Ke Atas ^

Ruang Pamer



  • Dibaca 353 kali
  • Bimbing Aku

    Bimbing aku Bimbing aku degan cintaiMu saat lelah Bimbing aku dengan cintaiMu dalam duka Kerap aku lalai, bosan, tak setia…

    Dibaca 476 kali
  • kisah terbunuhnya cahaya bulan

    Cahaya bulan berjalan di antara bayanganku dan bayangannya. Bayanganku  menyuruh dia berjalan agak ke belakang, persis di belakang bayanganku dan…

    Dibaca 909 kali
  • Bel istirahat pun berbunyi. “Ta! Kamu mau ke kantin ga? Aku mau ke kantin ni ga bawa bekel. Temenin yuks!”…

    Dibaca 873 kali
  • Aku hanya tersenyum melihatnya merengek seperti anak kecil. Aku tak tega melihatnya akhirnya aku putuskan untuk bercerita kepadanya. Karena mengobrol…

    Dibaca 793 kali
  • Tiba-tiba tanganku ditarik olehnya aku pun langsung merasa sangat tidak suka disentuh orang yang tidak kukenal.  "apa sih pegang-pegang ?!…

    Dibaca 804 kali
  • Pagi hari terasa cerah, aku dibangunkan oleh suara kokok ayam. Kulihat jam di dinding ternyata sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB.…

    Dibaca 642 kali
  • LIAR (II)

    Oleh: Elly Nuga Sudah lima tahun dia yang membuka ukiran sejarah ini pergi. Tentunya ia tidak pernah mau untuk kembali.…

    Dibaca 692 kali
  • Aku Mengencani Wanita

    dari http://savitridiani.wordpress.com   Aku mengencani wanita.   Salah satunya, adalah Sandra.   Sandra cantik luar biasa. Pipinya pipih dengan kulit kepucatan,…

    Dibaca 734 kali
  • Asin

    Suatu kali aku salah, menuang garam dalam segelas teh hangat yang aku buat malam itu. Asin. Sungguh rasanya asin. Namun…

    Dibaca 765 kali
  • Sunaryo

    Hari inilah aku meninggalkan kota solo setelah sekian lama aku mengukir cerita dan menjalani hidup di kota ini di umurku…

    Dibaca 704 kali
  • Klara Akustia atau A.S. Dharta atau Jogaswara merupakan salah satu pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Esei ini sendiri diambil dari…

    Dibaca 1165 kali
  • M a l a M

      Dimuat di Koran Tempo, 27 Januari 2013 @vividiani   Malam pertama. Aku tidak sepenuhnya terjaga. Tidak juga sepenuhnya terlena.…

    Dibaca 881 kali
  • ARTI SEORANG IBU BAGIKU…

    (renungkan baik-baik) Ingatkah waktu kecil dulu Ibu kita yang selalu menemani kita ketika kita pergi?  Kita yang dulu lemah yang…

    Dibaca 792 kali
  • Pembuat Peta dan Penenun Kain

    Dimuat di Media Indonesia, 23 Februari 2014)   DI Kota Tuamana yang pernah dialiri sungai purba, hiduplah seorang pembuat peta…

    Dibaca 878 kali
  • Kerikil-Kerikil Kai

      dari http://savitridiani.wordpress.com   Cuaca semakin dingin. Sepanjang bulan kota ini jadi makin kurang ramah. Cuaca di sini memang seperti…

    Dibaca 951 kali
  • Tuhan Telah Dibunuh

    Lampu dipadamkan. Suara riuh setiap bibir manusia pun sekejap senyap. Tirai di atas panggung pun perlahan membuka, diiringi dengan bunyi sangkakala yang menggema. Lampu panggung pun merambat nyalanya, mencoba menerangi perarakan pelaku sandiwara. Dan akhirnya pertunjukan dunia yang penuh dengan ilusi telah dimulai. “Lihat dan pandanglah! Tuhan telah datang. Bersukacitalah dan bergembiralah kita anak manusia menyambut Sang Terang Dunia tlah datang.” Arak-arakan dengan umbul-umbul nan indah dan megah mengekor panjang seperti naga, mengiringi kedatangan Tuhan. Anak-anak manusia menari-nari menanti di pinggir jalan bercampur debu. Matahari pun tahu diri untuk meredupkan teriknya, melihat bahwa Tuhan telah datang. “Tuhan, aku ini anakmu yang paling baik. Setiap hari aku menyembah dan memujamu. Tak pernah sehari pun aku memalingkan diri darimu. Jamahlah aku karena aku orang yang suci!” seru orang-orang dengan jubah putih bersihnya. “Tuhan ingatlah aku! Aku telah membela namaMu sepanjang hidupku, bahkan dengan pedang dan tombak pun aku telah membelaMu. Kenanglah jasa-jasaku dan siapkanlah surga bagiku!” seru orang-orang yang mengusung pedang dan tombak. Tuhan hanya bisa tertunduk, bungkam, mendengar ujaran anak-anak manusia itu. Tuhan tercenung, apakah kebijaksanaan yang diwahyukannya telah membuat manusia sedemikian rupa. Menjelma nafsu dan amarah. Membangun hegemoni kekuasaan atas nama spiritualitas. “Hei Tuhan! Mengapa kau hanya diam saja? Tak dengarkah kau dengan seruan kami? Berbicaralah! Kami nantikan titah darimu.” “Tuhan tak pedulikah Kau dengan pujian kami? Songsonglah kami yang telah membelaMu.” “Tuhan, Kau hendak pergi kemana? Woiii! Jawablah kami, jangan hanya diam saja! Jangan lari dari kenyataan!” Tuhan hanya melengos pergi meninggalkan anak-anak manusia dengan histeria ideology mereka. Tuhan hanya menunduk, menatap bumi yang kering dan berdebu. “Apakah ini hasil ciptaanKu? Anak-anak manusia yang pada akhirnya mengingkari kehidupan. Mereka larut dalam angakara murka dan nafsu badani. Dimanakah penghargaan akan keutuhan kehidupan? Padahal aku menciptakan dunia seturut citraKu yang baik adanya.” gumam Tuhan dalam kebungkaman. Ia melangkahkan kakiNya menuju taman ketiadaan. “Lihatlah Tuhan hanya bungkam seribu bahasa. Tuhan sudah tidak berpihak pada kita. Kita telah dilupakan oleh Tuhan sebagai anak-anakNya.” “Dia telah berpaling dan tidak memihak kita. Dia tidak akan mendukung kita walaupun kita mengusung namaNya dalam perjuangan kita.” “Hati-hati bila Tuhan tak memihak kita lagi. Nanti Dia akan menusuk kita dari belakang. Dia akan menjadi musuh dalam selimut.” “Sebaiknya Tuhan kita bunuh secara diam-diam supaya melanggengkan cara kita dan orang-orang masih percaya kita. Orang-orang tetap akan percaya kita sebagai pengusung nama Tuhan walaupun kita telah membunuhNya. Tujuan kita tercapai, dan tak ada aral pelintang bagi kita walaupun itu Tuhan sendiri” Kejahatan pun telah berucap di dalam nurani mereka. Sekarang bukan cinta yang menghiasi mahkota hati mereka, namun gelora api benci dan dengki telah meluluhkan pertahanan mereka. Anak-anak manusia merencanakan kudeta terbesar yang pernah terjadi di alam semesta ini. Pembunuhan Tuhan. Di tengah taman kesunyian, Tuhan bersimpuh. WajahNya tengandah, memandang taburan bintang yang mulai terutup mega mendung. Ia tercenung meratapi nestapa anak-anak manusia yang mendendam. “Mungkin Aku telah keliru memberi kehendak bebas bagi manusia. Nurani mereka telah mati terpendam angkara murka. Atau kah ini buah dari bisikan setan terhadap Adam dan Hawa sehingga mereka jatuh dalam kedosaan.” “Apakah aku harus menghadirkan lagi banjir bandang seperti masa Nuh? Ataukah harus ku jatuhkan meteor besar untuk menghancurkan bumi ini. Kiamat akan menjadi jalan akhir untuk penyelesaian ini. Tapi apakah Aku yang maha pengampun tak memberikan pertobatan bagi mereka?” Datanglah malaikat-malaikat dan dewa-dewa yang mengabdi Tuhan. Malaikat Djibril, Mikail, Munkhar, Nakhir, Gabriel, Rafael serta Batara Wisnu, Brahman dan Siwa. Mereka datang, melihat pertanda alam yang menandakan kesedihan Tuhan. Mereka hendak menghiburNya supaya semesta tak membawa petaka bagi dunia.…

    Dibaca 945 kali
  •   Suatu sore yang masih panas di hari Jumat, Sang Presiden itu akhirnya mundur dari jabatannya. 27 tahun lebih 6…

    Dibaca 1748 kali
  • Seraut " Wajah"

    Sebentuk citra, dalam pancaran cahaya yang membelah antara maya dan nyata. Dalam realita kehidupan dunia, makhluk yang tercipta dari rasa…

    Dibaca 1143 kali
  • Gugusan Jalan

    Menelusuri jalan sepanjang 20 km memang bukan pekerjaan yang mudah. Di bawah terik raja siang yang semakin menyeringai di tambah…

    Dibaca 1029 kali
  • Jangan Bunuh Aku, Bu!

    Dibaca 1099 kali
  • KETIKA TUHAN ALLAH KESEPIAN   Beberapa waktu setelah TUHAN Allah mengusir manusia dari Taman Eden, Allah merasa kesepian. Allah pun…

    Dibaca 1120 kali
  • BERDIKARI

    BERDIKARI   Pada suatu hari ada seorang aktivis dari Komnas Perlindungan Anak mendatangi rumah seorang petani. Aktivis itu heran karena…

    Dibaca 1190 kali
  • PLEIDOI SEORANG PENYAIR

    PLEIDOI SEORANG PENYAIR   Pada suatu ketika di Indonesia RUU KUHP yang melarang Marxisme dan Komunisme pada akhirnya telah disahkan…

    Dibaca 1255 kali
  • CINTA TERINDAH

    CINTA TERINDAH Jika aku mencintainya Jadikan cintaku karena dia mencintaiMu Jika aku senang melihat keindahan tubuhnya Jadikan kesenanganku karena dia…

    Dibaca 1042 kali
  • SANG PECINTA

    SANG PECINTA   Sang Pecinta itu berkata: “Aku tak dapat hidup tanpamu Tak bisa tenang tanpa kehadiranmu Tak bisa gembira…

    Dibaca 1066 kali
  • Hidup sederhana tidak berarti hidup dalam kesengsaraan, kemiskinan, kemelaratan dan serba kekurangan. Kesederhanaan merupakan pola pikir dan pola hidup yang…

    Dibaca 6949 kali
  • Masa itu adalah masa dimana kita masih kanak-kanak. Tak ku sangka, bahkan dalam masa itu aku hanyut dalam gurau teman-teman…

    Dibaca 984 kali
  • Pengidap Lepra Politik

      Udara dingin biasanya menggigiti siapa pun, kecuali orang-orang kaya dan penguasa. Salah satunya yang tak luput dari gigitannya adalah…

    Dibaca 1158 kali
  • Bapakmu Ini Akan Kembali, Nak   Kamu pernah pacaran? Kapan pertama kali kamu pacaran? Mungkin kamu pertama kali pacaran ketika…

    Dibaca 1016 kali

Muat Lainnya

Diatra Bulan Ini



Almanak