Lika-liku MediaSastra.com

Orangtua dan Anak

MediaSastra.com tidak lahir dari keadaan hampa, seperti dongeng penciptaan dunia. Orangtua yang melahirkan media daring ini adalah sebuah organisasi komunitas sastra kampus bernama Mediasastra, yang dibentuk oleh para mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2007. Dalam tubuh organisasi Mediasastra, terdapat satu divisi bernama Media Papan, sebuah unit-kerja yang mengelola penempelan karya-karya (yang umumnya dibuat para mahasiswa Fakultas Sastra Univ. Sanata Dharma) di sebuah media berbentuk dinding-papan yang dipajang di kampus itu. Kemudian, muncullah gagasan untuk mempublikasikan karya-karya tersebut secara daring. Menanggapi gagasan itu, empat orang pengurus dan simpatisan Mediasastra saat itu (Wahmuji, Galang Wijaya, Berbudi Yudosunu, dan Wahyu Adi Putra Ginting) dan seorang kawan sekampus yang lalu berperan sebagai pengembang situs-jejaring (F. Jati Adi Nugroho) pun bergerak merancang dan mewujudkan sebuah konsep media daring dengan nama domain www.mediasastra.com. Awal Februari 2008, Mediasastra.com resmi mengudara, dan dikelola sebagai salah satu divisi dalam tubuh organisasi Mediasastra.

Berpisah untuk Mandiri

Dalam pengelolaannya, MediaSastra.com akhirnya diurusi oleh hanya tiga dari lima penggagas awalnya: F. Jati Adi Nugroho, Wahmuji, dan Wahyu Adi Putra Ginting. Fungsi awal MediaSastra.com, sebagai media publikasi daring karya-karya yang tertempel di dinding-papan, ternyata tidak berjalan sebagaimana direncanakan. MediaSastra.com justru kemudian berdiri sebagai sebuah media daring komunitas sastra secara umum. Koordinasi pengelolaannya pun secara organisasional tidak bertaut signifikan dengan manajemen Mediasastra. Hal ini yang lantas memunculkan wacana agar MediaSastra.com sekalian memisahkan diri dari induknya, untuk kemudian berdiri dan mengembangkan diri secara mandiri. Wacana tadi tidak tinggal wacana: ia terwujud nyata. Salah satu penyebab utamanya adalah sifat dari Mediasastra yang merupakan komunitas kampus, dalam arti ia banyak memusatkan perhatian dan kegiatannya di dalam pagar kampus saja; padahal hal itu bertolak-belakang dengan kecenderungan media daring seperti MediaSastra.com, yang lebih memilih untuk merangkul publik yang jauh lebih luas. Oktober 2008, MediaSastra.com pergi meninggalkan rumah, meninggalkan orangtuanya.

Bertahan Hidup: sebuah “Keajaiban”

Setelah berpisah dari Mediasastra, MediaSastra.com mencoba bersiasat agar dapat bertahan hidup. Meski sudah punya publik, namun cakupan wilayah geografis publik MediaSastra.com masih terbilang sempit; para diatra saat itu kebanyakan masih berasal dari daerah Yogyakarta dan sekitarnya saja. Media jejaring-sosial semacam Facebook pun digunakan. Juga di Oktober 2008, laman-penggemar MediaSastra.com di Facebook, dengan nama-akun ‘Mediasastra’ dibuat. Satu-per-satu pengguna Facebook bergabung.

Pengurusan situs-jejaring www.mediasastra.com sendiri, harus diakui, tidak dilakukan segetol masa-masa awal. Selama kurang-lebih satu tahun sejak awal 2009, boleh dibilang, MediaSastra.com “terlantar”. Walau begitu, tiga orang pengurus MediaSastra.com tetap menjalankan fungsinya sebagai moderator; sesekali memberi komentar, memasang informasi yang mengandung isu-isu sastra, atau memasang ulasan-ulasan buku sastra. Namun, kegetolan pengurus dan diatra MediaSastra.com di masa awal memang membuat laman MediaSastra.com memiliki cukup banyak isian, dalam bentuk pajangan karya sastra, esei sastra, diskusi-diskusi yang diwarnai perdebatan hangat, sampai pada ulasan-ulasan film. Hal ini mungkin cukup berpengaruh untuk menarik perhatian pengunjung. Secara mengejutkan, bisa juga disebut “ajaib”, jumlah diatra terus bertambah. Cakupan orang-orangnya pun meluas, tidak lagi sekedar di sekitaran Yogyakarta saja. Para diatra inilah yang berperan aktif memberi nafas yang membuat MediaSastra.com mampu bertahan hidup.

Gubah-Ulang: MediaSastra.com Kini

“Keajaiban” yang terjadi pada MediaSastra.com terus menggelitik pengurusnya. Di pertengahan tahun 2010, jumlah orang yang menyukai laman-penggemar MediaSastra.com di Facebook mencapai angka 1000. Tulisan-tulisan baru tetap secara teratur dipasang para diatra di laman www.mediasastra.com. Diskusi dan komentar terus ada saja. Akhirnya, tidak tahan lagi untuk diam menahan gelitik tersebut, F. Jati Adi Nugroho, Wahmuji, dan Wahyu Adi Putra Ginting sepakat untuk membuat suatu gubah-ulang.

Pada September 2010, sebuah tim dibentuk untuk menggagas konsep baru bagi MediaSastra.com. Konsep baru itu pun lahir. Jika semula MediaSastra.com berputar pada poros sekedar media daring komunitas sastra tempat memajang karya, di bentuknya yang baru, dibubuhkan pula peran baru: penyedia informasi tentang berita/isu seputar sastra dan media pendidikan sastra. Konsep inilah yang memberi definisi baru bagi MediaSastra.com: “Sebuah media daring sastra yang dibangun sebagai ruang bagi informasi, pendidikan, dan komunitas sastra (di) Indonesia.”

Sesuai dengan definisi – sekaligus peran dan fungsi – tersebut, inilah visi dan misi MediaSastra.com:

Visi

MediaSastra.com percaya bahwa sastra mampu mencerdaskan Indonesia. Maka itu, MediaSastra.com meniatkan diri menjadi sebuah media daring perwujudan masyarakat Indonesia sastrawi yang menghidupi, sebab mencintai, wujud-wujud karya, kritik, pendidikan dan pengetahuan sastra.

Misi

1. Menyediakan, mengelola, dan menghidupi media daring sastra.

2. Menciptakan dan menggelorakan interaksi intelektual antar pecinta sastra.

3. Menyuguhkan berita dan informasi seputar dunia sastra.

4. Aktif mengikuti perkembangan, mengenalkan dan menyebar-luaskan teori-teori sastra.

5. Menghidupi kritik sastra (di) Indonesia.

6. Mendorong tumbuh-kembangnya pendidikan sastra (di) Indonesia.

Untuk menjalankan perannya mewujudkan visi-misi tersebut, MediaSastra.com kemudian membentuk sebuah struktur kerja yang menggarap bidang-bidang yang dicakup, yaitu: bidang informasi (Divisi Berita dan Kalender), bidang pendidikan sastra (Divisi Teori Sastra dan Ulasan Buku), dan bidang komunitas (Divisi Ruang Diskusi).

Lahir Baru

Setelah luring sejak 3 November 2010 untuk keperluan tata-ulang situs-jejaringnya, setelah melewati hadangan yang merintangi pengerjaan tata-ulang tersebut (seperti Letusan Merapi 2010 dan beberapa galat teknis lainnya), MediaSastra.com, yang telah berpisah dari orangtuanya di penghujung 2008 untuk hidup mandiri, yang sepanjang 2009 sampai pertengahan 2010 telah bertahan denyut hidupnya karena dihidupi oleh para diatra, dan yang telah digarap-ulang dengan raga dan jiwa baru, pada 16 Januari 2011 resmi mengudara kembali di dunia maya. Para diatra, terima kasih dan selamat berkarya di MediaSastra.com.