Kritik Chomsky terhadap Intelektual
Ditulis di www.altermedianet.blogspot.com (blog berita alternatif) dan www.enunggling.multiply.com
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
Semakin membaca Chomsky, semakin kaget saja saya (walaupun tidak harus). Dalam Language and Responsibility nya, Chomsky memaparkan peran para intelektual (termasuk mahasiswa) dalam me maintain atau menjaga “social order” dan “defending the interest of the elite” atau sebagai pendukung kepentingan (bukan kebijakan) para elit. Chomsky juga mengkritik anggapan bahwa social knowledge (politik internasional, sejarah, dll.) membutuhkan alat khusus(teori atau metodologi) untuk dapat dipahami orang. Konsekuensinya, poltik dan sejarah dll., dalam hal ini, susah dipahami orang, karena yang boleh paham adalah mereka yang paham teori dan metodologi untuk memahaminya.
Padahal menurut Chomsky, “everything in social and political affairs is right on the surface” alias seharusnya sangat mudah dipahami karena berhubungan dengan fakta yang dapat di indera. Tidak seperti ilmu-ilmu lain semacam linguistik, fisika dll, yang memang membutuhkan background, pemahaman, dan pengetahuan teknis lainya. Pertanyaanya sekarang, mengapa kalau ada seseorang ngomong soal politik, orang-orang susah memahami dan mudah melarikan diri? Jawabanya adalah karena “this social and political affair is maintained by intellectuals to look complicated and not understandable.” Jadi memang sengaja, dalam hal politik dan ilmu-ilmu lainya (sejarah, filsafat, dll), untuk membuat orang biasa menjadi bingung dan tidak paham masalah para intelektual (jangan ngaku bukan intelek!), karena mereka membuat apa yang diomongkan mereka menjadi tidak terjangkau bagi pemahaman orang biasa. Mucul juga media-media yang tidak bisa dipahami semua orang.
Lalu mengapa para intelek melakukan itu? Jawabanya adalah “for domination and personal privilege,” dominasi intelektual dan gengsi pribadi. Gak harus para intelek yang duduk di singgasana karir mereka masing-masing, kan kita saja sebagai mahasiswa menjadi keren kalau bisa ngomong ,tahu, melakukan macam-macam yang tidak semua orang paham. “It’s very natural for intellectuals to try to make simple things look difficult.” Sangat alami bagi para intelektual untuk membuat hal yang mudah kelihatan susah, kata Chomsky. Alami. Wow. Sangat alami untuk membuat hal yang sebenarnya mudah hanya dipahami oleh para intelek.
Orang biasa takut karena mereka ndeso, tidak sekolah, tidak sekeren mahasiswa, jadi tidak berhak untuk berbuat apa-apa. Diperlukan misteri-misteri, seperti misteri politik, misteri sejarah, misteri filsafat, misteri seni, misteri sastra, dan misteri lainnya; jika tidak, semua orang akan paham segala sesuatu. Kalau semua orang paham, gak ada yang keren dan nyeni jadinya. Maka muncul pembahasaan-pembahasaan khusus untuk hal-hal yang sebenarnya mudah. “[People] have to be subordinated so you make things look mysterious and complicated …. talking big words that nobody can understand.” Orang harus dipinggirkan sehingga menganggap apa yang kita bicarakan kelihatan misterius dan ruwet. Para intelektual mecoba membahas sesuatu, apa arti dibalik sesuatu itu, yang sebenarnya tidak ada apa-apa di dalamnya, dan sangat biasa saja.
Begitulah caranya para intekeltual (kita) untuk meminggirkan orang ndeso dari perdebatan publik dan analisis tentang fakta-fakta sosial politik (dan fakta sosial lainya). Dan standar ini berlaku baik untuk intelektual Kanan maupun Kiri. Kiri lebih gila lagi. Lebih eksklusif lagi ruang lingkupnya. Contoh: gerakan-gerakan Marxis atau anarkis yang teriak macam-macam tapi tidak ada orang yang paham. Lalu muncul kumpulan-kumpulan yang ngobrol segala sesuatu yang dibuat rumit (orong-orong salah satunya). Yang jika ada orang biasa masuk dalam lingkaran para intelek yang ngobrolin yang rumit-rumit itu, orang tersebut langsung keringat dingin karena gak paham dan inferior.
Bahkan dalam wacana post modern, kata Chomsky, ini menjadi lebih gila lagi, terutama di Paris. Wacana-wacana sederhana yang diangkat oleh post-modernis perancis diolah menjadi sesuatu yang keren (alias tidak dipahami semua orang) sehingga media di sana tertarik untuk mengkover dominasi intelektual mereka.
It makes people feel they’re not going to do anything because, unless I somehow understand the latest version of post-modern this and that, I can’t go out in the streets and organize people, because I’m not bright enough.
Karena saya tidak paham post-modern versi ini itu, jadi saya tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa menganalisis apa-apa, tidak masuk dalam lingkaran yang pantas memahami segalanya, karena saya tidak cukup pandai (dan keren), gak tau teorinya[1]. Tidak bisa membantu orang, tidak bisa berpropaganda dll. Orang biasa tidak berguna.
Tentang politik, sebenarnya permasalahan politik sangat mudah dipahami siapa saja. Namun masalahnya ada dua. Satu, para intelek membuatnya jadi susah dipahami. Dua, para intelek tidak paham sama sekali karena kurang rumit. Contoh sederhana, analisis mengenai mengapa Brazil (atau kita) terbelit utang. Jawabanya bisa dijelaskan dengan bahasa yang sangat mudah, misalnya karena duitnya ditanam di New York agar bisa berlipat ganda dsb. Anak kecil juga paham. Dan masalah-nasalah politik lainya juga mudah dipahami. “[Y]ou don’t have to talk about them in post-modern rhetoric.” Gak perlu dirumit-rumitkan seperti wacana post-modern (yang ujung-ujungnya menyangkut isu politik juga).
You can talk about them [political affairs] in very simple words because they’re very simple points and people easily understand. The only people who don’t understand them are intellectuals. … If they understand them, then their own powers are lost. So they’re not going to understand them, they’re going to cloud them in mysteries.
Masalah politik bisa dijelaskan dengan bahasa yang simple sehingga semua orang bisa paham karena poin dalam masalah politik sebenarnya mudah dipahami (tidak butuh analisis Kompas atau Tempo dan media elit lainya). Yang tidak bisa paham adalah justru mereka para intelektual, karena jika mereka paham, mereka akan kehilangan dominasinya. Karena segala sesuatu harus rumit dan membingungkan. Lalu muncullah misteri-misteri yang rumit dan membingungkan yang tidak untuk dipahami semua orang.
Chomsky, mewakili orang biasa dalam menghadapi wacana sosial politik, menantang:
Well, if there is some theory or set of principles or doctrines that are too complicated to understand and you have to really study them, then show me something that can’t be said in simple words.
Jika memang harus belajar sungguh sungguh, dan harus tau teori macam-macam untuk memahami segala sesuatu, coba tunjukkan segala sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa yang mudah.
Dan memang para intelek tersebut tidak bisa menggunakan bahasa yang mudah karena mereka harus berrumit-rumitan. Jadi mereka bisa membuktikan apa yang tidak bisa dipahami dengan bahasa orang biasa (kejebak). Chomsky berkata pada orang biasa, coba tanya seseorang intelektual untuk menjelaskan essay terbarunya Derrida sehingga kamu dapat memahaminya. Mereka tidak akan mampu menjelaskanya karena terlalu keren dan tinggi kecerdasan para intelek tersebut. Mereka bahkan tidak bisa ngomong dengan bahasa orang biasa (kalau Megawati tidak bisa ngomong bahasa orang pintar). Jadi Chomsky menjebak, coba buktikan segala sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dalam bahasa biasa. Eh ternyata memang terbukti, contohnya tentang Derrida (dkk.) tadi.
Lalu apa kesimpulanya? Chomsky:
And I think you must ask yourself very carefully what great leap in evolution has taken place that enables people to have these fantastic insights that they can’t convey to ordinary people about topics that no one understands very much about. One should be very skeptical about that, that’s another technique by which intellectuals dominate people.
Apa memang terjadi lompatan besar dalam evolusi sehingga ada intelektual-intelektual dengan ide-ide fantastiknya yang tidak bisa dipahami orang biasa. Inilah salah satu teknik dominasi para intelektual (orang pandai, termasuk sampeyan, poro mahasiswa yang keren) atas orang biasa: buat hal-hal sederhana sehingga kelihatan rumit. Setelah kelihatan rumit, besar-besarkan.
Meja itu memang berwarna coklat atau cuma pikiran saya saja ya…????
-Hidayat- 30 Oktober 08
Sumber utama: interview “Anarchism, Intellectuals and the State” dalam Chomsky on Anarchism hal. 212-220
Sengaja banyak pake bahasa inggris, bukan karena inggris itu elit, tapi karena memang target pembacanya para intelek yang bisa baca bahasa inggris.
Bahasa indonesia yang tidak manut EYD nya juga mewakili.
Nyanyi wae lah, ndeso rapopo: Jawa Timur, neng pinggire pulo Jowo, nyebrang laut tekane pulo Meduro. Daerah industri kuwi Gerbang Kertosusilo, pancer tengahe ono ing Suroboyo….Kutho ngGresik ono pabrike sing gedhe, gedhe tenan ora iso dibayangke. Smongko bajul Bojonegoro, bacut ucul yo di ikhlasno….Hak e hak e, Hok ya Hok ya.
Opo nyampursari wae: Opo pancen aku, kasmaran diiik, ora doyan mangan, opo meneh dolan. Pingine tansah ketemu dirimu seorang…bocah ayu tambanono roso kangenku…
Silakan buka www.altermedianet.blogspot.com untuk berita-berita alternatif yang tidak ada di media elit.
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.




Sial! Tulisan Hidayat membuat mata saya terbelalak!
Bukan kali ini saja saya mendengar cerita tentang ekslusivitas kaum intelek yang memisahkan diri (secara sengaja ataupun tidak) dari masyarakat umum. namun, ketidaksengajaan menjadi mentah di tulisan tersebut. saya merasa sok pintar, sok teoritis, sok mengerti (atau setidaknya berusaha keras mengerti) hal-hal rumit dalam ranah wacana intelektual.
Namun, juga, entah mengapa saya masih merasa bahwa bagaimanapun, ranah keilmuan yang dipelajari oleh kaum yang mengaku berpendidikan membawa semacam akses tertentu yang membuat orang di dalamnya punya pengetahuan lebih tentang banyak hal. dan saya adalah orang yang merayakan akses tersebut. tetapi bukan berarti akses tersebut hanya diperoleh oleh orang yang berpendidikan, karena, seiring perkembangan teknologi, juga bisa diakses oleh siapa saja. Aah, tetap saja itu tidak bisa menjawab kungkungan lingkaran setan elitisme intelekualitas!
Secara sederhana saya melihat kemarahan pada intelektual yang tercermin dari tulisan Hidayat adalah merupakan kegagalan sistem pendidikan mencetak manusia berguna bagi masyarakatnya. pendidikan menjauhkan diri dari masyarakat tempat ia berpijak. ingat, kerumitan-kerumitan wacana yang dicontohkannya adalah wacana impor yang seringkali mentah-mentah diterapkan untuk membaca mayarakat. artinya, istilah-istilah yang digunakanpun adalah istilah-istilah asing yang jadi semacam mantra pengganti jampi-jampi dan 'mitos usang' tradisi kita. dan bagaimanapun, sistem pendidikan kita adalah sistem barat. metode-metode yang rumit itupun berasal dari barat. kita adalah masyarakat pengadopsi tanpa pencocokan yang serius. jadi, kalau di Prancis sana saja untuk bisa dianggap intelek harus ngerti 'posmodernisme ini itu', kaum intelektual kita lebih parah lagi. kalau nggak tau 'posmodern ini itu' yang dari sana itu, kita nggak merasa intelek.
Saya pernah membaca sebuah tulisan di Kompas Minggu tentang seorang dosen muda jurusan filsafat UI yang selalu mencoba mempermudah pemahaman tentang filsafat pada mahasiswanya. Ia, dosen cantik itu (hehehe..), mencoba memakai istilah-istilah dan perumpamaan yang dekat dengan kondisi masyarakat Indonesia.
Seorang penulis Afrika favorit saya, Chinua Achebe, mengatakan bahwa seseorang yang memiliki dua tempat berpijak, sebutlah tradisi dan kebudayaan lain, berpotensi menjadi: (1) kehilangan identitasnya dan lenyap dalam kebingungan, (2) mampu menemukan visi yang cerah bagi masyarakatnya.
Saya ingin mengatakan bahwa dengan akses yang bisa didapat, kaum intelektual punya potensi (walaupun bukan kaum intelek saja) untuk mengembangkan masyarakatnya, dan ia berkewajiban untuk mempermudah segala yang rumit yang dipelajarinya untuk masyarakatnya juga. kitalah, kaum yang mengaku intelek itu, yang punya posisi demikian.
Dan tentang komunitas Orong-orong, saya sependapat dengan kamu, Hidayat. pertanyaan yang masih menggantung di kepala saya justru: Kenapa hanya orang yang serius belajar juga yang menyadari hal demikian? Artinya, yang mungkin 'dilupakan' dalam esei itu adalah bahwa tidak semua mahasiswa tahu bahwa mereka benar-benar sadar akan kondisi dan tanggung-jawab intelektualnya. dan karena ketaksadaran itulah kaum intelek semakin terasing dari masyarakatnya. penciptaan kelas ini terjadi, bagi saya, di konteks intelektualitas kemahasiswaan, juga karena rendahnya keinginan belajar.
tulisanmu rumit saya gak dong, yang eksklusif saya atau anda?
walah, saya diluar lingkar target mas Hidayat ki, udah ga intelek, ga bisa bahasa inggris lagi... Sial!
baeklah, mohon maaf saya warga baru, semoga bisa diterima di sini. Amin.
sepakat dengan Hidayat, Wahmuji, dan nat. Kerumitan dalam narasi ilmu pengetahuan memang bisa jadi dibuat untuk tujuan ekslusifitas kaum intelektual. Apalagi kalau dirunut, pake sejarah, di masa Abad tengah eropa, di mana institusi gereja mensterilkan narasi ilmu pengetahuan dari bahasa diluar bahasa latin. Sehingga yang bisa membaca/belajar hanya mereka yang bisa bahas itu (latin). Dan biasanya mereka adalah orang gereja.
Namun, pendapat mas Hi dan mas Wah bisa jadi juga "relatif". Setahu saya, dalam ilmu pengetahuan disyaratkan "klear en distingtip" (maaf klu tulisan bahasa inggerisnya salah, kurang "s" atau apa gitu). "Jelas dan Terpilah-pilah/terbedakan". Kiranya menuju keduanya harus didukung oleh telaah-telaah dan komparasi-komparasi. Kalau kemudian, hasilnya terkesan rumit, ya... gimana ya...?!?!
Bagi saya, bukan persoalan rumit atau tidak, namun akses pendidikan bagi pemuda-pemuda kampung (seperti saya) yang harus dibuka lebar. Caranya, ya dengan subsidi pendidikan. Persoalan sistem pendidikan ya... sepakat dg kawan2 semua, pendidikan kita ga ngakar, "losefoots", nggak punya kaki, kaki satu malah di eropa, kaki satunya malah di ngamerika, misalnya.
Itu dulu. Senang berdiskusi dengan anda-anda.
NB: Soal lagu Ndeso, besuk2 saya kasih lagu yang lebih ndeso lagi dari lagunya mas Hidayat, dan kalau orang kota denger lagu itu pasti bilang; Njijik-i..!!!
Wassalam.
Masalah eksklusif, jelas saya lebih eksklusif. Wong saya orang kutho, gaul, kaya raya, pinter filsafat, seni, politik, sejarah, internet, punya facebook, punya friendster, punya blog, mampu mbayar kuliah, rajin diskusi dan dialektika, rajin berpikir, menggambar, menganalisa, menulis, rajin demo, dan ber-rumit-rumitan dalam hal yang mudah. Mudah dirasa rumit dan rumit dirasa mudah. Susah kalau lihat yang mudah, senang kalau lihat yang rumit. Susah kalau orang senang dan senang kalau orang susah.
Saya yakin mas Nat orangnya ndeso kluthuk, rangerti opo-opo, tukang golek pasir dan wong kere yang seneng nonton jathilan dan campursari. Iyo to? Ngaku!
Mari saya buka tulisan saya dengan pernyataan, 'Intelek yang tidak bisa membuat orang paham adalah intelek yang telek.'
Setidaknya, dari tulisan kawan Hidayat, ada beberapa hal yang diamini: ada yang intelek - ada yang tidak intelek, ada yang rumit - ada yang mudah, ada yang di atas - ada yang di bawah, ada yang ndeso - ada yang kutho, ada yang posmedernis - ada yang suka jathilan, dsb. dst.
***
Seperti biasanya, pernyataan Chomsky adalah pernyataan yang mencubit! Dan, menurut saya, hiperbola adalah salah satu alat agar cubitan itu maknyus sehingga orangpun terbelalak, kawan Wahmuji contohnya.
Dari beberapa narasi Chomsky yang dihadirkan kawan Hidayat, saya bisa merasakan beberapa titik hiperbola (pembesar-besaran). Saya kutipkan beberapa:
[1] "And I think you must ask yourself very carefully what great leap in evolution has taken place that enables people to have these fantastic insights that they can’t convey to ordinary people about topics that no one understands very much about."
[2] "[People] have to be subordinated so you make things look mysterious and complicated …. talking big words that nobody can understand."
Chomsky menggunakan kata 'no one' dan 'nobody'. Memang terkesan membesar-besarkan. Tapi, justru disitulah cara-ucapnya Chomsky bekerja. Saya memaknai 'no one' dan 'nobody' itu dalam lingkup 'orang-orang biasa' yang 'bukan intelektual'.
***
Setelah membaca tulisan Hidayat, Wahmuji, dan Agus, saya jadi bertanya-tanya: sebenarnya yang membuat sesuatu itu rumit itu apa? Apakah karena yang dibahas itu benar-benar rumit? Ataukah, seperti yang diungkapkan Chomsky, karena sengaja dirumit-rumitkan?
Pastinya ada itu sesuatu yang rumit. Namun, Chomsky sendiri membatasi lingkup pembahasannya pada ruang 'pengetahuan sosial', seperti politik, sejarah, dsb. Chomsky mengklaim bahwa masalah-masalah politik dan sejarah adalah masalah yang mudah. Sehingga tidak perlu diceritakan dengan analisis yang malah membuat orang semakin tidak paham. Benarkah demikian? Apakah memang betul-betul tidak ada kerumitan dalam konteks politik? Saya kira tidak sepenuhnya benar.
Kalau saja ada contoh pembahasannya, pastinya akan lebih mudah memahami argumen Chomsky. Maksud saya, contoh tentang sesuatu yang mudah ketika dibahas dengan versi rumit dan versi mudah. Jadi, gampang membedakannya. Kalau contohnya hanya "analisis mengenai mengapa Brazil (atau kita) terbelit utang. Jawabanya bisa dijelaskan dengan bahasa yang sangat mudah, misalnya karena duitnya ditanam di New York agar bisa berlipat ganda dsb," saya kira contoh itu jauh dari memuaskan. Apa iya bahwa karena 'duitnya ditanam di New York agar dapat berlipat ganda' adalah jawaban mudah yang sempurna? Apa benar tidak ada 'kerumitan' lain dari kasus itu?
Kalau saya, sih, melihat kegeraman Chomsky dari sudut pandang penyajian bahasa saja. Maksudnya, sesuatu yang rumit sekalipun dapat dimengerti oleh orang banyak lewat cara-tutur yang sederhana, tanpa menanggalkan sifat analitis dan kemasukakalannya. Masyarakat justru akan tetap bodoh kalau analisis mengapa Brazil terbelit hutang dijawab dengan 'sekedar' karena duitnya ditanam di New York. Jawaban ini justru sangat rumit dan tetap saja misterius. Namun, kalau analisis itu dihadirkan lengkap dengan rentetan alasan yang sudah dikaji, dan diwartakan dengan bahasa dan tabiat tutur yang tidak berbelit-sehingga-mencekit, di situlah terletak kecerdasan-dalam-kesederhanaan.
Dan itulah tugas seorang cendikiawan. Cendikiawan memaparkan permasalahan untuk dimengerti, bukan untuk di-tidakmengerti.
Yang saya maksud dengan penyajian bahasa adalah penggunaan bangunan kalimat dan pilihan kata yang dapat ditangkap dan dekat dengan masyarakat di luar lingkaran cendikiawan itu. Contoh tentang dosen Filsafat UI yang cantik, seperti yang disampaikan Wahmuji, itu adalah contoh yang cocok.
Kalau tulisan kawan Hidayat sendiri dibaca oleh orang yang "ndeso kluthuk, rangerti opo-opo, tukang golek pasir dan wong kere yang seneng nonton jathilan dan campursari", ya jelas mata orang itu malah semakin memicing, bukannya terbelalak. Habisnya, cara-ucapnya sendiri memang rumit, ditambah lagi pemilihan kata yang nginggris. Tapi, menurut saya, memang seperti itulah cara kawan Hidayat mencubit calon pembacanya, yang sudah dengan gamblang dikemukannya dalam kalimat: "Sengaja banyak pake bahasa inggris, bukan karena inggris itu elit, tapi karena memang target pembacanya para intelek yang bisa baca bahasa inggris."
. Apa kawan Hidayat akan tetap memakai cara-ucapnya itu kalau berbicara pada target pembaca yang berbeda? Ya, saya juga tidak tahu.
Penggunaan cara-ucap harusnya berbanding lurus dengan konteks calon pendengarnya. Di sini, akhirnya, oposisi biner yang saya hadirkan di awal tulisan ini menjadi terbenarkan. Wajar saja orang-orang di komunitas Orong-Orong itu berbicara aneh-aneh dan rumit dan membuat orang-orang yang bukan Orong-Orong sampai keringat dingin dan gemetaran kalau terlibat dalam pembicaraan mereka. Soalnya, yang berbicara itu ya sesama orang-orang Orong-Orong. Biarpun saya juga tidak tahu apakah mereka itu saling memahami atau tidak. Tapi, apakah Wahmuji, yang salah satu orang di Orong-Orong itu akan berbicara dengan tabiat yang sama kalau sedang bercakap-cakap dengan kawan sepermainan di desanya? Hmm...
Kawan Agus datang dengan salah satu tawaran pemecahan masalah: pencerdasan mereka yang tidak masuk dalam lingkaran eksklusif para intelektual. Ini benar. Pemerataan kecerdasan memang sudah selayaknya dilakukan. Agar oposisi Kutho-Ndeso tidak berbanding lurus dengan oposisi Cerdas-Goblok! Agar kecerdasan seseorang tidak dipengaruhi oleh tempat tinggalnya.
Lalu, marilah kita membayangkan saat-saat ketika yang intelek berhasil membuat semua orang mengerti tentang pemikirannya, dan ketika wilayah tinggal seseorang tidak menentukan kecerdasan seseorang itu.
Waw, sepertinya saya mengantuk dan ingin bermimpi seperti itu,
Salam,
ginting
Wah matur nuwun atas komentar komprehensif mas ginting, yang sudah menganalisa secara tajam sampai ke persoalan bahasanya Chomsky, yang "hiperbole".
Pandangan Chomsky tentu saja tidak lepas dari pendirianya sdebagai seorang anarkis sindikalis. Kalau membaca ulasan politik Russell dan Bakunin akan menjumpai gaya bahasa yang kurang lebih sama, praktis dan tidak teoretis. Sebenarnya ada yang hilang dari tulisan saya diatas, yaitu footnotes nya tidak muncul, yang salah satunya mengemukakan kecurigaan saya tentang mengapa Chomsky selalu bersikukuh untuk tidak mau men-teorikan pendapatnya tentang politik, filsafat dan anarkisme, kecuali linguistik. Itulah mengapa banyak analis berspekulasi tentang aliran Chomsky.
Dan masalah bahasa yang disinggung secara apik oleh mas Ginting tadi memang menarik. Namun kalau melihat posisi Chomsky, tentang siapa saja yang ada disekelilingnya, bahasa-bahasa tersebut menjadi sangat normal. Ulasan-ulasan politik Chomsky memang menggunakan bahasa yang sangat mudah dimengerti warga Amerika atau mereka yang berbahasa Inggris, yang tentu saja adalah korban propaganda besar-besaran selama lebih dari 70 tahun, sehingga mereka (terutama warga Amerika) menjadi kalangan yang paling memperoleh distorsi informasi. Contohnya banyak sekali. Misalnya, dulu saat perang Vietnam, warga Amerika baru menentang setelah perang berlangsung lebih dari setahun. Ethnic cleansing di Palestina yang tidak mendapat tempat di media Amerika, pembuatan citra-citra antagonistik yang menyudutkan dunia Islam (karena sebenarnya mereka banyak minyaknya), .
Poinnya sebenarnya bukan untuk memungkiri intelektualitas. Jelas, intelektualitas dan analisis mendalam dan hati-hati sangat diperlukan, terutama untuk kita yang sudah berhasil masuk lingkaran universitas. Lingkaran orang terpelajar (?). Kerumita-kerumitan memang tidak ter-elakkan dalam dunia intelektualitas. Namun yang menjadi problem adalah kerumitan tersebut dijadikan alasan untuk mendominasi secara intelektual atas kalangan yang tidak intelektual, yang tentu saja mayoritas.
Yang menjadi perrsoalan bagi Chomsky adalah elitisme para intelek, yang sudah tentu telah melewati proses, yang kata Chomsky yaitu "socialization process", alias pensosialan lewat dunia pendidikan. Mengapa mereka elit berhubungan erat dengan hegemony penguasa (sistem yang dibangun Amerika, yang salah satu elemen pentingnya adalah media). Mereka yang telah melewati proses pensosialan dipersiapkan untuk melanggengkan sistem tersebut. Yang ini jelas rumit. (masalah pertautan kompleks sistem yang berisi media, dunia bisnis, pendidikan dan politik sudah saya tulis tapi belum saya publikasikan, karena menunggu sumber-sumber yang tercecer). Parahnya, para intelek tersebut menjadi penjaga hegemoni tersebut dengan semakin memperlebar jurang antara yang intelek dengan yang tidak. Mereka melanggengkan superioritas intelektualnya terhadap orang biasa. (bahasan ini sebenarnya masuk ke kritik Chomsky terhadap demokrasi).
Kalangan intelek tadi, seperti kata Bakunin, menjadi kelas baru (new class) yang tugasnya, kata Chomsky, "to run the show," alias mengatur segalanya. Sedang kalangan diluar itu hanya menjadi penonton saja, yang agar merasa penting dalam jalannya kebijakan, mereka diperbolehkan memilih wakilnya setiap empat atau lima tahun sekali lewat pemilu.
Contoh ekstrimnya adalah Lenin dan Stalin yang melangsungkan kekuasaanya dengan bantuan "new class" tadi.
terima kasih, setidaknya menjadi bahan bacaan