di ruang Koendjono, saya merasa kurang nyaman. Maklum, tubuh tropis saya kurang cocok dengan suhu yang disemburkan oleh pendingin ruangan. Hehehe…ndeso banget, yak? Bukan hanya itu. Ketidaknyamanan saya semakin bertambah dengan kebingungan saya atas alasan di balik alasan penyelenggaraan acara ini.
Kalo kawan-kawan baca harian KR edisi minggu lalu, kalian pasti tahu bahwa ada tiga edisi harian ini yang dihiasi oleh tulisan-tulisan dari para dosen sastra USD. Tapi, kalau diingat-ingat, saya pun tak ingat kapan terakhir kalinya para dosen kita menulis di sebuah media massa. Ups, karena sekarang sedang gencar berkembang wacana penolakan terhadap media massa yang seakan-akan telah menjadi syarat sah-tidaknya seseorang menulis, maka saya ganti pernyataan saya barusan menjadi: “sayapun tak ingat kapan terakhir kalinya para dosen kita menulis.” (apalagi mahasiswanya?) Heheheh…jahat amat, yak? Sebenarnya sih nggak. Saya hanya terheran melihat animo tertulis para intelektual fakultas sastra USD. Kok baru pas ada LUSTRUM ini mereka tiba-tiba tersetrum menjadi giat sekali. Tiga edisi berturut-turut, bok! Ternyata, setelahnya, saya tahu bahwa dalam LUSTRUM kali ini, Fakultas Sastra USD bekerjasama dengan harian KEDAULATAN RAKYAT. Ooo…begitu, toh?
Ketidaknyamanan saya semakin menjadi-jadi, karena ternyata panitianya, atau sebutlah orang-orang yang mengkonsep tema LUSTRUM ini tidak begitu jelas memaknai kata “mereposisi identitas” yang menjadi kata kunci dari tema. Itu karena saya nemuin bahwa ternyata banyak dari peserta seminar yang mengartikan “mereposisi identitas” sebagai “menegaskan kembali identitas” daripada “mengganti identitas” seperti makna leksikal yang disarankan kamus. Whew… Kalau memang begitu, mengapa temanya tidak diganti menjadi “Menegaskan Kembali Identitas Fakultas Sastra USD” saja, yaw?
Saya tadi bilang kalau pembicara-kuncinya adalah mantan Rm. Rektor kita. Sepertinya, orang ini sangat disanjung oleh para dosen sastra USD (kalau saya sih nggak. Soalnya nggak kenal. Hehe…) Ini terbukti. Seminar kali itu banjir pujian terhadapnya. Sedikit-sedikit: “seperti yang dikatakan Romo Sastro”, “mungkin Romo Sastro bisa menerangkan lebih lanjut”, “saya ingat sekali dulu itu Romo Sastro…”, atau “kami bangga bahwa Romo Sastro berkenan hadir di seminar ini.” Wah…wah…wah… Dia jadi dewa deh pokoknya. Ternyata Romo Sastro itu adalah salah satu pendiri dan pengayom fakultas sastra USD semasa masih menjabat sebagai rektor. Mungkin juga dulu banyak sumbangan pemikirannya yang diberikan demi pengembangan fakultas sastra kita. Namun, dari presentasinya kemarin, saya kok merasakan hal yang sebaliknya, yak? Di seminar itu, dia dengan esei berbau biografi-kutipan tentang filsafat Hermeneutikanya itu (bah! Apa pulak itu?) tidak begitu banyak membantu. Apalagi waktu dia bilang, “pendidikan mahal itu kan karena permasalahan di luar universitas. Mahal karena daya beli masyarakat rendah. Jadi itu bukan permasalahan internal kampus.” Alamak! Sakit hati neh mendengarnya. Jarene kampus humanis. Tapi, kok?
***
Sebenernya ada beberapa usulan menarik yang diungkapkan beberapa pemakalah. Makalah yang paling menarik perhatian saya adalah yang ditulis oleh Pak Siswadi karena tulisan itu yang, menurut saya, paling mewakili tema – meskipun ditulis dalam “ruang” prodi Sastra Inggris. Sepertinya ada tertangkap kenyataan bahwa “fakultas sastra itu bukanlah fakultas yang menyediakan jurusan profesi”. Ilmu humaniora pada akhirnya memang berkembang untuk membentuk manusia. Fakultas Sastra tujuannya ya untuk mencetak para “pembaca teks” dan juga pembaca yang bisa berpikir kritis nan kreatif terhadap teks atau “teks” yang dihadapinya. Biarpun begitu, pasti kadang kawan-kawan dari prodi Sastra Inggris, misalnya, akan bertanya, “lalu mengapa yak mata kuliah seperti Public Relation, Information Technology, Journalism, Mandarin, dsb., ada di dalam kurikulum. Kenapa pula harus belajar linguistik dan sastra secara bersamaan? Bagaimana menghubungkannya? Apa pula peran sejarah dalam sastra? Kalau linguistik memang berhubungan dengan sastra, mengapa mata kuliah Stilistika, yang katanya mewakili hubungan kedua disiplin ilmu tersebut, hanya dihadirkan dengan bobot dua sks saja? Kalau memang peran sejarah sangat penting untuk membaca perkembangan sastra, mengapa pula hanya dua sks yang dibebankan kepada mata kuliah History of English Literature, misalnya. Kalau memang mau belajar sastra, mengapa mata kuliah sejenis Contemporary Literary Criticism hanya disajikan sebagai mata kuliah pilihan? Buat apa belajar bahasa Mandarin kalau kita nggak pernah membahas puisi-puisi atau karya sastra Cina? Buat apa mempelajari Information Technology kalau kita nggak pernah menilik fenomena Cyber Literature? Buat apa mempelajari Journalism kalau kita jarang sekali membahas karya-karya yang lahir dari orang-orang jurnalistik?
Saya merasa agaknya mata kuliah itu dibuat sebagai sebuah usaha putus-asa fakultas untuk menjawab wacana “kuliah agar bisa kerja”. Itukah yang ada di benak kawan-kawan sekalian ketika memasuki fakultas sastra ini? Mak! Sepertinya pendidikan sudah lama jadi lahan bisnis. Kampus udah jadi seperti “pedagang” yang mencoba memfasilitasi apa saja yang dimaui oleh “pembeli”. Karena, kalau tak mampu, ntar pembelinya lari dan usahanya bangkrut. Kayaknya ada ketakutan bahwa kalau nggak bisa menyediakan mata kuliah yang mengacu pada skill yang ada pasar kerjanya, ntar nggak ada lagi calon mahasiswa yang mau mendaftar ke fakultas sastra. Bisa tutup, donk. Hiks…
Dalam brosur promosi jurusan sastra inggris, misalnya, tertulis bahwa lulusan prodi sastra inggris akan mampu “memanfaatkan bahasa dan sastra inggris secara profesional dalam bidang bisnis, hubungan massa, kesekretariatan, siaran elektronik, dan penyuntingan”. Maka, ntar tuh, akan ada aliran sastra baru yang bernama Business Literature, ada banyak Public Relation Officer yang memakai pola pikir yang termaktub dalam karya Chinua Achebe, ada banyak orang-orang kesekretariatan yang menulis kritik tentang karya-karya Ernest Hemingway, siaran TV kita akan segera dihiasi oleh sinetron dari naskah drama absurdnya Samuel Becket. Hihihi… terdengar konyol tapi asyik ya seandainya jadi nyata. Tapi, kayaknya kita harus kecewa karena kenyataanya tidak begitu.
Untuk yang satu ini, Pak Siswadi bilang, “memang tidak bisa dipungkiri di masyarakat luas beredar anggapan bahwa seseorang kuliah di perguruan tinggi dengan harapan agar dapat memperoleh pekerjaan yang layak di kemudian hari. Namun, perhatian yang berlebihan untuk memenuhi harapan ini dapat membuat SING USD lupa akan posisinya sebagai prodi non profesi, yang sebenarnya tidak berkepentingan untuk menyediakan tenaga kerja siap pakai.” Fiuuh… Sebuah pernyataan yang jujur, berani, dan sudah seharusnya.
***
Identitas memang bisa dirumuskan terlebih dahulu. Tapi, bagi saya, identitas akan menjadi nyata ketika ia merupakan sebuah efek dari tindakan tertata yang dilakukan manusia. Duh… kok jadi serius banget? Hehehe… gini, lho. Mangsud saya itu: buat apa buu… repot-repot ngerumusin identitas kalau ndak dibuat jadi nyata dan kasat mata?
Lihatlah kebun, dahan, dan ranting… hahaha… kok malah nyanyi!? Maksudnya, lihatlah Fakultas Sastra kita sekarang. Seberapa sering kegiatan penelitian untuk membaca dan memahami teks-teks dan “teks-teks” sastra dan sejarah dilakukan? Seberapa banyak lulusan Fakultas Sastra yang mau menunjukkan tanggung jawab intelektualnya dengan mengembangkan kritik sastra dan menggambarkan dengan ilmiah dan dapat dimengerti bagaimana sastra membaca sejarah dan sejarah membaca sastra? Saya rasa nih ye, banyak sekali lulusan sastra inggris kita yang mampu berbahasa inggris tapi tak mampu ber-sastra inggris. Kalau memang mau fokus ke bahasanya, udah seberapa banyak sih artikel atau makalah linguistik yang pernah kita buat? Kalau Cuma ingin mampu berbahasa inggris saja, saying sekali duit puluhan juta kita keluarkan untuk biaya kuliah di Fakultas Sastra? Atau… kita-kita memang rela karena, nanti kalau sudah lulus, ada gelarnya?
Mendengar kata LUSTRUM, yang jujur saja baru kali ini saya temui, saya lebih suka mengartikannya sebagai “lesu” yang “diestrum” daripada sekedar perayaan hari jadi lima tahunan sekali. Makna “lesu” yang “diestrum” ini juga bisa bias. Bisa berarti ketergopoh-gopohan Fakultas Sastra, yang sedang “lesu” tapi tangi gara-gara ada “setrum” berupa LUSTRUM – dan kemudian akan “lesu” lagi setelah “setrum”nya berhenti. Atau, Fakultas Sastra akan bangkit dari kelesuannya dan menjadi lebih giat lagi untuk peduli terhadap perkembangan dan pemantapan ilmu sastra dan sejarah beserta mahasiswanya. Wue… ee… ee… Keren, euy!
Berhubung, mengutip kata bapak dekan kita, seminar tentang “Mereposisi Identitas Fakultas Sastra USD” ini akan menjadi bahan pertimbangan dari RenStra alias Rencana Strategis Fakultas Sastra, maka sebuah jajak pendapat atau diskusi terbuka seharusnya dibuat. Dan mahasiswa baik kiranya menjadi bagian dari diskusi itu karena hal ini menyangkut arah-langkah fakultas mereka. Perlu sebuah “woro-woro” yang lantang agar ini tidak menjadi tertutup dan eksklusif. Tidak seperti seminar di ruang Koendjono yang dingin dengan peserta seminar segelintir yang hadir hanya karena yang-diundang-yang-boleh-datang.
***
Bagi saya nih, kerja bukan tujuan dari kuliah. Kampus alias Akademi adalah tempat membentuk manusia yang siap hidup. Dan hidup tak berarti “bekerja” (dalam artian sempit) meskipun kerja adalah salah satu kegiatan untuk hidup. Sebaiknya Fakultas Sastra kita ini jangan sampai seperti kerbau yang dicocok hidungnya yang manut-manut saja terhadap, seperti yang dikatakan Pak Siswadi, “harapan” lucu tentang “pekerjaan yang layak sesudah kuliah”. Kiranya, alih-alih sebagai tujuan saklek, pekerjaan layak adalah efek dari pembentukan karakter manusia-siap-hidup yang keluar dari tempat belajarnya. Mahasiswa sastra juga seharusnya sad(h)ar akan peran dan harapan yang ditimpakan terhadapnya. Apapun cara mereka mencari rupiah nantinya, tanggung jawab intelektual kita tidak boleh dilupakan. Dan ini juga berarti bahwa fakultas jangan sampai kehilangan kepedulian terhadap mahasiswanya. Jangan terlalu direpotkan dengan ketakutan-ketakutan dan kesibukan-kesibukan birokratis. Karena, seperti kata Mark Twain, a university is what a faculty will be when it has lost its interest in the students. Seperti itulah kiranya.
Sekian dulu. Dha-dha, ba-bai…

Oleh Ginting
Alumni Sastra Inggris
Tulisan ini dibuat atas kerjasama saya dengan Wahmuji


mbik
Bayi
mbik's picture
Posts: 106
Joined: 2008-02-10
Points: 410
User is offline
Benar mas Ginting

secara garis besar saya setuju dengan apa yang dikatakan mas Ginting


sescoplo
Bayi
sescoplo's picture
Posts: 68
Joined: 2008-02-09
Points: 261
User is offline
wjr
ginting wrote:

Tahu arti “mereposisi”? Pertama sekali melihat kata ini, saya tertohok. Bukan karena apa-apa. Tapi hanya karena saya tidak tahu artinya. Lalu saya cari deh di kamus saya yang segede gaban (meminjam istilah saudagar dion). Ternyata makna dari kata “mereposisi” adalah “menyimpan kembali” (to store, to lodge) dan “mengganti secara rinci” (to surgically replace). Ukh! Gila, bok! Identitas fakultas kita mau diganti. Ada apa, yak? Ada yang salah? Ada yang menyimpang? Hmm…
Ketidaknyamanan saya semakin menjadi-jadi, karena ternyata panitianya, atau sebutlah orang-orang yang mengkonsep tema LUSTRUM ini tidak begitu jelas memaknai kata “mereposisi identitas” yang menjadi kata kunci dari tema. Itu karena saya nemuin bahwa ternyata banyak dari peserta seminar yang mengartikan “mereposisi identitas” sebagai “menegaskan kembali identitas” daripada “mengganti identitas” seperti makna leksikal yang disarankan kamus. Whew… Kalau memang begitu, mengapa temanya tidak diganti menjadi “Menegaskan Kembali Identitas Fakultas Sastra USD” saja, yaw?

di dalam kamus yg luebih guaban lagi.. mungkin bung ginting bisa menemukan kalo reposition bisa berarti to restore to the former position...

ah mudah2an saya salah Evil


ginting
Moderator
ginting's picture
Posts: 81
Joined: 2008-01-31
Points: 268
User is offline
mudah-mudahan anda benar

segaban-gabannya kamus saya, pasti memang ada kamus yang luebih guaban lagi. maka itu, saya pun sebenarnya berdoa semoga saja ada kemungkinan kamus yang luebih guaban lagi itu makna lema "reposition", salah satunya, adalah "to restore to the former position", seperti yang dituliskan bung sescoplo.

namun, yang saya saksikan pada kesempatan seminar kali itu, makna kata "mereposisi" yang dipahami oleh mereka adalah "menegaskan kembali" (bung sescoplo bisa melihatnya dari beberapa sambutan yang disampaikan oleh dekan, ketua panitia, dan bahkan rektor, yang tercatat di buku kenangan Lustrum Fak. Sastra USD). kalau bung mau, saya bisa pinjamkan. lebih lagi, dalam sambutan dekan, ditulis sebuah pernyataan yang kira-kira berbunyi "bahwa tema ini diangkat bukan berarti fakultas sastra sedang mengalami krisis identitas." Pertanyaannya adalah apa perlunya "to restore to the former position" jika krisis (baca: penyimpangan) tidak terjadi?

yang saya sayangkan adalah sikap panitia (atawa, katakanlah, konseptor tema) yang tidak memikirkan sungguh-sungguh pemakaian kata yang tampil dalam tema tersebut. yang membuat saya lebih bingung lagi, kok bisa-bisanya ada pernyataan dari panitia bahwa "biarlah nanti peserta seminar sendiri yang menafsirkan arti kata reposisi". ini kan aneh! apa susahnya menggunakan frasa "menegaskan kembali" kalau memang itulah makna yang hendak disampaikan. masa, setelah merangkum ide dalam kata-kata berbentuk tema, lalu kata-kata itu dibiarkan liar dan menunggu orang-lain untuk mengadopsi kata-kata tersebut dengan konsep maknanya sendiri? inikan kurang bertanggung jawab namanya.

tak tahulah saya, mungkin saja mitos tentang "pemakaian kata serapan barat mampu menunjukkan intelektualitas seseorang atau satu lembaga" masih saja terjadi dengan aneh di lingkup masyarakat akademis Indonesia. boleh sih menggunakan kata serapan. tapi diperiksa dulu donk makna semantik, dan kalau perlu pragmatik, dari kata pinjaman atau serapan tersebut. biar nanti tidak terjadi salah kaprah dalam pemahaman makna.

salam,
ginting


novitadewi
novitadewi's picture
Posts: 2
Joined: 2008-05-28
Points: 8
User is offline
Lustrum 3

Pada hemat saya, mereposisi bisa berarti membuat repot sana-sini. Tapi sungguh, Lustrum 3 ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, hendaknya menjadi bahan refleksi untuk kemudian ditindaklanjuti menjadi aksi bagi semua pihak (dosen, karyawan, mahasiswa, alumni, dan pihak-pihak terkait). Mari kita sama-sama merepotkan diri sesuai kemampuan kita masing-masing untuk membuat Fakultas Sastra mampu memberikan kontribusi (sekecil apapun) pada pemecahan masalah-masalah praktis dalam masyarakat. Ide besarnya adalah mengupayakan "the Service of Faith and the Promotion of Justice". Saya merasa, para penyumbang di atas (Bung Ginting, Mas Wahmuji, Mbik, dll.) sudah memulainya dengan gagasan-gagasan kritis mereka. That being said, let's move on! God Speed!


ginting
Moderator
ginting's picture
Posts: 81
Joined: 2008-01-31
Points: 268
User is offline
Mari Repot

Ternyata bu novi punya kamus yang lebih gaban dari kamus saya hihi

makna kata "mereposisi", oleh seorang Alip, telah dicarikan di Kamus Besar Cambridge terbitan 2001 (jauh lebih muda, maka lebih up-to-date dari kamus saya). Definisi yang hadir memang menarik. bahkan ternyata kata "reposition" itu digunakan secara tekun oleh orang-orang pemasaran, yaitu, kira-kira, "mengubah sebuah citra produk agar lebih 'eye-catching' di mata pasar'" (ingat bahwa kosa kata "positioning" adalah jargon dari dunia marketing). Tanpa ingin secara sempit menyamakan dan menduga-duga arti, analogi bisnis pasar di atas, sampai pada titik tertentu, bisa juga diterapkan. mungkin akan menyulut kemarahan beberapa orang (termasuk saya) jika arti tersebut diterapkan secara harfiah. tandanya, pendidikan memang bisnis. tapi, semoga saja, penggunaan kata "mereposisi", kalaupun memang menggunakan nalar arti "mengubah sebuah citra produk agar lebih eye-catching di mata pasar", hanya sebatas analogi.

lalu bagaimana mengubah citra produk (fakultas sastra) agar dapat lebih eye-catching atau bahkan sense-catching di mata pasar (calon mahasiswa)? dengan membangun "gedung baru yang lebih memikat selera orang muda" kah? (seperti kata bapak dekan saat sambutannya di acara seminar LUSTRUM). saya rasa tidak. maka, kerepotan kita, meminjam istilah bu novi, harusnya dititik-beratkan pada pembangunan semangat "arus-bawah", yaitu: semangat belajar kritis dan berdinamika para akademisinya. saya umpamakan begini -- mungkin benar bahwa sebuah "pesta" dimana-mana punya satu titik karakeristik universal. tapi, seperti apa bentuk "pesta" itu ketika yang berpesta adalah orang-orang sastra? sejalan dengan itu, seperti apa bentuk "merepotkan diri" untuk "mengubah citra agar lebih tangkap-mata" yang dilakukan oleh akademisi fakultas sastra? tentunya berbeda dengan repotnya reposisi yang dilakukan oleh LUX, CLEAR, PONDS, atau Telkomsel, misalnya.

citra adalah sebuah efek-susul dan efek-tinggal dari tindakan (bu novi menyebutnya "aksi"). citra itu tercipta, bukan direka-reka. maka mari kita sama-sama "repot"!

salam,
ginting


Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <img> <br> <br /> <p> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Textual smileys will be replaced with graphical ones.
  • You may quote other posts using [quote] tags.
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.
 

Highest Points

UserPoints
durgadurga984
molen559
mbik410
wahmuji377
sedik317
dalangpotehi282
ginting268
sescoplo261
titiknol156
otakudang146