pedidikan dan Dostoevsky

WAJAH PENDIDIKAN INDONESIA
-sebuah kontemplasi atas pendidikan lewat pemikiran Dostoevsky-

A. PENDIDIKAN KITA
Banyak pihak pesimis terhadap pendidikan Indonesia, banyak pihak mengkritik kinerja pemerintah dalam menangani masalah pendidikan. Semua sepakat bahwa pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berhasil menunjukkan kualitas yang baik. Pada salah satu pidatonya Soekarno pernah memberi contoh Jepang sebagai teladan yang baik, yang pantas di renungi dan menjadi pemicu motivasi bangsa ini untuk terus memngembangkan kehidupan intelektual. Pendidikan sangat ditekankan oleh Soekarno sebagai pendiri bangsa ini. Bagaimana tanggapan generasi penerus bangsa?
Pertanyaan reflektif semacam ini, tidak hanya ditujukan pada pemerintah atau departemen pendidikan, tetapi lebih pada undangan pada seluruh bangsa untuk menanggapi tawaran Bung Karno. Sebagai seorang Mahasiswa, saya menyadari betapa rumit persoalan yang dihadapi Bangsa ini untuk menjadi sebuah Negara yang lebih baik. Hampir semua sector kehidupan bernegara mengalami krisis, atau seperti yang di ungkapkan Bapak Padi seorang dosen Kewarganegaraan Universitas Sanata Dharma, bahwa Negara ini mengalami krisi Multidimensional.
Dunia juga Indonesia kini menghadapi era baru. Era Globalisasi. Era dimana nilai-nilai modernitas menjadi focus perhatian. Penghargaan pada manusia sebagai subjek kehidupannya terimplementasikan dalam nilai etos kerja, keberanian berpendapat, kedisiplinan dan rasionalitas. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah Indonesia mampu menanggapi tantangan jaman modern ini? Karena pada kenyataanya modernitas dimaknai sebagai Subjektifitas yang egoistis dan hedonis . Ketika hal ini terjadi, kita dapat melihat bagaimana pemujaan nafsu menjadi berlebihan, Orientasi seorang calon pemimpin sering lebih mengarah pada kekuasaan. Semua serba pragmatis. Semua serba kalkulasi atas kehidupan. Semua dihitung dengan untung rugi.
Permasalahan ini butuh suatu yang sekedar kritik. Permasalahan ini perlu ditanggapi secara serius, dan menyeluruh. Perlu adanya aksi konkret, yang salah satunya adalah dengan melihat kembali identitas Bangsa dan nilai kemanusiaan. Kiranya Pendidikanlah yang bisa menyadarkan masyarakat. Pendidikanlah yang kiranya bisa mengajak kembali Bangsa ini untuk merenung, merefleksikan ke-Indonesia-an nya.

.B.PENDIDIKAN SEBAGAI USAHA ME-REDEFINISI MODERNITAS.
Pendidikan seperti yang telah dibahas di atas, memiliki maksud mencerahkan dan membebaskan manusia. Kini jaman modern semakin membuka jalan bagi manusia untuk membebaskan diri dari belenggu kebodohan dan penindasan. Jaman modern adalah jaman di mana eksistensi manusia semakin diakui, rasionalitas menjadi acuan dalam menyelesaikan berbagai problem kehidupan, etos kerja dihargai, kemandirian dalam bersikap menjadi wacana baru dalam kehidupan bernegara. Pendidikan menjadi begitu penting untuk menentukan hidup seseorang. Pendidikan semakin diperdalam maksud dan tujuannya.
Tetapi dilain pihak modernitas dimaknai secara salah oleh masyarakat pada umumnya, individualitas, egoisme dan sikap pragmatis malah lebih diagungkan ketimbang apa yang telah disebutkan diatas. Disinilah peran pendidikan menjadi sarana untuk mengubah pemaknaan yang salah tentang modernitas. Pendidikan mengemban tugas penting untuk meredefinisi arti modernitas. Pendidikan menjadi penjaga masyarakat agar tak tak terjerumus dalam modernisme yang salah.
Dostoevsky, seorang pemikir dan sastrawan Rusia berpendapat bahwa modernisme bisa membawa dampak buruk bagi manusia. Semua jatuh pada kalkulasi belaka, tujuan Negara untuk memanusiakan manusia bisa terancam karenanya. Rusia pernah mengalmi hal serupa dengan Indonesia sekarang. Masyarakatnya mulai meninggalkan tradisi dan sejarah, mulai berpikir untung rugi tanpa memikirkan suatu makna dalam kehidupan bersama.
Indonesia sedang mengalami krisis identitas, karena modernitas. Seperti telah diketahui Sejak dimulainya era modern, seperti yang dikatakan Henry Sabari dalam bukunya Dostoevsky menggugat manusia modern, polisitas manusia diandaikan bagai hubungan benda-benda. Maksudnya, hubungan antarmanusia dapat dimanipulasi dan dikalkulasi menurut perhitungan untung-rugi yang berlaku bagi negara. Manusia kemudian dimanipulasi agar sesuai dengan system yang telah direncanakan Negara. Dalam konteks politik di Indonesia, di mana kaum lemah hanya dibela pada masa-masa kampanye partai politik, Dostoevsky mengigatkan kita untuk tidak melakukan reifikasi terhadap manusia-manusia yang lemah. Dengan cara pandang demikian, sebetulnya kita diajak untuk melihat kembali makna kebangsaan kita bahwa Indonesia adalah negara yang ingin menjadikan manusia sebagai tujuan atas apa yang akan dilakukan .
Barangkali, kesadaran semacam ini muncul karena pendidikan yang dilaksanakan dengan benar. Pendidikan seharusnya mampu menjadi sarana untuk memperteguh penghayatan ke-Indonesia-an kita. Mengingat modernitas yang salah yang sejak jaman Soeharto hingga saat ini terjadi, adalah pengkhianatan terhadap ke-Indonesia-an bangsa.
Untuk merajut kembali ke-Indonesia-an kita ditengah-tengah modernitas, pendidikan memegang peranan penting. Kita memulainya dengan pendidikan Bahasa. Hal tersebut memang tidak mudah, tetapi bisa dilakukan. Saat ini, orang Indonesia kerap menganggap bahwa bahasa asing lebih menyenangkan, lebih tinggi derajatnya dari bahasa sendiri. Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan, bangsa kita amat malas menggali bahasanya sendiri. Pendidikan menjadi jalan keluar yang ampuh untuk menanggapi hal ini.
Dengan demikian Redefinisi modernitas, hanya mungkin dilakukan dengan pendidikan. Dengan pendidikan pula kita manusia Indonesia semakin diperdalam keIndonesiaan-nya. Pendidikan yang mencerahkan dan membebaskan menjadi kunci permasalahan identitas bangsa.

C. PENDIDIKAN MEMBEBASKAN MANUSIA
Pendidikan yang mampu menggali Identitas manusia dan memantapkan penghayatan atas hidup adalah pendidikan yang membebaskan. Pendidikan seperti ini menyadarkan manusia atas hakikat dirinya. Pendidikan seharusnya merupakan sarana manusia untuk melakukan refleksi atas kemanusiaanya. Pendidikan yang seperti ini adalah pendidikan yang menekankan pentingnya kebebasan.
Lewat pendidikan kita bisa menyadari apa yang dinyatakan Dostoevsky, bahwa manusia pada hakikatnya adalah bebas. Kebebasan menurutnya adalah kebebasan yang tidak menisbikan eksistensi orang lain. Kebebasan tidak membendakan orang lain. Kebebasan manusia adalah kebebasan untuk membebaskan sesamanya. Ia mengingatkan kita akan perlunya cinta kasih terhadap sesama. Hubungan manusia harus dibina dengan cinta, pendidikan dimaksudkan untuk hal ini, bukan dengan perhitungan untung-rugi belaka. Hubungan manusia menjadi subjek dan subjek. Hubungan yang dirindukan bangsa ini. Pertanyaannya sekarang, apakah dunia pendidikan kita serupa dengan pendidikan yang membebaskan sesuai dengan cita-cita bangsa ini, untuk memanusiakan manusia? Kiranya kita punya permenungan sendiri-sendiri untuk pertanyaan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Sabari, Henry S. 2008. Dostoevsky, menggugat manusia modern. Yogyakarta: Penerbit
Percetakan Kanisius.
Soekarno, 1901-1980. Kepada Bangsaku. Jakarta: Penerbit CV Haji Masagung
UUD 45, amandemen. 2007. Yogyakarta :Pustaka Yustisia.