film: Ayat-Ayat Cinta by Hanung Bramantyo

akhirnya, setelah rilis yang tertunda hampir 2 bulan, rencana awal rilis tanggal 29 Desember 2007, Ayat-Ayat Cinta rilis juga di bioskop. premiere di 21 Ambarrukmo Jogja Sabtu 23 Febuari 2008, pada midnight show pukul 23.30WIB. saya yang sudah menanti film ini sejak nonton trailernya di TV penasaran banget ama pilm ini. yah...akhirnya baru sempet nonton kemaren (Rabu, 27 Febuari 2008), ya ga telat-telat amat lah ya...
adapun ceritanya kurang lebih seperti ini... (sebelumnya mohon maaf, karena saya memiliki keterbatasan kemampuan dalam menceritakan ulang, saya ambil sinopsisnya di www.21cineplex.com/movie.cfm?id=1819 )
Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril) adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah. Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, Ibunya dan saudara perempuannya. Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah
Tersebutlah Maria Girgis (Carissa Putri). Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja. Lalu ada Nurul (Melanie Putria). Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak. Setelah itu ada Noura (Zaskia Adya Mecca). Juga tetangga yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya
Terakhir muncullah Aisha (Rianti Cartwright). Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya. Lalu bagaimana bocah desa nan lurus itu menghadapi ini semua? Siapa yang dipilihnya? Bisakah dia menjalani semua dalam jalur Islam yang sangat dia yakini?
yah...kirakira begitulah, maaf ajah sinopsisnya jelek, maklum ngutipnya dari 21cineplex.com sih...
setelah keluar dari studio 4, studio saya nonton AAC, ternyata mengiring berbagai kekecewaan. harapan saya dari film ini adalah memberikan warna baru dari keragaman film Indonesia, tapi ternyata...poooh....!
saya mencoba melihat satu persatu saja dahulu.
1. setting tempat.
setting tempat untuk cerita ini adalah Mesir, yang kental dengan semangat Islaminya (ya iyalah) terus...sebenarnya menurut info yang saya baca dari majalah Cinemags, take gambar film ini ga semuanya diambil di Mesir beneran, ada beberapa adegan yang diambil di Mesir, tapi hampir 80% di Indonesia. bagus. saya bilang bagus, karena "Mesirnya" cukup meyakinkan. sangat tidak Indonesia. setting tempatnya sudah sip, cuma sayangnya...kok tidak konsisten ya...di Mesir hampir semua penduduk asli sana bisa ngomong bahasa Indoesia...ya saya ga' tau apakah emang begitu keadaanya atau tidak, tapi suasana Mesir jadi hilang ketika polisi lokalnya bisa ngomong bahasa Indonesia, ketika narapidana bisa ngomong bahasa indonesia, ketika perawat dan dokter rumah sakit bisa ngomong pake bahasa Indonesia, ketika preman Mesir juga bisa ngomong bahasa Indonesia...nah loh...!!!!! saya belum tanya wahmuji, apakah Mesir dan Indonesia bener-bener bisa sedekat itu hubungannya. pooh.
2. Akting
untuk akting pemainnya saya belum bisa ngomong banyak, maklum teknik keaktoran (belom ikut kelas terbuka pertunjukan) yang saya kuasai sangat minim sekali, tapi sebagai peikmat film, aktingnya masih sangat sinetron, hehehe...ya ga sangat sinetron sekali si, udah bagus, cuma...haduhhaduh...ga sesuai ekspektasi saya lah. ada pemain yang bermain dengan sangat enak sekali, ada pemain yang lumayan maksa aktingnya (walopun ga' "se-maksa" Tukul di Otomatis Romantis).
3. Cerita
disadur dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy.
kalo dari segi cerita...okem!!!! saya suka ceritanya, dengan keislaman, dengan cinta, dengan keluarga, dengan lingkungan patriarkal, dengan semangat memiliki yang dibawa, dengan konfliknya. terasa banget. konflik batin tokoh Aisyah ketika harus meminta Fahri, suaminya, untuk menikahi Maria, wow...menarik. tetapi sekali lagi, setelah saya merasakan lebih lagi, semuanya kok jadi berasa terlalu melankolis ya (emang masalahnya apa?) ? melankolis yang saya permasalahkan disini adalah melankolis yang terlalu dibuatbuat, sepertinya tidak natural. sekali lagi saya menyamakan dengan sinetron. halah!!!!mana ada sinetron yang natural - semua berlebihan. tidak heran kenapa mirip banget ama sinetron, soalnya produsernya sendiri berasal dari keluarga Punjabi yang terkenal sebagai pemasok sinetron Indonesia tidak berkualitas. lalu peran sutradara? akhirnya Hanung sekali lagi tidak dapat mengarahkan aktornya untuk menunjukkan taring yang lebih tajam. kurang maksimal. padahal ceritanya udah enak.
4. frame
saya ga tau istilah tepatnya apah, tapi sepengetahuan saya "frame" merupakan istilah yang umum dalam film. jadi "frame" itu adalah gambar akhir yang nantinya ditunjukkan di bioskop, di frame itu ada komposisi aktor, setting, lighting, dll... (semoga istilahnya tepat). kalo framming-nya saya bisa acungkan jempol. ada beberapa frame yang sangat memukau, yang ga da di film indonesia sebelumnya. wow, keren...nah...tapi sekali lagi saya bilang "beberapa" saja yang memukau
sekian dulu, untuk atmosfer, tone, penyutradaraan, pesan film...mungkin lain kali, saya perlu berdiskusi dulu dengan beberapa orang terpercaya yang bisa diajak diskusi (maksudnya yang udah nonton juga). atau mungkin ada beberapa temen mediasastra.com yang bisa melengkapi juga dipersilahkan, demi kemajuan bersama.
well, saya sebagai penonton, mengucapkan selamat atas film Ayat-Ayat Cinta, filmnya bagus, menarik, berbeda, dan okem. untuk itu saya kasih nilai 6/10 saja, hehehe...masih belom bisa ngalahin Nia Dinata's Berbagi Suami (9/10), sih...

jadi pengen nonton nih
ini emang salah satu film indonesia yang layak tonton. premis yang dijanjikan sesuai dengan filmnya. tidak seperti "Kala" (4/10) yang premisnya begitu menjanjikan tapi filmnya melempem. udah liat "Kala"? film noir pertama indonesia yang masih terjebak dengan atmosfir horor, jadi yang lebih kerasa justru bukan noir-nya, tapi horor...mungkin untuk Kala premisnya diganti saja; Kala-film horor!
amarah durga
di tu film kan ceritanya ada kumpulan mahasiswa dari indonesia tuh...
terus...
kenapa ya mereka itu rata-rata ceritanya dari jawa gitu?
yang orang-orang indonesia yang tinggal di Kairo itu juga keliatannya pada dari jawa...
ck..ck..ck..
image orang susah Indonesia. mereka semua adalah orang dari Indonesia yang belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan tinggal di asrama Indonesia. nah, Hanung ingin memberikan imaji orang Indonesia yang hidup penuh dengan perjuangan di negeri orang. hidup susah dan akhirnya nanti akan mendapatkan kebahagiaan di akhir, baik itu akhir hidup atau akhirat. Untuk menguatkan imaji yang orang susah seperti itu, harus dipilih dengan baik dari daerah Indonesia bagian mana para mahasiswa Indonesia itu.
Jawa menjadi daerah bagian Indonesia yang paling pas untuk menciptakan masyarakat susah. pertama, Jawa adalah pulau terbesar di Indonesia dengan jumlah penduduk yang paling banyak. lalu banyak sekali orang Gunung Kidul yang menjadi pembantu di kota besar seperti di Jakarta. lalu untuk imaji nasional, sepertinya banyak film Indonesia juga yang menggambarkan orang susah itu berasal dari Jawa. coba ingat ingat di film Otomatis Romantis, tokoh yang dimainkan Tora Sudiro berasal dari daerah Jogja, dia sebagai kaum bawahan, miskin, pekerjaannya payah, dll. coba cek juga sinetron yang hampir tiap hari ditanyangkan di tv, jika ada peran pembantu, hampir bisa dipastikan berasal dari jogja. nah...jadi aku pikir imaji Jawa sebagai orang susah di industri perfilman indonesia sudah tidak dapat dipungkiri kekuatannya.
alasan lainnya kenapa tokoh mahasiswa Indonesia di Kairo itu berasal dari Jawa dan hidup susah adalah karena ini memang sudah tipikal cerita film laku. tokoh miskin nantinya akan disandingkan dengan tokoh yang kaya raya. Fahri yang miskin di cerita AAC ini akhirnya menikah dengan Aisya yang kaya raya (dan dia membelikan suaminya Mac book). ini yang saya maksudkan dengan kenapa film AAC ini masih terasa banget produksi Punjabi, tipikal sekali!
amarah durga
om dion udah nonton Kala toh?
iya dee...
di mana-mana jawa de pokoknya...
huh...
btw om dion juga jawa ya...
pernyataan mas durga2 ini memang kuat n banyak bukti2 otentik di kehidupan nyata ataupun maya....sips!!! maju terus perfilman Indonesia

jangan mo kalah sama Hollywood jadikan kota kita menjadi JOGJAWOOD
munculkan bintang2 baru n dapat go Internasional
kala, menarik karena warna filmnya, tampilan menguning pada hasil akhirnya memukau. sebaiknya kamu juga melihat. coba perhatikan adegan yang menunjukkan adanya seorang tokoh homoseksual. tapi hal homoseksual itu sangat tidak penting ditunjukkan dalam cerita, karena signifikansinya tidak jelas, memaksa sekali seperti ingin menunjukkan bahwa homoseksual itu menjadi hal yang biasa. atau "Kala" terlalu ambisius untuk menjadi film yang tidak biasa.
salam,
amarah durga
om dion, kok om dion jadi ngomongin Kala?

bukan kah topiknya AAC?
hmm... kalo emang seperti itu, bagaimana pendapat om dion tentang AADC?
iya de...
yang pada tinggal di jogja...
hidup jogja!
semangat jogja!
jogja hore!
lha emang molen tinggalnya dimane?
molen tinggalnya di...

tak lain dan tak bukan...
adalah...
jogja!
setelah saya membaca pada harian Kompas Minggu, 2 Maret 2008, ternyata memang syuting film Ayat-Ayat Cinta tidak dilakukan di Mesir, hal ini dikarenakan Production House pihak Mesir meminta bayaran sebesar 15 miliar. nah, berhubung Hanung Bramantyo, sutradara AAC, tidak memiliki uang sebanyak itu, maka syuting pun dialihkan ke India. beberapa adegan luar ruangan dilakukan di India, lalu adegan didalam ruangan selain dilakukan di studio, juga dilakukan di Semarang, saya rupa namanya..mungkin "Kota Lama" atau "Kota Tua" atau entah apa, yang jelas lokasinya sama dengan lokasi film Kala.
amarah durga
5. Penonton Ayat-Ayat Cinta
tidak sedikit film Indonesia yang kebanjiran penonton di bioskop, termasuk AAC inih yang tiketnya sampai terjual habis. di studio 21 Ambarrukmo, Jogja, ada dua studio yang memutar AAC, dan kedua studio itu tiketnya habis terjual...harharhar....!!!sampai bisa memesan tikaet untuk pertunjukan esok harinya. halah.
sewaktu saya masuk studio 4, saya sempat terkujut juga, karena perempuan yang ikut nonton bareng saya hampir semuanya pakai jilbab. haduh...ini baru sekali terjadi, soalnya waktu nonton Harry Potter yang nonton ga pake Jubah Penyihir ato bawa tongkat, lalu waktu nonton Star Wars juga yang nonton ga pake Jubah Obi Wan ato bawa LightSaber. tapi ini...nonton AAC pada pake Kostum islami, hebat. ini membuat saya sadar, ternyata film Indonesia masih lebih nendang efeknya daripada fim hollywood.
Terlepas dari ini film AAC atau tidak, yang namanya penonton bioskop Indonesia tetap saja menyebalkan. datangnya pada telat. pertunjukkan sudah berjalan labih dari 8 menit dan mereka baru datang berduyun-duyun..terus mereka juga ga langsung duduk, masih harus berdiri lama sambil ketawa-ketawa sok asik ama temennya...mengganggu pemandangan yang sudah datang duluan. sial. aku pikir hampir di semua film penontonnya terbiasa pada telat...haduh..ga' banget deh...
oh iya, satu lagi, penonton AAC banyak yang pada nangis bombay, hehehe...sedih banget...
amarah durga
film indonesia masih lebih nendang efeknya daripada film hollywood?
sepertinya itu terjadi hanya di beberapa kota saja...
soalnya kalo di kota lain, banyak juga tuh penonton yg nonton harry potter datengnya pake kostum gitu...
kalo soal AAC, itu kan karena film AAC memnag mendapat respon yg spesial dari kalangan muslim dilihat dari tema film tersebut, makanya terlihat seperti itu, bukannya mereka sengaja dateng pake kostum islami...
soal penonton yg dateng terlambat dan bukannya langsung duduk, tapi malah ngobrol-ngobrol...
hal itu memang sangat menyebalkan...
mungkin karena mereka yg seperti itu nonton film cuma sebagai formalitas aja, misalnya biar ga ketinggalan ma yg laen, ato cuma buat kencan nonton aja... jadi tujuan priritas mereka memang bukan untuk benar-benar nonton filmnya...
benar kata dik Molen ini...
para perempuan berjilbab itu sebenarnya memang bukan sengaja memakai kostum jilbab cuma buat nonton AAC doang, tapi emang udah dari sananya pake jilbab, mao bagemana lagih...untuk kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung memang ada beberapa komunitas yang rela memakai kostum untuk menonton sebuah pertunjukan film Hollywood seperti Harry Potter ato Star Wars...tapi tetp ajah film Indonesia bakal bertahan lebih lama di studio Joga. kita tidaka akan kebagian Cloverfield ato No Country for Old Man, ato laenya lagih...bahkan bioskop alternatif yang ada di Jogja seperti Kinoki atopun Moviebox pun juga tidak bisa memenuhi kebutuhan film yang up to date, soalnya film yang diputar di Moviebox menggunakan DVD bajakan (o my mmighty goddd)...kalo begitu bagemana kitah yakkk???
saya juga merasa sangat terganggu sekali dengan penonton bioskop yang datangnya terlambat, seandainya saja pihak 21 Jogja bisa lebih tegas lagi dalam menghadapi penonton yang telat akan angat membahagiakan sekali. pihak 21 selama ini masih lebih tegas tentang makanan dan minuman yang dibawa dari luar bioskop, padahal seperti kita tahu sendiri, harga makanan dan minuman yang dijual di 21 Jogja tuh mahal banget dan kurang beragam...amin!
salam,
amarah durga
karena alasan-alasan tersebut, untuk nonton film-film tanpa kompromi, bagaimana kalo kita menyempatkan diri untuk ke surabaya saja? heheh...
selain bisa nonton, kita juga bisa jalan-jalan...
dan jangan sampai kita salah pilih film lagi...
ya ga om dion?
ya, surabaya memang 21nya lebih maut karena disana ditayangkan film-film yang baru. saya disana menyempatkan nonton dua film berturut-turut, pertama adalah American Gangster, lalu yang kedua adalah The Golden Compass. alasan memilih Golden Compass karena saya pikir film ini tergolong film baru dan belum diputar di Joga, ternyata luput. Tidak lama setelah balik jogja, Golden Compass juga udah maen di 21 Jogja..tapi untung nya American Gangster belom maen di jogja. ya...American Gangster...Ridley Scott, sutradara, boleh juga lah, hanya sayang saja, kurang maksimal, jadi kurang bisa membuat Denzel Washington dan Russel Crowe menunjukkan tajinya yang lebih tajam lagi...
loh, kok jadi ngomongin American Gangster sih, ini kan forum untuk Ayat-Ayat Cinta...
maaf,
amarah durga
betul-betul! kita salah pilih film waktu itu, apalagi setelah nonton the golden compass, hmm... ya tapi kalo ga ditonton kan ga tau ya...
iya, kok jadi bahas american gangster?
tapi tak apa lah... kan perluasan dari topik...
Deon yang jahat,
aku sangat suka membaca analisis film yang kamu tampilkan di sini.
sungguh membantuku meraba peta wacana film yang luas itu.
ayo, tambah lagi!
Salam,
Wahmuji
Aku nonton dan satu kata terucap
Baguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuus!!!!!!!1
ini sebuah karya yang hebat
untuk muji,
terimakasih atas dukungannya. saya pikir film adalah salah satu hal yang saya gemari, jadi kenapa tidak bermain disana saja. untuk referensi diluar teks (film) saya masih belum banyak menguasai, jadi mungkin saya masih perlu membaca banyak hal lagi.
untuk referensi film yang lain, saya menunggu film yang lumayan fenomenal saja, saya memang beberapa hari ini banyak menonton film, tapi tanggapan penonton bioskop masih biasa ajah, belum ada yang samapai seperti AAC. baiklah, sampai bertemu di resensi lain.
salam,
amarah durga
tuh kan, bener yang akuh bilang. ini film yang bagus, memang masih terlihat seperti film-film cinta biasa, tapi ini bukan film cinta biasa yang biasa-biasa saja, ini film yang layak. memang sih bikin film itu ga gampang, tapi ya kalo mao usaha keras lagi paling ngga' minimal ya harusnya film indonesia tuh yang kaya' AAC ini lah....lalu, udah ada yang nonton lagi? menurutmu gimana, mbik, apa yang membuatnya bagus?
salam,
amarah durga
seperti yang sudah tertulis diatas, film AAC ini diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul yang sama. novelnya sendiri memang laku keras, ucap seorang teman, bahkan mengalahkan penjualan pada rilis awal Supernova karya Dee itu...aku pikir ini sangat hebat, karna Supernova saja sudah bagus penjualannya untuk ukuran novel Indonesia, AAC lebih hebat lagi. sayangnya saya belum sempat membaca novel ini (ada yang punya?) tapi saya akan membacanya.
belakangan ini banyak cerita film Indonesia yang diangkat dari novel, dan sepertinya, memang film-film seperti ini laris manis, walaupun diakui kualitasnya tidak sebagus novelnya. sebut saja "Cintapucino", lalu ada "Brownies", ada juga "Jomblo". tiga film tersebut adalah film yang diangkat dari novel atau Teenlit hasil tulisan anak bangsa. untuk film dengan jenis ini ada penggemarnya tersendiri. karena hasil penjualan tiketnya memang terbilang bagus, karena itu terus saja diproduksi film seperti ini. nah, untuk film yang tidak diangkat dari novel atau buku, kita lihat...ada "Tali Pocong Perawan", lalu ada "40 hari bangkitnya Pocong", ada juga "Hantu Ambulans". nah loh. keliatan sekali kan film yang idenya dari novel dan film yang idenya orisinil.
apa yang terjadi di perfilman ini? cerita Urban Legend yang selalu menghantui kita masih saja menghantui bioskop nagri. masih saja diproduksi. masih saja banyak yang nonton. saya tidak mengerti penonton film tersebut apakah karena ingin benar-benar nonton filmnya, ingin merasakan sensasi ketakutan, tidak ingin ketinggalan jaman atau apa? yang jelas selama penonton banyak, hantu-hantu itu akan selalu menghantui bisokop kita...oh no...
tapi yang jelas saya masih mendukung film yang diangkat dari novel atau cerita atau apalah daripada harus melihat film dengan ide orisinal tapi tentang pocong...
salam,
amarah durga
memang menyebalkan kalo film-film you know what itu masih banyak diproduksi dan masih banyak yang mau nonton...
tapi yah, apa boleh dikata, orang produksi sesuatu juga pasti melihat permintaan dan minat di pasaran, ga mau dong rugi...
ato mereka udah bikin film yang sebenernya kualitasnya bagus, tapi kalo masyarakat indonesia ga suka dan sedikit yang nonton gimana?
karena walopun kita tau kalo buat film itu untuk pencapaian... hmm... ya untuk membuat suatu karya yang bermakna baginya mungkin... heheh... mbuh lah istilahnya... tapi di atas semua itu, ada yang lebih, yaitu keuntungan...
jadi walopun kualitas film biasa aja, yang penting untung... gitu...
yah, laen ceritanya kalo para pembuat film tersebut udah sukses banget dan ga lagi memperhitungkan untung ruginya...
jadi kalo udah ditau masyarakat indonesia sukanya film tentang pocong dan sejenisnya, jadi ya pasti banyak juga yang mau memproduksi film soal itu...
