Ke Atas ^
  • Pembuat Peta dan Penenun Kain

    Dimuat di Media Indonesia, 23 Februari 2014)

     

    DI Kota Tuamana yang pernah dialiri sungai purba, hiduplah seorang pembuat peta dengan istri dan putra semata wayang mereka.

    Bakat dan keahlian orang memang berlainan. Si pembuat peta ini sedikit berbeda dari para pembuat peta lainnya.Sebetulnya ini biasa. Seperti sering kita lihat bagaimana seorang penari mengungguli penari-penari kebanyakan. Penari kebanyakan menjadikan gerakannya hiburan bagi kita, pemirsanya. Sebaliknya, ada seorang penari yang melenggang-lenggok seiring irama, seperti ia bernapas dengan udara. Menari ia dengan segenap jiwa. 

    Terhisap kita ke dunianya saat menyaksikan lenggoknya, lupa akan kenyataan hidup kita sendiri. Pembuat peta kebanyakan sekadar merekam ulang jalur yang sudah ditapak orang ke selembar kertas. Sebaliknya, si pembuat peta yang sedang dikisahkan ini, menggores di lembaran kertas, apa yang digariskan alam, baik yang sudah mewujud maupun yang belum nyata adanya.

    Praja tata kota adalah pelanggan tetapnya. Ini karena ada saja perubahan tata letak orang bermukim, berniaga, dan berkegiatan. Orang berpindah karena kebutuhan atau barangkali karena keterpaksaan. Karena mencari tempat yang lebih lapang atau justru ingin berjejalan. Orang berpindah juga karena mencari-cari jalan menuju apa yang dicitacitakan.

    Menuju suatu titik yang menurutnya ia dapat meraih kebahagiaan di sana. Maka, ada saja orang yang minta digambarkan sketsa jalan hidupnya. Di kertas gambar putih selebar dada laki-laki dewasa, si pembuat peta meletakkan titik penanda lokasi terkini dari orang yang sedang mencari tujuannya, dan beberapa pilihan jalan yang mengarah pada titik yang diidam-idamkannya.

    Setiap hari pembuat peta bekerja di kamarnya yang gelap. Bukan soal magis sebagaimana ritual dukun. Bukan pula karena hampir sepanjang usianya, pembuat peta merasa sendiri dan memilih mendengarkan suara sepi. Tapi karena daya lihat pembuat peta bekerja lebih baik saat ia tidak disilaukan oleh cahaya. Kalau ada tamu, maka istrinya, si penenun kain, akan mempersilakan tamu itu masuk ke kamar kerja suaminya.

    Beberapa orang yang pernah bertamu akan bersumpah bahwa saat pintu terbuka, bukan cahaya dari luar yang memasuki kamar, tapi gelap dari kamar itu yang akan merembang ke luar.

    Suatu hari, Srivati, yang sedang mencari jalan pulang, datang sebagai tamu keempat. Istri pembuat peta yang tadi menemani Srivati duduk menunggu di beranda sebelum tamu ketiga pulang, lalu mengantarkan Srivati memasuki kamar kerja pembuat peta. Setelah itu si penenun kain senantiasa menunggu di luar kamar, kembali menekuni alat tenun warisan keluarga. Mengikatkan pinggangnya pada pemintal untuk membuat alat itu menjadi bagian dari tubuhnya, dan bergerak bersamanya. Ia piawai menggunakan alat pemisah yang menjaga benang agar tidak kusut.

    Perempuan yang percaya dan hormat mencari, sama saja seperti tidak ada yang mencintai. Lalu, bagaimana seorang perempuan bisa punya arti? Seingat penenun kain di kemudian hari, suaminya tidak menjawab pertanyaan itu. Namun karena diamnya pembuat peta bukan hal yang berbeda dari kebiasaan selama ini, kali itu pun tidak menjadi hal istimewa.

    Selepas itu, pada suatu hari, telepon cerdas pembuat peta berbunyi dan layar lebarnya menampilkan sederetan nomor tanpa nama. Ia biasa dicari oleh orang yang tidak mengenal dirinya, tapi pada suami itu tidak pernah mencampuri pekerjaan suaminya. Dijunjungnya harkat menenun kain untuk mereka pakai secara turun-temurun.Demikianlah nenek moyang mereka menetapkan tugas seorang istri.

    Setelah Srivati pulang, saat makan malam dengan putra mereka, si penenun kain mengutarakan keheranannya.

    “Apakah tidak ada yang mencari perempuan tadi, dan menuntunnya menuju jalan pulang?” ia bertanya dengan nada suara bercampur iba.

    Bagaimana bisa seorang perempuan bisa pergi, sendiri, dan tidak ada yang mencarinya? Kalau itu terjadi padanya, tentu ia akan sedih sekali dan memilih untuk tidak kembali. Bila tidak ada yang membutuhkannya. Lalu, pembuat peta menjawab panggilan telepon.

    “Aku belum menemukan jalan pulang. Aku berputar-putar di jalan yang sepertinya harus kuhindari. Peta yang Anda buat sepertinya menyesatkan aku ke rute yang lebih rumit.“

    Suara itu dikenalinya sebagai suara Srivati. Si pembuat peta tidak segera menjawab.

    Lekat diingatnya Srivati sebagai perempuan pencari jalan pulang yang pada matanya ada sesuatu yang benderang. Petang itu di kamar kerjanya yang remang, pembuat peta jadi menghindari tatapan Srivati. Sudah begitu pun, pembuat peta masih merasa seperti tersihir. Tanpa peringatan atau tepukan di pundak macam pertunjukan di TV yang membuat orang kena hipnosis dan bisa disuruh-suruh untuk melakukan hal konyol agar penonton tertawa. Ia merasa tersihir, tapi sihir yang ini tidak memperbudaknya untuk melakukan hal yang tolol, tapi mendekatkannya ke sesuatu yang terasa niscaya dan benar. Garis pada peta yang digoreskannya di kertas terjejas dalam dan jelas. Setelah petang itu pembuat peta merasa diingatkan bahwa dirinya juga butuh arah.

    “Anda di mana?“

    “Entahlah. Tapi ini satu titik di alur yang Anda gariskan untukku.“

    Jawaban pembuat peta kini lebih menyegera, “Berdiamlah di sana. Biar kutunjukkan jalan untuk Anda.“

    Ini malam ketiga dari belum kembalinya si pembuat peta ke rumah. Penenun kain tanpa ratap atau prasangka mulai menanyakan ke kawan, kerabat, dan tetangga. Satu hal yang tidak mungkin dikhawatirkannya; bahwa pembuat peta akan tersesat dan tidak menemukan jalan pulang. Tapi yang ditanyakan, apakah mereka menyimpan dugaan, ke mana perginya si pembuat peta? Kapan kiranya ia kembali? Kini setiap siang, bertambahlah kegiatan penenun kain, selain menenun kain, mengantarkan putra mereka sekolah, dan kunjung-mengunjungi handai tolan sebagaimana yang moyang mereka ajarkan pada setiap istri untuk menjaga silaturahmi. Penenun kain bertanya di sana-sini, ia bersetia mencari tahu keberadaan suaminya.

    Setiap petang pula, si penenun kain akan kembali duduk menunggu di dalam rumah, di luar kamar kerja pembuat peta. Kembali menekuni tenunan kainnya. Istri sejati sebagaimana ia, meyakini si pembuat peta suaminya akan kembali. Pikirnya, di mana lagi kehangatan bisa didapatkan, bila kain tenun penghangat tubuh warisan keluarga sudah ada di rumah?

    Matahari tidak bisa diandalkan dan terbatas masa, terbit dan terbenam sesuai takdirnya. Api adalah moda zaman baheula. Lagi pula, bila ijuk mengikat pelepah pada batang, kain tenun keluarga adalah pengikat kasih sayang antarmereka. Demikian ia percaya, demikian yang disematkan oleh leluhur penenun kain pada garis hidupnya.

    Tanpa peta, penenun kain menanti suami yang belum kembali. Ia memilih untuk percaya ada yang lebih tinggi dan bisa menggariskan jalan hidup. Lebih tinggi dari seorang pria yang dianugerahi kepekaan dan ketajaman pikiran untuk menuangkan garis alam dalam peta bagi orang lain, namun tidak bisa menemukan jalan pulangnya sendiri.

    Dengar-dengar kabar yang samar dan belum tentu benar, pembuat peta dan Srivati kini bermukim di satu titik yang digariskan alam untuk mereka. Di tempat yang hanya sangat sedikit orang sanggup memetakannya dan pernah ke sana.

    Konon, si pembuat peta menemukan Srivati dengan menyusuri alur sungai purba yang bagi orang kebanyakan cuma legenda. Di kediaman baru mereka, selamanya keduanya tidak pernah benar-benar pulang, juga tidak bisa beranjak pergi, meski kini mereka tak pernah sendiri dan merasa sepi lagi.

     

     

    Vivi Diani Savitri, menekuni dunia kepengarangan, di sela-sela kesibukannya sebagai peneliti. Karya-karyanya tersebar di sejumlah media. Ia tinggal di Jakarta.


    | Link | Dibaca 922 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak