Ke Atas ^
  • LIAR (II)

    Oleh: Elly Nuga

    Sudah lima tahun dia yang membuka ukiran sejarah ini pergi. Tentunya ia tidak pernah mau untuk kembali. Itu tidak mungkin. Tidak akan mungkin. Dia sungguh kejam tetapi dia membuat diri ini menjadi seorang yang lebih sabar dan lebih tegar dari karang samudera. Pernah kubuka diari kami tetapi dia hanya datang dengan judul. Tidak ada cerita indah dan panjang yang dahulu telah kami ukir bersama itu. Sungguh dia telah pergi untuk selamanya.

                Dari sejumlah lapisan sel yang ada di hati ini, hanya satu lapisan yang paling sering bertanya di mana ia berada. Dia bertanya dalam kebersamaan dengan teman-teman baruku. Dia bertanya saat malamku hampir bertemu pagi. Namun kadang dia menangis membanjiri kanal hati yang kering dengan pertanyaan yang tidak pernah menjumpai jawaban. Sudah pernah dikatakan: Lupakan saja dia! Tapi ini bukan seperti kulit kacang di tong sampah kantin itu. Ini jauh menyempurnakan kesatuan jiwa badan rancangan para filsuf itu. Inilah kejamnya hidup.

                Aku pernah dibuatnya terkapar mencari. Bermandikan lelah dan capek perjuangan itu. Namun tak kutemui rupanya. Dia juga tidak pernah paham tentang keadaan itu. Dia bahkan gembira melihat perjuangan dan kesungguhan itu. Tapi aku tidak bosan mencarinya. Dia terus kucari walau tak ada.

                Teman-teman baruku memang tak tahu pencarianku ini. Hanya aku yang tahu. Mungkin tuts-tuts itu juga tahu. Dia tetap saja diam. Tidak pernah berteriak. Hilang dan perlahan terus hilang dengan harap: tidak usah dipertemukan lagi. Mungkin kalian akan katakan bahwa dia egois. Dia cuek. Tapi dia tidak serendah itu. Dia masih ada untuk suatu waktu. Waktu yang saat itu kami memulai mengukir dan kini aku melanjutkannya. Dia mungkin membiarkanku sendiri mengukir. Dia mungkin tahu kelemahanku yang mau mengukir sendiri. Dia lebih mengerti aku yang mau sendiri. Dan dia benar pergi meninggalkanku yang mau sendiri ini.

    Ahhhh! Sudah terlampau sentimental aku berjalan. Sudah terlalu ngeri aku berprasangka. Dia tidak mungkin seperti itu. Aku kenal dia. Dia yang membuat jemari ini lincah berayun ke sana ke mari; tidak gementaran lagi saat mulai mengukir sejarah lain yang sudah membuatku seperti sekarang. Aku kehabisan kata untuk menceritakan dirinya. Dia lebih sempurna dari yang pernah sempurna di dunia ini. Walau pun kepergiannya membawa segala kesempurnaan itu.

    Dengan terpaksa, di suatu hari. Lewat sebuah pena, aku menulis surat perpisahan. Terlalu haru. Juga penuh bualan manis. Kata-kata yang penuh gaya dan diksi yang serba langka. Lalu surat itu kutaruh di samping lilin bernyala dalam kamarku untuk memanggil salam perpisahan dengannya. Surat itu masih ada. Pernah terlintas dalam benak ini untuk menghanguskannya dalam nyala lilin tadi. Tapi kedap-kedip lilin di malam itu membuat nyali ini kecut dan membatalkan semuanya. Seakan dia sendiri datang dan memohon untuk menjaga wasiat terakhir itu: “Saya sudah pergi. Jangan lagi hanguskan semuanya yang masih sempat saya tinggalkan.” Tetapi aku menjadi gila karena surat itu. Kadang sehari-harian terpekur memandang tulisan mati itu. Aku hanya berdialog dengan emosi yang hilang muncul tidak stabil. Sudah beberapa kali surat itu terkucak-kucak. Tapi sekali lagi aku tak sanggup menghancurkannya.

    Kini aku masih tetap sendiri. Dia juga pasti masih sendiri. Kami, sendiri-sendiri mengukir sejarah ini. Tapi dia tidak tersiksa seperti diri ini. Bersamaku dengan memori dan wasiat ini yang selalu mengukir kisah baru tentang harapan seorang LIAR yang tidak pernah kembali.


    | Link | Dibaca 744 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak