Ke Atas ^
  • Kerikil-Kerikil Kai

     

    dari http://savitridiani.wordpress.com

     

    Cuaca semakin dingin.

    Sepanjang bulan kota ini jadi makin kurang ramah. Cuaca di sini memang seperti hati seorang perempuan – sering tidak menentu. Tak heran dijuluki sebagai kota dengan empat musim dalam satu hari.  

    Socha sungguh kedinginan. Tambahan lagi, ada perkara di dalam hati. Betapa butuh ia akan kehangatan saat risau begini.  

    Salah seorang bibinya dari tanah kelahirannya mengirimkan pesan pendek yang diterima Socha melalui telepon-pintarnya di sini, di benua lain ini.

    Kai jatuh sakit. Socha diminta pulang.

    Di sinilah ia kini. Saat gundah begini, Socha memilih ke kedai tempatnya biasa menyendiri. Duduk di beranda, ia selalu jadi merasa dekat dengan laut di kejauhan. Jarak dari kampus Clayton yang harus ditempuh rasanya sepadan. Berada di St Kilda entah bagaimana mendekatkannya dengan laut di ingatan, meski karakter ombak St Kilda berbeda dari laut di pantai-pantai di kota kelahiran yang lebih tenang. Kota kelahirannya terletak menjorok ke dalam pulau, dikelilingi banyak sungai. Tidak memiliki pantai dengan ombak yang bergulung-gulung seperti kota pinggir laut pada umumnya.

    Belum juga minuman pesanannya datang, LED telepon genggam berkedip lagi.

    --Kai minta keranjang batu dikeluarkan. Kami sudah bersihkan batu-batu kerikilnya.--

    Hati Socha melemah saat mengingat ihwal batu-batu kerikil itu. Mengingat tiap saat Kai duduk di bangku rotan panjang di depan rumah panggung mereka, dan ia yang usai mandi sore akan mendatangi Kai untuk dipangku. Kai akan bercerita bermacam hal. Suatu senja, batu-batu kerikil menjadi salah satu dari cerita Kai.

     ‘Kau ambillah ini batu.’ kata Kai, badannya sedikit melengkung ke sisi, tangannya meraih sebutir batu di dekat kaki bangku. 

    ‘Lemparkan ke depanmu, Galuh[1]. Seraya batinmu panggil ilah-mu. Sebut, tiada tuhan selain ilah-mu. Ambil lagi batu lain. Panggil ilah-mu lagi. Begitu bagusnya caramu mengisi waktu.’

     ‘Nanti,’ lanjut Kai, ‘gunungan batu itu bisa jadi saksi seberapa tinggi imanmu. Saat kau mati, biar batu-batu ini menutup tanah penguburmu. Niscaya, semua panggilmu yang melekat pada batu, di hari kematianmu akan terbang mencari tuhanmu.’

    Manalah Socha kecil peduli pada kisah tentang penguburan. Atau panggilan yang terbang ke awan. Dianggapnya permainan, berusaha ditepatkannya lemparan agar batu mendarat di titik yang berdekatan dengan batu sebelumnya. Beberapa hari dilakukannya, saat jelang petang bercengkerama di pangkuan Kai. Melempar batu memang menyenangkan. Tapi keasikannya tidak berumur panjang.

    Socha bosan segera saja. Ia lebih suka main tetris di gameboy yang dibelikan ibu saat melancong ke Malaysia. Tumpukan tetris lebih mengharuskan ia curahkan konsentrasinya.

    Apalagi sejak ibu tidak kembali.

    Socha kecil tadinya tidak mengerti kenapa ibu tidak kembali. Kenapa ibu memilih menetap di Sabah. Kata orang-orang tua, berlibur ke sana lebih hemat daripada terbang atau berlayar ke ibukota di tanah Jawa. Apa itu sebab ibu enggan kembali?

    Hanya setelah dewasa Socha mengerti bahwa ibu pergi bukan karena keranjingan melancong. Bukan itu, sampai harus menikah lagi dengan laki-laki dari tempat yang disebut negri di bawah bayu.

    Apa yang Mama rasakan saat itu? Saat bertemu dengan calon suami baru, dari negri di bawah bayu? Kata orang, Mama menukar kehidupan! Demikian Socha bertanya, saat remaja, dan sudah elok baginya untuk bertemu lagi dengan ibu.

    Ibu terlihat malu. Ada juga tampak sekilas jengah dan rasa bersalah. Tapi, semburat kesumba macam sipu remaja di pipi ibu lebih mengemuka.

