Ke Atas ^
  • Aku Mengencani Wanita

    dari http://savitridiani.wordpress.com

     

    Aku mengencani wanita.

     

    Salah satunya, adalah Sandra.

     

    Sandra cantik luar biasa. Pipinya pipih dengan kulit kepucatan, merona merah muda saat kuusapi. Hidungnya bangir menguncup di pucuknya, suka berkedut saat gelisah dalam dekapanku. Bibirnya tipis pada kedua bilahnya, senantiasa berkilat lembab oleh sapuan produk perawatan bibir. Warna hitam pada rambut sebahunya ditindih pewarna kimia berragam warna; coklat muda kacang mede, coklat tua kayu jati, emas pudar sinar matahari pagi. 

     

    Sandra wanita yang sungguh terlahir untuk terlihat sempurna. Terikat pada namanya beberapa gelar yang terwaris dari moyangnya, serta yang diraih dari bangku-bangku sekolah manca negara ke mana ia menuntut ilmu (juga tentu mengejar gelar) dibiayai ayahnya. Wanita yang berjaya di lingkungan kerjanya, dimana wanita berhak jadi penguasa.

     

    Kencanku dengan Sandra senantiasa bernuansa mewah, kalau bukan malah megah. Di rumah makan di gedung penikam angkasa dengan jendela raksasa yang ujungnya dimulai sejauh pandang dengan tengadah kepala hingga ujung jari kaki, menyuguhkan pemandangan geliat kota di bawah sana dan segala cahaya yang mendenyutkan kehidupan meski malam sudah kelam. Di kamar berbau cendana dengan dinding bercermin seluas telaga berlantai tertutupi permadani berbulu lembut tebal yang menenggelamkan kaki. Di pesawat udara yang berpenumpang hanya kami berdua dengan bau lemah anggur merah juga hidangan daging steak lembut dengan sedikit gurat merah darah serta dengung lirih mesin saat menerbangkan kami rendah hingga pesawat kami berkaca pada samudra dengan ikan-ikan yang lalu sibuk berkejaran.

     

    Dan di setiap kencanku dengan Sandra, dia menyerahkan seluruh dirinya padaku.

     

    Miliki aku, pintanya.

     

    Dan aku miliki dia, tahu pasti bahwa hanya aku lelaki yang bisa memiliki dia yang dengan seujung kuku hartanya bisa membeli satu lagi pulau kecil tempat kami memandangi penanda pagi muncul dari tepian pandang air laut. Rajai diriku, miliki aku, pintanya terdengar seperti hanya desah meski kutahu hatinya sesak dengan gairah. Dan aku lalu menjadi raja atas dirinya. Aku miliki ia, aku puaskan ia dengan membuatnya memuaskan semua kemauanku semauku, karena dalam hidupnya selamanya ia berada di sana di pucuk menara kesepian sendirian.    

     

    Sepeninggalku, Sandra akan kembali berlari berpacu dengan waktu, mencetak karya bernilai ratusan juta rupiah di tengah rimba dunia korporasi seperti halnya ayahnya mertua lelakinya suaminya adik-adik mereka. Sandra melaju bersama waktu entah untuk meniadakan rindunya padaku, atau sejujurnya mungkin pada siapa saja yang mampu membuat ia merasa tidak selalu seperti ratu pada siapa orang tidak berani bahkan hanya untuk mengangkat dagu bertatapan mata. Sepeninggalku, Sandra kembali membeku.         

     

    Lainnya, ada Asmara.

     

    Dewi penuh cinta, katanya tentang namanya di tengah tawa renyah yang bebas lepas. Dewi bercinta, kataku yang mengundang tawa yang lebih lepas lagi meski lalu diiringi rembang air pada mata yang memudar sayu. Perempuan dengan status yang kata orang sederhana – ibu rumah tangga – dengan energi mencinta (katanya) dan bercinta (kataku) yang luar biasa.

     

    Asmara berpinggul bulat semangka. Di tengah pinggul indahnya, ada jalan gelap keempat anaknya pernah lewati, menyeruak menyibak kelam rahim di tengah serak teriak Asmara yang kesakitan meski penuh harapan. Pinggul indah Asmara senantiasa penuh daya tenaga, sepertinya siap sedia menghadirkan lagi bayi-bayi berlesung pipi yang begitu imut di masa bayinya tapi bisa saja menderita begitu dewasa akibat orang tua yang sebetulnya tidak betul-betul peduli pada mereka, atau tidak mampu untuk berbagi hati karena sudah sibuk menjalani hari menurut kehendak sendiri. Ditambah lagi, suami Asmara keranjingan ingin bayi laki-laki, menyalahkan Asmara setiap dapat bayi perempuan lagi, tidak sadar diri bahwa benihnya yang tertuang sembarangan di kantung-kantung malam tempat bersemayam perempuan-perempuan malam sudah kian tipis sehingga Asmara dapat hanya sisa benihnya (dan untuk menghadirkan bayi perempuan konon benih yang sisa pun bisa. Sementara, hanya benih yang jawara dan disemburkan dengat kuat cinta yang bisa membuahkan seorang calon pria).

     

    Kencanku dengan Asmara selalu terasa hangat dengan tubuh dan pinggul indahnya menempel erat padaku. Tawa renyahnya senantiasa menyelipi cerita-cerita tentang anak-anaknya, demikian bangga ia dengan anak-anak mereka yang jarang disapa ayahnya. Asmara senang menggurau bagaimana aku adalah selingan yang menyenangkan di antara jadwalnya yang padat merayapi hari dengan mengantar anak ke sekolah dan les tambahan, menjemput anak dari sekolah dan les tambahan, merawat diri ke pusat perawatan wanita dan tempat kebugaran perempuan, arisan dan temu kangen dengan teman dan rekan bisnis kecil-kecilan (meski selalu merugi karena Asmara tidak pandai dengan angka dan berwirausaha untuk ’mencari senangnya saja’, katanya dengan tawa renyahnya). Asmara senang bercerita dan bergurau, menumpahkan cerita dan gurau meski ada nuansa pilu tentang banyak hal kecil dalam hidupnya yang terasa palsu hanya padaku. Karena tidak pada suaminya yang kelelahan dari bekerja dan entah kesibukan lain apa yang melepasnya pulang hanya bila fajar hampir tiba. Tidak juga pada teman-temannya yang gemar bergunjing tapi begitu lihai merangkai kata demi menjaga citra hingga ocehannya terlihat tetap penuh etika di setiap pertemuan-pertemuan mereka di kedai-kedai kopi dengan aroma yang meruah serta aneka kue kecil melimpah penebus habisnya sekian ratus ribu rupiah.   

     

    Lalu, aku berjumpa dengan dia.

     

    Di tengah pasar sederhana tanpa pendingin udara dan keranjang besi beroda penyunggi tumpukan barang belanja, sebagai gantinya yang ada hanya anak-anak jelang remaja berbaju kumal dan bau tubuh yang bikin orang mual menawarkan ibu-ibu menjinjingkan barang belanjaannya agar diganjar upah satu-dua ribu rupiah. Dimana kaki harus dijejakkan berhati-hati, bila tidak ingin sendal jepit pengalas kaki terlepas dari kaki tertanam di tanah yang basah oleh hujan tadi pagi. Di antara penjual buah yang mengipasi jualannya tanpa gairah dengan pandangan menerawang hampa mengambang di atas dagangannya - jeruk, pepaya dan mangga yang mulai menampakkan tanda-tanda terlalu tua untuk mengundang selera. Di antara lalat-lalat yang beterbangan malas akibat terkibas dari serabut tali rafia yang satu ujungnya terikat seadanya pada bilah bambu yang dikipas penjual buah. Di antara seruan pedagang mainan mengabarkan bagaimana dagangannya kapal mini dari kaleng yang dicat sekenanya yang berputar-putar statis pada ember dipenuhi air akan menebus rindu anak-anak yang terpaksa bermain dengan anak tetangga setelah sebelumnya menangis hingga kering mata dan kerongkongan karena ditinggal ibu di gelap kamar pengap rumah kontrakan sempit mereka, sementara si ibu pergi ke pasar bersesakan di sana membeli bahan lauk yang mungkin sudah basi dan digemburkan bakteri demi harapan anak mereka bisa tumbuh sehat sentosa dengan perut yang separuh kenyang oleh makanan-makanan separuh harga.        

     

    Aku memandang tepat pada matanya.

     

    Bulu matanya yang tidak luar biasa panjang menaungi bening mata (yang ini luar biasa) nan seperti setiap saat akan tertitik embun. Kelopak tanpa sapuan pewarna mengeredip beberapa kali dan kulihat juga kantung mata sedikit gelap (yang mewartakan derita meski mungkin juga segenggam usia) berdenyut lemah di sudut kiri akibat tidak tenang hatinya meski juga jelas-jelas senang mendapati seorang pria memandangi penuh minat bahkan dengan kejalangan hasrat yang mungkin tidak pernah lagi dialaminya sejak usai masa remajanya dan menikah di usia muda lalu tenggelam di kehidupan berumah tangga yang untuk kelasnya selalu berarti kesulitan menutupi biaya-biaya. Sebagian helai rambutnya tergerai menirai wajah tapi tak mampu menutupi bening kerling mata – yang sungguh luar biasa.

     

    Alangkah cantiknya ia.

     

    Cantik karena kubayangkan bibir penuhnya yang merah jambu meski dihiasi gurat-gurat kulit bibir mengering kelabu digunakannya berkidung lirih menidurkan anak-anaknya di dipan bambu tanpa kelambu hingga nyamuk-nyamuk dengan mudah menyerbu begitu lengah ia dihinggapi kantuk tidak mampu lagi membuka mata memperhatikan anak-anak di tengah sinar redup bohlam setengah watt saja. Cantik dengan jemari lentiknya yang seperti menari tanpa henti sejak subuh tadi menyiapkan sarapan membersihkan rumah memandikan anak-anak mencuci tumpukan baju menggosok baju masih dengan setrika arang batu menghitung hutang belanjaan mereka yang tersebar di warung-warung tetangga sekitar. Cantik karena sepertinya tak juga habis cintanya untuk suami yang tidak lagi perhatikan ia dan memilih habiskan pulsa untuk kerap berSMS mesra dengan janda muda penjaja jamu sehat pria di lingkungan tempatnya bekerja sebagai mandor bangunan.  

     

    Kubayangkan namanya Serimbi. Bisa juga Astari atau Hasfidayati atau Sri Utami, tapi seperti Sandra dan Asmara dan wanita-wanita lainnya aku akan mengencani dia juga.

     

    Aku mengencani wanita, yang sepanjang hidupnya atau mungkin satu saat dalam hidup mereka, mendamba diperlakukan seperti layaknya wanita yang terkadang melemah jiwanya lelah tubuhnya penat pikirnya pepat hatinya, dan bukan senantiasa adalah istri yang setia ibu yang perkasa pekerja yang setengah pria setengah wanita menantu yang tunduk pada setiap kata mertua anak yang menghamba pada orang tua dan tempelan predikat dan harapan lainnya. Perempuan-perempuan kesepian sendirian di tengah keramaian, yang memastikan kehidupan berjalan seperti seharusnya untuk banyak orang lain kecuali dirinya sendiri. Perempuan-perempuan dengan jerit hati dan mulut yang bungkam.

     

    Aku mengencani wanita-wanita yang mendamba diperlakukan seperti layaknya wanita, dan karenanya Serimbi atau Astari atau siapa pun namanya akan segera jadi salah satunya.

     

    Selesai.


    | Link | Dibaca 644 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak