10 film paling berpengaruh

10 FILM PALING BERPENGARUH SEPANJANG MASA
versi majalah Cinemags edisi ke 100 November 2007
beberapa bulan lalu saya inget banget seorang kawan bercerita kalo’ dia beli Cinemags terbaru yang isinya 100 film paling berpengaruh sepanjang masa. Dia bercerita dengan asiknya tentang isi majalah yang sedang merayakan edisi 100 nya itu dan dia sudah mendata film karya sutradara siapa yang paling banyak nominasinya…edan. akhirnya saking pengennya lihat ke 100 list itu saya dateng ke toko buku dengan kamsud beli majalahnya…tapi ternyata harganya hampir tiga kali lipat edisi normal. Ya udah…akibat ketidakmampuan saya membeli majalah itu, saya mulai memusuhi Cinemags. Dendam!!!!
Seiring berjalannya waktu, hubungan pertemanan saya mengalami evolusi (bukan dengan kawan yang tadi) dan memiliki seorang “kawan” yang sangat intens. Dia juga berlangganan majalah cinemags. setelah saya melihat koleksinya, ketemu juga edisi 100 dan membuka luka dari dendam saya yang telah lalu ini. Dan…sampai disinilah sekarang.
100 film yang masuk list cinemags ini adalah film terbaik dengan kriteria film-film tersebut sudah diakui secara umum sebagai film terbaik (sepertinya tidak jelas), yang tak harus melulu memborong piala, namun jika ditonton kapanpun juga, rasa dan esensinya tetaplah sama, tetap bermakna dan pantas untuk ditonton ulang. Ditambah lagi tanggapan para kritikus film yang mengakui bahwa film tersebut adalah film yang berpengaruh. Ya…walaupun saya melihat ketidakjelasan dari “diakui secara umum” itu apakah orang awam atau orang yang memang intens di bidang perfilman, saya tetap ingin berbagi 10 film paling berpengaruh versi majalah Cinemags. 10 saja, karna kalo’ ke100nya ditulis, jemari saya bisa-bisa jadi Annisa Bahar, patah-patah.
#10
SCHINDLER’S LIST (1993)
Sutradara: Steven Spielberg
Pemain: Liam Neeson, Ben Kingsley, Ralph Fiennes
Oscar: Best set decoration, best cinematography, best director, best film editing, best music, best original score, best writing screenplay, best picture.
Ceritanya begini, nih…
Oskar Schindler (Liam Neeson) dari awal sudah memulai lobi-lobi politiknya pada petinggi nazi yang bercokol di Polandia, menyuap banyak pejabat bahkan mempekerjakan Itzhak Stern (Ben Kingsley), seorang akuntan Yahudi untuk mengatur pabriknya agar mengajak Yahudi lainnya untuk bekerja bagi Schindler.
Maka hubungan Oskar dan Itzhak pun menjadi simbiosi yang kuat, tak lupa kengerian Holocaust juga digambarkan lewat karakter Goeth (Ralph Fiennes) komandan Nazi yang keji. Maka Oskar yang beralih haluan ingin menyelamatkan Yahudi harus bekerjasama dengan Goeth, tentunya dengan harga yang sangat mahal demi menuntaskan daftar Schindler, daftar Yahudi yang akan diselamtkan.
Cerita dibelakangnya…
Sudah lama kisah ini hendak difilmkan, pertama kali oleh Poldek Pfefferberg, salah satu Yahudi yang diselamatkan Schindler dan mendekti studio MGM tahun 1963 ingin memproduseri film ini dengan naskah karya Howard Koch. Hal in tidak terjadi dan barulah pada tahun 80an Steven Spielberg tertarik akan kisah seorang Nazi yang menyelamatkan banyak Yahudi. Saat itu sutradara yang sudah sukses dengan Indiana Jones tidak yakin akan mampu membuat kisah ini dan menawarkan pada Roman Polanski, tapi Polanski menolaknya karena hal ini sangat sensitif, sebab ibunya tewas di kamp konsentrasi pada saat perang. (sepertinya Roman Polanski penuh dengan kematian tragis, ibunya meninggal di kamp konsentrasi, sementara istrinya yang sedang hamil menjadi korban pembunuhan yang didalangi oleh serial killer paling ngetop, Charles Manson) Akhirnya setelah melihat pembantaian di Bosnia lewat berita, Spielberg mengambila alih proyek itu sendiri. Sebelumnya studio memintanya membuat Jurassic Park.
Flmnya sendiri memakai medium hitam putih, tanpa teknik kamera yang rumit, hal yang ditentang studio karena merasa film hitam putih tidak akan membuat filmnya laku. Syutng dilakukan di Polandia dekat beberapa kamp konsentrasi asli, syuting yang membuat emosi Spielberg terkuras.
Faktanya…
Pada kenyataanya bukan Itzhak Stern yang membantu Schindler menulis daftar Yahudi yang akan diselamtkan, tapi Marcel Goldberg. Mereka yang mengenal Marcel tak suka dengannya karena Marcel adalah seorang pria yang korup dan menulis daftarnya asal-asalan.
Menurut saya…
Ini memang film yang sangat bagus, filmnya okem…ditambah dengan warna hitam putih yang buat saya lebih menyentuh secara emosional dan spiritual (halah??) film ini memang layak untuk masuk daftar film bagus sepanjang masa, hanya saja untuk masuk daftar film berpengaruh sepanjang masa sepertinya belum cucok. soalnya film ini pengaruhnya biasa saja sih…tidak spesial. Untuk film perang, kualitasnya masih dibawah film Platoon (Oliver Stone - 1986). Tapi tidak bisa dipungkiri kalo’ Spielberg adalah salah satu sutradara terbaik dalam menciptakan drama di dalam film. Salut…
#9
THE MATRIX TRILOGY (1999 – 2003)
Sutradara: Wachowski Brothers
Pemain: Keanu Reeves, Carrie-Anne Moss, Hugo Weaving, Laurence Fishburn
Oscar: Best Editing, best effects, sound effects editing, visual effects, best sound
Ceritanya begini, nih…
Pil merah atau pil biru? Terbuai atau menerima kenyataan? Itulah takdir yang harus diterima Neo (Keanu Reeves) yang menyadari bahwa dunia yang dia tinggali tak senyata yang terlihat. Dengan bantuan Morpheus (Laurence Fishburn) dan Trinity (Carrie-Ann Moss), Neo harus melawan kekuatan kaum mesin yang menjajah umat manusia.
Cerita dibelakangnya…
Film ini memang rumit (ada yang langsung ngerti ceritanya waktu nonton the Matrix pertama kali?), tak hanya action tapi memuat sub kultur hacker serta mengusung ide filsafat yang dalam. Film kedua lebih mengundang decak kagum, sayangnya film ketiga yang rilis enam bulan sesudah film kedua dianggap kurang kuat dan memiliki ending yang membingungkan. Walau begitu film ini memang mengguncang, adegan bullet-time yang ada bahkan sudah ditiru puluhan kali.
Faktanya…
Beberapa aktor ini pernah diminta memerankan Neo, tapi menolak: Ewan MeGregor, Leonardo DiCaprio, dan Will Smith. Shusus untuk Will Smith, dia menyesal menolaknya. Tapi Wachowski sebenarnya ingin Johnny Depp, pilihan yang ditentang petinggi Warner Bros yang ingin Brad Pitt atau Val Kilmer karena dianggap saat itu lebih menjual. Brad Pitt menolak. Pilihan jatuh pada Johnny Depp dan Keanu Reeves. Keanu berhasil memikat studio dan akhirnya dipilih.
Menurut saya…
Trilogi The Matrix ini biasa-biasa saja sih, Cuma seperti film action murahan biasa, hanya saja efek visualnya dan teknologi Bullet-Time yang digunakan di film pertama kali menjadikan The Matrix sangat layak menjadi salah satu film yang berpengaruh sepanjang masa, soalnya teknik ini bakal banyak dipakai pada film-film lainnya.
#8
IN THE HEAT OF THE NIGHT (1967)
Sutradara: Norman Jewison
Pemain: Sidney Poiter, Rod Steiger, Warren Gates, Lee Grant
Oscar: best actor in leading role, best film editing, best picture, best sound, best wrting screenplay.
Ceritanya begini, nih…
Kisahnya yang sarat dengan rasialisme ternyata tidaklah tentang rasialisme, tetapi tentang penyelidikan pembunuhan. Ketika seorang pengusaha besr dibunuh di kota Sparta, Missisippi, sherrif lokal yang sombong, Bill Gillespie (Rod Steiger) tak butuh lama mencari kambing hitam. Dengan cueknya dia menuduh seorang kulit hitam di stasiun kereta api sebagai tersangka. Tapi Sherrif salah sangka, pria itu tak bisa dikambing hitamkan karena dia adalah seorang detektif yang kebetulan lewat, detektif Tibbs (Sidney Poitier). Tibbs sukarela memecahkan kasus itu, walau dia tak suka diperintah orang kulit hitam. Dengan kerjasama yang menegangkan, mereka lalu mencoba memecahkan kasus itu.
Cerita dibelakangnya…
Missisippi tidak dijadikan lokasi syuting karena saat itu di daerah itu berlaku politik segregasi, yakni pemisahan antara kulit putih dan kulit hitam. Maka lokasi dipindah ke Sparta, Illinois dengan menghilangkan ciri khas kota itu. Untuk penampilannya sebagai Bill Gillespie, Rod Steiger mendasarkannya pada tipikal polisi di Amerika Serikat bagian selatan yang sering muncul di iklan televisi.
Faktanya…
Kalimat “They call me mister Tibbs!” menjadi terkenal dan dijadikan sekuel film ini pada tahun 1970 dilanjutkan tahun 1971 dengan The Organization.
Menurut saya…
Film tahun segini hampir gada bedanya dengan film yang lainnya, apalagi temanya tentang polisi dan detektif jugak. Semuanya berasa sama, lagian mirip banget ama film The French Connection, nah loh… sedikit membosankan sih buat saya…jadi film ini buat saya terlalu biasa untuk menjadi berpengaruh. Tapi yang menarik tuh cerita rasialnya itu loh…ditahun segitu membuat film rasial dan dapet Oscar..wow!
#7
PSYCHO (1960)
Sutradara: Alfred Hitchcock
Pemain: Anthony Perkins, Janet Leigh, Vera Miles, John Gavin
Oscar (nominated): best supporting actress, best set decoration, best cinematography
Ceritanya begini, nih…
Jika seorang anak tinggal bersama ibunya itu normal, namun jika anak tersebut sudah diatas 30 tahun dan bernama Norman Bates (Anthony Perkins) yang sakit jiwa maka itu klasik. Ini adalah proyek yang sangat berkesan bagi Alfred Hitchcock yang sudah sukses pada tahun 1950an dengan Dial M for Murder, Rear Window, dan To Catch a Thief. Selanjutnya adalah serangkaian adegan klasik, adegan mandi paling menakutkan sepanjang masa ketika Marion Crane (Janet Leigh) dibunuh di motel milik Norman Bates, pria psycho yang masih menyimpan mayat ibunya.
Dengan Psycho, Alfred melebihi film horror biasa dengan menggunakan simbolisme. Burung hiasan digunakan sebagai metafora kematian serta thriller psikoanalisa, tiga lantai di motel Norman Bates mewakili tiga level psikoanalisis, lantai pertama adalah superego dimana (mayat) ibu Norman tinggal, lantai kedua adalah ego Norman dimana dia terlihat normal dan lantai dasar adalah id. Selain itu kisahnya unik, mengenalkan protagonis yang simpatik lalu dibunuh, membuat penonton semakin penasaran.
Psycho dianggap sebagai pembuka kesempatan pada film lain untuk semakin terlihat kejam.
Cerita dibelakangnya...
Pada waktu itu, Alfred menemukan novel horor karya Robert Bloch untuk difilmkan dengan membeli haknya sebanyak $9000 dan ternyata sulit menemukan sponsor untuk filmnya. Akhirnya Alfred memproduksi film tersebut dengan uangnya sendiri serta memakai kru serial televisinya sendiri, Alfred Hitchcock Presents. Sedangkan untuk format filmnya ia memilih medium hitam putih agar tidak terlihat terlalu sadis serta biayanya lebih murah serta klasik.
Alfred hitchcock tergolong sebagau sutradara yang unik karena menganggap aktor sebagai ternak, suka dengan wanita berambut pirang dan senang menjadi cameo di filmnya sendiri serta takut dengan polisi dan telur.
Faktanya...
Adegan yang paling memorable dari film ini sudah pasti adegan pembunuhan di kamar mandi. Adegan ini sangat mendetail dibuat oleh master of suspense, syuting untuk adegan 45 detik itu sampai empat minggu dengan 70 sudut pengambilan gambar, bahkan aktris Janet Leigh sendiri sampai takut mandi. Soundtrack suara biola yang menyeramkan muncul dari komposer Bernard Herrmann. Darah dalam adegan itu sebenarnya saus cokelat dan suara pisau yang menusuk adalah efek pisau yang menusuk buah melon. Adegan lain yang tak kalah menghebohkan untuk jaman itu adalah menyorot WC yang sedang tersiram.
Menurut saya...
Ya...saya sepakat dengan Cinemags kali ini. Psycho menjadi film yang berpengaruh pada jamannya. Seperti yang sudah tertulis diatas, Psycho seperti menjadi film yang mengijinkan film lain untuk menjadi lebih sadis lagi..(thank you, Mr. Hitchcock)
#6
2001: A SPACE ODYSSEY (1968)
Sutradara: Stanley Kubrick
Pemain: Keir Dullea, Gary Lockwood, William Sylvester
Oscar: best special visual effect
Ceritanya begini, nih…
Dikisahkan empat juta tahun sebelum masehi beberapa ekor kera menemukan benda monolith setinggi dua atau tiga meter yang berdiri di padang pasir. Kera-kera tersebut menyentuhnya dan mereka berubah dari vegetarian menjadi pemburu, bahkan membuat mereka menjadi lebih cerdas dan memiliki naluri membunuh.
Lalu melompat ke tahun 1999 dalam sebuah pesawat luar angkasa yang mengorbit bumi. Astronot di kapal tersebut, Dr. Heywood R. Floyd (William Sylvester), mendapat informasi bahwa dibulan terdapat benda monolith setinggi dua atau tiga meter. Dari hasil penyelidikan diketahui bahwa benda ini sudah ada dari empat juta tahun yang lalu dan dikubur dengan sengaja. Floyd lalu menyentuh permukaan monolith itu ketika sebuah suara kemudian memekakan telinga.
Sementara itu dikapal luar angkasa Discovery One astronot Dave Bowman (Keir Dullea) dan Frank Poole (Gary Lockwood), harus berurusan dengan super computer Hal 9000 yang entah mengapa malah membangkang dan membunuh astronot lainnya. Monolith lain ternyata mengorbit di planet Yupiter dan Bowman mendapat kejutan baru dari Monolith ini.
Cerita dibelakangnya…
Film yang miskin dialog ini menggunakan musik sebagai medium, seperti karya Johann strauss II, An Der Schonen Blauen Donau, pada adegan luar angkasa dan pendaratan di bulan serta adegan pembuka yang sangat berkesan dengan iringan komposisi Richard Strauss, Also Sprach Zarathustra yang menjadi lambang film ini. Ciri khas lainnya adalah 45 menit dari film ini tak ada dialog sama sekali, hanya musik, sound effect dan gambar. Kalaupun ada dialog maka dialognya pun datar dan tak bernyawa. Dari perspektif transcendental ini, plot yang focus terlihat agak berlebihan, bahkan dialog serta konflik tertelan oleh perubahan evolusi, sebuah film yang menceritakan perubahan besar dalam peradaban manusia.
Faktanya…
Penggemar film ini banyak yang melakukan interpretasi sendiri atas maksud dan tujuan film ini karena banyak yang bingung, namun Kubrick sendiri selalu menolak untuk memberikan jawaban yang pasti mengenai hal ini dengan berpendapat bahwa dia sengaja membuat film yang akan memunculkan banyak pertanyaan.
Adegan matahari dan bulan sabit yang sejajar dalam film ini adalah simbol Zoroastrianism, agama Persia kuno sebelum masehi. Simbol ini melambangkan pergulatan antara kebaikan dan kejahatan. Kebetulan pula musik yang diputar adalah ”Also Sprach Zarathustra” (Thus Spake Zarathrusta), karya Richard Strauss, yang berdasarkan buku karya filsuf Friedrich Nietzsche, yang terkenal dengan ucapannya ”Tuhan sudah mati”. Banyak yang beranggapan ini bukan kebetulan, karena tampaknya inilah apa yang Kubrick inginkan waklau interpretasi global akan film ini bervariasi.
Menurut saya...
Untuk film fiksi ilmiah produksi tahun 60an, jelas udah sangat bagus sekali. Ya..saya bilang layak lah ya, ini jadi film fiksi ilmiah yang berpengaruh, sekarang...film fiksi ilmiah mana yang gada unsur Space Oddyssey-nyah? Yaaa...saya masih bilang bagus, walaupun untuk menonton film dengan durasi 140menit ini memakan waktu sampai seminggu. Karena terlalu datar, jadi hampir tiap 10 menit saya tertidur...alurnya lambat banget, gak kuat!!!!!
#5
RAGING BULL (1980)
Sutradara: Martin Scorsese
Pemain: Robert De Niro, Joe Pesci, Cathy Moriarty, Frank Vincent
Oscar: Best leading actor, best film editing
Ceritanya begini, nih…
Jake adalah petinju berbakat dari Bronx dan dimanajeri oleh adiknya, Joey (Joe Pesci). Perjuangannya menjadi petinju terbaik begitu keras, tak hanya didalam ring, tapi juga diluar. Istri pertamanya cerai darinya lalu Jake berhubungan dengan gadis berusia 15 tahun, Vicky (Cathy Moriarty) dan selanjutnya hidupnya semakin naik turun, kecemburuannya akan Vicki, paranoid, serta temperamennya yang kasar menjadi warna sendiri dalam film hitam putih ini.
Cerita dibelakangnya…
Pada zamannya banyak reaksi akan film ini, ada yang memujinya selangit, ada yang mengkritiknya karena terlalu brutal, maklum awal 80an publik masih terpesona oleh Star Wars yang begitu fantastis sehingga sebuah film hitam putih akan membuat dahi berkerut. Namun seiring dengan waktu, semuanya berpendapat sama, ini adalah salah satu film klasik modern terbaik sepanjang masa yang berhasil mengeksplorasi kedalaman jiwa seorang manusia dengan indah.
Kalau Taxi Driver membuat Scorsese dan De Niro menjadi sinonim kata “kualitas” maka mereka seolah sukses dalam menerjemahkan semangat zaman pada saat itu ke pita seluloid.
Scorsese mengambil banyak resiko dengan film ini, yakni penggunaan film hitam putih di zaman dimana film sudah berwarna. Tentunya pengunaan itu bukan tanpa tujuan, namun menjadi inti dari kisah Jake LaMotta yang rumit ini. Dengan penulis naskah yang sama dengan Taxi Driver, Paul Schrader, kembali dihadirkan karakter yang pemarah, paranoid, namun mengundang rasa simpati penonton dari memoir Raging Bull: My Story yang ditulis oleh Jake LaMotta sendiri.
Faktanya…
Jake LaMotta adalah petinju legendaris kelahiran tahun 1921 yang dikenal memiliki kehidupan controversial didalam maupun diluar ring tinju. Ia pernah diperikas FBI karena mengaku bahwa kekalahannya dari Billy Fox adalah hal yang disengaja demi keuntungan baginya memperoleh juara dunia dan pihak mafia yang melakukan taruhan. Ia juga pernah membintangi 15 film lebih, termasuk The Hustler, dengan Paul Newman.
Menurut saya…
Ada yang masih meragukan Martin Scorsese?
#4
STAR WARS TRILOGY (1977, 1980, 1983)
Sutradara: George Lucas
Pemain: Mark Hamill, Harrison Ford, Carrie Fisher, Billy Dee Williams
Ceritanya begini, nih…
Ini adalah kisah epik luar angkasa yang tak akan habis dibahas, sebuah trilogy yang mencetak sejarah serta pertama kali menggunakan merchandise sebagai media promosinya. Semua sudah tahu bahwa ini adalah kisah Luke Skywalker, Han Solo, dan Putri Leia berpetualang di galaksi melawan kejahatan dengan karakter Darth Vader yang legendaris. Hasilnya fantastis, inilah film yang merubah budaya, menaikkan harga saham 20th Century Fox serta membuat George lucas menjadi orang penting di Hollywood.
Cerita dibelakangnya…
Inspirasi utama George Lucas adalah salah satu film Akira Kurosawa, The Hidden Fortress (1958) dimana Lucas mengambil kisah Star Wars dari sudut pandang dua robot, C3PO dan R2D2. bahkan karakter Darth Vader diinspirasi oleh helm kabuto hitam karakter penjahat dalam film Seven Samurai yang juga besutan Kurosawa.
Selain itu karya Joseph Campbell mengenai mitologi dunia juga mempengaruhi, khususnya dalam perjalanan sang pahlawan, seperti digambarkan Campbell dalam The Hero with a Thousand Faces, motif yang muncul di episode IV - VI.
Faktanya…
Saat itu presiden Ronald Reagan memulai proyek Star Wars, proyek system laser dan misil untuk menangkal serangan Soviet. Selain itu actor yang menjadi presiden ini menggambarkan Soviet union sebagai Evil Empire. Bahkan calon presiden John McCain awalnya menyamakan dirinya dengan Luke Skywalker pada kampanye tahun 2000.
Menurut saya…
Ini film yang sangat berpengaruh sepanjang masa.
#3
LAWRENCE OF ARABIA (1962)
Sutradara: David Lean
Pemain: Peter O’Toole, Omar Sharif, Alec Guinness, Anthony Quinn
Oscar: best director, best art direction, best cinematography, best film editing, best music, best sound, best picture
Ceritanya begini, nih…
Kisah Letkol Thomas Lawrence (Peter O’Toole) yang terlibat sejarah dunia Arab, khususnya revolusi Arab tahun 1916 – 1918. selain hal ini dimunculkan pula konflik emosional Lawrence yang melihat kekejaman perang serta pencarian identitas dirinya dan kesetiannya yang terbelah antara Inggris dan kawan-kawan barunya di Arab. Lawrence belajar banyak hal, kebiasaan orang Arab hingga politik mereka, menjadikannya tokoh penting dalam sejarah Arab.
Cerita dibelakangnya…
Aslinya pria kelahiran tahun 1888 ini tak setampan dan setinggi Peter O’Toole dan petualangannya menarik perhatian public ketika ditulis oleh jurnalis Lowell Thomas serta buku yang dia tulis sendiri, Seven Pillars of Wisdom. Petualang ini tewas pada usia 46 tahun karena kecelakaan motor.
Faktanya…
Raja Hussein dari Yordania berbaik hati meminjamkan seluruh brigade tentaranya sebagai figuran film, sehingga tentara dalam film ini diperankan oleh tentara asli. Raja Hussein sendiri sering mengunjungi lokasi syuting dan jatuh cinta pada sekretaris Inggris, Antoinette Gardiner, yang menjadi istri keduanya tahun 1962.
Syuting yang melelahkan dilakukan di Maroko, Yordania, dan Spanyol. Syuting di Yordania harus dipindahkan ke Spanyol karena kru banyak yang sakit dan biaya membengkak.
Dalam adegan penyerangan Aqaba yang di shot di Spanyol, kru mendirikan 300 bangunan yang berdasarkan penampilan kota Aqaba asli tahun 1917. suasana yang bersahabat di Yordania tak ditemukan di Maroko, figuran tentaranya tak sabaran dan tidak mau menuruti perintah. Hasilnya mendulang banyak pujian. Dengan durasi yang amat panjang, tak ada satupun aktris wanita muncul.
Menurut saya…
Saya sempat mabok waktu nonton film ini...film klasik tidak pernah membuat saya bertahan lama, apalagi film ini durasinya 227 menit...ANJROT!!! saya melihat film ini tidak berbeda dengan Ben Hur, ato film klasik epik dan kolosal sejenisnya..jadi buat saya ya biasa saja pengaruhnya...walopun ceritanya bagus.
#2
GONE WITH THE WIND (1939)
Sutradara: Victor Fleming
Pemain: Clark Gable, Vivien Leigh, Leslie Howard
Oscar: Best actress in leading role, best actress in supporting role, best art direction, best cinematography color, best director, best film editing, best writing screenplay, best picture.
Ceritanya begini, nih…
Tentang keadaan Amerika Serikat ketika perang saudara. Scarlett O’Hara, tokoh wanita cantik yang egois jatuh cinta pada Ashley Wilkes tapi Ashley malah menikah dengan Melanie Hamilton. Kemudian muncul Rhett Butler yang sama-sama sinis dan egois tapi Scarlett tak mudah ditaklukan dan kisah cinta ini semakin membuktikan kekuatan akting Clark dan Vivien.
Kisah ini bisa dibagi dua, pertama adalah periode perang saudara setelah Abraham Lincoln terpilih dan bagian kedua adalah akhir perang saudara. Durasinya yang panjang bisa membuat anda kelelahan menontonnya. Namun durasi itu mampu menampilkan perubahan karakter Scarlett dari wanita manja menjadi sosok wanita yang mandiri.
Cerita dibelakangnya...
Sebagai sebuah film legendaris, tak hanya kostum dan dramanya memikat, namun film ini berhasil menampilkan suatu masa dimana gaya hidup Amerika bagian selatan digambarkan, masa yang sudah tidak ada lagi pasca perang saudara.
Selain dua pemeran utama, Hattie McDaniel, aktris kulit hitam yang memerankan pelayan mampu mencuri perhatian bahkan pada zamannya mampu menembus stereotipe karakter yang diperankan oleh orang kulit hitam.
Faktanya...
Gone With The Wind adalah novel buah karya Margaret Mitchell yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1936 dan berhasil memperoleh Pulitzer pada 1937. novel ini merupakan satu-satunya buku yang pernah dibuat oleh Margaret Mitchell semasa hidupnya, namun menjadi salah satu novel Amerika paling laris.
#1
THE GODFATHER (1972)
Sutradara: Francis Ford Copolla
Pemain: Marlon Brando, Al Pacino, James Caan, Robert Duvall
Oscar: best actor, best picture, best writing screenplay
Ceritanya begini, nih…
Ketika Don Vito Corleone mulai memberikan kekuasaan pada Michael, drama berdarah keluarga mafia muncul dengan berkelas, diisi kekerasan serta pembunuhan, semuanya atas nama kepentingan. Walau menceritakan karakter-karakter penjahat yang menghalalkan segala cara namun Coppola berhasil menampilkan bahwa penjahat juga manusia yang punya perasaan dan ketakutan. Kisah yang ada juga memiliki kedalaman serta kerumitan yang membuatnya tetap memikat kapanpun ditonton. Kalau saja ini adalah film aksi maka kedalaman ceritanya akan hilang dan berubah menjadi hiburan biasa, justru drama dan dialog yang ada menjadi kekuatan film ini.
Cerita dibelakangnya…
Dibalik setiap film besar ada cerita yang besar dibalik layarnya, khususnya untuk film yang melambungkan Marlon Brando, Al Pacino dan Francis Ford Coppola. Decade 70an sepertinya milik Coppolla dengan The Godfather, The Godfather part II dan Apocalypse Now, berbagi dengan Martin Scorsese dengan Taxi Driver.
Prosesnya benar-benar melelahkan, Coppola hampir dipecat karena studio ingin Sergio Leone, studio lalu tak suka dengan Marlon Brando, kelompok keturunan Italia di Amerika yang mengancam akan memboikot film ini, kelompok penyayang binatang yang mengecam adegan potong kepala kuda yang mengerikan bahkan mafia asli yang diinta sebagai penasehat dalam film ini. Tapi film ini tetap saja klasik dan legendaris, menduduki puncak film-film terbaik versi manapun selama 30 tahun terakhir.
Studio lalu ingin Robert Redford memerankan Michael Corleone, tapi Copolla ingin actor hijau yang belum terkenal, Al Pacino, pilihan yang ditentang oleh studio. Al Pacino akhirnya diijinkan untuk bermain setelah Copolla mengancam akan mogok dari produksi film ini.
Faktanya…
Al Pacino, James Caan, dan Diane Keaton masing-masing menerima US$ 35,000, Robert Duvall mendapat US$36,000 untuk enam minggu syuting dan Marlon Brando mendapatkan US$ 50,000 plus biaya mingguan US$1,000 plus 5% keuntungan film. Brando mendapat uang lebih banyak padahal dia termasuk actor yang sulit bekerjasama dengan kru, menolak menghapal naskah, dan hanya mau membacanya dari karton besar.
Menurut saya…
Masih ada yang belum nonton The Godfather???? Hwahahahahahahaahahahahahahahah…

10 FILM NON-HOLLYWOOD PALING BERPENGARUH
Versi durgadurga 2008
Akhirnya selesai jugak tulisan 10 film paling berpengaruh itu. Saya sempat mabok juga waktu ngetiknya, ga selesaiselesai…stress juga rasanya, awalnya sih semangat ajah pengen bikin daftar film, tapi pas nyampe tengah-tengah udah malesss banget rasanya..hampir menyerah dan menjadi tulisan yang tidak terselesaikan lagi…ohhh nooo…!!! Ditambah lagi dari daftar 10 itu ada beberapa film yang saya ndak sukak, kan nulisnya makin males ajah..
Dikesempatan kali ini, saya mau coba ngasi temen-temen semua daftar film yang sedikit berbeda, karena ga’ semua film yang ada di daftar berikut ini ada di rentalan vcd biasa, harus nyari yang luar biasa. Kalo’ temen ada yang tertarik dengan salah satu film ini, tapi gatau dimana nyewa vcd-nya, coba deh cek di Universal (Selokan Mataram depan Kedai Kopi) atau di Sketsa Sinemadeus (Sagan). Koleksi film non-hollywoodnya disana banyak, ga bakal abis kalo setahun.
Kenapa sih harus ada juga daftar film non-hollywood? Ya karena sekarang ini udah banyak juga temen-temen yang mulai jenuh dengan tipikal film Hollywood yang itu-itu ajah..yang ujarnya terlalu wangi dengan memajang wajah yang terlalu ganteng atau terlalu cantik dan cerita yang terlalu gak penting, makanya pada nyari alternatif film lagi. Nah, walopun di Jogja masih belum semudah di Jakarta (denger-denger di Jakarta ada bioskop yang suka nayangin film non-hollywood gituh. Waaaaa...mauuuu) dalam pencarian film non-Hollywood, tapi ternyata saya juga menemukan beberapa teman yang ternyata lumayan punya banyak referensi film non-hollywood ituh. Yah...setelah saya bertukar cerita lumayan seru dan lumayan lama, saya jadi ingin berbagi hasil dikitlah dengan temen-temen semua, siapa tau ada yang serius anti hollywood..kan lumayan tuh.
Oiya, untuk daftar film ini saya tidak membuatnya dalam urutan yang semakin kebawah semakin bagus loh ya...saya menuliskannya secara acak, yang saya ingat saja...
RINGU (1998)
a.k.a. THE RING
Japan
Sutradara: Hideo Nakata
Pemain: Nanako Matsushima, Miki Nakatani, Hiroyuki Sanada
Ceritanya seorang reporter wanita mencoba menyelidiki kasus video misterius yng bias membawa maut bagi yang menyaksikannya. Akan tetapi, penyelidikan itu menjadi boomerang bagi sang reporter ketika sang anak juga menyaksikan video itu. Sang reporter kini harus berlomba guna menyibak kasus tersebut demi keselamatan anaknya.
Pergerakan Sadako keluar dari dalam sumur, yang terlihat ganjil dilakukan dengan trik sederhana, dimana seorang penari Kabuki disyut melakukan jalan mundur, kemudian rekaman tadi diputar secara reverse menghasilkan pergerakan Sadako yang sangat tidak biasa dan ganjil.
Jepang selalu mengerikan film horornya..ya paling tidak pada tahun 1998an, tapi menurut saya sih semakin sekarang semakin malesin film horornya. Ringu adalah salah satu yang berhasil dengan sukses mengenalkan film horror Jepang pada seluruh dunia. Banyak yang mengakui kalau film horror Jepang adalah film horror yang sangat horror. Penampakan Sadako banyak ditiru oleh film horror disegala daerah. Indonesia juga kaya’ gituh, dengan teknik penampakan hantunya yang sedikit tapi mengejutkan, sangat jepang sekali. Diparodikan sampai dibuat remakenya oleh Hollywood. Hmmmm…Asia memang sangat klenik sekali.
LE FABULEUX DESTIN D’AMELIE POULAIN (2001)
a.k.a. AMELIE
Prancis
Sutradara: Jean-Pierre Jeunet
Pemain: Audrey Tautou, Mathieu Kassovitz
Amelie betekat untuk melakukan kebaikan saat ia menyaksikan betapa bahagianya orang yang ditolongnya, hingga suatu ketika membuatnya sadar bahwa ia telah mengorbankan kebahagiaan dirinya. Amelie lalu berjuang demi memperoleh kebahagiaannya.
Sebenarnya peran Amelie Poulain bukan diperuntukkan khusus bagi Audrey melainkan untuk Emily Watson, akan tetapi karena Emily tidak bisa berbahasa Prancis dan telah memutuskan untuk membintangi Gosford Park, peran itu akhirnya didapatkan Audrey, dan membuatnya dikenal luas.
Saya jatuh cinta pada Audrey Tautou di film yang sangat Prancis ini. Dengan warna yang tua dan sangat cocok sekali dengan Prancis yang memiliki bangunan tua dan indah itu, editing film ini banyak mempengaruhi film setelahnya, A Very Long Engagement, Crash, Everything is Illuminated adalah film yang menggunakan konsep pewarnaan yang sama. Saya menyimpulkan pewarnaan dala film selain dipengaruhi oleh editing, juga oleh lighting.
2046 (2004)
Hongkong
Sutradara: Wong Kar-Wai
Pemain: Tony Leung, Gong Li, Maggie Cheung, Zhang Ziyi
Sebagai kelanjutan ”In the Mood for Love”. Dikisahkan jurnalis dalam film sebelumnya menulis sebuah novel berbau fiksi ilmiah berjudul 2046. dalam novel itu, sebuah kereta misterius berangkat menuju tempat untuk menemukan kenangan yang hilang.
Produksi film ini sempat terhenti akibat wabah SARS
Haduh...saya sulit sekali menangkap cerita film ini, akhirnya saya harus menontonnya sampai empat kali dan melihat resensinya di internet baru sedikit mengerti. Ahhhh...pokonya film aneh ini keren sekali lah dilihat dari segala sudut.
GOODBYE LENIN (2003)
Jerman
Sutradara: Wolfgang Becker
Pemain: Daniel Bruhl, Katrin Sab, Maria Simon
Bersettingkan tidak lama setelah robohnya tembok Berlin, seorang pria berusaha agar ibunya; pengagum dan pendukung Jerman Timur, yang tengah sekarat tidak menjadi shock jika mengetahui bahwa Jerman Timur sudah tidak ada lagi, dengan merekayasa seakan-akan negara itu masih ada di mata sang ibu.
Ini film yang sangat menekankan pada cerita. Karena dari angle kamera dan cinematographynya tergolong sangat biasa dan datar, tetapi justru dengan datarnya itu yang membuat Goodbye Lenin menjadi film yang tidak datar.
TRAINSPOTTING (1996)
Inggris
Sutradara: Danny Boyle
Pemain: Ewan McGregor, Jonny Lee Miller, Ewen Bremmer
Sekelompok pemuda Edinburgh menjadi pecandu heroin guna melarikan diri dari permasalahan yang mereka hadapi di dunia nyata. Kemudian mereka mulai merasakan penderitaan akibat hal itu dan menemukan bahwa tidak ada satupun langkah mudah untuk terhindar dari permasalahan dan beban hidup yang mereka alami.
Guna memerankan tokoh Renton, pecandu heroin yang akut, Ewan McGregor harus melakukan diet dimana ia tidak menyentuh alkohol atau produk yang mengandung susu, untuk mengurangi berat badannya, Hasilnya, hanya dalam waktu dua bulan Ewan berhasil mencapai kondisi badan yang diinginkan boyle.
Rocks!!! Film ini menjadi inspirasi hampir semua film Inggris dan beberapa film Hollywood pun terjebak dengan stereotip Trainspotting, contohnya saja Spun, Fear and Loathing in Las Vegas, Salton Sea, dll...harharhar...semua film narkobis dan drugs menjadi Trainspotting wannabes.
MALENA (2000)
Itali
Sutradara: Guiseppe Tornatore
Pemain: Monica Belucci, Giuseppe Sulfaro, Luciano federico
Bersetting di tahun 1940 sebelum pecahnya perang dunia II, mengisahkan tentang masa pubertas seorang bocah laki-laki dan sesosok wanita dewasa anggun yang tidak hanya menjadi objek fantasi setiap pria yang melihatnya.
Meski film ini mendapat sambutan yang positif di berbagai negara, namun film ini gagal dalam masa peredarannya di Amerika disebabkan banyaknya adegan yang tidak lulus sensor menjadikan film ini kurang mendapat sambutan yang memuaskan di negeri paman sam tersebut. Film ini juga menjadikan Monica Belucci bintang internasional.
CARANDIRU (2003)
Brazil
Sutradara: Hector Bebenco
Pemain: Luiz Carlos Vasconcelos, Milton Gonzalves
Kisah mengenai apa yang terjadi di lembaga permasyarakatan Carandiru, penjara terbesar yang pernah ada di Amerika Latin. Dimana sejarah tempat itu mencapai puncaknya saat terjadi pembantaian pada tahun 1992, yang memakan korban 111 tahanan, dimana 102 diantara tewas ditangan kekejaman polisi.
Penjara Carandiru yang asli sudah dihancurkan pada tahun 2002, dimana penjara itu kemudian diubah menjadi sebuah taman, yang dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas seni. Salah satu blok penjara yang ada dibiarkan tetap berdiri untuk digunakan sebagai museum.
Pokonya film inih rocks bang-geth!!!! Penggemar film kotor dan bau darah wajib tonton...
BATORU RAOWAIRU (2000)
a.k.a BATTLE ROYALE
Jepang
Sutradara: Kinji Fukasaku
Pemain: Tatsuya Fujiwara, Aki Maeda, Chiaki Kuriyama
Satu kelas siswa sekolah menengah diculik saat melakukan perjalanan wisata, dan mereka harus menghadapi nasib yang mengenaskan saat diharuskan saling bunuh satu sama lain dalam sebuah acara reality show yang dikelola oleh pemerintah.
Saking dominanya adegan kekerasan yang ada di film ini, banyak anggota parlemen di Jepang yang berjuang agar film ini dilarang tayang, seperti juga saat mereka mencoba melarang peredaran novelnya, justru hal itu yang membuat film ini mencapai kesuksesan luar biasa hingga tercatat sebagai satu dari 10 film paling laris sepanjang masa di Jepang.
Sekilas menonton film ini memang seperti melihat adegan kekerasan tipikal film kelas B lainnya. Tetapi Battle Royale ternyata menghadirkan kekerasana yang lebih tinggi dari film kekerasan lainnya yang ada. Hark! Sampai Hollywood kembali menerjemahkan film ini dengan judul Condemned yang ternyata sangat tidak penting untuk ditonton. Sekali lagi Hollywood dipecundangi.
LA VITA E BELLA (1997)
LIFE IS BEAUTIFUL
Itali
Sutradara: Roberto Benigni
Pemain: Roberto Benigni, Nicoletta Braschi, giorgio Cantarini
Kisah tentang seorang Italia berdarah yahudi, yang menghadapi hidup dalam dunia imajinasinya sendiri, dimana dengan kebiasaannya itu ia berusaha menyelamatkan nyawa sang anak dari kekejaman tentara nazi saat keduanya menjadi penghuni kamp konsentrasi pada masa PD II
Judul film ini menurut benigni didapat dari kutipan Leon Trotsky. Pada sebuah pengasingan di Mexico, mengetahui bahwa ia akan dibunuh oleh para pembunuh Stalin.
Ya...film ini mampu mengodak-aduk perasaan penonton. Tawa yang nantinya dihiasi oleh tangis sedih dan diakhiri oleh tangis haru. Penonton bioskop pun keluar dengan mata sembab.
OLDBOY (2003)
Korea
Sutradara: Park Chan-wook
Pemain: Choi Min-Sik, Ji-tae Yu, Hye Jeong Kang, Dae-Han Ji, Dai-su
Seorang pria paruh baya diculik tanpa alasan apapun. 15 tahun kemudian ia dilepas begitu saja. Guna mencari jawaban atas peristiwa yang dialaminya, ia lalu berusaha mencari siapa dalang penculikan terhadap dirinya, ternyata si penculik telah memiliki agenda tersendiri, maka terjadilah kucing-kucingan seru yang ternyata merupakan selibung rahasia masa lalu yang tragis.
Terdapat film Bollywood berjudul Zinda yang jalan ceritanya mirip dengan Oldboy, karena hak remake Oldboy hanya dimiliki oleh Universal US, diadakan penyelidikan apakah Zinda melakukan pelanggaran hak cipta atau tidak.
Memang benar, endingnya tragis. Aku suka sekali film ini.
bagaimana dengan Fight Club?
ya... ini gada duanya deh...
film Fight Club besutan David Fincher yang disadur dari novel dengan judul sama karya Chuck Palahniuk memang memberikan pengaruh besar. ceritanya di Amerika sana tuh ada klub bertarug underground yang jelaslah illegal. dengan 7 peraturan setiap akhir pekan digelar pertarungan gituh.
nah, untuk film ini saya bilang spesial, jadi tidak saya masukkan kedalam list 10 film paling berpengaruh, soalnya beberapa saat setelah film ini rilis, bermunculan juga klub bertarung illegan di kota-kota kecil Amerika, sampai-sampai polisi lokal kewalahan mengawasi keamanan kota setempat. nah loh...pengaruhnya kurang besar apa coba...?
untuk Fight Club ini membutuhkan pembahasan khusus, tunggu saja kehadiran pembahasannya...atau ... ada yang sudah nonton?
salam,
amarah durga
entah mengapa tapi saya merasa kekurangan teman yang memiliki selera film yang sama, jadi...bisakah berbagi dengan saya 10 film paling berpengaruh menurut anda?
salam,
amarah durga
wow pengetahuan film yg bagus dion, salut.
aku kurang bisa ngasi komentar sebuah film, tp sedikit banyak bisa menilai kualitas film bagus apa engga, kadang cm liat judul ama trailernya.
beberapa hal yg aku pribadi liat dari sebuah film sebelum aku tonton:
Hollywood (luar):
1. pemain n sutradara
2. genre, i'm a big fan of Kolosal, Sci-Fi, and Horror.
3. setting
4. visual effect (kalo ada)
5. cerita
Lokal:
1. judul
2. cerita
3. pemain n sutradara
straightly speaking, aku belum suka ama film indonesia. seperti kita tahu film sekaliber hollywood sudah masuk ke negara kita dari dulu, and yet belom ada film kita yg bisa dibandingkan kualitasnya. padahal masyarakat kita dah tau gimana bagusnya film2 luar ini, khususnya aku sendiri dah terlanjur melihat kualitas film dari kacamata hollywood.
ini semua tak lepas dari budaya "ikut2an" yg dah jadi standard film kita.
dimulai dari film CINTA, HORROR, dan sekarang RELIGI. aku yakin ga lama lagi akan ada film ato sinetron yg mendompleng kesuksesan ayat-ayat cinta, as always.
atau mungkin ini memang jalan menuju kebangkitan film Indonesia secara perlahan2. dimulai dengan munculnya semua Genre secara bertahap, kemudian suatu saat baru kita bisa milih film sesuai genre kesukaan kita.
aku dah mulai males liat 21 berisi poster2 film ga jelas, 5 banding 1 lah film hollywood muncul, itupun belom tentu yg bagus.
dulu orang sering ngomong "film indonesia dijajah film luar". sekarang aku sering ngomong "film luar dijajah film indonesia". sucks.
ada yg ngomong cintailah produk2 indonesia. lha wong teknologi "film" sendiri juga ga dari sini, lagian kalo emg mo dicintai ya bikinlah film yg bener2 bagus, sampe kita bisa bener2 pede show off ke dunia luar. ini baru ngomongin filmnya, belom pemainnya yg cm itu2 aja. bah bak film india aja.
malah yg bener2 booming justru video2 mesum jepretan HP, wakakaka... ato mungkin suatu saat perlu ada genre Porno buat bikin film nasional kita booming
dasarnya emg miskin bioskop, jd ga bisa dipisahin. tp untung ada internet ama rental dvd bajakkan. jadi kaga ketinggalan film2 luar yg baru rilis.
to be continued with fav movees, dah ngantuk
tidak jauh beda juga dengan kawan jati,
ada beberapa hal yang saya lihat pertama kali sebelum menonton film.
Hollywood:
1. sutradara.
saya lebih mementingkan faktor sutradara, karena buat saya sutradara lebih menjamin kualitas film, walaupun ada juga sutradara pemula yang langsung bisa bikin film yang "hit". sutradara yang jadi pilihan biasanya tidak sembarangan memilih naskah film yang akan digarap, karena itu faktor bagus tidaknya sebuah cerita sudah terlihat dari kualitas sutradara.
selain itu sutradara juga akan menentukan kualitas akting sang aktor. ambil contoh saja dari film "AMERICAN GANGSTER (2007) besutan Ridley Scott. Ridley Scott termasuk sebagai sutradara kesayangan Hollywood karena film-film actionnya yang penuh dengan ledakan dan aksi menegangkan yang jor-joran dan menjadi hits! tetapi lewat AMERICAN GANGSTER, saya melihat dia kurang maksimal dalam mengarahkan aktor-aktornya, tampak jelas Denzel Washington dan Russel Crowe berakting nanggung...jadi sedikit...urggghhhh!!! ceritanya tidak mengecewakan. ya...saya tetap bilang filmnya bagus, tapi salah sutradara, seandainya digarap Scorsese pasti jadi lebih ciamik lagi.
sutradara: Stanley Kubrick, Martin Scorsese, Oliver Stone, Quentin Tarantino, Francis Ford Coppola, Tim Burton, Rob Zombie, David Fincher, David Linch. (sorry Mr.Spielberg..you're out of club)
2. cerita.
cerita sangat menentukan apakah saya harus menonton film itu atau tidak. saya lebih suka dengan cerita yang biasa saja dengan alur yang datar nan lamban. saya lebih mudah masuk kedalam cerita dengan film yang seperti itu. mungkin garagara saya lemot, jadi perlu dibawa suasana yang mendayu-dayu..syahdu dan merdu. lah! saya sangat tidak ngefans dengan visual efek, karena film dengan visual efek yang oke sedikit mengganggu saya dalam menikmati film, saya melihat ada yang tidak menyatu dalam film itu. saya ingin membandingkan antara I AM LEGEND (2007) dan 28 WEEKS LATER (2007), karena ceritanya sama -sama bekisar tentang virus yang merubah manusia menjadi zombie. dalam I AM LEGEND, zombienya diciptakan dengan CGI, sementara di 28 WEEKS LATER bukan CGI. saya lebih menikmati film kedua karena saya melihat lebih ada kesatuan antara zombie dan manusia biasa, tidak terpisah (dan efek darahnya pun terasa lebih indah jadinya).
selain karena tidak menyatu, yang menggangu dari visual efek, kadangkala terlalu berat sebelah. visual efeknya oke, tapi critanya jadi terganggu dan tidak kuat. saya mencoba melihat pada film TRANSFORMERS (2007) - saya bukan penggemar film TRANSFORMERS terbaru. TRANSFORMERS menjadi film musim panas terlaris pada 2007, menurut saya karena visual efeknya emang bagus banget dan membuka kenangan lama sewaktu nonton film kartunnya produksi 1984 lalu. tapi sewaktu saya nonton film ini, keluar dari bioskop gitu saya merasa hampa. kok kaya' nonton power rangers yak? ceritanya sama sekali kosong. banyak hal yang tidak selesai. detail yang tidak diperhatikan. ditambah akting Shia LeBouf dan Megan Fox yang juga tidak kalah kosongnya dengan naskah. tapi Megan Fox memang sih badanya oke gituh, nyum...paling tidak dari TRANSFORMERS masi ada yang bagus lah...
cerita: FIGHT CLUB, THE GODFATHER, CRASH, INFERNAL AFFAIRS a.k.a. THE DEPARTED, SEVEN, LITTLE MISS SUNSHINE
3. darah dan kekerasan
entahlah. saya banyak tertarik dengan film yang melibatkan banyaknya unsur kekerasan dan segarnya darah yang muncrat dalam sebuah film. saya langsung tertarik gituh dengan film kekerasan yang berkualitas dan yang murahan tetapi berkualitas.
kekerasan dan darah:FIGHT CLUB, THE DEPARTED, KILL BILL, HOUSE OF 1000 CORPSES, THE DEVIL REJECT, TROUBLES EVERY DAY, 28 WEEKS LATER, CAPE FEAR
lokal:
1. Nia Dinata
saya bukan penggemar film indonesia, tapi saya penggemar BERBAGI SUAMI, jadi kalo belum ada film yang bisa menyaingi BERBAGI SUAMI ya, maaf saja...standar film Indonesia untuk bisa dibilang bagus ya BERBAGI SUAMI itu..dari semua sisi oke. hanya saja pas editingnya BERBAGI SUAMI sedikit kebocoran mikropon...hahaha...ada mikropon yang bocor waktu fragmen pertama.
nah, saya jadi ingat dengan kata-kata cintailah produk dalam negri. ya...gimana bisa cinta kalo film-filmnya kaya' KUNTILANAK, SUNDEL BOLONG, SUSTER NGESOT, TALI POCONG PERAWAN, BABI NGEPET,FILM HOROR. bikin film yang bagus dulu dong, baru bisa dicintai...mendingan ngepet ajah daripada menjajah film hollywood gituh...21 jadi kaya' kuburan.
salam,
amarah durga
keep posting
its good!!
jujur aku juga setuju dengan mas Durga
walaupun cuma tau sedikit2 tentang Film tapi aku berusaha untuk terus menikmatinya
Bener teman2,tapi kayaknya kalo kita berkisar antara film2 yang katakanlah "TENAR" kayaknya ga adil dech,...ada beberapa film yang berkesan ringan tapi sebetulnya "Dalem Pisan", contohya, film yang dimainkan Clint Eastwood dan Meryl Streep,"THE BRIDGES OF MADISON COUNTY (kalau gak salah mah)" yang ceritanya perselingkuhan usia baya,itu keren bgt ceritanye,tentang perasaan orang paruh baya yang gak kalah rasa dengan anak muda, aku ngeliatnya sebuah cerita kuno yang dikemas greget,dan akting kedua bintang kahot ntu nyaman bgt ngeliatnye,...so real. trus ada juga film yang juga tentang perselingkuhan yang gak jauh2 ceritanya dari THE BRIDGES..., tapi ini lebih modern, pasti tau "UNFAITHFULL"-kan...? itu Rhichard Gere & Diane Lane syaik dech meraninnya, walau ceritanya bisa ditebak, tapi endingnya lumayan unik
film perselingkuhan yang tidak kalah asik lagi adalah WHAT LIES BENEATH, lebih asik daripada UNFAITHFUL, dijamin.
menurut kawan ardhee, 10 film yang asik apa ajah?
salam,
amarah durga
iya WHAT LIES BENEATH seru!
menegangkan saya kira.
Post new comment