Ke Atas ^
  • Masa Lampau yang Datang Kembali (IV)

    Bel istirahat pun berbunyi.

    “Ta! Kamu mau ke kantin ga? Aku mau ke kantin ni ga bawa bekel. Temenin yuks!” kata Nita sambil menarik tanganku.

    Aku pasrah saja, yasudah aku ikut ke kantin. Selama diperjalanan menuju ke kantin aku bertemu dengan teman-teman lelakiku yang lain,

    “Halo Ita ! Kamu makin cantik aja sih,Ta!” goda teman-teman cowokku di jalan menuju kantin.

    “Eh, makasih loh! Emang iya ya?” tanyaku

    “Ya , Ita mah kan selalu cantik. Cuma sayang kadang suka sewot ma galak sendiri.” Sindirnya padaku.

              “Sialan kamu, Ray!” sambutku.

     

    Sesampainya di kantin, aku langsung memilih tempat duduk. Sedangkan Nita memesan bakso dua mangkok. Bakso di sekolahku paling jago deh, bahkan aku bisa tambah mpe beberapa kali.

    “Silahkan neng!” kata bu kantin, sambil menyodorkan mangkok yang berisi bakso dan mie lengkap, siap untuk disantap.

    “makasih ya bu!” kata Nita. “thanks, bu!” sambungku.

    “sama-sama neng!” kata bu kantin membalas

    “Ta, kamu pulang sekolah ada rencana ga? Temenin aku yok! Aku disuruh mama belanja bahan kue.” Jelasnya

    “aduuh sorry ya Nit, aku gabisa. Aku udah ada janji nih ma Adit hehehe... jangan marah yak. Abisnya tdi pagi dia bilang bgtu ma aku mau jemput sekalian mau diajak jalan.” Kataku sambil memelas

    “Oh yaudah gapapa kok, santai aja. Have fun lah ma Adit. Emang kalian mau ke mana?” tanyanya

    “gatau tuh si Adit ga ngomong cum mau ngajak aku jalan gtu. Ga bilang juga mau kemana, aku tanya mama juga , mama gamau kasih tau. Bingung deh ma keluarga aku. Belakangan ini jadi aneh semenjak Adit dekat dengan keluargaku. Ya memang sih dari dulu sudah kenal dekat. Tapi tetap saja aneh.” Jelasku panjang lebar

    “mungkin papa mamamu setuju Ta. Kan orangtuamu kenal dekat dengan orangtuanya kan?” katanya

    “ya mungkin saja ya. Ada yang ganjil.” Kataku

     

    Bel istirahat pun berakhir. Kami masuk kelas dengan perut kenyang. Sungguh Nita itu teman di kala sedih, kala senang, maupun di kala kenyang. Kami pun mengikuti pelajaran. Tak terasa ternyata sudah bel pulang sekolah. Aku dan Nita berjalan menuju depan sekolah.

    Tiba-tiba, “hai Ita !”

    “eh Adit, tepat waktu ya kamu jemput aku.” Kataku

    “iya dong! Apasih yang enggak buat tuan puteriku?” kataku

    “ih Adit! Malu kan ada temenku!” kataku sewot.

    “udah gapapa kali, Ta! Ga usah malu-malu!” goda Nita padaku

    “eeeh ! Nita apaan lagi kamu nih. Udah ah jangan nyebut gtu di depan temen-temen aku dong geli dengernya juga trus malu Adit. Panggil aja Ita.” Kataku setelah mencubit Nita aku menoleh ke Adit.

    “gapapa dong biar mesra.” Kata Adit “yaudah yok, kita pulang. Ntar keburu kesorean aku gabisa ajak kamu jalan lgi.” Lanjut Adit

    “yasudah sana pergi, Ta ! Aku juga mau pergi ke supermarket.” Kata Nita

    “yaudah kamu ati-ati ya Nit, sorry ak ga bisa temenin kamu.” Lanjutku

    “ia gapapa. Santai aja. Udah have fun sana. Ati-ati ya Dit bawa Ita-nya.. ha-ha-ha-ha-ha!” kata nita

    “pasti pasti Nit . Pasti aku jagain.” balas Adit

    “yaudah ati-ati yak !”kataku

    Lalu aku berpisah dengan Nita. Kemudian aku naik motor. Sesampainya di rumah,

    “yok! Kita langsung berangkat.”

     

    “tunggu !” kata Adit sambil terdiam.

    Ekspresinya berubah drastis. Aku kebingungan, dan ternyata.......

    Adit menyentuh kelopak mataku dengan mesra, kemudian berkata

    “Ya ampun semut pun hobi ya dekat-dekat kamu! HA HA HA”

    “Astaga Adit kamu mengagetkanku saja! Aku pikir kamu melihat apa sampai ekspresimu berubah begitu.”

    Tapi Adit tidak menghiraukan omonganku malahan semakin lama semakin dekta jarak antara kita.

    “Dit! Kamu jangan macam-macam ya mentang-mentang gada orangtuaku di rumah. Kamu mau apa semakin mendekat padaku ?!”

    “Aku gak mau ngapa-ngapain kok Ta, aku hanya mau ........ sama kamuu” kata Adit.

    “Kamu mau apa sama aku ?! jangan berani-berani ya Dit kamu semakin mendekat !!” ancamku padanya, tetapi dia tetap tidak menggubrisnya.

    Sampai pada akhirnya posisiku terpojok ke sudut ruangan. Aku masih bertanya-tanya apa yang hendak dilakukan oleh Adit kepadaku. Wajahnya semakin lama semakin mendekati wajahku. Karena aku merasa takut aku menutup mataku dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa.

    “Katanya aku gaboleh macam-macam sama kamu dan kamu mengancamku tapi kenapa kamu tampak pasrah dan menutup matamu?” tukasnya.

    “Apa?” aku kaget sambil membuka mataku perlahan-lahan.

    Tetapi wajah Adit masih sedekat tadi. Dia makin mendekat dan....

    “Aku hanya ingin membisikan sesuatu padamu bahwa kamu harus berdandan yang cantik karena ini adalah kencan pertama kita.” Kata Adit.

    “Tentu saja aku tidak akan berbuat apapun denganmu walaupun aku sangat ingin menciummu tadi. Kan katamu kita harus menikah terlebih dahulu di gereja secara resmi. Hahahaahaha.”

    Bukan main malunya aku karena pikiranku sudah kotor dan kemana-mana. Aku merasa mukaku menjadi panas seperti terbakar.

    “sudah ah aku mau ganti baju dahulu! Awas kamu !” sambil mendorong badan Adit yang condong kepadaku.

    “yang cantik yang sayangku!” kata Adit

    “diam kau Dit! Cerewet!”

    “aku tunggu di ruang TV ya sambil menonton. Jangan lama-lama nanti keburu hujan!” pungkasnya.

    Sesampainya aku di kamar, aku langsung mengunci kamarku. Kemudian aku berdiri di belakang pintu kamarku sambil memegang dadaku yang sangat berdebar dengan apa yang telah dilakukan oleh Adit tadi di bawah.

    “kurang ajar Adit! Membuat hatiku jadi tak keruan begini. Bagaimana ini jika aku terlalu berlebihan menanggapinya. Adit kan memang suka menggodaku. Eh tapi tunggu katanya tadi aku disuruh berdandan cantik karena merupakan kencan pertamaku? Apa maksudnya?” semua pertanyaan menjadi satu dalam benakku.

     

    TO BE CONTINUEE................................


    | Link | Dibaca 942 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak