Penempuh Jalan

Untuk pertama saya berbincang dengan Sukasman pencipta Wayang Ukur itu, Ia menyiratkan aura ramah berpendar, tak muluk tapi begitu dalam. Dia sedang memasang karyanya. Yang tak pernah saya duga, bahwa dalam usia seumur dia, ia masih saja mengerjakan sendiri hal-hal kecil. Barangkali justru karena ia mengerjakan hal-hal kecil yang nyaris terabaikan itu ia memancarkan aura yang dalam tapi ramah, juga pada saya yang mungkin juga nyaris terabaikan.

Beberapa saat kemudian, yang muncul adalah ingatan pada menara yang dibangun dalam kata tahu. Sang aku yang pernah ditegaskan Descartes di abad 17 dulu, menyimpan semacam gugatan oleh aku di luar menara. Citra menara "tahu".
Perlawanan yang dasarnya menara ini, adalah citra intelektualitas yang menggeneralisasi. Aku di luar menara bukanlah aku. Pada saatnya, mereka yang di luar menara bertanya. Mana yang Irrasional, hati seperti batu atau batu seperti hati juga?

Rasionalisme terbentuk karena kerinduan manusia untuk menemui kebenaran, aku yang merengkuh kebenaran. Bagi para penempuh jalan, persoalan kebenaran tak lagi soal siapa dan apa, tapi jalan.
Maka kerendahan hati bukan lagi soal norma, aturan tetapi keniscayaan ketika menempuh jalan. Sebuah penyambutan atas pertemuan dengan jalan yang dibawa aku lain.
Yang cemas akan jalannya sendiri barangkali adalah mereka yang meletakkan kebenaran bahkan dalam amarahnya.

Seperti kalimat yang sengaja kasar. Kalimat ini bukan kalimat seorang penempuh jalan. Ia meletakkan kebenaran pada aku-nya.
Sukasman ramah pada yang nyaris terabaikan.menyambutnya.