Malam Mingguku yang Capek Tergesa-gesa

MALAM MINGGUKU YANG CAPEK TERGESA-GESA
Ada sajak terkatung-katung
Seperti lantunan God Save the Queen
Dianjungan Union Jack
Dalam mimpimu yang
Bersetting malam minggu,
Malam minggu cepat
Yang tak selambat pagutan-pagutan
Shakespeare terjebak dalam kebenaran
“seluruh dunia adalah panggung”,
Ya, semuanya tiba-tiba aktor-aktor mahir
Memainkan malam mingguku dengan terburu-buru,
Malam minggu para nihilists
Yang begitu cepat, mutakhir nan instan seperti
Jalan tol freetalk bising sinyal-sinyal telepon selular,
Rupanya perang telah dimenangkan oleh ketergesa-gesaan!
Kotak-kotak surat dibuat mati tersedak kartu-kartu ucapan yang tulus
Yang menghargai penantian
Yang begitu mencintai ekspresi emosional tinta-tinta
Yang tak jarang ber-ibu air mata rindu,
Dan sapaan sudah berkarat
Dimakan hujan menghujam tiang-tiang listrik dan menara pemancar,
Seragam oranye pak pos pun terjual habis untuk lap pel satelit-satelit luar angkasa
Melicinkan perkawinan komunikatif efisien antar
pria dan wanita
hewan dan manusia
benua dan lautan
negara dan dunia
bumi dan matahari dan
siang dan malam dan
malam mingguku juga berjuta spesies lainnya,
Dan semua menyanyikan satu lagu kebangsaan;
“Cepat! Cepat! Cepat! Efisiensi adalah segalanya! Habiskan semua penantian! Tiada waktu untuk menanti! Biar saja jadi repetisi membosankan, peduli setan kepuasan diri!”
Relakah kita? Tidak?
maka,
nikmatilah setiap helaan nafas,
setiap cipratan tinta dan sobekan kertas,
setiap langkah kaki telanjang dan tetesan matahari siang dikulitmu.
Sadarlah, mereka baju zirahmu.
Batu karangmu yang
takkan berkhianat satu inci pun
meski ditabrak ombak secepat apapun
alwiTHELONEWOLF, June 2008

Post new comment