Ke Atas ^
  • Masa Lampau yang Datang Kembali (II)

    Tiba-tiba tanganku ditarik olehnya aku pun langsung merasa sangat tidak suka disentuh orang yang tidak kukenal. 

    "apa sih pegang-pegang ?! aku bukan cewek gampangan ya !" kataku sambil membanting tangannya dengan kasar.

    "maaf ita, tapi masa kamu ga ingat aku? ingat ga kita dulu pernah buat janji ? janji semasa kita kecil. Nah sekarang aku tepati janjiku itu!" katanya.

    Aku hanya celingukan kebingungan. "Ya ampun! Kamu itu Adit kan !" kataku berteriak kegirangan karena aku sudah tau siapa orang yang ada didepanku.

    "iya ita ! kenapa kamu lama banget sih nyadarin aku? kamu lupa ya denganku?" katanya padaku dengan centil dan genit.

    "ih apaan sih dit ! enggak aku cuma pangling aja kan katanya kamu ada di ausi, kenapa bisa ke sini? tau darimana alamat rumahku? trus gimana kamu kabarnya ? kamu sekarang lagi sibuk apa ? duduk-duduk di teras aja yuk !" kataku tanpa henti-hentinya.

    "sabar kale ! satu-satu nanyanya. aku aja sampe lupa mau ngomong apa ke kamu darimana ngejelasinnya. hahahaha." katanya dengan senang hati, tertampak dri wajahnya.

    "aku kangen kamu ta! kamu udh lama ga hubungin aku, kamu sombong ya sibuk ma cowok-cowok di bandung ya?" celetuknya. Aku tersipu malu mendengar kata-katanya yang pertama dia lontarkan kepadaku, mana mungkin dia berkata seperti itu, seperti orang pacaran saja pikirku.

    "hahaha ah kamu bisa saja, aku juga kangen kamu kok dit. udah lama ya kita ga ketemu dan ngobrol sambil tertawa begini." kataku memandang ke arah langit. Tiba-tiba aku merasa pipiku agak terasa hangat. Aku merasa aneh mengapa pipiku menjadi terasa hangat seperti di aliri sinar matahari.

    Betapa kagetnya aku ketika menoleh muka Adit begitu dekat dengan diriku, sontak aku berteriak,

    "adit ! ih ngapain kamu ? malu dong di depan umum masa kamu mau begituin aku! gaboleh tau kita itu blum disatukan dalam satu ikatan suci." lagaku sambil menutupi geroginya aku. Di dalam hati aku berkata masih saja aku deg-degan kalau Adit seperti ini padaku.

    Adit berkata dengan memecah lamunanku,

    "berarti kita ke tempat sepi yuk ! trus abis itu kita ke gereja"

    " mau apa ke gereja?"

    "supaya kita bisa mengikat janji suci!" celetukan-celetukannya yang membuatku kaget terus-menerus. Ya ampun celotehannya dari dulu bisa membuat hatiku bergetar di sampingnya.

    Setelah hari itu berlalu, sejak perbincangan itu terjadi aku merasa semakin dekat dengannya. Entah bagaimana pun caranya hatiku sudah melekat selekat-lekatnya dengan dirinya. Seperti sayur asem yang kurang asem , tidak enak rasanya. Sejak saat itu kami bertukar nomor telepon, jadi friends di facebook, jadi follow di twitter dan masih banyak jejaring sosial. Aku pikir hampir semua jejaring sosial aku bisa memantau pergerakannya begitu pun dengan dia.

    Siang itu sepulang sekolah aku pergi ke rumah Nita, sahabat baikku. Kami ada tugas yang harus dikerjakan dalam kelompok. Dan kebetulan aku sekelompok dengan Nita, sahabatku itu. Untungnya satu kelompok terdiri dari 2 orang saja, jadi aku dan Nita bisa mengatur waktu lebih mudah. Selain itu juga karena jarak rumah kami tidak terlalu jauh. Sebenarnya aku sering sekali main ke rumah Nita, bukan hanya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah bersama di rumahnya, tapi memang karena kami berteman baik dan satu sama lain suka bercerita. Orang tua kami pun sudah saling mengenal dengan akrab. Maklum karena hobi Mamaku dan Mamanya Nita itu sama-sama suka belanja dan memasak. Jadi mereka senang tukar-menukar resep masakan.

    Aku di rumah Nita.

    "Nit! minta minum dong haus nih panas kan di luar tadi. yang adem-adem ya Nit !" tambahku sambil tersenyum.

    "iya iya! kebiasaan kamu sampe rumah aku selalu minta minum yang dingin-dingin! ga ada kulkas apa d rumah? hahahahah..." kata nita sambil meleos ke dapur untuk mengambilkan minum.

    Aku di ruang tamunya menunggu, biasanya aku masuk kamarnya. Tapi kali ini tidak, entah kenapa mungkin karena aku merasa kepanasan jadi lebih enak kalau di ruang tamu sambil melihat taman yang hanya dibatasi pintu transparan dari kaca. Aku terlelap dalam lamunanku. Lamunanku lagi-lagi tak jauh-jauh pasti tentang Adit.

    "kira-kira dia sedang apa ya?" kataku tanpa sadar.

    Nita pun datang membawa minuman pesananku,

    "nih ta ! ta ! woy ! kok kamu melamun sih kesambet kamu entar, ngeliat ke arah taman gw lagi. horor banget sih lu ta !" sambil menggoyang-goyangkan badanku.

    Aku pun tersadar dari lamunanku,

    "eh nita! makasih ya minumannya" langsung aku sambar gelas yang dipegangnya.

    "lu melamun kenapa sih ta ? ngelamunin siapa? teman masa kecilmu itu yang tak kunjung dtang itu? hahaha..." goda nita padaku.

    "sialan lu nit, hahaha! udah ah kita kerjain tugas kita dulu. udah sore juga ntar aku malem sampe rumah lagi. bahaya tuh anak cewek pulag malem-malem. hahaha.." kataku sok bijaksana.

    Lalu dia tanpa perlawanan dan tidak protes lagi kami mengerjakan tugas kami dengan serius. Ternyata karena saking seriusnya kami cepat sekali menyelesaikan tugasnya, ya cuma dua jam kurang lebih. Tiba-tiba ada hal yang mengejutkanku,

    "ta kamu pulang udah ada yang jemput belum? papamu ga bisa jemput?" tanya nita.

    "udah da kok!" spontan aku berbicara itu.

    "siapa?? katanya tadi kamu gada yang jemput.. pacar masa kecilmu itu? mimpi terusss dehh" ejek nita.

    "iya memang dia yang jemput!" balasku cepat-cepat.

    "ha? yang bener ta? dia beneran ada toh ternyata? cerita dong kok kamu ga cerita-cerita sih . kabar gembira kok disimpen aja. cerita dong kamu anggap aku ini apa?" merayuku sambil tarik-tarik tanganku.

    Aku hanya tersenyum melihatnya merengek seperti anak kecil. Aku tak tega melihatnya akhirnya aku putuskan untuk bercerita kepadanya. Karena mengobrol aku jadi tak ingat waktu. Handphoneku berdering dan di layar muncul sebuah nama yang mengagetkanku.

     

    TO BE CONTINUED..................


    | Link | Dibaca 803 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak