Ke Atas ^
  • Masih adakah cintamu di Pelaminanku?

    Masa itu adalah masa dimana kita masih kanak-kanak. Tak ku sangka, bahkan dalam masa itu aku hanyut dalam gurau teman-teman kita, juga kakak-kakakmu. Aku jatuh dalam perasaan yang entah bagaimana, aku rindu gurauan itu. Semenjak SD, semenjak kita, secara tidak sengaja bergoyang india berdua ketika teringat felem india yang baru saja kita tonton. Hingga kini ia terus membayangiku.

     

    Bagi anak kelas dua SD, mungkin aku belum sepenuhnya menyadari hal itu. Juga karena kita tak pernah terpisah. Bermain bersamamu teman-teman dan juga kakak-kakamu. Hidup di tempat yang sama, bermain hal sama, bergurau yang itu-itu saja dan bahkan rumahmu  yang hanya di seberang jalan itu, kemungkinan adalah faktor mengapa aku belum bisa kenal betul apa yang sedang kurasakan.

     

    Aku ingat betul saat kakak-kakamu, Om dan Tante, bahkan Tetangga-tetangga, yang jadi guarauan mereka tentang kita adalah itu-itu saja: goyang india yang tak sengaja kita peragakan. Kini aku kembali ke masa itu. aku Berada dalam suasana hati yang sama persis rasa inginnya aku terus-terus jadi bahan gurauan bersamamu.

     

    Waktu berlalu. Jauh setelah itu, senda gurau tentang goyang india itu pun pergi bagai kepulan asap yang terbawa angin. Jauh, tanpa sedikit pun kenangan yang tertinggal, Tapi tidak untukku. Semakin lama dan semakin jauh waktu yang kulalui tanpa gurau-gurau itu lagi, aku menjadi sepi.

     

    Malam ini sengaja aku menelpon kamu. Namun entah mengapa, seakan kau ingin mengatakan bahwa teramat kau membenci kenangan itu, nomor hp yang kuhubungi tidak aktif. O malam, biarkan kenangan jadi indah, agar aku tak sakit jika ditinggalnya.

     

    Lagi-lagi pikiranku melayang jauh ke masa lalu. Aku berada tepat di jalan saat kita pulang sekolah. Seragam putih abu-abu yang kau kenakan terlihat kusut dan sedikit berdebu. Aku tahu kau baru saja putus dengan pacarmu. Wajahmu yang lusuh terpaksa tersenyum saat kutegur kau siang itu. Begitu manis walau terpaksa. Ini bukan kebetulan. Aku yang telah sekian lama terus memperhatikanmu dari kejauhan, dari balik jendela kaca kelasmu, hingga menunggumu di gerbang sekolah ketika bel jam terakhir berdentang. Terus terang, kali ini aku sengaja mengikutimu dari belakang sejak tadi. Menunggu saat kau tengah sendiri di perjalanan pulangmu. Kau tak tahu betapa goyang india yang dulu menjadi gurauan itu, selalu saja menjadi kenangan yang selalu kurindukan selama ini. Selama masa kita SD, SMP dan kini, saat seragam putih abu-abu ini akan segera kita tanggalkan, aku masih ingin jadi gurauan teman-teman, kakak-kakakmu, Om, tante dan juga tetangga-tetangga kita.

     

    Cerita dalam perjalanan pulang sekolah itu menjadi awal kisah kita yang baru. Kita jadi akrab, tapi bukan dengan kesadaran masa SD itu. Kau telah semakin dewasa dalam memahami arti sebuah kedekatan. Teman?. Kurasa sudah cukup aku memikul beban perasaan yang selama ini, bahkan tidur malamku pun terusik karenanya. Aku jatuh dalam cintamu.

     

    Hingga suatu malam, ya..suatu malam ketika kuungkapkan perasaan ini, dan kau mau menerimanya... O malam, biarkan kenangan jadi indah, agar aku tak sakit jika ditinggalnya. Betapa hatiku meronta kesakitan mengingatnya.

     

    Kini, di malam yang lain, saat aku sedang menghitung detik waktuku untuk jadi raja sehari di atas pelaminan itu, aku sedang merindukan semua kisah yang pernah kita lalui. Adakah yang mampu menggantikan kerinduan ini selain dirimu?. Adakah yang bisa mengisi kenanganku lagi, sebagaimana kenangan yang pernah ku lalui denganmu?.

     

    Malam-malam sebelum malam ini, adalah malam yang indah sesudah malam itu, malam ketika kau terima pinanganku atas hatimu. Malam yang jadi awal dari kerinduanku yang lain sepanjang kisahku denganmu di lorong itu, lorong yang memisahkan rumahmu dengan rumahku.

     

    Aku terjerembap oleh perih hatiku kini. Andai aku tidak sepengecut itu, tak kan kubiarkan rasa kaku yang menyelimuti perasaanku, hingga tak kan pernah aku memintamu untuk kembali menjadi teman biasa dan melepaskan ikatan asmara denganmu. Tahuilah, bahwa sampai kapanpun, atau setidaknya hingga malam ini, sesal itu terus menghantuiku. Maafkan aku cinta... o malam, biarkan kenangan itu idah, agar aku tak sakit bila ditinggalnya.

     

    Beberapa menit lagi, setelah aku mandi, mengganti pakaian biasaku dengan pakaian adat, membaca ijab-qabul, dan naik ke palaminanku bersama isteri sahku. Mungkin adalah beberapa menit menjelang sakit hatiku kepada semua kenangan yang jadi rinduku ini akan segera kuhapus. Namun setidaknya aku ingin tahu kasihku, apakah engkau merasakan apa yang kurasakan kini, masihkah ada cinta yang jadi alasan mengapa kau menerima cintaku malam itu?. Jawab aku walau lewat suara telepon genggam ini. Jawab aku. Karena beberapa menit lagi, pertanyaan ini tak kan berguna lagi walau jawabanmu begitu berarti.

    Ngeeek. Tiba-tiba terdengar bunyi engsel pintu yang sudah karatan di belakangku. “Hei, cepat nak, segeralah bersiap. mentari Pagi sudah tinggi, dan hidup barumu sudah mulai bosan menunggu”. Bentak Ibu padaku. Aku segera mengusap air mataku dan menghadap Ibu. “Mengapa ada kenangan dan mengapa pula harus ada air mata. Di saat cinta menjadi kenangan, aku malah menikahi gadis yang sama sekali belum pernah ada di setiap saat aku merindukannya?”. Ucapku pada Ibu sambil terbata-bata menahan isak yang mungkin segera pecah.  

    “Demikianlah nak, kau terlahir sebagai seorang anak laki-laki. Lalu, tak kau jaga ia hingga menjadi liar. Jangan kau sesali, jangan kau tangisi. Hapus semua kenangan yang menghadang dan jadikanlah masa depanmu bahagia. Berharaplah pada malam agar kenangan itu jadi indah agar kau tak perlu sakit jika ditinggalnya”.  Sela Ibu sambil mengusap air mataku yang tanpa sadar mengalir.

     

    Ibu pergi tanpa menutup kembali pintu yang telah ia buka. Kulihat diriku yang telanjang di depan cermin, tanpa kenangan, tanpa dirimu, aku masih terus bertanya tentang apa arti diriku sepanjang kenanganmu. Sekali lagi kucoba menghubungimu lewat telepon genggam ini. Terdengar suara penerima pesan dari seberang sana “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi”. Segera aku beranjak ke kamar mandi sambil mengusap air mataku yang belum juga bisa kuhentikan.

     

    Gorontalo,    2013 


    | Link | Dibaca 984 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak