Ke Atas ^
  • Struktur dan Tekstur Drama Dag Dig Dug Karya Putu Wijaya

    Sebagai sebuah karya sastra, drama mempunyai karakteristik yang unik dan menarik. Drama memiliki dua dimensi yang dapat dinikmati dan diapresiasikan. Dimensi pertama adalah dimensi sastra. Dimensi ini terbentuk ketika sebuah drama dipandang dan dikaji dari segi text play atau teks dramanya. Dimensi kedua adalah dimensi seni pertunjukan, yakni ketika sebuah teks drama direalisasikan dalam bentuk pementasan di atas panggung.
    Di Indonesia, mindset umum yang terlanjur berkembang tentang sebuah drama hanya terfokus pada asumsi bahwa drama adalah produk pementasan atau pertunjukkan semata. Hal ini dapat dipahami mengingat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap karya sastra, khususnya drama masih sangat kurang. Terlebih lagi dimensi drama sebagai seni pertunjukkan lebih mudah dinikmati oleh masyarakat daripada dimemsi drama sebagai karya sastra. Segi sastra dari sebuah drama jarang sekali mendapat perhatian padahal selain aktor, sutradara, dan krew yang bekerja di balik sebuah pementasan, keberhasilan sebuah pementasan tidak luput dari kualitas suatu teks drama. Terlebih lagi masyarakat terlanjur beranggapan bahwa suatu teks drama dikatakan berhasil apabila teks tersebut sudah pernah dipentaskan.
    Drama memang dirancang untuk dipentaskan di atas panggung (Reaske, 1966:5 dan Asmara, 1983:9), dan hal ini praktis membuat teks drama dipelajari hanya sebagai alat penunjang kebutuhan pementasan, sama halnya seperti kostum, panggung, tata artistik, dan sebagainya, bukan sebagai suatu karya sastra yang berdiri sendiri. Jadi text play atau teks drama hanya dipelajari untuk kebutuhan pentas. Penelitian yang mendalam terhadap text play sebuah drama jarang dilakukan, bahkan oleh kalangan akademisi.

    Oleh karena itu, sebagai suatu bentuk karya sastra, teks drama perlu mendapatkan perhatian khusus mengingat banyak hal yang dapat digali dan dipelajari dalam pengkajian sebuah teks drama. Reaske bahkan mengatakan bahwa sebagai bentuk kesusastraan, tidak ada alasan bagi praktisi, akademisi, peneliti, ataupun penikmat drama pada umumnya untuk tidak mempelari teks drama sepanjang tidak melupakan bahwa pada dasarnya teks drama ada untuk dipentaskan (Reaske, 1969:5 dan Asmara, 1983:9 via http://mbahbrata.wordpress.com/2009/06/21/tentang-drama/). Jadi kegiatan menganalisis teks drama memang sangat penting untuk dilakukan guna menggali nilai-nilai yang bermanfaat dalam sebuah teks drama.
    Dalam menganalisis sebuah teks drama, banyak teori yang dapat diaplikasikan. Hal ini tergantung dari sudut mana sebuah teks drama akan dikaji secara mendalam. Dalam menganalisis struktur dan tekstur drama, salah satu teori yang biasa digunakan adalah Teori Struktur dan Tekstur Drama milik George R Kernodle. Kernodle mengemukakan teori tentang struktur dan tekstur drama yang menjadi pembeda antara drama dengan karya sastra yang lain seperti prosa atau puisi.
    Dalam struktur dan tekstur drama yang dikemukakan oleh Kernodle, terdapat enam unsur nilai dramatik yang harus dikuasai seorang peneliti ketika akan mengkaji sebuah teks drama. Keenam nilai dramatik tersebut masing-masing adalah alur, karakter, tema, dialog, musik (diartikan sebagai mood dalam drama modern), serta spectacle. (Kernodle, 1966:344; Whiting, 1961: 130 via Dewojati, 2010: 159).
    Tiga nilai dramatik yang pertama yakni alur/plot, karakter, dan tema dikategorikan dalam struktur sebuah drama. Sementara sisanya, dialog, mood, dan spectacle masuk dalam tekstur sebuah drama. Struktur adalah bentuk drama pada saat dipentaskan. Sedangkan menurut Kernodle (via Dewojati, 2010:159) tekstur adalah apa yang secara langsung dialami oleh pengamat (spectator), apa yang muncul melalui indra, apa yang didengar telinga (dialog), apa yang dilihat mata (spectacle); dan apa yang dirasakan (mood) melalui seluruh alat visual serta pengalaman aural.
    Dalam menganalisi struktur dan tekstur teks drama, hal pokok yang perlu diingat adalah adanya komponen teks primer dan teks sekunder dalam drama. Komponen pertama adalah hauptext (teks utama) yang berupa dialog tokoh-tokoh. Komponen selanjutnya adalah nebentext atau teks tambahan yang sering disebut teks samping (Dewojati, 2010:160). Pemahaman terhadap kedua komponen itu sangat penting dalam kelancaran pengkajian sebuah teks drama. Hal ini dikarenakan hauptext dan nebentext,berperan sangat penting terhadap pengkajian drama, khususnya tekstur drama yang berupa dialog, mood, dan spectacle.
    Menurut Astone dan Savana (Via Dewojati, 2010:160); nebentext umumya dicetak miring, diletakkan diantara tanda kurung, dicetak dengan huruf kapital, atau diberi garis bawah. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pembedaan antara nebentext dengan teks utama (hauptext). Nebentext mempunyai fungsi sebagai petunjuk lakon yang membantu sutradara maupun pemain dalam melaksanakan akting di atas panggung. Struktur dan tekstur drama dapat tercermin secara implisi maupun eksplisit dalam hauptext dan nebentextnya. Hauptext dan nebentext menjadi sarana dalam menggali dan mengeksplorasi nilai-nilai dramatik dari sebuah teks drama.


    Landasan Teori:

    a.) Drama
    Menurut Harymawan (Via Dewojati, 2010:7), secara etimologis kata "drama" berasal dari kata dalam bahasa Yunani "draomai" yang berarti "bertindak", "berbuat", "bereaksi" dan sebagainya. Jadi drama bisa diartikan sebagai suatu tindakan atau perbuatan.
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak pelaku melalui tingkah laku atau dialog yang dipentaskan.
    Bakdi Soemanto (Via Dewojati, 2010:8) mengungkapkan bahwa drama adalah lakon serius yang menggarap suatu masalah yang memiliki arti penting-meskipun mungkin berakhir dengan bahagia atau tidak bahagia- tetapi tidak bertujuan mengagungkan tragika.
    Sedangkan menurut Astone dan George Savana (via Dewojati, 2010:8) drama merupakan susunan dialog para tokohnya (hauptext) dan petunjuk pementasan untuk pedoman sutradara yang disebut nebentext.

