Puisi berbahasa halus

Saya sangat mengagumi karya sastra berbahasa indah dan penuh makna dimana setiap orang yang membacanya akan memiliki persepsi dan pengertian yang berbeda.Diantara karya karya yang sangat saya kagumi adalah karya dari Kahlil gibran dan Hamka,sebenarnya saya ingin sekali dapat membuat cerpen yang memiliki kata kata yang indah namun saya merasa belum mampu.Sebab kata kata indah itu sulit ditemukan bila terlalu panjang cerita yang kita buat,lain dengan puisi yang memiliki baris yang dapat dihitung.Sebenarnya bahasa sastra yang paling halus dan indah diantara semua karya sastra adalah Al Qur'an.Didalam al qur'an terdapat bahasa paling indah yang tidak membosankan bila membacanya.Dan sepertinya tidakada manusia yang dapat menciptakan bahasa seindah bahasa Al Qur'an.Sama seperti halnya puisi.Puisi yang memiliki bahasa yang indah tidak akan membosankan saat kita berulang ulang membacanya dan sepertinya setiap kita membacanya kita akan menemukan makna yang berbeda dalam puisi tersebut.Namun tidak menutup kemungkinan Untuk karya sastra terutama puisi yang menggunakan bahasa lugas dan berani juga menjadi salah satu karya sastra dengan bahasa indah karena dalam sastra, bahasa kasar pun akan terdengar indah dan penuh makna tergantung dari interpretasi orang dalam membacanya.Dalam puisi puisi saya lebih dominan kepada bahasa yang saya cari sehalus mungkin dan seindah mungkin setidaknya indah dalam kaca mata saya, Karena sastra itu kan bebas berekspresi dan ber interpretasi.Selamat menikmati karya sastra saya

 gambar Alwi Atma Ardhana

hati-hati dengan kata-kata indah, mungkin itu sebuah ketidakmampuan membaca sedekat mungkin dengan kenyataan maka digunakanlan cara-cara pengindahan tersebut. saat itu terjadi kata-kata dalam puisi malah tidak akan menjadi lebih kuat. pelemahan kekuatan karya terjadi diebabkan kata-kata yang tadinya menjadi kode wakil atas sebuah bangunan komunikasi antar manusia mengenai kenyataan malah menjadi pusat dari pemaknaan itu. kata-kata mengambil alih tujuan komunikasi tadi dan membuat para pembaca lupa bahwa hal yang di-komunikasi-kan adalah kenyataan. kenyatan yang disampaikan dengan meminjam bentuk karya sastra agar lebih kuat menjadi idak berguna lagi justru karena 'dikalahkan' bentuknya sendiri.

 gambar murni

iya,benar.seneng deh kalo dapat pelajaran baru
karena aku memang sedang dalam proses belajar
dalam berkarya.jd tambah semangat ingin berkarya lagi

 gambar Wahmuji

Seorang teman saya bilang bahwa dari Kahlil Gibran kita bisa banyak belajar metafora. Ada lagi yang bilang bahwa hitam-putihnya Kahlil Gibran cukup membosankan. Yang lain bilang lagi proyek representasi sastra Timur Tengah yang tendensius.

Wah, sepertinya saya harus cari lagi informasi tentang "Mahjar" (Semoga tulisannya benar) [Para Imigran Arab di Amerika Serikat].

 gambar Wahyu Adi Putra Ginting

Halus-kasar, indah-jelek, tinggi-rendah, sopan-memaki, beradab-biadab -- semuanya tidak akan pernah menemui makna mutlak, makna akhir. Maka itu, wajarlah ketika kawan Alwi mempertanyakan kembali (dengan frasa 'hati-hati') apa yang dimaksud kawan murni dengan 'bahasa yang indah' dan 'bahasa yang halus'.

Quote:
Sebenarnya bahasa sastra yang paling halus dan indah diantara semua karya sastra adalah Al Qur'an.Didalam al qur'an terdapat bahasa paling indah yang tidak membosankan bila membacanya.Dan sepertinya tidakada manusia yang dapat menciptakan bahasa seindah bahasa Al Qur'an.

Kawan murni mungkin boleh-boleh saja mengatakan demikian, walaupun saya harus urung untuk setuju karena kawan murni tidak menyertakan buktinya. Saya tidak seberuntung kawan murni yang sudah bisa merasakan keindahan bahasa Al Quran. Saya tidak paham bahasa Arab. Dan bahasa Arab, yang menjadi bahasa pengantar dalam Al Quran, tidak dapat dihakimi sebagai bahasa yang mutlak indah. Tidak ada bahasa yang indah -- sama dengan tidak ada bahasa yang tak indah. Saya jadi berpikir, mungkin pendapat-pendapat seperti inilah, salah satunya, yang membuat MUI mengeluarkan fatwa pelarangan shalat dalam bahasa Indonesia, seperti yang pernah dipraktikkan di Malang sana.

Bahasa yang misterius memang dibutuhkan oleh institusi semacam agama, bahkan institusi intelektual. Bahasa itu, kalau perlu, tak harus dipaparkan maksudnya. Agar kuasanya tetap terjaga: status quo tak goyang sama sekali. Hal seperti ini pun bisa terjadi pada sastra. Saya jadi mengerti mengapa puisi-puisi realis semacam yang ditulis Wiji Thukul itu menghentak pembacanya!

Begitu pun, perihal tarik-menarik antara bentuk-dan-isi, saya kira kesaling-leburan antara keduanya dibutuhkan. Agar, seperti yang dikatakan kawan Alwi, sebuah pernyataan yang saya setujui sepenuhnya, "kenyatan yang disampaikan dengan meminjam bentuk karya sastra agar lebih kuat," TIDAK "menjadi tidak berguna lagi justru karena 'dikalahkan' bentuknya sendiri."

 gambar murni

saya memang tidak mengerti bahasa arab namun sering kali saya membaca Al qur an dalam bentuk terjemah hal itu dikarenakan saya sering hatam alquran dan saya penasaran ingin tau artinya sekalian belajar sama guru ngaji ,ketika saya membaca terjemahan al quran yang begitu tebal tak ada rasa bosan untuk membacanya malah semakin dalam aku membacanya menjadi semakin menarik ,dalam terjemahan saja al qur an sudah seindah itu (menurut saya )apalagi dalam banhasa arab pasti lebih indah. thanks ya comment nya