    Socha tahu saat itu, bahwa ibunya betulan jatuh cinta.

    Maka saat kembali ia ke kampungnya di Banjar, di antara para bibi yang tidak bosan ingatkan ia akan dosa ibu, ia tahu setidaknya Mama lebih bahagia dari mereka. Perempuan-perempuan dalam keluarganya, yang pandai memasak-padukan cengkeh dan jahe dan kayu manis jadi beragam penganan, belum tentu pernah memadu kasih sehebat yang dirasakan ibu. Para bibi yang gemar bersolek di kala senggang mereka, tak ada yang tampak sebahagia dan secantik ibu saat ia tanya mengapa tinggalkan ayah untuk hidup bersama laki-laki dari negeri bayu.

    Kai, sebaliknya, tidak pernah mengutuk atau berbicara buruk tentang ibu.

    Ibumu memang berbibir manis, desis salah seorang bibi. Sudah ditinggalkannya ayahmu, malah pula ia dibela ayah mertuanya, ketus bibi yang lain. Dengan modal tangis dan paras manis, ibumu buat Kai berpihak pada perempuan yang cuma mantu. Seakan Kai tidak takut karma!

    Kai memang tidak percaya karma. Tidak percaya bahwa dosa adalah kebiasaan atau warisan. Kalau ya, Kai tidak mungkin beri ijin ia pergi belajar jauh seperti begini. Tidak sekadar mengarungi angkasa ke ibukota, Kai restui kepergiannya ke lain benua.

    Kemurkaan ayah akan rencananya meninggalkan kampung halaman ditepis teguran dingin Kai.

    ‘Orang akan kembali, kalau tidak perlu pergi untuk mencari yang hakiki. Sekolah cuma caranya mengenal kehidupan. Socha bukan sedang menukar kehidupan.’

    Ingin juga sebetulnya Socha melihat ayah sungguhan melarangnya. Melarang karena cinta, bukan karena paranoia. Berharap setidaknya dengan begitu ia tahu ayah memikirkannya. Tapi ayah malah menjauh lagi dari kehidupannya. Kembali ditelan kesibukan pekerjaan sebagai pengusaha, ayah bolak balik pergi. Socha kembali hanya bisa berpegangan pada Kai.

    Telepon genggam bergetar. Kali ini, panggilan tak bersuara. Melirik nama yang muncul di layar, kenangan Socha yang tadi terhimpun kembali terserak.  

    Pesan pendek menyusul masuk setelah panggilan telepon terdiam dalam jeda.

    --Got ur text about ur Kai. Im so sorry to hear it. U ok? If theres anything at all I can do…--[2]

    Lelaki pengirim pesan barusan, bermata hijau kebiruan dan lahir serta besar di negara ini. Sudah beberapa bulan Socha dalam kebimbangan karenanya. Diawali pertemanan, berangsur jadi kedekatan, membuat Socha mereka-reka apakah dunia dan tuhan mereka yang sama tapi begitu berlainan bisa dipersatukan.

    Saat Kai sakit seperti ini, betapa justru Socha membutuhkan Kai! Kai yang lapang menerima perubahan dan perbedaan. Batu kerikil yang telah dibersihkan seperti terbang menjemputnya di St Kilda.

    Panggilan telepon berupa geletar pada genggaman datang lagi. Wajah Kai yang tenang terbayang, seakan menguatkan. Socha menyentuh tombol terima panggilan.

    “Hi, Kyle. What do you think of seeing my Kai and visiting Banjar? Im sure he’d love to meet you…”[3]

    Jawaban yang didengar hadirkan senyum di bibir dan hangat haru di dada Socha. Socha tahu, ini adalah awal. Ia tidak sedang menukar kehidupan. Seperti ibu dan Kai, ia hanya pemberani yang tidak gentar tangani perubahan dan perbedaan.  

     

     

    Vivi Diani Savitri


    [1] Sebutan untuk anak perempuan yang disayang dan ditinggikan

    [2] ---Aku sudah baca SMSmu tentang Kai. Turut prihatin untuk itu. Kamu baik-baik sajakah?Kalau ada yang bisa kubantu..---

    [3] “Hai, Kyle. Apa pendapatmu tentang pergi menemui Kai dan mengunjungi Banjar? Aku yakin Kai akan sangat senang bila bisa bertemu kamu.


    | Link | Dibaca 856 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak