Saya ingin jadi orang Israel
Oleh: Muhamad Nur Hidayat
5 Januari 2008
Tulisan ini kehilangan footnotenya. Versi lengkapnya ada di www.enunggling.multiply.com
Israel memang hebat. Membunuh lebih dari 1300 warga Gaza namun mendapat support dari pemimpin-pemimpin dunia yang jumlahnya sedikit. Seakan-akan nyawa anak-anak Gaza tidak ada artinya. Dan terntyata memang tidak ada artinya bagi “kelangsungan hidup” Israel. Mereka berpikir toh nanti kalau besar, anak-anak Gaza akan menjadi “teroris,” jadi apa salahnya kalau dibunuh sekarang, sebelum mereka “melakukan Holocaust lagi”. Biarkan ibu-ibu mereka bingung, menjerit, kemudian membisu serambi memungut sisa-sisa potongan tubuh anak-anaknya yang beruntung terkena cluster bomb nya Israel. “Saya akan mendengarkan musik dan merayakan serangan udara Israel ke Gaza” kata Ofer Shmerling, seorang pegawai pertahanan sipil Israel di Sderot, seperti muncul dalam siaran TV Al Jazeera 27 Desember 2008.
Israel (Zionisme, bukan Yahudi) memang anggun dan superior. Pemimpin dunia, dan pilihan Tuhan, jadi tidak ada hukum manusia yang bisa menghentikan idealisme Zionisme. Zionisme menghendaki pemurnian seluruh wilayah yang dulu disebut Palestina dari kotoran-kotoran Arab yang inferior, sehingga menjadi Eretz Israel, Israel Raya. Kata Benny Morris, sejarawan Israel, pemurnian itu dengan dua cara: “Apartheid” dan “The way of transfer,” istilah lunaknya dari pembantaian etnis lewat Apartheid dan pengusiran (pematian) secara paksa. Israel adalah demokrasi, simbol kebebasan, perdamaian, dan kemajuan jaman. Dan mereka sedang “berperang” dengan Hamas, si teroris yang muncul dari dalam tanah untuk membunuh semua warga Israel. Hamas benar-benar biadab, barbar. Kumpulan orang-orang bodoh yang iri dengan demokrasi dan kebebasan Israel (yang benar-benar bebas tanpa bisa diatur), sehingga mereka harus unjuk gigi dengan menembakkan roket buatan industri rumahan ke wilayah Israel. Dan Hamas telah menewaskan 4 warga Israel yang tak berdosa, dari 300 lebih roket mainan yang diluncurkannya.
Hamas iri dengan demokrasi Israel sehingga ia menang mutlak dalam pemilu Palestina 2006. Dan ini tidak bisa diampuni. Kesalahan besar. Dosa bagi Tuhan Zionisme. Sehingga Israel terpanggil untuk segera bertindak dengan memblokade Gaza selama dua bulan, menstop suplai lotek, arem-arem, wedang jahe, gorengan, obat sakit kepala (yang tertembak), kain mori, lem, kertas dan segalanya (termasuk yang tidak dibutuhkan warga Gaza, seperti listrik, gas, bensin yang memberi penerangan ke wilayah Gaza). Jurnalis dan utusan PBB dan Paus juga dilarang masuk. Sedangkan yang didalam dilarang keluar. Terowongan ke Mesir tempat menyelundupkan obat sakit kepala tadi harus dibom, sehingga perawat, dokter “rumah sakit” Gaza tidak harus mengobati sakit kepala ribuan warga Gaza. “Toh mereka nanti juga jadi teroris.” Mau sakit (tertembak di) kepala kek, sakit (tertembak di) perut kek, di tangan kek, dikaki kek. Terserah.
Lalu Hamas iri lagi dengan keanggunan Israel, sehingga ia harus protes dan meluncurkan roket-roket nuklir yang dibuat di garasi rumah ke wilayah Israel sehingga semua warga Israel harus mengungsi ke laut. Hamas iri karena roket-roketan nuklir mereka bukan buatan Amerika, sehingga tidak efektif. Cuma mematikan satu orang dalam beberapa tahun. Namun kata Olmert “Walaupun roket-roket Hamas jarang mengenai sasaran, tapi kan niatnya untuk membunuh! .” Sedangkan walaupun Israel mematikan 560 warga Gaza dalam seminggu, tapi kan niatnya untuk kebaikan—demokrasi, perdamaian, dan kebebasan. Pokoke harus idealis. Cogito ergo sum! Realitas itu nggak ada, adanya cuma pikiran, goblok! 560 orang hilang nyawa juga tidak ada, cuma di pikiran kamu saja, goblok!
Kemudian Amerika juga terpanggil untuk membantu Israel dalam mengemban tugas suci tersebut. Kata dosen saya kemarin siang ketika saya tanya pendapat beliau tentang support Amerika ke Israel, “Lho Israel kan ponakannya Amerika. Kita semua ini adalah satu keluarga. Jadi itu wajar.” Betapa kaget dan dungunya saya karena tidak paham apa maksud beliau. Lalu ketika saya tanya lagi tentang mengapa Israel berniat baik untuk memurnikan Gaza, ia menjawab, “Rumit.” Dan betapa lebih dungunya saya ketika tidak bisa paham juga apa maksud jawaban beliau. Saya cuma paham kalau mencabik-cabik tubuh orang dengan bom itu salah (setidaknya aneh, begitu). Membom kerumunan anak yang sedang pulang sekolah itu salah (atau setidaknya lebih aneh lagi). Kemudian membom masjid-masjid itu juga setidaknya sangat aneh. Atau membom Universitas Islam Gaza, apartemen yang berisi manusia itu juga sangat aneh (kalau belum bisa dibilang salah), seaneh membom UGM, Sanata Dharma dan rumah Mbah Maridjan. Apakah inferioritas ras saya yang menyebabkan saya tidak paham dengan jawaban beliau? Atau karena nama saya berbau Arab (Muhamad Nur Hidayat) yang terkenal barbar, despotik, tidak demokratis, kejam dan terbelakang? Dengan standar moral Israel tentu jawabannya iya. Ehud Olmert ngomong ke saya: “Goblok banget kamu Yat, baik dan buruk gak bisa bedain! Orang Arab ya!?” Kata filsafat, baik itu ya buruk, buruk itu ya baik. Yang buruk bisa baik, yang baik bisa buruk.
Mungkin karena dosen ini sudah S-3, jadi saya tidak bisa mencerna omongan beliau, sebagaimana saya juga tidak bisa mencerna omongan Obama (yang minimal telah lulus S-2, sedangkan petinggi Hamas, namanya pak Rayan, yang kemarin dibom Israel bersama 4 orang istri dan 11 anaknya yang mati semua itu adalah seorang professor hukum). Padahal Obama bilang “no comment” saat ditanya wartawan, satu jam setelah pesawat tempur F-16 dan heli Apache Israel berhasil masuk Gaza dan menelurkan bom-bom yang ledakannya kelihatan indah, mirip kembang api tahun baru. Kalau gak percaya lihat YouTube. Sebelumnya, saat Obama berkunjung ke Israel (namun menolak komentar dan singgah di Palestina), ia berkata:
"If somebody shot rockets at my house where my two daughters were sleeping at night, I'd do everything in my power to stop them." (www.informationclearinghouse.info/article21585.htm)
“Jika seseorang menembakkan roket ke rumah saya tempat kedua anak saya tidur, saya akan melakukan apapun dengan kekuatan saya untuk menghentikan mereka.”
(sengaja pake bahasa Inggris, biar kelihatan pinter, karena saya juga iri dengan kepinteran orang Israel).
Yang dimaksud Obama dengan “roket yang ditembakkan ke rumahnya diamana dua orang anaknya sedang tidur” itu tentu saya roketnya Hamas. Nah disini saya bingung lagi, seperti saya bingung dengan jawaban “rumit” dari dosen saya tadi. Saya malu mengapa saya sebebal ini sehingga saya tidak paham dengan omongan mereka. Dan mengapa saya hanya paham kalau Israel bersalah karena ia juga meluncurkan roket (yang super canggih buatan Amerika, tidak seperti roket kerajinan tangan Hamas) yang benar-benar mengenai anak-anak yang sedang tidur dan telah menewaskan 560 orang lebih, 100 diantaranya anak-anak? Mengapa saya hanya paham itu? Mengapa kata “rumit” dan kata Obama tadi seakan-akan bukan jawaban yang saya harapkan? Apakah saya sudah gila sehingga begitu gobloknya, sehingga tidak paham jawaban orang pintar? Padahal kan saya sudah besar, hampir sarjana S-1 pendidikan Bahasa Inggris, sudah pernah ke Amerika lagi. Padahal waktu SMP saya kan rengking satu terus, walaupun tidak pernah berangkat Pramuka. Atau mungkin karena dosen S-3 dan Obama S-2 dulu rajin Pramuka ya? Orang Israel mungkin rajin Pramuka sehingga mereka sangat pandai dan superior (kayak mi instant) dan kebal hukum manusia.
Tolong teman-teman! Tolong saya dari kegilaan dan kegoblokan ini. Untung saya tidak punya pacar. Mungkin pacar saya bisa ikut-ikutan goblok dan gila bersama saya.
SAYA INGIN JADI ORANG ISRAEL!!!!.
Sehingga saya bisa jadi orang pintar, jenius, superior (kayak mi instant), dan mampu mentoleransi pemboman anak-anak kecil, masjid, gereja, universitas, rumah-rumah tempatnya tidur anak-anak beneran (bukan anaknya Obama); puas melihat ibu-ibu yang hampir gila sembari memungut potongan tubuh anaknya, kebal hukum internasional, percaya diri mengemban tugas suci memurnikan Palestina dari racun dan kotoran bangsa Palestina sendiri, bahagia melihat orang menangis sampai matanya kering sambil mendengarkan musik dan merayakan serangan Israel ke Gaza, senang melihat kecanggihan bom-bom Israel yang mendarat di kerumunan anak-anak sekolah, bangga sebagai ras terpilih dan menjadi sahabat Amerika. Singkatnya saya ingin menjadi orang pintar Israel yang tidak bisa dipahami orang lain di seluruh dunia (kecuali oleh orang yang pintar juga). Saya ingin berkata “rumit” sehingga orang lain tidak paham. Oh… saya tahu solusinya. Cari pacar cewek Israel saja! Biar ketularan pinter.
Kalau saya sudah jadi orang Israel, nama saya (Muhamad Nur Hidayat) akan saya ganti sehingga tidak berbau Arab, inferior, barbar, bebal, dungu, Islam dan ras terbelakang. Nama saya akan saya ganti: “ Ehud Eliad Gilad Dayad Ghetto.” Wuihh… Keren!




Tenanglah Hidayat yang Islam, Barbar, inferior, Bebal, Dungu.. sebentar lagi manusia yang para pelupa akan meninggalkan berita tentang Israel vs Hamas, Israel vs Universitas Islam di Palestina, Israel vs Sekolah-sekolah, Israel vs Orang-orang goblog di seluruh dunia. nanti, sebentar lagi. sebentar lagi ketika Palestina yang arab itu telah selesai dibinasakan. kemudian, kurikulum mata pelajaran akan diganti dan sejarawan bernurani kemanusiaan yang arab yang islam akan segera dicopot dari jabatannya, karya-karya sastra tentang ketidakadilan perang dan yang mengkritik Israel dalam penaklukan-penaklukannya akan segera dibredel dari perpustakaan dan toko-toko buku. tenanglah, Hidayat...manusia sudah pelupa dari 'sono'-nya.
Toh, warga dunia juga telah lupa bahwa:
(data diambil dari paparan Anwariansyah di situs wikimu dan dari http://www.phon.ucl.ac.uk/home/geoff/UNresolutions.htm)
Bahwa:
14 Mei 1948: Sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina, para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih lemah, hingga jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dan lain-lain. Palestina Refugees menjadi tema dunia. Namun mereka menolak eksistensi Palestina dan menganggap mereka telah memajukan areal yang semula kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya. Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris – lihat Imperialisme Perancis dan Inggris di tanah Arab sejak tahun 1798 – maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.
Bahwa:
2 Desember1948 : Protes keras Liga Arab atas tindakan AS dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Banna mengirim 10.000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel. Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri IM bisa melakukan kudeta, akibatnya tokoh-tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.
Bahwa:
1956, 29 Oktober: Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez. Pada kurun waktu ini, militer di Yordania menawarkan baiat ke Hizbut Tahrir (salah satu harakah Islam) untuk mendirikan kembali Khilafah. Namun Hizbut Tahrir menolak, karena melihat rakyat belum siap.
Bahwa:
1964: Para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestine Liberation Organization). Dengan ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan umat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa Palestina.
Bahwa:
1967: Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria selama 6 hari dengan dalih pencegahan, Israel berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena dibantu informasi dari CIA (Central Intelligence Agency = Badan Intelijen Pusat milik USA). Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan Israel, karena Menteri Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan selama dia ada di udara.
Bahwa:
Nopember 1967: Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 242, untuk perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang 6 hari, pengakuan semua negara di kawasan itu, dan penyelesaian secara adil masalah pengungsi Palestina.
Bahwa:
1969: Yasser Arafat dari faksi Al-Fatah terpilih sebagai ketua Komite Eksekutif PLO dengan markas di Yordania.
Bahwa:
1970: Berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina membuat PLO dikecam oleh opini dunia, dan Yordania pun dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung dari AS, maka akhirnya Raja Husein mengusir markas PLO dari Yordania. Dan akhirnya PLO pindah ke Libanon.
Bahwa:
6 Oktober 1973: Mesir dan Syria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasanya Yahudi Yom Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-tiba dibantu oleh AS. Presiden Mesir Anwar Sadat terpaksa berkompromi, karena dia cuma siap untuk melawan Israel, namun tidak siap berhadapan dengan AS. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak. Akibatnya harga minyak melonjak pesat.
Bahwa:
22 Oktober1973: Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi Nomor 338, untuk gencatan senjata, pelaksanaan resolusi Nomor 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.
Bahwa:
1977:Pertimbangan ekonomi (perang telah memboroskan kas negara) membuat Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa konsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara-negara Arab merasa dikhianati. Karena langkah politiknya ini, belakangan Anwar Sadat dibunuh pada tahun 1982.
Bahwa:
September 1978: Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai AS. Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Israel. Sadat dan PM Israel Menachem Begin dianugerahi Nobel Perdamaian 1979. namun Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Belakangan, otonomi versi Camp David ini tidak pernah diwujudkan, demikian juga otonomi versi lainnya. Dan AS sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi sanksi, bahkan selalu memveto resolusi PBB yang tidak menguntungkan pihak Israel.
Bahwa:
1980: Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerussalem yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota.
Bahwa:
1982: Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran terhadap batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena – lagi-lagi – veto dari AS. Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya dan Tunis.
Bahwa:
1987: Intifadhah, perlawanan dengan batu oleh orang-orang Palestina yang tinggal di daerah pendudukan terhadap tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai aktivitasnya dengan pendidikan dan sosial.
15 Nopember 1988: Diumumkan berdirinya negara Palestina di Aljiria, ibu kota Aljazair. Dengan bentuk negara Republik Parlementer. Ditetapkan bahwa Yerussalem Timur sebagai ibukota negara dengan Presiden pertamanya adalah Yasser Arafat. Setelah Yasser Arafat mangkat kursi presiden diduduki oleh Mahmud Abbas. Dewan Nasional Palestina, yang identik dengan Parlemen Palestina beranggotakan 500 orang.
Bahwa:
Desember 1988: AS membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui eksistensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB Nomor 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.
Bahwa:
September1993: PLO – Israel saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel berjanji memberikan hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for peace” (tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras oleh pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara-negara Arab (Saudi Arabia, Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi mengeluarkan “fatwa” untuk mendukung perdamaian. Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO, maka sesuai perjanjian dengan Israel, PLO harus mengatasi segala aksi-aksi anti Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan Yahudi. Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.
Bahwa:
1995: Rabin dibunuh oleh Yigar Amir, seorang Yahudi fanatik. Sebelumnya, di Hebron, seorang Yahudi fanatik membantai puluhan Muslim yang sedang shalat subuh. Hampir tiap orang dewasa di Israel, laki-laki maupun wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah masyarakat Israel dengan bom “bunuh diri”. Targetnya, menggagalkan usaha perdamaian yang tidak adil itu. Sebenarnya “land for peace” diartikan Israel sebagai “Israel dapat tanah, dan Arab Palestina tidak diganggu (bisa hidup damai).”
Bahwa:
1996: Pemilu di Israel dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang berarti kemenangan Yahudi yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur-ulur waktu pelaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya negara Palestina, agar Palestina tetap sekedar daerah otonom di dalam Israel. Ia bahkan ingin menunggu/menciptakan kontelasi baru (pemukiman Yahudi di daerah pendudukan, bila perlu perluasan hingga ke Syria dan Yordania) untuk sama sekali membuat perjanjian baru.
AS tidak senang bahwa Israel jalan sendiri di luar garis yang ditetapkannya. Namun karena lobby Yahudi di AS terlalu kuat, maka Bill Clinton harus memakai agen-agennya di negara-negara Arab untuk “mengingatkan” si “anak emasnya” ini. Maka sikap negara-negara Arab tiba-tiba kembali memusuhi Israel. Mufti Mesir malah kini memfatwakan jihad terhadap Israel. Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan Perancis) juga mencoba “aktif” menjadi penengah, yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing-masing dalam rangka menanamkan pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela kalau AS “jalan sendiri” tanpa bicara dengan Eropa.
Bahwa:
PBB telah mengeluarkan 66 resolusi berkaitan dengan masalah Israel-Palestina (1972-2006). dan semua resolusi diveto oleh Amerika Serikat. (hak veto: hak untuk membatalkan keputusan atau resolusi yang diajukan oleh PBB atau Dewan Keamanan PBB).
dan, Hidayat, dari semuanya, ini yang paling ironis untuk kita: para tentara Indonesia yang berpangkat tinggi yang konon sekolah militer di Amerika sebenarnya berlatih di Israel. di Amerika, mereka hanya foto-foto saja.
tenanglah Hidayat...
"satu nyawa hilang adalah tragedi, jutaan nyawa melayang adalah statistika." (Nikita Kruscev)
Kalo saya sih pingin jadi orang Indonesia aja, lebih enak. Gak ngalamin perang, gak juga pinter2 amat, apalagi gak pernah ngerasa gimana rasanya kehilangan negara, TAPI aku bisa menghakimi siapa saja yang aku mau, bisa sarkastik ataupun lewat statistik. Aku bisa aja bela siapapun yang aku mau, karena negaraku gak jelas ekspor impornya, gak ada yang menganggap negaraku berbahaya, jadi mau maki-maki Amerika, mau ngata2in Mesir pengecut, mau bilang PBB gak adil, gak masalah. Aku jauh lebih suka jadi orang Indonesia, biarpun gak bisa berenang, aku bisa nekat nyebur ke air. Hehehe, enakkan jadi orang Indonesia?
saya selalu membayangkan kalau perang adalah sebuah momen yang menarik dan akan membuat diri kita berubah. menarik untuk tahu motif dari perang itu lalu menertawakannya .
haha...haha...haha...haha...haha...haha..haha...haha...haha
aku mencintaimu...haha...kau tahu itu
tertawalah denganku durgadurga
dengan suara malaikatmu
dengan suara sadistismu
dengan suara agonistismu
dengan suara romantismu
aku mencintaimu!
haha...haha...haha...haha...haha...haha...haha...haha...haha