cermin di atas

Revolusi, sering dimainkan oleh para revolusioner yang berteriak turun, ke cermin di atas.

Saya ingat, Mei 1998, Jakarta sangat panas. Meski umur baru beranjak remaja, saya tau apa di kepala orang-orang saat itu: Pangkal masalah adalah Soeharto, dan kroni2nya.
Turunkan. Maka masalah selesai; keadilan tegak, perut semua orang kenyang, dan air mata tak akan tumpah krn terhina.

10 tahun kemudian, benarkah masalah selesai?
Nyata-nyata tidak.

Saya tak tahu masa 65, 45, atau katakan lah revolusi Prancis lalu.
Tapi, rasanya tak jauh-jauh jua. Orang mencari, siapa sang pengekang, sang pendosa, yang harus dihukum dan disingkirkan. Habis. Hingga dengan itu, masalah selesai.

45 dengan kolonialnya
65 dengan PKI
Prancis dengan Louis XVI-nya
dan 98 dengan Soeharto-nya.
Pada akhirnya, sama.

Ketika sang pendosa turun. Masalah tidak selesai.
Prancis, terus berkutat dengan wabah, malnutrisi, dan kelaparan, meski kepala Louis XIV terpisah oleh Guillotine.
Mati massal, yang sebelum revolusi dimonopoli oleh lapar dan wabah, bertambah satu sebab: eksekusi atas nama keselamatan negara. Dan para Jacobin, memenggal 40 ribu anak kandung Ibu Prancis.

Indonesia, 45, lalu apa hakikat merdeka. Untuk menggantikan penjajah asing, oleh bangsa sendiri?
Indonesia, 65, Revolusi? mengganti Nasakom dengan Pancasila-pancasilaan. Soekarno oleh Soeharto. dan membisukan seluruh bangsa atas kematian para tersangka komunis?
Indonesia 98, Reformasi, untuk menunjukkan bahwa kita bisa melakukan korupsi juga? bukan hanya seorang dan teman-temannya.

Terlalu banyak revolusi yang terjebak simplifikasi anti-siapa, bukan anti apa. Yang hanya "mengganti dalang, dengan tetap memainkan lakon yang sama".
Dan apa yang terjadi tahun abad 18, terjadi lagi abad 21. Sama. Dengan modifikasi dalang.

Mungkin, kebangkitan, dan revolusi sejati, harus dimulai dengan pencurigaan kepada diri sendiri.
Apakah sang revolusioner hanya berteriak turun kepada cermin di atasnya.

Tahun 63, para budayawan sudah tahu:
"Musuh kami bukan lah manusia, musuh kami adalah unsur-unsur yang membelenggu manusia"
Lalu disepakati Manifestasi Kebudayaan 1963

Lalu, kemana itu? mungkin terhilang oleh benci, dendam, serta euforia.
Hanya satu-dua-beberapa orang yang ingat, berusaha berteriak ingat, namun kalah oleh gegap gempita tepuk tangan kemenangan. dan teriakan kebencian untuk para pendosa.

Revolusi, tak perlu merugikan banyak,
Apabila manusia mengingat surah yg pendek ini.

Surah 103. The Declining Day, Eventide, The Epoch
1. By (the Token of) Time (through the ages),

2. Verily Man is in loss,

3. Except such as have Faith, and do righteous deeds, and (join together) in the mutual teaching of Truth, and of Patience and Constancy.

Kebenaran dan kesabaran, memang sering hilang,
Saat amarah, dendam, dan kesombongan atas "kemenangan pintu" didapat.