Apakah Anda adalah Saya?

Teman adalah manusia. Dan sejatinya dia adalah Anda, tetapi dengan jasad yang berbeda. Sayang nya tidak semua bisa memahami atau barangkali malah belum sempat mendengar kata-kata bijak ini. Mungkin sudah, tetapi di dunia yang serba materi ini, segalanya memang tampak bercahaya hingga hal-hal yang ada di dalamnya, jadi terlihat samar hingga mudah terlupa oleh tatapan yang hanya sesaat. Seperti pepatah orangtua kita, masuk telinga kanan keluar lewat telinga kiri. Atau seperti pepatah, biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Karenanya tidak terlalu heran jika hal-hal yang substantif menyangkut pendidikan moralitas tentang persaudaraan di negeri ini seperti tidak tampak dalam kehidupan nyata. Manusia-manusia saat ini terlalu sibuk, bahkan untuk sekadar saling sapa. Dari hati ke hati. Kalau pun ada, barangkali hanyalah, ucapan basa-basi semata. Halo apa kabar? Hanya sebatas itu. Kecuali ada hal lain yang pantas dan penting untuk diniagakan atau dikomersilkan. Pahlawan-pahlawan di negeri ini, saat ini, bahkan hanya sudi muncul di saat musim kampanye tiba. Dan ironisnya, itulah yang kini mewarnai kehidupan keseharaian kita di jagad raya Indonesia ini.

Separah itukah? Atau jangan-jangan ini hanyalah rasa inferioritas diri yang sudah kelewatan? Inferioritas diri yang muncul dari dasar terdalam komunitas yang selama ini terpinggirkan? Yang hanya mampu mendongakkan kepala saja, untuk bisa melihat gemerlap dunia dan mewahnya kehidupan yang disandang oleh orang-orang kaya di negeri ini, sambil mengelus dada, karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan untuk bisa menyekolahkan anak. Tak mampu lagi melaut untuk menangkap ikan, untuk sekadar membeli makan keluarga, lantaran ombak yang tinggi. Tak mampu lagi menyisihkan uang dari hasil tanam, lantaran habis untuk membayar utang pukuk dan bibit padi. Tak mampu membeli obat atau pergi ke dokter untuk mengobati sakit yang diderita orangtua. Tak mampu membeli buku atau tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah, apalagi bisa kuliah.

Dan tak mampu, tak mampu lainnya yang muncul bukan karena mereka tak mau berusaha, tapi oleh himpitan ketakberdayaan, yang tak habis-habisnya diciptakan untuk terus menyengsarakan dan menyudutkan mereka ke tempat yang bahkan membuat sulit untuk bernapas dengan lega.

Bagaimana tidak, belum selesai dan belum sempat mereka menata diri, apalagi istirahat dari kerja keras hanya untuk menamatkan sekolah dasar, anak-anak mereka, dari luar sudah muncul desakan-desakan bahkan lebih berat dan dalam lagi. Bahkan masyarkat kelas bawah yang hidup di kota, seolah tak pernah lekat dari intimidasi akibat kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada rasa kesetiakawanan dan persaudaraan terhadap rakyat lemah ini. Harga elpiji bersubsidi ( 12 kg) sedang dipertimbangkan untuk dinaikkan. Tarif Dasar Lisitik (TDL), dalam tahap penyesuian harga. Juga harga PAM, dan tarif telpon (telkom), dengan sistem paketnya yang dilakukan secara sepihak. Belum lagi, wanti-wanti pemerintah soal harga BBM yang tidak bisa dijamin untuk tidak dinaikkan serta soal subisdi KPR yang ternyata tidak jelas, karena sudah bukan rahasia lagi jika kridit perumahan rakyat, itu lagi-lagi, nyatanya telah dikuasai dan hanya mampu dibeli oleh kalangan menengah atas. Sementara itu, diujung sana, tanpa kompromi dan seolah tak kenal lagi asas pertemanan, harga-harga kebutuhan pokok ikut bergerak naik, menggenapi baban yang harus ditanggung oleh rakyat kecil.

Desakan-desakan dan kesulitan inilah yang barangkali melahirkan rasa enferioritas diri rakyat di kalangan bawah terhadap warga kelas atas, yang ironisnya, tidak mendapatkan simpati dan empati dari pemimpin mereka di pusat pemerintahan.

Karenanya, mungkin inilah saatnya untuk bertanya kepada hati nurani dan pengalaman panjang yang telah membentuk karakter diri kita masing-masing. Apakah kita masih ingin mengandalkan belas kasih dan perhatian dari pemimpin kita, orang-orang yang selalu berbicara demi dan atas nama kita sebagai rakyat?

Dan apakah kita masih harus percaya bahwa pemimpin kita, itu teman kita sendiri yang peduli kepada kita tanpa ada maksud mengkomersilkan harga diri dan kehormatan kita sebagai manusia? Rasanya, kita kok sudah harus berhenti membayangkan akan ada pemimpin yang berani menanggung beban hidup kita sebagai rakyat. Rasanya kita kok sudah harus berhenti berharap pada empati dan simpati para pemimpin itu. Dan lalu, dengan kesadaran terdalam, dengan rasa ketertindasan yang paling sakit, kita menggeliat dan bangkit untuk berdiri sekuat tenaga di atas kaki kita sendiri. Lalu bernjanji dan berdoa, meminta kepada Tuhan Yang maha Kuasa agar berkenan menolong kita keluar dari kegelapan ini.

Dengan hati nurani dan pengalaman yang kita miliki, dengan latar belakang dan sesuai dengan peran yang disandangkan dan melekat dalam diri kita di dalam keluarga dan dimana saja, mari bantu diri kita sendiri untuk bangkit, karena inilah saatnya kita untuk bangkit menolong diri kita sendiri. Mari kita yakinkan diri kita sendiri, dan bersama-sama keluar dari kezaliman yang selama ini telah membelenggu jasad, fisik dan pikiran kita. Hidup mandiri, bebas dan merdeka. Salam bahagia!

 gambar Mistikus Anarkis

Memang kalau dunia selalu kita lihat buruk ya seperti tidak harapan.
Yang asik itu kan melihat harapan ditengah segala yang buruk.
Ya menurutku aku dan kamu beda. Kita sama kalau kita punya satu visi.
Yang membedakan kita sangat banyak mulai dari ruang dan waktu sampai ke isi gen di dalam sel-sel darah kita.
Tapi kalau semuanya itu kita arahkan bersama untuk sebuah fokus. Maka kita bisa melebur jadi satu dalam gerak perubahan.

 gambar kholil ahmad

salam,
betul saudaraku. aku dan kamu beda, tapi dari jenis manusia yang sama.....bukan begitu...?