    b.) Plot
    Alur atau plot tersusun atas peristiwa-peristiwa yang terjalin menjadi sebuah rangkain cerita. Penikmat drama pada umumnya mengejar cerita dari bagian awal, tengah, dan akhir (Kernodle, 1967:343). Alur mengarahkan jalannya cerita mulai dari tahap pemaparan, konfliks, klimaks, hingga tahap penyelesaian.
    Reaske (1966:35) mengemukakan definisi alur sebagai aspek pokok dari semua teks drama. Alur menunjukkan tentang kejadian yang terjadi. Semua yang terjadi dalam sebuah cerita disajikan secara lengkap dalam alur. Alur menjadi sangat penting dalam sebuah drama karena pada dasarnya sebuah drama terdiri atas serangkaian peristiwa atau episode yang mengikuti satu sama lain dan saling berhubungan.
    Kernodle (1966:346) menjelaskan bahwa sebuah drama bukan narasi, tidak hanya berupa dialog atau percakapan tetapi juga sebuah interaksi yang menuntut reaksi dari masing-masing karakter. Dengan demikian penikmat drama akan tertarik untuk mengikuti keseluruhan jalan cerita.
    Adapun definisi alur menurut Kernodle (1966:345 via Dewojati, 2010:162) adalah pengaturan insiden yang berlangsung dari atas panggung. Setiap kejadian di dalam panggung menjadi tanggung jawab alur karena menurut Aristoteles, di dalam sebuah alur terdapat skema-skema action para tokohnya di atas panggung.
    Plot menduduki peranan penting dalam drama karena kemampuannya dalam menyingkap lapis-lapis tersembunyi dalam drama. Melalui alur, penonton akan mendapatkan pencerahan terhadap misteri-misteri yang terjadi selama jalannya cerita. Karena fungsinya yang sangat krusial dengan segala daya tarik yang dimiliki itu, Eric Bentley (dalam Kernodle, 1966:347 via Dewojati, 2010:162) membandingkan alur dengan tarian striptease. Keduanya sama-sama menarik karena sama-sama menyingkap lapis yang terembunyi.
    Sebagai suatu sistem yang saling berjalinan, plot dalam drama dapat direkonstruksikan menjadi beberapa tahap. Ide konstruksi plot ini pertama kali digagas oleh Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Poetics. Plot drama menurut Aristoteles, dibagi menjadi beberapa tahap, yakni tahap protasis (permulaan), yang menjelaskan peran dan motif lakon, tahap epitasio yang merupakan tahap jalinan kejadian, dan tahap catarsis, yang berupa puncak laku, serta catastrophe yang merupakan tahap penutupan. Empat tahap ini dikembangkan lagi oleh Gustaf Freytag (1816-1895). Freytag mengembangkan tahap plot drama menjadi 5 tahap, yakni exposition, complication, climax,conclusion, dan denouement.
    1.)  Exposition, merupakan tahap pembukaan, tahap pengenalan terhadap kisah drama tersebut. Pada tahap ini, dijelaskan tentang apa yang tengah terjadi sebelumnya, serta situasi yang sedang terjad pada saat itu. Dengan demikian, penonton tidak mengalami kesulitan dalam menafsirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
    2.) Complication, merupakan tahap munculnya ketegangan dalam alur cerita.
    3.) Climax, merupakan puncak ketegangan-ketegangan yang sebelumnya terjadi. Climax dibagi menjadi dua :
    3.1 Minor Climax, merupakan puncak kerumitan yang menimbulkan ketegagan kecil yang tak terselesaikan
    3.2 Mayor Climax, merupakan puncak dari semua ketegangan.
    4.) Conclution, nerupakan tahap kesimpulan setelah terjadinya ketegangan puncak.
    5.)  Denouement, meruakan tahap "kesudahan" setelah kesimpulan, berasal dari istilah Perancis yang berarti "pelepasan ikatan" plot.

    c.) Karakter
    Karakter merupakan salah satu struktur yang terdapat dalam sebuah drama selain plot dan tema. Unsur karakter (character) yang terdapat dalam drama lazim disebut tokoh. Tokoh merupakan unsur dominan dalam sebuah drama yang berfungsi sebagai sebagai penggerak alur dalam drama. Dengan adanya tokoh, maka alur dalam drama akan menjadi hidup dan mengalir. Penokohan merupakan salah satu sarana yang digunakan oleh seorang pengarang untuk mengungkapkan alasan masuk akal terhadap sikap dan perilaku tokoh dalam sebuah drama. Tokoh merupakan bagian krusial dari sebuah drama karena dengan keberadaan tokoh makan akan terjalin sebuah alur yang akan menghidupkan latar dan rangkaian peristiwa. 
    Di samping itu, penokohan dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni watak datar (flat characterization) dan watak bulat (round characterization). Flat characterization atau watak datar ialah watak tokoh-tokoh cerita yang bersifat statis,datar,monoton,dan hanya menonjolkan satu watak tertentu saja yang dicerminkan selama jalannya cerita. Sedangkan watak bulat (round characterization) adalah watak tokoh cerita yang kompleks(bermacam-macam), seringkali mengalami perubahan sehingga tidak bisa diidentifikasikan apakah ia berwatak baik atau jahat.
    Menurut Kernodle (1966:350-353 via Dewojati, 2010: 170),  karakter tidak hanya mengacu pada dimensi fisik tokoh seperti pengenalan toko melalui umur, bentuk fisik, penampilan, kostum, tempo/irama permainan tokoh, namun juga dimensi psikologis tokoh seperti sikap batin tokoh. Sikap batin biasanya berkenaan pada gejala psikologis seorang tokoh seperti tokoh yang emosional, periang, pemurung, pendiam, humoris, bijak, cerewet, serius, pelupa, dan lain sebagainya.
    Dalam menganalisis karakter, dikenal 3 metode, yakni metode analitik, metode dramatik, dan metode analitik-dramatik. Metode analitik merupakan metode penokohan dengan menguraikan langsung tokoh tokohnya. Metode dramatik ditempuh melalui percakapan, pikiran tokoh, atau tanggapan tokoh yang lain. Sedangkan metode analitik-dramatik merupakan metode kombinasi antara metode analitik dan dramatik (Tasrif dalam Harymawan, 1988:18)

    d.) Tema
    Tema merupakan hasil dari berbagai peristiwa yang terkait dengan penokohan dan latar (Hasanudin. 1966:103). Tema memiliki hubungan dengan kedua nilai dramatik yang lain. Makna tema dalam drama terkadang tidak dapapt ditangkap secara jelas dan baru akan terlihat setelah selesai membaca atau menyaksikan drama (Kernodle, 1967:354).
    Dalam sebuah drama, makna cerita tersirat dalam tokoh, peristiwa, akting para aktor, penampilan, juga setting. Tema sebuah drama dapat diketahui melalui berbagai cara. Tema drama terkadang ditentukan, dikatakan, atau secara eksplisit didramatisasikan dalam pementasan.
    Dalam drama abad 19, sering dijumpai seorang tokoh kecil, yang disebut raisonneur yang bertugas menjelaskan tema kepada penonton. Namun dalam drama modern, sebuah tema drama ditunjukkan secara penuh dalam dialognya. Penyampaian tema kepada penonton direalisasikan melalui perkataan tokoh. Tema adalah bagian penting dalam sebuah drama dan oleh karenanya, drama akan menjadi lebih kuat ketika sebuah tema yang diangkat dapat tersampaikan kepada penontonnya lewat kesimpulan yang ditarik penonton ketika selesai menyaksikan atau membaca sebuah drama.
    e.) Dialog
    Bentuk drama yang berupa rangkaian kata yang tersusun dalam dialog menjadikan drama berbeda dengan karya sastra yang lain seperti prosa atau puisi. Dialog-dialog tersebut merupakan implementasi dari perkataan/ujaran yang dipakai untuk membangun sebuah cerita melalui alur yang disajikan. Pada dasarnya sebuah drama menampilkan ucapan manusia (Bantley, 1967:70). Dialog merupakan nilai dramatik pertama yang ada dalam tekstur sebuah drama. Dialog juga merupakan sarana primer dalam drama karena dialog merupakan lahan eksplorasi untuk menggali nilai nilai dramatik lainnya.
    Luxemburg (dalam Hasanudin via Shiyam, 2008:14) mengatakan bahwa dialog merupakan bagian terpenting dalam sebuah drama karena melalui dialoglah seorang juru cerita dapat langsung menyapa penikmat atau penonton.
    Menurut Harymawan (via Shiyam, 2008:14), dari segi estetik dialog merupakan unsur literer yang mempengaruhi keindahan sebuah lakon. Dialog harus menarik sehingga memiliki sifat yang literer. Dialog yang terlalu panjang dan berbelit belit akan membosankan dan mengakibatkan hubungan antar peristiwa dalam alurnya akan terhalang (1984:58).
    Sedangkan Abdullah (via Dewojati, 2010:175) mengungkapkan bahwa dialog atau cakapan dapat dikatakan sebagai bentuk bangunan naskah drama.
    f.) Mood
    Sarana atau nilai dramatik berikutnya yang membangun tekstur drama adalah mood. Definisi mood berkembang ketika pertama kali digunakan oleh Aristoteles yang menggunakan istilah mood untuk menyatakan “musik” dan “nyanyian”, menjadi “suasana” dalam pengertian drama modern. Mood atau suasana akan terbentuk dengan sendirinya ketika nilai dramatik yang membangun unsur lainnya seperti dialog dan spectacle dipadukan. Oleh karena itu mood sangat bergantung pada nilai dramatik lainnya. Namun faktor yang paling penting dalam membangun sebuah mood adalah irama permainan. Irama permainan dapat berinteraksi dan dirasakan secara langsung oleh penonton melalui beberapa hal, antara lain gerak sang aktor, dialog para tokoh, dan perubahan intentitas cahaya (Kernodle 1967:357).
    Mood dapat dilihat melalui text sampingan (nebentext) pada teks drama. Dengan adanya nebentext, sebuah suasana dapat direkonstruksi secara jelas sesuai alur cerita.
    g.) Spectacle
    Pada dasarnya, sebuah drama, betapapun dapat dikaji sebagai sebuah karya sastra, bertujuan akhir untuk dipentaskan di atas panggung. Dengan begitu, sebuah drama akan menjadi bermakna. Dalam proses pementasan sebuah drama, diperlukan beberapa hal yang menunjang keberhasilan sebuah pementasan. Sarana penunjang itulah yang disebut spectacle.
    Secara umum, spectacle diartikan sebagai peralatan yang disebutkan dalam teks drama, khususnya pada teks sampingannya atau nebentextnya (Soemanto, 2002:5). Spectacle meliputi aspek visual sebuah pementasan, terutama dilihat dari fisik para tokoh di atas panggung.
    Spectacle juga mengacu pada kostum, tata rias, tata lampu, properti pementasan, serta hal-hal tektnis lainnya (Soemanto, 2001:24). Spectacle ini dapat diteliti dalam nebentext suatu teks drama. Spectacle sangat penting dalam kaitannya sebagai penghubung antara tokoh dengan dunia yang berusaha untuk divisualisasikannya. Melalui spectacle ini, penggambaran dunia tokoh akan terasa semakin hidup sehingga membuat sebuah pementasan terkesan alami, natural seperti keadaan yang berusaha divisualisasikan dalam dramanya.

     

     

     

    STRUKTUR DRAMA DAG DIG DUG

    2.1 Alur
    a.) Tahap Eksposisi
    Alur yang digunakan dalam drama Dag Dig Dug merupakan alur maju (progresif) yang sederhana dimana konflik sudah muncul semenjak awal cerita. Pada bagian ini, penonton dikenalkan dengan situasi dan keadaan pada saat itu. Situasi yang terjadi pada tahap pengenalan ini akan membawa penonton untuk ikut berkontemplasi bersama tokoh Suami dan Istri dengan munculnya permasalahan tentang siapa sebenarnya Chairil Umam.
    Secara garis besar, drama ini diawali dengan perdebatan kecil antara Suami dan Istri tentang tokoh misterius bernama Chairil Umam. Perdebatan kecil mereka berujung pada dialog-dialog yang melebar yang menjelaskan karakter dari masing-masing tokoh melalui dialog tokoh lain.
    Pengenalan pada tahap ini lebih banyak menceritakan kondisi/keadaan tokoh pada saat itu. Keadaan yang berusaha digambarkan adalah keadaan tokoh Suami-Istri yang menghabiskan masa tuanya dengan membuat rumah mereka sebagai rumah kost bagi mahasiswa yang kuliah di kota itu. Masalah-masalah kecil khas pemilik kost juga digambarkan pada tahap ini, seperti masalah banyaknya mahasiswa yang kost di rumah mereka yang kerap membuat Suami dan Istri kerap lupa terhadap siapa saja yang pernah kost di rumah mereka. Hal ini menimbulkan masalah baru ketika mereka dihadapkan pada sebuah surat yang menyatakan Chairil Umam telah meninggal akibat kecelakaan. Melalui pemaparan konflik yang disajikan pada bagian awal ini, drama Dag Dig Dug seolah mengajak penonton untuk terus mengikuti alur cerita sampai titik penyelesaian.


    b.) Tahap Komplikasi dan Klimaks
    Tahap komplikasi merupakan tahap munculnya konflik dalan cerita yang menimbulkan ketegangan. Konflik tersebut kemudian meningkat dalam build (pertumbuhan), yang lambat-laun membesar dan menimbulkan minor climax (klimaks kecil), yang lalu diikuti oleh penurunan (let down).
    Selanjutnya, jalinan peristiwa akan meningkat pada tahap antisipasi atau forebonding (pratanda) adanya konflik masa depan yang memicu timbulnya great suspense, major crisi, dan memuncak pada major climax.
    Dalam drama Dag Dig Dug, terdapat beberapa konflik yang menimbulkan ketegangan telah terjadi semenjak awal cerita. Konflik-konflik yang terjadi dalam drama ini secara sekilas memang tidak berkaitan secara langsung antara satu sama lain. Konflik yang terjadi dalam drama Dag Dig Dug dibagi per babak karena setiap babak memiliki permasalahan yang berbeda. Berikut adalah konflik-konflik yang terjadi dalam drama Dag Dig Dug:
    ?    Konflik pertama yang terjadi di dalam drama Dag Dig Dug adalah konflik antara Suami dan Istri ketika mendapatkan surat yang mengabarkan kematian Chairil Umam. Suami dan Istri yang merasa tidak mengenal siapa Chairil Umam mulai berdebat mengenai identitas Chairil Umam. Ketegangan mulai merambat naik (build) ketika Suami yang memang memiliki watak pelupa tidak juga ingat siapa Chairil Umam. Istri yang mulai merasa jengkel marah terhadap Suami karena menanggap Suami kerjanya hanya duduk-duduk seharian. Pada tahap inilah terjadi minor climax.

    ISTRI     : (marah) Habis dua puluh, mana ingat semua. Belum lagi suka pindah. Kamu kerjanya saban hari duduk, tentu saja ingat. Kita yang ngurusin suka bingung.
    SUAMI     : Makanya jangan berlagak!
    ISTRI         : Siapa?
    SUAMI     : Kau! (Hal.13)

    Konflik mengalami penurunan (let down) ketika Istri mengalah dan mengakhiri perdebatan dengan tokoh suami. Istri merasa bosan terhadap pertengkaran mereka.
    ISTRI         : Ya, ya, ya salah, salah kau menang.
    SUAMI     : Bukan begitu
    ISTRI         : Sudah, sudah ! (Hal.14)

    ?    Konflik yang terjadi selanjutnya adalah konflik antara Suami dan Istri ketika keduanya merasa ditipu oleh dua orang yang mengaku rekan kerja Chairil Umam. Kedua orang tersebut memberikan sejumlah uang kepada Suami dan Istri. Ketegangan mulai merambat naik (build) ketika Suami menyalahkan Istri karena membiarkan dirinya berbohong dengan berpura-pura mengenal Chairil Umam. Suami merasa tidak enak hati ketika tahu ada sejumlah uang yang diberikan oleh kedua orang itu.

    SUAMI     : Mulut ini ngobrol, kau diam saja, kenapa? Sekarang aku jadi penjahat.
    ISTRI         : Lho?
    SUAMI     : Lho!
    ISTRI         : Kok menyalahkan aku?
    SUAMI     : Kau diam saja. Tahu sendiri itu bohong (Hal.20)

    Ketegangan mengalami penurunan ketika akhirnya Suami dan Istri memutuskan untuk mengembalikan uang tersebut karena merasa uang itu bukan hak mereka. Ketegangan kembali meningkat hingga menjadi minor climax ketika setelah dihitung, uang yang mereka terima tidak sesuai dengan yang tertera dalam kuitansi.

    ISTRI         : Kurang!
    SUAMI     : Apa?
    ISTRI         : Kurang!
    SUAMI     : Masak?
    ISTRI         : (menghitung sekali lagi keras-keras) Nah! Kurang! (Hal.24)

    Setelah terjadi minor climax, ketegangan kembali menurun (let down) ketika Suami dan Istri menambahkan tabungan mereka yang sedianya akan digunakan untuk biaya pemakaman. Bagian ini merupakan Resolving Problem dari konflik yang mereka hadapi.

    SUAMI     : Aku tahu! Berapa banyak simpanan kita? Cukup?
    ISTRI         : Cukup.
    SUAMI     : Rela?
    ISTR         : Daripada (Hal.32)

    ?    Konflik berikutnya terjadi di babak kedua. Konflik ini terjadi antara Suami dan Istri tentang masalah pengelolaan uang yang akan digunakan untuk biaya pemakaman Suami dan Istri. Ketegangan muncul ketika Suami dan Istri memperdebatkan tentang pengelolaan uang pemakaman yang berhasil mereka kumpulkan. Komplikasi terjadi karena Istri menghendaki uang tersebut dibungakan. Sedangkan suami menghendaki agar uang itu dibelikan batu marmar.

    SUAMI     : Dengar! Kalau uang dibungakan, dengar dulu! Kalau uang dibungakan bunganya hanya satu. Satu prosen! Apa? Kalau uang susut? Nanti dulu di luaran bisa sampai sepuluh prosen, memang-memang, tapi jaminannya kembali kalau dibutuhkan?
    ISTRI         : Satu tahun saja ! Apa sudah mati satu tahun ini !
    (Hal.36)
    ….
    SUAMI     : Tapi marmar tua murah kuat seperti kemarin itu?!
    ISTRI         : Belum tentu!
    SUAMI     : Aku sudah tanya orang-orang yang tahu!
    ISTRI         : Mereka! belum tentu marmar bagus, cocok dengan kita. (Hal.37)

    Ketegangan mengalami penurunan (let down) ketika Suami dan Istri sepakat membagi uang mereka menjadi dua bagian.

    ISTRI         : Ini semua!
    SUAMI    : Setelah dihitung sedikit.
    ISTRI     : Selalu begitu. Jangan disentuh dulu, nanti keliru! Dibagi dua dulu, nanti sisihkan untuk ongkos-ongkos ini. (Hal.40)

    Ketegangan kembali merangkak naik menjadi klimaks kecil ketika Istri tidak setuju dengan orang yang ditunjuk Suami untuk menggarap pemakaman mereka.

    ISTRI         : Sekarang aku tidak mau ikut campur. Urus sendiri tukangmu ini. Pakaian kedodoran. Ditanya malah ganti nanya. Caranya makan seperti itu, kerjanya pasti begitu juga. Sudah mulai menanyakan marmar. Malah mau kerja mulai besok pagi. Aku tidak kebelet mati cepat-cepat.
    SUAMI     : Kau sendiri yang nyuruh! (istrinya sudah pergi). Maunya menang sendiri! Mana orang ini Ibrahim. Salah-salah dia ngamuk.(menoleh ke pintu keluar). Chairil Umam lagi! Mau bikin kuburan sendiri saja kok sulit benar! Ahhhh!!! (membanting sesuatu ke lantai). (Hal.47)

    ?    Di babak ketiga, ketegangan terjadi antara Suami-Istri dengan Cokro. Komplikasi terjadi karena Cokro merasa kemarahannya memuncak karena perlakuan yang semena-mena oleh Suami dan Istri. Hal ini ditunjukkan oleh monolog yang dilakukan Cokro pada awal kemunculannya. Ketegangan merambat naik (build) ketika Cokro dituduh mengambil buku wasiat milik Suami. Ketegangan mencapai puncak dan mengakibatkan klimaks besar ketika Suami dan Cokro bertengkar, keadaan semakin menegangkan karena konflik sudah berubah menjadi konflik fisik.

    SUAMI     : Mangap lagi, diam! Nanti kukepruk batokmu!
    ISTRI         : Sttt, jangan diladeni. Edan!
    ...
    COKRO     : (dari kejauhan) Aku tidak minta, siapa janji dulu, aku tidak nagih kok marah, kalap, malu sekarang! Menuduh pencuri, lancang, kurang ajar, siapa?!
    SUAMI     : Kurang ajar, mana tongkatku. (Ngambil tongkat) Biar rasa!
    ISTRI         : Sudah jangan pak!
    SUAMI     : (Menghunus tongkat) Ayo mangap lagi! (Hal.80)

    c.) Kesimpulan
    Secara garis besar, konflik dalam drama Dag Dig Dug terbagi berdasarkan pembabakan. Setiap babak mengusung permasalahan yang berbeda. Pada babak pertama, titik permasalahan terpusat pada identitas Chairil Umam yang tidak jelas sehingga mereka harus merelakan uang tabungan untuk menambah kekurangan uang milik Chairil Umam yang akan dikembalikan. Uang tersebut sedianya akan digunakan untuk biaya pemakaman. Pada babak kedua, permasalahan yang menimbulkan konflik lebih banyak terletak pada masalah pengelolaan uang dan pembangunan makam. Di babak terakhir, titik permasalahan terletak pada kemarahan Cokro yang memuncak sebagai bentuk protes terhadap perlakuan Suami dan Istri. Secara sekilas, konflik di setiap babak seolah tidak berhubungan satu sama lain. Namun jika ditarik lebih jauh, maka akan diketahui korelasi konflik di tiap babak sehingga menggerakkan alur cerita.



    d.) Denouement
    Pelepasan ikatan plot/ denoument dalam drama Dag Dig Dug terjadi ketika Cokro memasukkan Suami dan Istri yang sekarat ke dalam peti mati dan menutupnya. Peristiwa ini merupakan tahap pelepasan alur cerita karena alur berhenti di titik ini. Secara sekilas alur dalam drama ini terkesan menggantung dan belum selesai. Alur dalam drama ini tidak mampu menyingkap semua lapis tersembunyi seperti misalnya siapa Chairil Umam yang sebenarnya, apa hubungan Chairil Umam dengan Cokro, mengapa Cokro dan Suami menyebut nama Chairil Umam seolah sudah mengenal secara dekat dan lain sebagainya.

    2.3    Karakter
    a.)    Karakter Suami
    Karakter suami digambarkan sebagai seorang pensiunan yang juga bekas pemain tonil semasa mudanya dulu. Tokoh suami merupakan tokoh yang mendominasi hampir keseluruhan adegan bersama tokoh istri. Keduanya menjalin alur cerita melalui percakapan/ dialog antar tokoh. Si suami adalah seorang pria tua pensiunan bekas pemain tonil yang berumur antara 60-65 tahun. Dimensi fisik tokoh suami tidak begitu dijabarkan secara terperinci. Ia hanya digambarkan sebagai seorang pria tua yang menderita asma dan sakit encok di pinggangnya. Tokoh ini selalu duduk di beranda sambil minum kopi dan makan camilan bersama istrinya.
    Dimensi psikologis karakter suami terwujud dari dialog dialognya dan juga reaksi tokoh lain atas ucapan dan tindakannya. Tokoh suami adalah seorang pria tua yang pelupa. Sifatnya itulah yang kerap menjadi pemicu pertengkaran dengan istrinya bahkan hanya karena masalah sepele sekalipun.
    "Lupa, bagaimana ingat?"
    "coba, coba! Nanti diberi tahu lupa lagi. Jangan biasakan otak manja". (Hal.7)

    "Aku tidak ingat Tobingmu. Dan Chairul, Chairul... Tampangnya kumis? Hatinya baik? Tidak ingat. Sedih juga rasanya orang yang pernah kenal mati disana. Sedih lagi aku tak ingat apa-apa"(Hal 10)

    Sifatnya yang pelupa juga membuatnya kerap salah dalam mendiskripsikan orang lain. Hal inil juga yang membuatnya tidak ingat terhadap Chaerul Umam.
    "Tapi kulitnya bersih. Agak kukulan. Rambut panjang. Ingat sekarang. Dia tidak suka sepatu. Tidak suka dasi. Tidak suka jas. Makan pakai tangan. Tidak suka jam tangan. Ya!".
    "Itu Tholib"(Hal.11)

    "O, yang suka meludah di depan sana?"
    "Itu Bahrum"(Hal.12)

    Sebagai mantan pemain tonil, maka ia pandai dalam mengolah perasaannya sehingga dapat bereaksi dengan cepat terhadap perubahan suasana yang mendadak sekalipun. Maka tidak mengherankan juga bila tokoh Suami pandai bersandiwara.
    "Ma'af, bapak memang pemain tonil waktu mudanya. Ia biasa memainkan sejarah, jadi cepat sekali sedih" (Hal.18)
    Dari dialog-dialognya, dapat diketahui bahwa tokoh suami adalah seorang pria yang suka berkata kasas kepada istrinya. Si suami juga sering menyalahkan istri atas masalah yang menjadi penyebab pertengkaran mereka.

    "Dengar goblok! Tidak bisa dikembalikan karena kurang. Kalau ikut saja pendapatku, kembalikan, kembalikan, sudah beres".(Hal.26)

    "Tidak bisa! Aku mengerti maksudmu, pokoknya kau mau menyalahkan aku"(Hal.26)

    Tokoh suami juga digambarkan memiliki sifat takabur sehingga ia merasa sok berani mati padahal kenyataannya ia juga takut mati.
    "Jangan takabur!"
    "Apa takabur?Hah! Apa!" (ia mencoba mendekati kain putih itu, tetapi langkahnya tertegun). Kau sendiri tidak? (Hal.68)
    Namun dibalik karakter buruk yang melekat pada tokoh sumi, masih ada sedikit rasa sedikit peduli pada cokro yang sedang sakit.

    "Orang sakit kok dibentak-bentak. Makanya sini!"

    "sudah, jangan dirongrong, buka pintunya! Sana” (Hal.55)

    b.)    Karakter Istri
    Karakter istri merupakan karakter yang mendominasi hampir keseluruhan adegan dalam drama ini bersama tokoh suami. Secara fisik, tokoh istri ini juga tidak digambarkan secara mendetail seperti halnya tokoh suami. Tokoh istri adalah perempuan tua yang berusia sekitar 60-65 tahun. Karena usianya yang sudah tua, ia sering menderita sakit kepala. Ia biasa duduk-duduk di beranda menemani suaminya bersantai. Tokoh istri merupakan "parter" dari tokoh suami dalam hal bertengkar, dan pertengkaran merekalah yang menggerakkan alur sehingga terasa hidup. Melalui pertengkaran mereka, kedua tokoh berusaha mengungkapkan kejadian sebenarnya yang terjadi dalam batin, pikiran, maupun angan-angan mereka.
     Secara psikologis, tokoh istri digambarkan sebagai seorang perempuan kasar dan pemarah. Hal ini sering memicu pertengkaran kecil mereka semakin menjadi hingga akhirnya reda dengan sendirinya.
    "Dua puluh!!(membentak)

    (marah) “Habis dua puluh, mana ingat semua. Belum lagi suka pindah. Kamu kerjanya saban hari duduk, tentu saja ingat. Kita yang ngurusin suka bingung". (Hal.13)
    (hendak marah)"jangan mancing mancing aku marah!". (Hal.71)
    Sifat tokoh istri yang keras kepala dan tidak mau mengalah membuat tokoh istri mendominasi hampir semua dialog dan menimbulkan kesan tokoh suami sebagai seorang yang takut kepada istri.
    "makanya jangan berlagak"
    "siapa?"
    "kau"
    "lho"
    "tidak ngaku?"
    "orang lupa kok berlagak"
    "nggak!" (Hal.13)
    Tokoh istri juga diambarkan sebagai seorang perempuan tua cerewet yang mau menang sendiri. Sifat ini yang membuat cokro tidak menyukai tokoh istri selain sikapnya yang suka memerintah dan memaki.
    "Dan lagi, yang selalu cerewet dalam segala hal, kok diam dalam hal ini membiarkan saja. Penyakitmu itu..."

    "Cokro!!!Cokro!!! (kedengaran suara menyahut jauh). Jemuran nasi pindah!. Bikin air panas lagi!!! Telor ayam ambil! Jangan lepas yang putih!...
    (Hal.14)
    "..Senangnya memerintah orang, mau benar sendiri, tahu salah tapi masih tidak mau ngaku. Sudah sering, maunya menang sendiri...(Hal.27).

    "Biarin orang edan!"
    "biar saja edan!"(Hal.77)
    Melalui penuturan suami melalui dialognya, diketahui bahwa tokoh istri juga memiliki sifat plin-plan dan tidak teguh pendirian.
    "..Penyakitmu yang lain, kau tidak punya, pikiranmu hanya pulang balik kanan kiri, tidak bisa sedikit mengembang mengempis" (Hal.26)
    Sikap si istri yang selalu menaruh curiga kepada setiap orang dan tidak mudah bersimpati kepada orang lain membuatnya menjadi pribadi yang kaku dan senang menuduh orang lain.
    "keterlaluan mencurigai semua orang!"
    "Memang mereka jujur? Aduuuh! Kalu jujur mereka harus sabar tunggu. Tidak akan lama lagi. Kita juga sudah bosan begini!" (Hal.63)
    Karena sifatnya yang pencuriga dan suka menuduhlah yang membuat kebencian dan dendam Cokro memuncak sehingga ia berani bersuara setelah sekian lama diam saja atas perlakuan yang diterimanya. Sifatnya ini pula yang membuat suaminya bertengkar hebat dengan Cokro yang berakhir dengan kematian keduanya ditangan Cokro.
    "siapa menghasut dia?"
    "sejak dia membaca buku wasiatmu"
    "apa dia baca?"
    "barangkali orang lain baca, waktu menjenguk kuburan dulu. Makanya hati-hati!"
    "aku taruh di bawah kasur!"
    "Dia bongkar-bongkar kalau kita pergi"(Hal.77)

    "pencuri, dia bilang pencuri, coba siapa lagi, jadi betul dia yang mencuri uang Chaerul Umam, kita sudah curiga,ya!"(Hal.81)

    c.)    Karakter Cokro
    Karakter Cokro merupakan karakter yang unik, dimana karakter ini hanya dihadirikan berupa suara suara saja hingga sampai pada adegan tentang dirinya (adegan Cokro). Kehadiran Cokro yang hanya muncul di babak terakhir ini ternyata sangat penting dalam menggerakkan alur cerita. Tokoh Cokro menjadi penentu jalannya akhir cerita. Karakter tentang cokro dapat dilihat melalui dialog -dialognya (baik dialog dengan tokoh lain maupun monolog pada dirinya sendiri) dan juga penjelasan pengarang tentang gambaran tokoh.
    Pada awal kemunculannya, tokoh Cokro digambarkan pengarang sebagai perempuan tua yang membawa serbet, kebut, sapu, dan alat kebersihan lainnya. Ia diceritakan sangat menderita karena diperlakukan sebagai seorang pembantu. Walaupun begitu, ia sangat keras kepala. Walaupun sudah tua, ia masih tetap sehat dan kuat karena setiap hari bekerja keras.
    Cokro yang tak pernah kelihatan itu sekarang membawa serbet, kebut, sapu dan sebagainya alat-alat untuk membersihkan. Ia melempar alat alat itu ke tengah ruangan satu persatu. Kemudian ia muncul. Cokro seorang perempuan tua juga. Menderita tapi keras kepala. Tubuhnya masih gesit karena setiap hari bekerja berat. (Hal.67-68)
    Cokro sebenarnya adalah adik perempuan tokoh istri yang dibawa dari kampung untuk membantu kehidupan rumah tangga tokoh suami dan istri dengan janji akan diberi sawah dan kehidupan layak dan mewah di kota. Namun pada kenyataannya, ia diperlakukan sebagai pembantu yang harus bekerja keras setiap hari.
    Dimensi psikologis Cokro tercermin dari dialognya yang kaku kepada tokoh suami dan istri. Sifat kaku dan keras yang ditunjukan Cokro merupakan hasil kemarahan dan kekecewaannya atas perlakuan Suami dan Istri.

    "tiap hari ribut. Apa?"
    ...
    "Dipindahkan sendiri, sekarang ribut sendiri"
    ...
    (kesal)"ya!"(Hal.61)
    ...
    "Yaaaaa!!!Bangsat!"(Hal.70)

    Karena perlakuan yang diterimanya, diam-diam Cokro menyimpan dendam dan rasa benci kepada tokoh suami dan istri. Puncak kekecawaan dan kemarahan Cokro terjadi ketika dirinya dituduh membaca surat wasiat yang dibuat oleh Suami yang ia sembunyikan di bawah bantal. Pertengkaran dengan tokoh suami membuahkan kematian tokoh suami dan istri di tangan Cokro pada akhir cerita.
    d.)    Karakter Ibrahim
    Karakter Ibrahim muncul di bagian pertengahan cerita. Karakter ini dihadirkan sebagai tokoh yang merealisasikan rancangan kuburan yang telah didesain salah satu anak kost yang pernah tinggal di rumah tokoh suami dan istri. Ibrahim diceritakan sebagai seorang tukang bangunan yang biasa dimintai jasanya untuk membangun sesuatu baik secara perorangan maupun borongan. Dimensi fisik tokoh Ibrahim digambarkan melalui penjelasan pengarang tentang gambaran karakter. Ibrahim digambarkan sebagai seorang pria perokok yang berpakain kedodoran, kumal, dan terkesan menyembunyikan sesuatu. Dimensi fisik yang diceritakan melalui dialog antar tokoh diketahui bahwa Ibrahim adalah pria penyakitan.
    "kenalanmu Ibrahim itu? Penyakitan, apa dia sanggup kerja kalau kita mati?" (Hal.41)
    Melalui dialog tokoh istri yang semenjak awal tidak bersimpati kepadanya, diketahui bahwa Ibrahim adalah tipikal orang yang kurang terorganisir(ditunjukkan melalui pakainnya yang sering kedodoran), tidak sopan (ditanya malah ganti bertanya), serta kurang memperhatikan tata krama.
    "sekarang aku tidak mau ikut campur. Urus sendiri tukangmu ini. Pakaian kedodoran. Ditanya malah ganti nanya. Caranya makan seperti itu, kerjanya pasti begitu juga..." (Hal.47)

    Di samping itu, tokoh ibrahim juga digambarkan sebagai orang yang oportunis selama itu menyangkut kepentingan pribadinya, dan jug terkesan berbelit belit dalam berbicara.
    e.)    Karakter Tobing
    Karakter Tobing merupakan tokoh yan muncul di pertengahan cerita. Ia diceritakan sebagai seorang pemuda yang pernah mondok di tempat suami dan istri. Melalui dialog tokoh lain, diketahui bahwa Tobing adalah seorang pemuda berusia sekitar 30-35 tahun.yang tergolong sukses karena setelah lulus ia diceritakan pernah keluar negri, banyak memimpin, dan sudah berkeluarga dan menetap di daerah yang sama dengan Tokoh suami dan istri. Ia juga diceritakan memiliki penghasilan yang tetap dan lumaya besar sehingga mampu mencicil rumah Suami dan Istri yang dijual murah dengan syarat Tobing harus mengurus pemakaman mereka kelak. Dimensi psikologis Tobing dapat dilihat melalui penjabaran tokoh suami yang menceritakan bahwa Tobing merupakan pemuda yang berwawasan luas.
    "apalagi Nak Tobing juga tahu seluk beluk. Pokoknya kami percaya pada Nak Tobing"(Hal.51)
    ...
    "gajih nak Tobing kan besar"(Hal.52)
    Walaupun begitu, karena sifat tokoh istri yang pencuriga dan suka menuduh tanpa dasar, maka dalama dialognya Tobing diceritakan sebagai orang yang tidak sabaran menunggu mereka berdua mati dan juga lemah terhadap istrinya. Bahkan ia juga dituduh bersekongkol dengan Cokro mencuri uang Chaerul Umam. Namun tuduhan itu tidak terbukti hingga akhir cerita.
    "Tidak sabaran, maunya kita cepat cepat mati. Mentang mentang sudah lunas cicilannya.."(Hal.62)
    ...
    "Tobing lemah terhadap perempuan, seperti kau!" (Hal.62)
    ...
    "Rasanya kok ya, ya! Tobing -Cokro dulu komplot! Ya?!"(Hal.81).

    f.)    Karakter tamu I dan tamu II
    Karakter Tamu I dan Tamu II tidak begitu menonjol dalam drama ini. Kedua karakter dihadirkan hanya untuk mengabarkan berita kematian Chaerul Umam yang identitasnya tidak jelas sampai akhir cerita. Kedua tokoh ini diketahui sebagai rekan kerja Chaerul Umam di Jakarta melaui dialognya. Melalui penjelasan pengarang tentang gambaran tokoh, keduanya adalah laki-laki yang berusia sebaya dengan Chaerul Umam, yakni sekitar 20-25 tahun. Keduanya berprofesi sebagai wartawan di Jakarta.
    "kami repot sekali. Banyak tugas. Besok pagi kami harus kembali ke Jakarta"

    "terima kasih bu, kami repot, maklum wartawan" (Hal.18).

    2.3 Tema
    Melalui dialog antar tokoh, karakter, serta alur cerita yang coba disajikan, secara sekilas drama Dag Dig Dug memperlihatkan unsur-unsur absurdisme. Namun jika dikaji secara mendalam, drama Dag Dig Dug sebenarnya menyuguhkan unsur-unsur realisme yang mencoba mengbstraksikan kenyataan kehidupan sehari-hari secara subjektif.
    Drama ini menghadirkan sebuah simbol bahwa manusia hidup hanya sementara dan pasti akan berakhir dengan kematian. Kematian merupakan suatu siklus kehidupan yang pasti akan dialami oleh setiap manusia. Drama ini berusaha mengubah stigmatisasi tentang kematian yang selama ini dipandang menakutkan, menyedihkan, dan sebisa mungkin dihindari. Melalui dialog tokoh dan alur cerita, kematian dipandang bukan lagi sesuatu yang menakutkan, menyedihkan, bahkan justru ditunggu-tunggu kedatangannya dengan berbagai persiapan yang matang. Uang pemakaman dan marmar dalam drama ini mengandung simbol bahwa sebelum kematian datang menjemput, manusia perlu mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjadi bekal kelak.
     Bagi tokoh Suami dan Istri di dalam drama Dag Dig Dug, kematian merupakan seorang tamu yang dinanti-nanti kedatangannya. Melalui berbagai masalah yang dihadapi Suami dan Istri, dapat dilihat bahwa sebelum kematian datang, manusia terlebih dahulu akan dihadapkan dengan berbagai masalah yang timbul akibat terjadinya kontradiksi yang dialami manusia. Masalah-masalah tersebut sebenarnya merefleksikan peristiwa yang sebenarnya kerap terjadi dalam batin, pikiran, maupun angan-angan yang lazim dialami manusia. Seperti misalnya pergulatan batin sepasang suami istri yang tidak memiliki keturunan.

    BAB III
    TEKSTUR DRAMA DAG DIG DUG

    3.1 Dialog
    Dialog yang dipakai dalam drama Dag Dig Dug ini bersifat lugas dan langsung mengemukakan pokok permasalahan yang akan dibicarakan oleh tokoh yang bersangkutan. Mayoritas dialog dalam drama Dag Dig Dug ditulis dalam kalimat-kalimat minor dan pendek-pendek. Dialog yang agak panjang hanya digunakan untuk mendeskripsikan perwatakan tokoh lain seperti yang dilakukan oleh Suami ketika mendeskripsikan Chairil Umam. Dialog yang agak panjang juga digunakan oleh Cokro ketika melakukan monolog.
    Secara teknis, penulisan hauptext (teks utama) dalam drama Dag Dig Dug ditulis setelah tokoh dengan dipisahkan tanda titik dua (:). Penulisan hauptext dalam drama ini tidak menggunakan tanda petik ("…”) yang mengapit teks utama. Penulisan tokoh dicetak dalam huruf kapital.
    SUAMI     : Aneh, belum juga
    ISTRI     : Biar. Datang terima, tidak, ya, barangkali ditemukan keluarganya yang betul.(Hal.12)
    Sedangkan untuk penulisan nebentext (teks sampingan) dalam drama Dag Dig Dug ini dicetak miring.  Untuk petunjuk laku yang melekat pada dialog, teks dicetak miring diantara dua buah tanda kurung.
    Dialog-dialog yang dipakai pada bagian awal dalam drama Dag Dig Dug secara keseluruhan tidak menggunakan istilah-istilah mencerminkan latar belakang kultural tertentu, akan tetapi, di bagian akhir drama terdapat beberapa kosa kata yang ditemukan bercorak Jawa.

    SUAMI     : Mangap lagi, diam! Nanti kukepruk batokmu.
    ISTRI         : Sttt, jangan diladeni. Edan! (Hal.80)

    Kosa kata seperti “mangap” yang berarti membuka mulut, merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan kegiatan berbicara dalam bahasa Jawa, “kukepruk” (berasal dari kata bahasa Jawa aku kepruk yang berarti aku pukul), “edan” yang berarti gila, dan “batokmu”, yang merupakan kosa kata kasar dalam bahasa Jawa untuk menyebut kepala. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa keseluruhan dialog dalam drama Dag Dig Dug bersifat sosial dengan penggunaan bahasa yang secara umum dipakai dalam masyarakat.

    3.2 Mood
    Mood atau suasana dalam drama Dag Dig Dug ini dapat diteliti dalam nebentext (teks sampingan) yang hadir bersama hauptext (teks utama) sebagai keterangan keadaan waktu, tempat, dan juga menunjukkan suasana hati yang dialami tokoh. Dalam babak pertama misalnya, nebentext yang mengawali babak menjelaskan tentang keadaan sebuah ruangan besar yang kosong dengan sebuah meja dan dua buah kursi. Waktu menggambarkan keadaan pagi hari. Melalui nebentext yang melekat pada dialog, diketahui tindakan, suasana hati, serta irama permainan tokoh. Misalnya, suasana tegang didapati ketika Istri marah kepada Suami karena kelakuan Suami yang pemalas.
    ISTRI     : (marah) Habis dua puluh, mana ingat semua. Belum lagi suka pindah. Kamu kerjanya saban hari duduk, tentu saja ingat. Kita yang ngurusin suka bingung.
    SUAMI     : Makanya jangan berlagak. (Hal.13)
    Melaui nebentext, irama gerak permainan dan perubahan intensitas vokal pemain yang dapat menimbulkan perubahan suasana juga dapat dilihat ketika Istri memanggil Cokro.
    ISTRI : (berseru) Cokro!!! Cokro!!! (kedengaran suara menyahut jauh). Jemuran nasi pindah! Bikin air panas lagi!! Telor ayam ambil! Jangan lepas yang putih! (jawab kedengaran di kejauhan. Hendak ngomong, tetapi suaminya melihat ke depan lalu berdiri). Jangan brak bruk brak saja! (Dua orang kedengaran memberi salam dari luar). (Hal.14)

    Perubahan irama permainan terjadi ketika dialog hanya berupa petunjuk laku seperti yang terjadi ketika Suami hendak mengembalikan uang Chairil Umam.

    SUAMI     : (megeluarkan surat dari tasnya meperlihatkan kepada istrinya amplop itu belum dilemnya lagi karenai ia tahu istrinya akan memberikan uang, meletakkan di meja, ragu-ragu meraih uang di meja, menghitungnya, kemudian hati-hati hendak memasukkan ke amplop, melirik istrinya, istrinya yang semula menoleh, mengalihkan pandangan, sambil mengeluh, ia memasukkan uang itu ke dalam amplop tersebut)
    Serangkain kejadian dalam nebentext di atas, ingin menunjukkan suasana kaku, jengah, tidak rela, dan tidak nyaman yang ditunjukkan oleh reaksi Istri melihat Suami memasukkan uang tabungan mereka ke dalam amplop.
    Di babak kedua, mood terbentuk ketika Suami dan Istri menolong Cokro yang jatuh pingsan karena sakit.

    SUAMI     : Sudah, jangan dirongrong, buka pintunya! Sana...
    (suara mereka tambah jauh seakan-akan sedang menggotong Cokro dan memasukkan ke kamarnya kembali).
    Pembentukan mood diatas sangat membutuhkan aspek auditif mengingat gerak laku tokoh-tokohnya tidak terlihat dan hanya berupa suara-suara saja. Di babak ketiga, mood terbentuk secara jelas ketika Cokro muncul untuk pertama kali. Kemunculan Cokro dijelaskan secara langsung oleh pengarang lewat nebentext.
    Lampu padam. Tapi mereka berdua masih memanggil-manggil Cokro. Waktu lewat. Adegan Cokro. Cokro yang tak pernah kelihatan itu sekarang membawa serbet, kebut, sapu, dan sebagainya alat-alat untuk membersihkan. Ia melepar alat-alat itu ke tengah ruangan satu persatu.

    3.3 Spectacle
    Drama Dag Dig Dug terbagi dalam tiga babak dan setiap babak terdiri atas beberapa adegan. Pada babak pertama, terdapat adegan di sebuah ruang besar yang kosong yang berisi meja marmar kecil tinggi dan diapit dua kursi antik sebagai perlengkapan. Tata lampu diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai suasana di pagi hari. Adegan berikutnya adalah adegan menerima tamu. Pada adegan ini, perlengkapan yang dibutuhkan adalah sebuah meja dengan empat kursi serta minuman dan kue sebagai jamuan yang biasa dihidangkan kepada tamu.Pada adegan Suami berangkat ke kantor pos, spectacle yang dijelaskan dalam nebentext berupa kostum yang digunakan Suami. Kostum tersebut berupa kemeja, celana, dan sepatu serta sebuah tas. Adapun properti lain yang digunakan adalah meja dan kursi serta dua cangkir kopi.Pada adegan suami pulang dari kantor pos, perlengkapan yang dibutuhkan adalah sebuah meja lengkap dengan minuman. Bungkusan beras dan berbagai bungkusan lain. Serta sebuah sepeda.
    Di babak kedua pada adegan awal, spectacle yang digunakan hampir sama dengan yang digunakan pada babak pertama. Pada adegan pembicaraan dengan Ibrahim, spectacle yang dibutuhkan sama dengan spectacle ketika menerima tamu yang berupa meja, kursi-kursi, minuman serta makanan kecil sebagai jamuan. Pada adegan adegan berikutnya hanya ada penambahan beberapa perlengkapan seperti dua buah peti mati dan tumpukan marmar.
    Di babak ketiga, pada bagian awal, spectacle yang dibutuhkan sama dengan yang ada di babak kedua. Hanya saja, tidak ada sepeda yang digantung karena telah dijual. Pada adegan Cokro, spectacle yang dibutuhkan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada adegan ini tata lampu mengambil bagian. Selain itu, perlengkapan lain yang dibutuhkan adalah sapu, serbet, kebut, dan alat-alat kebesihan lainnya. Secara keseluruhan, spectacle yang disebutkan dalam babak pertama hingga babak ketiga hanya berupa properti yang digunakan untuk kepentingan pementasan. Aspek-aspek lain seperti tata lampu, tata rias, kostum dan sebagainya tidak banyak dijelaskan. Hal ini memberikan keleluasaan bagi sutradara yang memiliki hak prerogatif untuk mengeksplorasi adegan.


    | Link | Dibaca 6690 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Blog Terbaru


Pesan Ayah
Tanah Lama
BIDADARI SURGA
KETIKA
Produktivitas Oh Produktivitas
Himpunan Semesta
Sarang-Kalong
coretan suka-suka

Almanak


Umpan balik

Kirim Umpan balik

Kirimkan keluhan atau saran mengenai situs baru ini :)