1. Percayalah pada Insting
Tanggal Publikasi: 18 November 2011
- Genre: Naskah Drama
- Bahasa: Indonesia
- Label: novel
Sepintas, gedung kantor tempatku bekerja semakin cantik. Gedung yang terletak di segitiga emas, Jakarta Pusat itu, sehari-harinya tak pernah absen dari sentuhan tukang dan kuli bangunan. Entah apa sebabnya. Padahal tidak ada sesuatu yang mengganggu pandangan mata. Setidaknya menurutku dan teman-teman yang mengantor di gedung ini. Seperti aku, mereka juga melihat semua baik-baik saja. Tetapi entah bagaimana, dengan alasan apa, pemilik gedung seperti tidak pernah puas. Anehnya, tak seorang pun tahu alasan rasional di balik semua ini.
Aku pernah menduga-duga, jangan-jangan caraku melihat berbeda dengan pemilik gedung ini. Sempat pula terpikir mungkin memang inilah cara orang kaya menghabiskan uangnya, karena semua seolah bisa dibeli. Selebihnya, aku tak bisa mengerti mengapa dia tak pernah merasa puas ; setiap hari, selalu saja ada yang harus diperbaiki. Dari sekadar ganti warna cat tembok, sampai mengubah desain partisi atau memindah pintu masuk ruang utama kantor.
Tak ingin terjebak pada soal ini, aku jadi apatis saja melihat kebiasaan bubrah-bubrah ini. Meski sering juga harus menggerutu, karena sebentar-sebentar harus ganti posisi atau ruang kerja. Padahal, dulu saat masih kecil ayahku pernah berkata padaku agar jangan sering-sering pindah tempat apalagi rumah. Ketika itu kutanyakan, ayahku menjawab, nanti malaikat pemberi rahmat marah padamu. Dan rezeki yang seharusnya untukmu, malah jadi milik orang lain, karena ketika Allah akan menurunkan rizeki dari tempatmu berada, ternyata kamu sudah tidak ada di sana. Mendapat penjelasan ini, aku yang saat itu masih kelas empat SD hanya bengong-bengong saja. Terlihat ayah sangat puas, seperti yakin kalau aku mampu memahami penjelasannya.
”Ibarat menanam pohon, belum sempat tumbuh daunnya, sudah kamu cabut batangnya. Kamu pindah tempatnya, belum sempat berbunga, kamu cabut lagi dan kamu pindah lagi. Belum sempat berbuah, sudah berpindah tempat lagi. Lama-lama pohonnya bisa mati sebelum sempat berbuah, ” katanya.
Kembali ke soal kantor. Alhasil, ruang kerjaku kini sudah tujuh kali bergeser. Mula-mula, saat pertama kali masuk ke kantor ini, tiga tahun lalu, aku menempati ruang kerja di lantai tiga menghadap ke arah Barat di lantai empat. Kemudian entah dengan alasan apa, pintu yang tadinya berada di sisi kiriku digeser ke sebelah kanan. Mejaku pun ikut berputar 128 drajat, menghadap ke timur. Beberapa bulan kemudian, mejaku ditarik sejauh 3 meteran dan harus diputar menghadap ke pintu. Masih dianggap kurang menarik, menurut anggapan pemilik kantor tentunya, ruangan kerja kami di bagian redaksi di rombak total. Staf redaksi, di pisah-pisah : sekretaris redaksi di ruangan tersendiri, reporter dibuat partisi sendiri-sendiri dan redaktur serta redaktur pelaksana juga ditempatkan dalam ruangan yang terpisah.
Suasana kerja yang tadinya cair, kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan bisa ditanya langsung dari meja masing-masing, dengan desain ruang kerja yang baru ini, tidak bisa lagi. Suasana kerja pun jadi terkesan serius. Saking seriusnya, tidak boleh lagi terdengar ada suara tawa di ruangan kami. Sebuah peraturan yang menurutku dan teman-teman agak gila. Karena tak seorang pun di ruangan redaksi yang bisa menahan tawa, jika ada sesuatu yang ganjil melintas di pikiran dan apalagi di depan mata. Apa lacur, mungkin inilah yang pemilik gedung inginkan, meski tentu tidak serta merta bisa menghambat selera humor di antara kami. Sebaliknya, kami malah memiliki bahan tertawaan baru, sikap pemilik gedung ini sendiri, karena dalam perspektif kami, hal-hal lucu selalu diawali dari sesuatu yang ganjil, nyleneh alias tidak umum, tapi tidak substansial. Seumpama goyonan : gedung ini memperbudak pemiliknya sendiri!
Tak lama berselang, meja sekretaris redaksi dipindah satu ruangan dengan redaktur pelaksana, tepat di samping ruang redaksi. Ini juga menimbulkan budaya kerja baru. Jika tadinya bisa fleksibel, saat minta surat untuk koresponden dengan nara sumber, saat ini harus mengetuk pintu sebelum berbicara langsung pada sekretaris redaksi. Unik tidak, asyik pun tidak. Begitulah, hingga aku jadi lebih terbiasa untuk meminimalkan kegiatan surat menyurat ini.
Hikmah lainnya, kondisi ini juga menyadarkanku bahwa sebagai pekerja, aku tidak harus ikut peduli pada ambisi bos atau atasanku. Karena sepintar dan sesok-ngertinya aku tentang banyak hal yang seharusnya bisa dikerjakan, tetap saja, mereka akan memandangku dengan kaca mata yang sama; senioritas, anak kemarin sore. Karenanya dari pada sibuk memikirkan kesenjangan antara apa yang menjadi angan dan citaku, di sini saat ini, bagiku tentu lebih baik fokus saja hanya pada apa yang menjadi tugasku.
”Tetap fokus pada asamu dan bagaimana mendapatkannya, meski itu tidak harus dari gedung yang sama.” Setidaknya, itulah nasihat terbaik untuk diriku sendiri, di dalam hati.
Dan nyatanya, itulah yang terjadi, setelah diriku menjadi tak berdaya dan semakin lemah saja di mata bos besar. Apa daya, jika separuh dari waktu kerjaku di gedung ini, energi yang kukeluarkan cenderung tidak bisa fokus. Bukannya tidak ingin, tetapi keadaanlah yang membuatku demikian. Jadilah aku sesosok manusia ambivalen, di satu sisi tangan dan kakiku berusaha mengerjakan tugas harianku, tetapi pikiranku melayang mencari-cari apa yang bisa kukerjakan untuk karirku di luar sana demi masa mendatang, yang tentu tidak kulakukan dari gedung ini.
Dengan kata lain, aku selalu berpikir tentang sesuatu yang lain di luar sana. Dan di sini, sering kuanggap, tak lebih sekadar sebagai tempat untuk menumpang hidup. Tempatku mencari sesuap nasi. Apakah ini adil? Jawabannya tentu relatif. Tergantung dari perspektif siapa, tetapi masih kuanggap sebagai sesuatu yang terbaik yang bisa kulakukan. Entah, apakah ini salah atau benar, nyatanya jalan pikiranku ini bisa menjadi sebuah pelarian dari pekerjaan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan yang kuimpikan. Setidaknya sesuai harapan awal, saat pertama datang ke tempat ini dengan beberapa kesepakatan saling melegakan. Dengan status seperti inilah kini aku mengantor.
Jadi yang kumaksud bekerja sesuai impian di sini, bukanlah bekerja sesuai latar belakang pendidikan dan peminatanku. Karena jika menyangkut soal latar belakang pendidikan dan peminatan, maka persoalannya jadi bisa lebih melebar, karena kalau dirunut lebih jauh lagi, ini bisa mengindikasikan gagalnya sistem pendidikan di negeri ini yang tidak bisa menjamin adanya ketersediaan lapangan kerja sesuai peminatas dan jurusan yang dipilih oleh setiap siswa.
Tapi sudahlah, aku tidak ingin membicarakan masalah ini. Selain tidak penting, implikasinya juga bisa sampai ke mana-mana. Biarlah ini menjadi pekerjaan rumah bagi para peneliti dan ahli pendidikan untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan asumsi liarku ini, meski tentu saja, aku sekeptis akan ada orang yang dengan sadar mempelajari persoalan ini dan lalu memberikan solusinya.
Sebagai gantinya, biarlah setiap orang bekerja sesuai naluri atau instingnya untuk bertahan hidup. Berpikir seperti ini rasanya memang cukup menantang. Karena setidaknya bisa mengingatkanku pada kenyataan bebarapa tahun silam saat aku masih remaja. Iya aku masih ingat betul betapa pada akhirnya, insting atau nalurilah yang malah menjadi panduan seseorang mengarungi hidup, segetir apa pun.
***
Pada akhirnya memang insting inilah yang lebih banyak berbicara. Pengalaman gagal bekerja di sebuah penerbitan media, membaut teman-teman yang terlibat bersamaku sedari awal, saat pertama mengusung proposal untuk menerbitkan media, mulai bisa membaca glagat tidak elok dari pemilik modal. Mula-mula mereka memasukkan orang-orang baru untuk mengurangi ketergantungan pada sembilan awak pertama sebagai penggagas dan perumus kontens isi majalah tempat kami berkarya. Lalu mencoba membuat suasana harmonis di meja redaksi menjadi gelisah. Terlebih setelah, mereka berhasil menempatkan seseorang yang ditugasi untuk memata-matai kalau-kalau ada konspirasi di antara kami. Aneh, memang! Tapi itulah yang sungguh terjadi.
Apa yang semula dijanjikan kepada sembilan serangkai sebagai penggagas, diusahakan agar bisa dilupakan, bahkan jangan sampai ada kesempatan untuk mengingatnya. Di luar soal kesepakatan 20 persen saham sebagai milik karyawan, mula-mula dijanjikan tiga bulan pertama akan ada penyesuaian gaji untuk kami. Tiga bulan menunggu, tidak terealisasi. Lalu setelah enam bulan, tidak juga. Nanti, seiring hari ulang tahun pertama dan menguap begitu saja. Akhirnya, kebal sudah telingaku mendengar semua alasan yang mengatasnamanya, target oplaag 60 ribu eksemplar belum tercapai. Bahkan setelah tercapai pun, dua tahun kemudian, seperti tak ada jejak janji yang tertinggal. Menguap ditelan mabuk angan pemilik modal.
Sekali lagi insting atau nalurilah yang akhirnya, menuntunku pada suatu kesimpulan, betapa kapitalisme bisa membuat seseorang rela mengorbankan integritas moralnya, bahkan di depan hidung kawannya sendiri. Tapi tentu dilakukan dengan sangat cerdik hingga seolah tidak meninggalkan jejak kesalahan sedikit pun.
Jadilah aku sampai pada suatu kesimpulan, demi meraup untung sebesar mungkin, jadikanlah kawan-kawanmu sebagai batu pijakan. Dan sesudah itu, cucilah kaki dan tanganmu, agar tidak ada jejak yang tersisa di sana. (bersambung) ***



