tak tahu mengapa ku menangis

yg kurasa hanyalah bebanku teramat berat

dadaku terasa sesak

tubuh ku terasa panas

dan otakku tak bekerja sebagaimana mestinya

Sungguh aku tak tahu mengapa ku menangis

yg aku tahu

aku bingung

tak tahu apa yg hatus kulakukan

aku hanya pasrah pada sang pembuat rencana

Baca selengkapnya »

Cerpen Marsus Banjarbarat*

Baca selengkapnya »

Putri yang Terjual

Cerpen Marsus Banjarbarat*

Baca selengkapnya »

Malam Menggigil Dalam Suaraku

Baca selengkapnya »

KE PADANG AKU MELIHAT

Baca selengkapnya »

Untuk bulan,
satu di antara tiga lentera
yang selalu beredar di pekat malam:
Pergilah turun ke dalam semak!
Kami jenuh – kami muak!
Pada cahayamu yang itu-itu juga

Awan boleh saja kau dorong ke tepi,
tapi kami akan terus melawan
hingga terangmu hilang arti

Ombak boleh saja kau tarik-hempaskan ke bumi,

Baca selengkapnya »

Mengawini sepuh hati tanpa engkau,

engkau tak akan menengok liang lukaku,

engkau luput dari doaku,

telah menjelma lalu bagi hidupku.    

engkau.

Aku tak akan teriak merdeka

sampai kita bebas saling mencinta,

tanpa mengetuk-ngetuk pintu

mencuri-curi waktu,

yang bukan milik siapa-siapa,

kecuali,

aku.

 

Usai sudah revolusi

dan kita hanya pejuang berkalang pasrah dan berkalung marah di tengah perang

dan tak akan kau dengar aku teriak merdeka

Baca selengkapnya »