hmmmm...saya tidak tahu mengapa, tapi ini yang terjadi pada banyak hal yang ada didunia ini. semua diliat dari untungnya. produksi barang dilihat dari untuk atau tidaknya. nah, gawatnya lagi, penciptaan karya pun kini disesuaikan dengan untung ruginya...repot dan berbahaya saya pikir. apa yang terjadi dengan dunia ini? untuk orang yang sudah tidak memikirkan uang lagi, kupikir hanya akan berpikir bagaimana menambah keuangannya. seperti keluarga punjabi, aku pikir uangnya udah banyak, tapi tetep ajah produksinya kaya begonoh...akhirnya masyarakat yang harus bertindak juga. masyarakat harus pintar-pintar memilih karya (dalam hal ini film) yang akan ditonton dan yang tidak. pilih yang benar-benar bagus agar kawan yang mampu membuat film itu semakin terpacu untuk membuat yang lebih mantab lagi.
bergabung dengan saya!
salam,
amarah durga
bagusan novelnya
sedik, saya belum membaca novel Ayat-Ayat Cinta, tapi rata-rata film yang diangkat dari novel memang seperti itu, lebih bagus novelnya daripada filmnya. sebagian besar teman saya yang saya tanya tentang film Dea Lova juga menjawab seperti itu, lebih bagus novelnya daripada filmnya. hal ini juga terjadi pada film Jomblo. saya tidak banyak membaca novel, hanya beberapa novel yang saya baca disadur ke film, contohnya The Da Vinci Code, saya membaca The Da Vinci Code setelah menonton filmnya, dan menurut saya filmnya juga biasa ajah (atau mungkin gara-gara saya nontonnya di kursi barisan paling depan) seperti novelnya. novelnya memang seru, tapi menurut saya tidak sefenomenal yang diperbincangkan orang. lalu saya juga membaca Fight Club. nah, kalo yang satu ini film dan novelnya sama sekali tidak mengecewakan, kalo dari filmnya mulai dari casting sampe' editingnya udah manteb...apalagi violencenya...haaaaaa...segarrrr!!!
mungkin fight club kasus yang berbeda, soalnya David Fincher, sutradara filmnya (Game, Seven, Twin Peak, dll) dan Chuck Palahniuk, penulis novelnya juga terkenal sebagai orang nyentrik yang berani membuat sesuatu yang keluar jalur...jadi mereka juga disebut dan tenar sebagai generasi postmodern Amerika. sementara untuk Ayat-Ayat Cinta, Hanung Bramantyo sang sutradara juga terkenal sebagai pembuat film yang biasa-biasa saja (Legenda Sundel Bolong, Brownies, Jomblo, Lentera Merah, Get Married) walaupun sering terpilih sebagai sutradara terbaik versi Festival Film Indonesia, dan Habiburrahman El Shirazy, penulis novelnya, yang saya ga tau tuh orang yang biasa saja atau tidak...nah loh...
Sedik, anda akan sangat membantu sekali dalam wacana ini jika dapat berbagi juga apa yang membuat novel Ayat-Ayat Cinta lebih bagus daripada filmnya, dan apa yang membuat kamu kecewa...
salam,
amarah durga
Akhirnya..saya nonton juga...saya pikir saya akan nonton fim ini di tipi sajah.. tapi ternyata keadaan memaksa saya untuk nonton..
Ada yang masih terasa kurang di pelm ini,,kaya yg udah sy bilang ke dion, yang kurang yaitu di film ini ga diceritain bagaimana si Maria, seorang Kristen, bisa hidup tenang di tempat yang mayoritas penduduknya Islam yang bisa dibilang fanatik. Seperti kasus orang Amerika yang berada di Metro, dia dianggap musuh oleh orang2 disana..tapi Maria, hidup dengan tenangnya di flat sederhana.
Oya,soal bahasa juga...itu bener2 ngeganjel di otak.. Dimane2 ye..pengadilan di suatu negara hanya menggunakan Bahasa Asli negara tersebut (itu yang saya pelajari di kelas Sociolinguistic).. tapi pengadilan di sana "pake bahasa Indonesia"
halah,,halah,,
Tapi film ini memberi warna perfilman di Indonesia..dan saya bisa menilai film ini BAGUS ...
tuh kan bener apa saya bilang. penonton Ayat-Ayat Cinta pasti ngerasa aneh dengan bahasanya...
salam,
amarah durga
Post new comment