Ku Kerek Bendera : Secarik Tentang Hari Kemerdekaan Indonesia

MENJADI INDONESIA ADALAH CARA UNTUK MERDEKA. Bukan merdeka untuk menjadi Indonesia, yang terkadang ke-Indonesiaan itu beberapa kali melahirkan ulang ketidakmerdekaan bagi warganya.

* * *

Kawan,
Sebuah bangsa merdeka untuk merdeka. Kemerdekaan adalah ketika kita, ketika Saudara mampu membuat keputusan secara bebas, dari tekanan suatu pihak, dari kecenderungan umum dan budaya populer, dari ketergantungan yang menggerogoti, dan dari dogma yang mereduksi logika rasional. Kemerdekaan bukan kebebasan memiliki yang kita inginkan, tetapi kebebasan untuk memiliki dan sekaligus keberanian untuk tidak memiliki yang kita inginkan.

Kemerdekaan Indonesia yang hari ini kita rayakan semestinya menyadarkan kita akan umur bangsa yang semakin tua dan konsepsi berbangsa yang pada kenyataannya justru kian menjadi renta. Kemerdekaan berbangsa adalah ketika Saudara dengan beserta segala identitas kesukuan, ras, kelamin, agama, ideologi, tingkat ekonomi, atau juga kelas intelektualitas mampu membebaskan diri pada kemelekatan ego untuk kemudian hidup bersama demi kesejahteraan bersama. Jika sebuah bangsa hanyalah seluas satu desa, perasaan senasib sepenanggungan masih menjadi hal yang wajar untuk dipahami. Tetapi KITA TIDAK SENASIB dalam satu bangsa bernama Indonesia!

Saudara di Papua, dengan harga semen dan bensin jauh diatas Anda yang berada di Jawa akan lebih mudah dimelaratkan oleh ketimpangan harga. Saudara di Jakarta, dengan alternatif institusi pendidikan yang jauh lebih beragam akan lebih mudah terfasilitasi daripada putra-putri di pedalaman Aceh. Saudara di Denpasar, dengan gelimangan potensi pariwisata tentu memiliki kemungkinan mata pencaharian yang lebih beragam daripada Anda yang bermukim di gersangnya Wonogiri. Kita TIDAK SENASIB sebagai sebuah bangsa!

Saat Perda Syariat digulirkan di Tasikmalaya, pada wilayah bangsa yang lain Perda Injil digelontorkan di Papua. Kehidupan berlandaskan nilai-nilai luhur keIslaman ditawarkan oleh Partai Keadilan Sejahtera, sedangkan cinta kasih sebagai fondasi Kekristenan dipasak sebagai jiwa Partai Damai Sejahtera. Ideologi sosialis terus berjalan di lorong gelap di bawah hingar bingar legitimasi Demokrasi Pancasila. Berjamurnya rumah sakit swasta yang mahal, yang bertajuk internasional seiring dengan tetap minimnya anggaran Puskesmas miskin di wilayah kecamatan terpencil. Kita TIDAK SAMA walau kita sebangsa.

Kawan,

Enam puluh empat tahun kemerdekaan akan menghilirkan kontras jika terjadi salah persepsi dalam mengurus kemajemukan ekonomi, budaya, demografi, geografi, dan ideologi. Bangsa yang tua bukan menjadi manis dan matang, akan tetapi malah melihatkan kerentaan yang berbeda di tiap organnya. Keengganan mengakui ketidaksamaan sudah melahirkan amputasi-amputasi yang terindikasi pada kasus Santa Cruz, Simpang Kraft, kemunculan OPM serta GAM, dan tendensi tertentu pada ideologi sayap kiri serta primordialisme konsep negara Islam.

Kurangnya kesadaran sekaligus pengakuan akan keberbedaan sejak masyarakat era Soekarno hingga Bambang Yudhoyono sudah melahirkan tabu-tabu irasional. Termasuk tabunya homoseksualitas, tabunya opini disintegrasi, tabunya liberalisme ataupun komunisme, tabunya lokalisasi pelacuran, bahkan tabunya kemiskinan yang ditandai dengan penggusuran, penangkapan, penggarukan. Lamanya kita berbangsa tidak mampu semakin menyadarkan akan pengakuan terhadap perbedaan, justru demokrasi berbalut nama besar PANCASILA yang menjadi ujung tombak senjata pembredelan. Tidak Pancasilais, kata mereka!

Kawan,
Para pejuang kemerdekaan, dari Diponegoro hingga Teuku Umar, dari Gandhi hingga Nelson Mandela, bahkan Xanana Gusmao berjuang untuk lepas dari penjajahan. Sumpah Pemuda, sebagai tunas kuat ke-Indonesiaan adalah cara untuk meraih legitimasi dimana MENJADI INDONESIA ADALAH CARA UNTUK MERDEKA. Bukan merdeka untuk menjadi Indonesia, yang terkadang ke-Indonesiaan itu beberapa kali melahirkan ulang ketidakmerdekaan bagi warganya.

Maka 17 Agustus yang pertama-tama adalah hari kemerdekaan. Baru kemudian disusul dengan Indonesia sebagai gabungan kemerdekaan individu secara masal komunal dalam ikatan kebangsaan. Pada hari ini semestinya menjadi individu yang merdeka yang mesti diperjuangkan. Dan konsesi Indonesia itulah yang memberikan konsekuensi logis pada sebuah kewajiban yang utama yaitu mensejahterakan warga sebangsa. Kemerdekaan individu, sekaligus kesejahteraan warga sebangsa yang semestinya komitmen bersama. Sehingga Indonesia menjadi sekedar konsep keterjagaan komitmen dimana yang sama hanyalah kesejahteraannya.. Sama sama saling menyejahterakan.

Keberbedaan ideologi, hingga orientasi agama serta budaya hanya dilandaskan demi kemerdekaan diri dan keseragaman kesejahteraan. Bukan demi kesejahteraan diri dan hilangnya kemerdekaan karena penyeragaman bersama. Dan seperti yang telah terpaparkan bahwa kemerdekaan bukan kebebasan demi memiliki yang kita inginkan, tetapi kebebasan untuk memiliki dan sekaligus keberanian untuk tidak memiliki yang kita inginkan.

Kawan,
Jikalau kemerdekaan butuh kiblat, berkiblatlah ke timur. Berkiblat ke timur dengan semakin peduli pada kondisi masyarakat miskin di Nusa Tenggara Timur. Jikalau kemerdekaan butuh kiblat, berkiblatlah ke barat. Berkiblat untuk menghilangkan ketimpangan ekonomi Papua Barat. Jikalau pembangunan butuh arah, lihatlah ke selatan. Apa Prabumulih sama kaya dengan Palembang dan segala wilayah di Sumatera bagian selatan. Jikalau pembangunan butuh arah, lihatlah ke utara. Apa pemberdayaan ekonomi dari sektor pariwisata di seluruh lini Indonesia sudah sama seperti di Bali dan Sulawesi Utara.

Akhir kata, kita menjadi Indonesia sebagai cara untuk menjadi manusia merdeka. Bukan merdeka untuk menjadi Indonesia.

---

KU KEREK BENDERA
ini hari aku dikerek
pada tiang kokoh nan tinggi
yang batubata penyusun nya cukup untuk
menahan roboh sekolah reyot
di bawah langit tempat
ku bernaung kini

*johanes.koen, 17 Agustus 2009

 gambar brilian kusuma ardi

suatu deskripsi yang membangun rasa saling percaya, menghargai mrnyamakan kita dengan yang lain. karena kita se-Bangsa, berdasar sama Pancasila